Domba di Februari 2018

Tema bulan Februari ini di sekolah Teona adalah domba. Subhanallah, semua yang ada pada domba dapat dimanfaatkan. Sekolah membeli beberapa ekor domba berbeda jenis semua yang selama sebulan dipelihara anak – anak raudhatul athfal (TK). Mulai dari teori, lalu nonton video kisah Nabi Ibrahim as, bermain bersama domba, memandikan domba, bernyanyi dengan tema domba, hingga menyembelih, dan mengolah semua yang bermanfaat pada domba. Kenapa domba? Tentu sekolah punya pertimbangan ya. Kalo unta selain gede, mau taro di mana juga tu unta. Sementara domba masih lazim lah ya. Beberapa tahun lalu di Jakarta trend menu domba Afrika. Saat saya nikah, salah satu menu andalan gubuk-gubukan katering yang saya pakai adalah menu domba Maroko yang Alhamdulillah menuai banyak pujian dari undangan yang hadir.

Duluuu, saat berlibur sekeluarga ke Australia pun kami sempat lihat atraksi mencukur bulu domba. Menarik. Jadi domba memang punya daya tarik dibanding kambing atau hewan kurban lainnya. Tentu pihak sekolah pun mendatangkan ahli domba pada saat memotong kuku dan bulu domba. Saya lihat Teona cukup menikmati tema domba ini. Sebab hampir tiap pulang sekolah tanpa saya tanya, dia ceritain tentang domba. Seperti siang itu :

Teona : “ibu, tadi dombanya bengong”

Saya : “kenapa bisa bengong? Main HP terus ya?!” *saya menjelaskan ke Teona, kalau anak main gadget terus, saat gak main HP dia jadi bengong karena gak tau apa yang mesti dimainkan alias mematikan kreativitas.

Teona : “masa domba main HP, ya enggaklah”

Saya : “trus kenapa bengong dong?”

Teona : “Karena dombanya kenyang dikasih makan terus”

Saya : “ooh, bagus deh kalo bengong karena kekenyangan”

Domba made in Teona

Anak-anak selain bikin prakarya kreatif tentang domba, olahan domba lainnya pun tak kalah seru, yaitu : beberapa jenis masakan domba seperti sup, sate, dan tongseng. Juga rebana dari kulit domba. Tapi jangan ditanya, ternyata Teona kurang suka olahan makanan domba, karena buat dia daging domba masih terasa keras. Yes, Teona paling males kalo makan ada makanan yang nyangkut di gigi alias seliliten. Jadi waktu saya tanya, Teona suka daging domba gak? Tentu aja tu anak geleng kepala. Haha. Mungkin lain kali dipresto dulu kali ya. Hehe. Trus dia bilang setelah domba disembelih, dombanya meninggal. Saya bilang, hewan yang memberi manfaat bagi manusia insya Allah masuk surga. Manfaatnya seperti yang saya sebut di atas. Seperti yang pernah saya bahas di post idul adha, saya tidak khawatir anak-anak lihat proses penyembelihan hewan. Selama di bawah pengawasan guru dan Pendidikan Islam yang penjelasannya dapat diterima nalar anak TK. Kenapa sih hewan harus disembelih sebelum diolah dan dikonsumsi. Domba ciptaan Allah an. nafii’ memberi manfaat 🐑

Advertisements

The power of ngobrol #abahihsan

Terus terang saya makin penasaran terapin metode abah Ihsan lewat pelatihan kemarin. Saya masih terus coba walopun adaa aja khilaf nya. Contohnya yang sudah berkelanjutan : 18-21. Daripada late post lagi, mumpung masih hot, saya mau cerita sekarang. Selain biar gak lupa juga mesti segera diterapin lagi ilmu barunya. Apa saya masih pelit? Saya bagi deh, tapi dikit aja ya *halahh.

Berhijrah mudah, istiqomah yang susah.

Ini beneerr banget. Huhu. Contoh nih, dari gak pake jilbab ke berjilbab sih mudah. Mempertahankannya yang belum tentu. Kenapa? Banyak banget godaannya. Allah maha membolak-balik hati manusia pun dengan mudah Allah cabut hidayah yang sudah diberikan *naudzubillah. Itu salah satu alasan saya untuk terus memburu ilmu parenting islami ini.

“The power of ngobrol”

Rasulullah SAW mengatakan kurang lebih :

Speak good

OR

be silent

The first sentence is SPEAK GOOD (bicara bermanfaat).

Kalau kita bisa berlama-lama ngobrol hal-hal yang gak penting dengan teman atau orang lain. Kenapa dengan suami / istri / anak gak bisa ngobrolin hal gak penting?!

Setelah ini saya hanya memberikan resume ya, kalo dibahas semua, kepanjangan cuy!

Ada 5 asumsi yang berbahaya :

  1. Makin sering bicara seolah-olah masalah selesai = belum tentu. Bukan bicara (1 orang) tapi ngobrol (2 orang).
  2. Berharap orang dapat membaca pikiran kita atau menunggu inisiatif orang. Hal – hal yang mengganggu sebaiknya dikomunikasikan.
  3. Menyerah. Menyerah tidak akan menyelesaikan masalah.
  4. Ketika emosi memuncak, kita sering mengucapkan hal-hal yang BUKAN kita maksudkan
  5. Tidak melihat sudut pandang orang lain

Solusi dari 5 asumsi yang berbahaya :

  1. Cari hambatan untuk ngobrol
  2. Saling memahami

Duh, punten gak bisa jabarin lengkap penjelasannya. Selain panjang, percayalah bahwa lebih enak dan seru dengerin penjelasannya dari abah Ihsan langsung dengan gaya nya abah Ihsan. Trademark banget deh pokonya gaya si abah Ihsan ini.

Masih terkait dengan cerita anak (dari anak mulai bisa bercerita hingga 23 tahun), kenapa 23 tahun? Anda mesti ikut pelatihan abah Ihsan agar paham betul maksudnya. Ketika Anak bercerita, solusinya kita melakukan ABG yaitu :

A : akui perasaannya >> oh jadi kamu kesal / marah / sedih?

B : berikan komunikasi >> kenapa begitu ya temanmu? (sudut pandang anak)

G : gali solusi >> trus menurut kamu gimana baiknya?

Selain itu orang tua WAJIB mendengarkan aktif ke anak, mendengarkan aktif : mendengarkan sambil sesekali bertanya.

Ketika orang tua melakukan kesalahan dan meminta maaf ke anak, bukan berarti menyerah dengan keadaan atau menjatuhkan kredibilitas orang tua. Namun itu bentuk KOMPROMI terhadap anak atau pasangan kita.

Abah Ihsan pun mengingatkan :

NGOBROL : 2 way communication

BUKAN

BERKISAH : 1 way communication

Ada banyak penjelasan dari abah Ihsan yang jleb jleb bangeettt di saya. Berkali-kali dalam hati bilang, “iih gue banget nih”. Hihi. Yahh, kita kan manusia biasa. Banyak juga pertanyaan para moms and dads, sebutan untuk komunitasnya abah Ihsan yang bernama mata pena. Saya gabung? Iya. Saya turut aktif? Lumayan. Pokonya asal topiknya ‘gue banget’ pasti nyimak dan urun rembuk.

Selama 3 jam (08.00-11.00) tadi, cukup untuk jadi pengingat dan mendapat ilmu baru yang gak sabar untuk saya terapkan di keluarga saya. Tantangannya adalah tetap konsisten dan tidak tergoda untuk menye-menye sehingga disiplin tetap berjalan. Ngincer ikutan PDA (pola disiplin Anak) nih. Mau izin ke bapaknya Teona dulu lah ya. Kalo diizinin pasti saya update, walopun resume doang ya pemirsa. Selamat berakhir pekan 😉

Pelatihan Parenting oleh Abah Ihsan

Karena pelatihan parenting kali ini saya bayar (biasanya cuma 3-4 jam dan gratis), kali ini 2 hari full 07.30 – 18.00. Jadi saya gak ceritain semua detil. Selain karena saya pelit alias ogah rugi. Gila aja kalo saya bahas semua itu materi, wani piro?! Hahaha.

Ini latepost parahhh. Secara abis ikutan pelatihan kemarin lanjut minggu lalu masuk 4 hari doang karena mau long weekend ya kan. Trus sibuk gila. Jadilah baru posting sekarang. Idealnya pelatihan ini diperuntukkan bagi orang tua (Ayah dan ibu). Saya pun setuju. Walaupun belum pernah tau siapa abah Ihsan? Pelatihan parenting dengan metode seperti apa sih? Trus kenapa setuju? Logikanya kayak konsul program hamil (promil) ke dokter Obgyn aja deh, gak mungkin periksa istri doang, tentu saja suami juga diperiksa. Bikin anaknya kan berdua! Namun setelah perdebatan sengit hingga bertikai hebat. Akhirnya diputuskan hanya saya yang ikut pelatihan *dasarlelaki *sigh.

Judul pelatihan ini : PSPA (Pelatihan Sekolah Pengasuhan Anak) yang berguna dari bayi hingga anak usia 23 tahun. Dapat dilakukan tidak hanya untuk orang tua lengkap, namun juga : sangat lengkap (ada kakek, nenek, atau saudara), orang tua yang long distance marriage, bahkan single parent.

Day 1

Karena 2 hari ditinggal full seharian, saya gak khawatir Suami urus Teona. Dia melakukannya lebih baik dari saya (baca : lemah lembut dan penyabar). Jadi sebelum berangkat saya masak sarapan, lalu untuk makan siang dan makan malam. Yess, 2 menu. Baru siap-siap dan berangkat. Saya datang terlambat 10 menit dan dapat duduk PALING DEPAN. Hoho. Alhamdulillah gak ketinggalan, karena pas banget abis sambutan dan pembacaan ayat suci Al. Quran dan saritilawah. Tengok kanan – kiri kok gak ada yang kenal. Pas nengok baris kedua dari depan alias deretan belakang saya, eh ketemu sosok seorang teman, SpOG hits : dr. Atut Cicih Mayasari, SpOG. Materi dimulai dengan “kenapa pelatihan parenting ini dibutuhkan?” Secara dulu mau ortu petani atau nelayan yang tidak berpendidikan tinggi pun, anak-anaknya bisa sukses. Ya karena dulu belum ada : gadget, sinetron sampah, hingga predator anak. Dengan perkembangan jaman yang semakin tak bermutu, maka orang tua butuh ilmu dan skill dalam mendidik anak. Tujuannya apa? Banyakkk. Salah satunya, orang tua tidak ‘dijajah’ anak.

Mulai dari sini akan banyak dijabarkan Modul, SOP (standard operational procedure), dan PR (pekerjaan rumah) bagi orang tua. Seperti SOP dalam memilih jodoh untuk anak. Hah? Anak milih jodoh sendiri kali. Tetep aja di bawah pengawasan orang tua dong, misal jangan sampelah berbeda aqidah, hingga berakibat anak kita murtad *naudzubillahi min dzalik • remaja yang bermasalah • komunikasi suami dan istri • MALAS mendidik anak, sehingga kasih gadget. Padahal ngapain juga dikasih gadget? Tanpa gadget pun, balita tidak akan nganggur kok! Yang diamini seluruh orang tua dan Guru yang hadir. Nah lho! • pola 18.00 – 21.00 • anak introvert dan ekstrovert • dan masih buanyak lagi. Karena saya pelit, gak saya bagi semualah 😝

Day 2

Masih seperti hari pertama, masak dulu. Udah super kilat pun, giliran mau jalan, qadarullah hujan deras. Jadilah saya telat 5 menit dan beneran gak boleh masuk! Pukul 8 saya bersama kurleb 10 orang tua lainnya yang datang telat diperbolehkan masuk satu per satu. Disiplin si abah Ihsan patut diacungi jempol. Mana ada coba, kita yang bayar eh malah kita yang disuruh tepat waktu dan jika telat pake sanksi. Akibat telat, saya dapat duduk PALING BELAKANG. Huhu. Tapi tidak mengurangi semangat saya ikut pelatihan ini.

Melanjutkan ke modul selanjutnya, SOP lainnya, dan PR lanjutan. Seperti : harga diri anak, akibat harga diri anak hancur • anak bermasalah bukan karena genetik (tidak ada dalilnya) • orang tua saleh belum tentu menghasilkan anak saleh *sedih banget pas tau fakta-fakta yang dijabarkan *dalam hati setuju, “bener juga ya.” • artikel menitipkan anak pada kakek – nenek • lanjutan cara tepat menghandle anak introvert dan ekstrovert • kelas akselerasi • tega(s) • SOP ngamuk • SOP gadget • SOP games • SOP punya anak • Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Abah Ihsan menyampaikan materi dengan seru, lucu, dan cara yang menyenangkan. Hingga gak terasa udah udah magrib menjelang. Bener – bener gak merasa digurui, justru yang saya lihat para orang tua antusias sampe nafsu tuh curhatnya. Baik tentang keluarganya hingga anaknya sendiri. Jadi nambah bahan pembelajaran buat saya dan bukan kita aja satu-satunya orang yang punya masalah di dunia. Abah Ihsan menegaskan, jangan merasa paling menderita di dunia *setuju. Ditayangkan deh video – video sebagai contoh ataupun inspirasi. Tak lupa juga kuis dan games yang bikin ngakak.

Pelatihan ini diikuti 70% ibu dan 30% ayah. Jangan dikira suami sukarela ikut, banyak yang dipaksa istrinya. Sayang saya gagal memaksa suami saya *huh! *egolelaki *tetepkesel. Sisi positifnya, pelatihan ini selain memelihara kewarasan saya, juga membuka mata, pikiran, dan hati saya tentang MENDIDIK ANAK. Anda gak setuju mendidik anak tega(s) dan disiplin? Itu pilihan. Kalau saya tipe yang setuju sekali dengan metode itu. Karena punya dan mendidik anak bukan hanya untuk hari ini dan esok. Tapi (mudah-mudahan) puluhan tahun hingga maut menjemput. Mau Anda orang tua lengkap atau single parent, mau Anda orang tua muda atau usia matang, metode mendidiknya tetap sama. Kembali lagi, anak juga anak Anda. Gimana pun, konsekuensinya Anda yang terima.

Ketika saya cerita lengkap ke seorang sahabat, dia banyak gak setuju dengan metode tega(s) dan disiplin. Menurutnya yang penting anaknya jadi anak baik, gak menyimpang ajaran agama, gak berandalan. Yah, silakan aja. Karena saya suruh coba deh ikut pelatihan ini, alasannya banyak. Memang intinya mesti NIAT, kalau gak niat ya susah. Saya niat karena saya ingin jadi ibu (bukan teman) buat Teona. Saya niat karena saya gak ingin menyesal karena salah pola pendidikan. Saya niat karena saya takut dengan pergaulan jaman sekarang. Saya niat karena saya ingin Teona jadi lebih baik dan berhasil dari Kami. Aahh, pokonya saya gak nyesal mengorbankan waktu akhir pekan untuk ikut ini.

Apakah hanya untuk muslim saja? Tentu tidak, keyakinan lain pun tentu diperbolehkan ikut. Hanya karena saya ikut di sekolah Teona yang khusus muslim, jadi penyampaiannya sesuai kitab dan aqidah Islam. Saya gak sabar mengikuti pelatihan tahap selamjutnya, yaitu :

PDA : Pola Disiplin Anak

Dan

KCR : Kendali Cinta Remaja

Jangan sampai ketika anak sudah aqil baligh, tidak bisa menjaga hasrat biologisnya sehingga menjadi anak yang ‘bebas’ dalam arti sesungguhnya *amit2. Testimony saya : Pelatihan ini amat sangat membantu orang tua dalam memberikan tidak hanya kasih sayang. Namun juga mendidik budi pekerti, disiplin, dan akhlak yang baik.

Kamera pengintai

Kamera pengintai alias CCTV, kayaknya udah suatu hal yang biasa banget ya jaman sekarang. Oh saya sih gak masang, karena kan saya urus anak sendiri. Namun saya cukup akrab, karena buanyak temen-temen yang anaknya didelegasikan ke pengasuh (ART/babysitter) jadi wajib pasang CCTV di rumah, sehingga bisa dipantau dari mana pun. Beberapa waktu lalu pun ada pengasuh yang ketauan membanting anak dari CCTV. Konon ibu si anak langsung berhenti kerja untuk urus anaknya *kata seorang teman yang berteman dengan ibu si anak. Saya dengerin aja.

Kejadian lain saat di salah satu tempat belanja grosir ternama, temen saya lagi belanja banyak, satu karung/bagor ternyata gak cukup. Dia mau beli karung lagi dia titip di sisi samping suatu toko dengan seizin yang punya toko. Tapi malang, barang belanjaan teman saya dicuri maling. Huhuhu. Saya cukup heran, kok bisa gak ada CCTV. Karena jangankan tempat grosir ternama, penjual santan di salah satu pasar di daerah aja CCTV nya 4 di satu los santan itu! Santan! Di daerah pula. Apa kabar sih ini?! *gemasss. Segitu parah kriminalitas terkini 😧

Kalau saya pribadi gak ada masalah bangeettt dengan kamera pengintai. Karena memang dibutuhkan. Jaman berubah, manusia pun udah gak kayak dulu, gak ngerti deh mesti bilang apalagi. Tentu karena dibutuhkan, saingan semakin ketat, sehingga harga kamera pengintai semakin terjangkau. Saya termasuk pro dengan kamera pengintai. Tentu karena melihat sisi positif lebih banyak dibanding negatifnya. Yang pasti teknologi berkembang dan kembali cara kita menyikapinya. Kamu termasuk yang pro atau kontra dengan kamera pengintai?

Banjir

Karena sudah masuk musim hujan, dengan intensitas curah hujan yang sering. Maka kota Jakarta pun siaga. Bukan hanya frekuensi hujan saja, tapi juga ‘banjir kiriman’. Kemarin pagi, jalanan lebih macet. Ternyata beberapa ruas jalan banjir hingga ada wilayah yang terendam banjir ditutup karena gak bisa dilewati. Oh saya lagi gak bahas kinerja gubernur, biarlah bekerja sesuai kompetensinya. Kalo saya berusaha sebagai manusia saja. Karena menurut saya, dua dari sekian persoalan adalah sampah dan resapan air.

Sampah

Rasa-rasanya udah banyak yang membahas soal sampah. Kalau saya pribadi, mencontoh dan mempraktekan beberapa hal :

  • Di rumah orang tua, seluruh warga komplek dikenakan iuran sampah setiap bulan. Jadi seminggu tiga kali ada truk sampah yang angkut sampah di tiap rumah.
  • Di rumah mertua, mengelola sampah sendiri dengan membakar atau mengubur. Macam contoh di buku IPS / mulok jaman dulu.
  • Di rumah salah satu tante, sampah yang dihasilkan dibawa sendiri ke penampungan sampah terdekat.

Jadi gak ada cerita sampah dibuang sembarangan atau gak ngurus sampah. Bayar iuran sampah atau kelola sampah sendiri.

Resapan air

Duhh, ini masalah pelik baik di kota maupun di desa ya. Di kota, saking semua mau dijadikan pemukiman / perkantoran / industri. Di desa pun, lahan yang tadinya sawah banyak yang jadi pemukiman. Hutan dibabat untuk jadi lahan industri dan lainnya. Tanpa memikirkan untuk menanam kembali atau minimal mengatur resapan air. Bahkan resapan air ini pun dilupakan terlupa. Semakin meningkat UKM dengan adanya toko / kios di kanan kiri jalan. Sebaiknya dipikirkan juga kalau hujan air mengalir kemana? Masa jalanan jadi kubangan air, tinggal piara kudanil dong.

Salah pemprov / pemkot / pemda? Kalo kita lihat lingkungan sekitar seperti itu dan diam saja, tentu kita punya andil salah. Trus gimana? Kalo saya sih sejak pemerintahan lalu lapor ke qlu3 *ini masih reliable gak sih??? Soalnya saya udah uninstalled karena laporan saya berkali-kali tidak ditindaklanjuti. Sejak kapan? Yaahh, gitu deh *males bahas *ntar disangka menyebar kebencian. Dulu laporan saya berkisar : sampah, PKL, hingga macet akibat penutupan jalan permanen. Saya jadi lumayan deg-deg an lihat Jakarta yang kalinya mulai meluap. Akibatnya jalanan pada ditutup sehingga macet dan tentu saja selamat datang pengungsi banjir. Di beberapa titik mulai begitu, semakin cepat diantisipasi, semakin baik usaha mengendalikan banjir.

Sendu seru akhir pekan

Seperti biasa, akhir pekan Kami setiap awal bulan sudah terjadwal. Kami sudah berbagi tugas untuk Sabtu kemarin : saya rapat orang tua di sekolah sementara Suami dan Teona service mobil. Namun ba’da subuh, Ayah saya telfon menginfokan kalau jamaah subuh di komplek sudah takziah Ayah sahabat perempuan saya R. Walaupun saya tau Ayah R sakit diabetes berat, namun tentu ajal di luar kuasa manusia. Bergegas packing dan siapin kebutuhan Kami. Lalu saya didrop di sekolah Teona, Suami tetap service mobil dan memberi saya kebebasan untuk takziah sekaligus menghibur R. Alhamdulillah. Saya sampai di rumah duka hampir zuhur, sudah ada sahabat laki-laki, yang juga berteman sejak TK, si I. Tak lama datang sahabat perempuan lainnya B. Sahabat lain sudah duluan takziah sebelum Kami.

Akhirnya ba’da Zuhur berjalan menuju pemakaman. Rombongan sempat kocar-kacir karena akses menuju makam lewat jalan kecil dan macettt. Saat prosesi pemakaman saya, I, dan B mendampingi R. Ini kejadian pertama ada orang tua yang berpulang di genk Kami. Saat selesai, Kami bertiga masuk mobil, dan berjalan pulang. Sempat hening beberapa saat dan saya memecah keheningan dengan menarik nafas dan bilang “rasanya beneran sedih banget ya.” Kemudian diamini kedua sahabat saya. Sendu. Karena Kami melewatkan makan siang, maka saat melewati junk food favorite Kami sejak jaman SMP, Kami memutuskan untuk mampir makan di situ. Sembari saya ‘ngomel’: “dari SMP gak berubah ya kita. Belajar naik mikrolet dari sekolah ke situ trus nongkrong gak penting.” Trus pada ketawa dan sepakat “iya ya.” Kalau saja orang tua Kami tau, sudah disediakan fasilitas jemputan tapi kami pilih naik mikrolet pasti habis dimarahi. Aah memory ~

Ada beberapa yang menjadi catatan saya bahwa : hari gini TPU pada penuh! 😱 Sudah jadi konsumsi publik ya soal semakin terbatasnya lahan di jabodetabek. Lalu ini pun tak kalah penting, lokasi TPU sesuai KTP 😦 Kekhawatiran saya yang berKTP Jakarta, memang masih ada lahan di TPU Jakarta?? Pasti menumpuk makam lama atau entahlah saya gak ngerti. Hanya saja yang mudah-mudahan memang menjadi KEMUDAHAN adalah, tata cara sesuai keyakinan. Muslim, Nasrani, hingga keyakinan untuk dikremasi. Semua tersedia. Terkait dengan kematian adalah kiamat kecil maka poin pentingnya : bekal di akhirat.

Seharian saya bebas dari apapun, bisa turut menguatkan dan menghibur sahabat. Suatu berkah yang amat saya syukuri. Dapat bertemu dan bercerita banyak dengan sahabat lainnya pun, menjadi bonus manis. Seru. Hingga sore saat kembali ke rumah orang tua dan cerita semuanya. Menjadi refleksi diri kalau ya yang utama itu akhirat, dunia hanya sarana. Kematian sungguh dekat dan akan selalu ada di kehidupan kita. Selamat mempersiapkan bekal untuk masa depan yang sesungguhnya.

Januari 2018 bulan bersepeda

Sebulan kemarin temanya sepeda. Jadi semua anak membawa sepedanya ke sekolah. Main sepedanya pun ada jadwalnya. Anak – anak tentu aja senenglah ya. Secara mereka main sepeda ya biasanya di rumah. Berbeda dengan anak-anak yang naik sepeda ke sekolah, seperti yang selalu saya lihat saat mudik ke Solo. Walaupun di kota, mereka tetep naik sepeda. Di Jakarta yang bike to school udah gak ada kali ya, orang tua cenderung kasih motor ke anaknya. Sementara yang bike to work masih suka saya lihat tapi itu tidak lebih dari 10% *asik ngarang survey aja lo, Fran. Trus sepeda pun umum, semua orang pasti punya sepeda, esp anak-anak. Kalau rollerblade (sepatu roda) atau otopet kan gak semua punya.

Teona sering cerita kalo dia naik sepeda sama temen-temennya. Trus sempet juga cerita kalau temennya ada yang ngebut trus lupa ngerem jadi nabrak sedikit sepeda Teona. Trus anak itu minta maaf. Soal ini, gurunya udah laporan juga ke saya. Bukan masalah, toh Teona nya gak cedera. Alhamdulillah. Ada juga cerita temennya yang gak mau naik sepeda, jadi sepedanya buat dipajang aja. Saya bilang, gak apa-apa, mungkin temennya belum pengen bersepeda. Wah masih banyak lagi deh cerita dari Teona tentang bersepeda di sekolah.

Di hari terakhir bersepeda di sekolah, sedikit spesial. Karena anak-anak tidak hanya bersepeda tapi juga mencuci sepeda! Hoho. Karena sepeda mau dikembalikan ke rumah masing-masing setelah sebulan di sekolah. Maka sepedanya dicuci dulu. Itu topi dan baling-baling juga ternyata dibuat sama anak-anak tentu saja dibantu guru. Lucu ya. Pakai topi ceritanya supaya gak kepanasan. Trus baling-baling ceritanya berputar ketika sepeda digenjot. Gitu deh kira-kira. Cita-cita Teona selanjutnya, copot dua roda kecil jadi sepeda roda dua. Tugas bapaknya lah ngajarin sepeda roda dua. Kalo saya enggak deh, daripada pinggang encok plus emosi jiwa karena gak sabar 😅 Kamu masih suka bersepeda juga gak?