Posted in Uncategorized

Welcoming September

Hari terakhir di bulan Agustus, selain hari ini dan besok ganjil. Hehe. Tetep ya, urusannya ganjil genap. Agustus ini banyak acara di sekolah seperti : pendidikan manasik haji, tujuh belasan, dan pendidikan qurban. Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa kendala. Hari ini pun di sekolah ada science day, saya udah sibuk nyiapin sejak Selasa, secara takut kelupaan. Karena di kantor lagi lumayan hectic dan akan semakin di bulan September. Puji syukur yang luar biasa adalah saat kita sibuk, situasi dan kondisi mendukung. Meskipun pasti terselip ujian dan cobaan. Mudah – mudahan tetap aman terkendali.

Foto nyomot dari medsos sekolah

Kalau teman – teman yang lain berkesempatan nonton live Asian Games. Baik itu di Gelora Bung Karno, Lapangan pacuan kuda Pulomas, Velldrome, PRJ, hingga Ancol. Kami gak sempet ikutan, karena hal – hal yang saya sebutkan di atas. Jangankan nonton live, nonton di TV aja gak selalu ngikutin. Saya update itu hanya dari media sosial. Update keluarga, temen, sekolah Teona, kerjaan kantor, bahkan dunia gosip. Karena udah beneran gak sempet nonton infotainment. TV pun jarang nyala. Jadi Teona sama sekali gak terpapar layar? Layar DVD di mobil dan layar videocall di HP dengan keluarga. Tentu saja gak bisa yang benar – benar bebas-dari-paparan-layar. Tapi lumayan sanggup membatasi.

Kalau kemarin ada beberapa teman yang tanya, tentang gimana cara ngabisin waktu di pukul 18.00 – 21.00 nya abah Ihsan itu kuncinya hanya ikhtiar & istiqomah. Susah? Bangeettt. Pernah skip? Pernah pastinya. Tentulah untuk pola pengasuhan saya masih jauh dari lemah lembut, sabar, dan penyayang. Masih akan terus berusaha dan belajar. Saya dan suami belum pernah jadi orang tua, belum pernah mendidik anak, dan belum pernah ada pengalaman seputar pola pengasuhan anak juga prakteknya. Maka pola pengasuhan untuk Teona tentu saja trial and error. Masih butuh pelatihan, mendalami ilmu agama kami. Bila belum bisa sempurna paling tidak mendekati rasanya sudah bahagia. Jadi bukan hanya anak yang hebat semata. Namun kami bertiga bisa solid di segala keadaan dan membekali diri insya Allah dunia akhirat.

September besok udah kebayang sibuknya kerjaan. Untuk tema dari sekolah baru akan dirapatkan bulanan besok. Nah sesederhana itu, besok saya pergi rapat orang tua. Teona dan bapaknya pergi les yang memang sudah jatah bapaknya untuk mendampingi. Bagi – bagi tugas rumah tangga dan pengasuhan anak memang sudah jadi tugas kami. Apakah selalu rukun aman damai? Ya gak mungkinlah, pasti ada pahit getir badai keributan juga-lah *ini elo aja kali, Fran. Yang penting gak menyimpang dari ajaran agama, mudah – mudahan selalu saling menjaga. Gimana Agustus kamu dan apa rencana di September?

Posted in Uncategorized

Pelanggaran HAM

Source: Majalah Femina 08/2018

Meskipun saat maraknya kasus pelanggaran HAM terjadi saya masih abg alias baru aqil baligh. Belum paham sepenuhnya, namun dalam diam saya mengikuti. Bertanya dalam diam, kenapa yang vokal (aktivis) harus dibunuh? Kalau pemerintah saat itu tidak salah, kenapa mesti takut? Pasca tragedi Mei 1998, saya kembali tersentak ketika masih dalam suasana lebaran 2004. Bapak saya memerintahkan ibu dan kami bertiga untuk berkemas kembali ke Jakarta. Almarhumah Mbah Putri saya bingung, Bapak saya menjelaskan ada kejadian yang terkait kantor BUMN tempatnya bekerja. Saya banyak bertanya ke Bapak saya, siapa Munir? Kenapa bisa dibunuh? Bapak saya menjawab sesuai pengetahuannya saat itu. Pada akhirnya, ketika saya mengenyam pendidikan S1. Semakin terjawab semua pertanyaan saya, baik dari literatur, senior, bahkan dosen pengajar.

Meskipun awalnya saya merasa salah jurusan, karena saya bukan anak/keponakan/atau apapun terkait pemerintahan ataupun pejabat tinggi Indonesia. Namun, waktu juga yang membuktikan, mereka yang hebat itu kemampuan akademiknya semana. Dosen – dosen saya pada jamannya dulu, menceritakan bahwa membawa bahkan membaca buku karangan Pramudya Ananta Toer itu dilarang bahkan ilegal. Di otak saya, seburuk itukah pemerintahan pada masa itu? Maka ketika saya membaca artikel di majalah wanita mengenai pelanggaran HAM. Meskipun tidak terkait, saya selalu penasaran dengan akhir ceritanya. Karena meskipun pemerintahan sekarang pada akhirnya menaruh perhatian setelah dua periode yang lalu tidak ada reaksi positif. Akhir cerita masih belum terjawab. Apalagi masih ada beberapa pejabat tinggi sekarang yang saat kasus itu muncul memiliki andil.

Takut, munafik, opportunis, atau apapun sebutannya. Tak hanya saya sebagai rakyat, sudah pasti keluarga dari korban pelanggaran HAM menginginkan akhir cerita yang ADIL. Apakah masih ada keadilan di zaman sekarang? Apakah hukum akan ditegakkan? Apakah akan ada penyelesaian? Karena nyawa yang hilang tentu tidak akan pernah kembali. Saat mahasiswa, saya pun bukan aktivis. Diajak demonstrasi saya ogah. Bentuk keprihatinan atau rasa simpatik saya mungkin tak berarti. Namun harapan akan adanya akhir cerita yang terbaik tentu dinanti. Memperbaiki Indonesia tidak bisa dari sejarah masa lalu, ‘produk lama’, atau manusia yang ‘bobrok mengakar’. Mudah – mudahan bisa diperbaiki mulai dari diri kita sendiri, anak hingga keturunan kita kelak. Pengetahuan kamu tentang pelanggaran HAM sebatas apa? Kamu termasuk yang cuek atau mengikuti kasus ini?

Posted in Uncategorized

Idul Adha 2018

Qurban di masjid komplek orang tua saya

Mengingat buat saya dan suami libur idul Adha hanya tanggal 22 Agustus. Sementara Teona libur 21, 22, 23 Agustus dan orang tua saya sibukkk. Daycare kantor bapaknya Teona dapat diandalkan. Kami sholat ied di masjid dekat sini dan bertemu dengan beberapa atlet perempuan dengan seragam training Indonesia. Rasa pengen semangatin mereka tapi ceramah belum selesai mereka buru – buru cabut. Asian games kan gak kenal hari raya muslim. Jadi yang penting ikut sholat ied trus cabut berlaga di kompetisi. Salut. Selesai sholat, saya yang lagi malas masak ini. Meluncur ke rumah orang tua saya buat makan ketupat,opor ayam, dan sambel goreng krecek dongs. Gila aja lebaran tanpa ketupat = nothing. Sementara Teona, adik saya yang cowok, dan bapak saya ke masjid komplek kami untuk lihat penyembelihan hewan qurban. Saya gak ikut? Enggak, saya pilih dikerokin ibu saya *manja. Ini tahun kedua Teona lihat langsung penyembelihan hewan qurban. Gak takut? Ya enggaklah. Kan sebelumnya diedukasi dulu juga dari sekolah makna dan mengapa wajib berqurban bagi yang mampu. Samalah seperti berhaji untuk yang mampu. Intinya menjalankan yang diperintah dan menjauhi larangan Allah. Konsep berbeda agama bahkan tidak bertuhan sekalipun sudah kami kenalkan sejak dini. Dari contoh beberapa sahabat dekat saya. Berbeda tapi tetap bisa bersahabat.

Pendidikan qurban di sekolah
Pendidikan qurban di sekolah

Di sekolah pun ada pendidikan qurban. Jadi anak – anak setiap hari membawa uang amal yang diperuntukkan untuk pendidikan qurban. Ini pun melihat hewan qurban disembelih langsung. Gimana kalo anak takut? Ya gak apa-apa. Wajar. Tapi jangan sampe kebablasan takut. Kalo semua muslim takut, gimana nasib penyembelihan hewan qurban kelak?! Sama hal nya dan pentingnya pendidikan sholat dan menyucikan jenazah. Betul, sepenting itu untuk umat muslim. Kenapa harus diajarkan sedini mungkin kan penyembelihan serem? Tentu saja melihat disembelihnya didampingi para guru sambil diedukasi donggg. Seperti tahun lalu Alhamdulillah saya lihat langsung juga dan gak ada masalah. Yang tahun ini saya gak ikut mendampingi karena ada acara dulu paginya. Tahun ini Teona udah jauh lebih mengerti, kalo ditanya, “takut gak lihat sapi disembelih?” Jawabnya, “enggak, kan insya Allah nanti kita ketemu di surga.” Good girl!

Membungkus daging qurban
Teona and her best friend

Selain membaginya ke yang berhak, anak – anak pun dibagikan jatah daging qurban. Malah anak – anak sendiri yang memasukkan daging qurban ke plastik yang disediakan. Belum go green, semoga kedepannya bisa pake besek atau daun pisang untuk membungkus daging qurban. Mbak ART saya sempet tanya, “yang berqurban juga dapet ya, Bu? Kemarin ada yang dapet 4 kilo karena berqurban.” Saya jawab, “yeee, gila aja kalo 4 kilo. Yang berqurban dapetnya ya secukupnya aja, kalo 4 kilo namanya bukan qurban.” Ada yang anti mengkonsumsi daging qurban, kalo saya tipe yang santai. Selama memang hak kita dan tidak mengambil hak orang lain apalagi dhuafa. Jadi pendidikan qurban Teona tahun ini lebih komplit dibanding tahun lalu insya Allah. Gimana cerita penyembelihan qurban kamu?

Posted in Uncategorized

Tujuh belasan 2018

Tujuh belasan tahun 2018 ini bisa dipastikan SERU! Karena berbarengan dengan Asian Games. Euphoria-nya sudah terasa sejak sebulan ke belakang, terutama di area tempat tinggal kami yang tidak jauh dari wisma atlet dan tentu saja kena imbas ganjil genap. 16 Agustus kemarin, sebetulnya ada himbauan dari Pak Lurah untuk menyemarakkan acara pembukaan Asian Games. Namun, pagi – pagi sekali saya sudah cabut ke sekolah Teona dalam rangka lomba tujuh belasan. Sampai di sekolah bertepatan selesai sambutan. Lanjut ikrar dan senam pagi. Dari 3 kali senam, lagu terakhir theme song Asian Games dong dan saya baru denger. Kayaknya mesti dengerin ulang deh nih.

Saya pikir lombanya akan sama dengan tahun lalu. Ternyata bedaaa, ahh seruuu. Di antaranya :

1. Bendera merah putih. Tidak seperti lomba pada umumnya di mana anak memasukkan bendera ke dalam botol. Kali ini ibu dan anak berlari bersama menuju pasir dalam mangkok dan ditusukkan bendera kesitu.

2. Kelereng. Kalau biasanya sendok ditaruh kelereng lalu di bawa ke sisi satunya lagi. Kali ini, anak berbaris ke belakang. Lalu orang tua berbaris di belakang barisan anak – anak. Kelereng diestafet dengan sendok ‘bebek’ trus saat sampai ke orang tua di barisan awal, orang tua akan lari ke sisi satunya untuk taruh kelereng. Begitu seterusnya.

Susah ternyata 😃

3. Balon diisi air diangkat dengan banyak tali rafia bersama – sama. Ini saya akui susahhh 🙈 Apalagi anaknya kecenderungannya, balon menjadi berat dan anak – anak yang ada tarik – tarikan tali rafia di ujung – ujungnya 😑

4. Simpai, berbaris memanjang kemudian menggunakan hulahoop estafet memasukkan kepala dan badan tanpa memegang hulahoop dari barisan terdepan sampai barisan terbelakang. Saya baru tau! Keren ih 👍

Nangkep ikan cere

5. Lomba nangkep ikan cere atau bahasa kerennya baby fish. Cara nangkepnya : telapak tangan kanan ibu dan telspak tangan kiri anak didempetkan. Lalu menangkap kumpulan ikan di kolam persegi yang telah disiapkan. Teona udah yakin mau, begitu masukin tangan, dia mau lepas tangannya. Saya tahan dan bilang, “kalau sudah begini, gak bisa mundur, Nak. Ayo kita ambil satu ikan taruh di kolam satunya trus udah!” Apakah anaknya nurut? Alhamdulillah iya!

Terima kasih sudah bekerjasama lomba 17-an sama ibu. Kamu hebat.
Gak pengen banget dipeluk nih anak

Kalau tujuh belasan tahun lalu saya yang tadinya sepertinya akan berani nangkep belut dengan asumsi “ah, paling kayak lele” ternyata baru dilongok mbatin “ya Allah, kok kayak ular.” Akhirnya menyerah sebelum berperang. Hihi. Tahun ini semua lomba kami ikuti dengan antusias dan gembira. Fotonya gak lengkap, karena bapaknya Teona dateng belakangan, nunggu selesai rapat. Sebelum acara ditutup, anak berbaris dan ortu pun berbaris saling berhadapan. Ortu duduk menunduk sejajar anak dan mengucapkan kata – kata sesuai yang dicontohkan ibu guru ke anak masing – masing. Jadi pengen bleber tapi kutahan *gengsi. Nah kebayang gak gimana bonding si anak pas yang dampingi bukan ortu alias kakek nenek / uwak atau tante atau om / mbak ART!!! Sekolah sepertinya masih harus menahan aturan selain orang tua tidak boleh ikut acara sekolah hingga musim haji selesai. Banyak yang alasannya ortu pergi haji. Sambil ortu bicara ke anak tadi, intinya ungkapan bangga sudah bisa bermain bersama anak. Lalu mengalungkan medali ala ala dan anak – anak mendapat goody bag. Foto bersama lalu pulang. Gimana dengan cerita tujuh belasan kamu?

Posted in Uncategorized

Aturan di grup

Manusia sebagai makhluk sosial, eh tapi ada juga yang ansos (anti sosial). Se-ansos – ansos nya manusia, minimal dia punya grup keluarga. Kalo sebatang kara trus ansos? No comment ya. Bicara yang lazim ajah. Grup yang saya maksud : genk / komunitas / inner circle / sejenis. Bisa juga whatsapp grup atau grup di media sosial (FB contohnya) buat yang masih mainan FB. Sudah selayaknya dalam hidup ini ada aturan dan norma. Mau Anda tinggal di hutan sekalipun ada aturannya, contoh : dilarang menebang pohon atau mengelola sampah yang dihasilkan. Apalagi di dunia nyata ini, semua ada syarat dan ketentuan. Nah tapi namanya juga dalam satu grup ada banyak kepala dan banyak pemikiran. Aturan dibuat untuk menjaga ataupun menyeimbangkan. Misal di wagrup parenting : topik yang dibahas seputar parenting dan isue terkini yang membawa dampak untuk anak. Ada jam tertentu yang dilarang diskusi (18-21). Tulisan tidak boleh disingkat macem anak alay : iya menjadi iaa atau ea • dua – duanya menjadi 2’2 na • maaf menjadi maav 😑😑😑 Begitu deh kira – kira.

Untuk grup di FB biasanya kita ikut sesuai ketertarikan kita, ada dunia masak, dunia travelling, dunia crafting, dan lainnya. Dunia masak ada banyak nih grup – grup nya. Ada grup yang tak luput dari bully dan drama. Ada yang selow aja selama gak rempong, ganggu, ataupun nipu. Yah kenyataannya kan tetep ada aja orang nipu atau modus ala MLM. Begitupun bila berinteraksi di grup. Menurut saya, keluarga dekat lebih santai dan akrab. Keluarga besar lebih rusuh. Kantor dan komunitas lebih jaim (jaga image). Pertemanan tergantung sikon. Grup sesuai dunia-nya yang saya sebut di atas contohnya juga tergantung anggota dalam grup tersebut. Kalau di dunia nyata saya selektif berteman. Hal ini saya terapkan dua kali lipat di media sosial. Mencoba untuk making a friend tanpa berlebihan dan tidak menghiraukan haters atau pengganggu.

Merasa tidak nyaman di grup tersebut? Kalo saya tipe yang langsung cabut. Kecuali keluarga ya, seganggu apapun itu selama tidak menyenggol prinsip (menghina, melecehkan, merendahkan, dan sejenisnya). Insya Allah keluarga segalanya. Sahabat bisa langsung dikonfrontir. Tapi kalo hanya teman ya tinggal berhenti aja berteman sama orang itu. Buat saya percuma memunculkan isue gak nyaman di grup A ke grup B (karena di dunia yang sama). Buat apa? Gak ada untungnya. Lo gak suka / gak nyaman ya keluar aja. Pusing amat pake dibahas, buang waktu dan energi. Begitupun bila ada yang posting. Bila saya suka atau menilainya baik/posistif ya likes atau ladeni bahas lebih lanjut. Kalau gak suka ya skip aja. Beres. Begitu pun dengan wagrup yang punya aturan yang cukup ketat, biasanya wagrup yang bermutu yang begini. Saya gak jadikan beban, ikutin ajalah. Memang kadang butuh keluasan hati untuk melihat suatu hal dengan bijaksana. Bahkan untuk unfollow ataupun unfriend. Kalau banyak mudharat-nya tentu gak perlu dipikir dua kali. Tapi selama bisa ditolerir kenapa tidak. Gimana dengan pengalaman nge-grup kamu?