Review buku: Soe Hoek Gie

Bukan review serius, hanya saya cukup terkesan dengan sosok Gie. Jujur pertama saya kenal Gie, saat nonton film Soe Hoek Gie yang diperankan Nicholas Saputra. Saat itu saya masih kuliah, satu almamater dengan Gie. Ada rasa malu hati saat tau perjuangan Gie. Sementara saya? Saya pilih berjuang untuk bisa lulus tepat waktu dengan IPK di atas 3. Tentu bukannya mudah meraih nilai A untuk setiap mata kuliah. Dosen – dosen selama saya kuliah tak banyak yang royal dengan nilai A. 

Ada 10 fakta yang menarik perhatian saya tentang Soe Hoek Gie :

1. Sekolah di SD keturunan etnis tionghoa, SMP Strada, SMA Kanisius, Kuliah di jurusan Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya (FIB)), Universitas Indonesia.

2. Bertempat tinggal di Pecenongan, Jakarta Pusat.

3. Ayah Soe Hok Gie juga seorang penulis.

4. Statement Gie: Islam statistik. Yaitu orang Islam yang tidak menjalankan syariat Islam, hanya untuk memenuhi statistik saja *duh, naudzubillah.

5. Sebagai laki – laki, Gie naksir seorang perempuan. Kebetulan keluarga si perempuan, pedagang besar sukses yang juga kagum dengan keberanian dan karya Gie. Namun, ayah si perempuan tidak memberikan izin anaknya untuk lebih dekat dengan Gie.

6. Prinsip Gie: Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan. ~ Gie, andai kamu tau bahwa saya satu prinsip denganmu  💪

7. Statement Gie: disiplin diri. Saat teman dekat wanitanya harus mengumpulkan paper (tugas kuliah) baru dibuat sekarang (sehari sebelumnya). ~ Gie, kalau aja kamu tau. Waktu kuliah dulu, besok harus kumpulin paper, paling cepet saya kerjain malam sebelumnya, terparah di pagi hari deadline *jangan ditiru. No wonder, kamu berprestasi.

8. Pertengahan tahun 1968, Gie ke US dan Australia. Kaitannya dengan akademik. ~ Kamu keren, Gie! 

9. Gie menceritakan soal ketua senat FKUI yang kini menjadi salah satu guru besar FKUI yang membantah artikelnya. ~ Gie, andai kamu masih hidup mungkin se-tua beliau sekarang.

10. Gie terakhir menulis catatan hariannya pada 8 Desember 1969 dan meninggal pada 16 Desember 1969. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya ke-27. Akibat gas beracun di kawah Mahameru. Saat seorang teman Gie memesan peti mati di Malang, tukang peti mati bertanya untuk siapa peti mati tersebut. Saat diberitahu untuk Soe Hok Gie, tukang peti mati kaget. Katanya, “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?”. Teman Gie membenarkan. Tukang peti mati tersebut menangis. Saat teman Gie berusaha bertanya, tukang peti mati terus menangis dan hanya menjawab: “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.
Tentu masih banyak fakta menarik lainnya. Namun dari fakta – fakta menarik di atas, kalau saja saya seangkatan dengan Soe Hok Gie. Pasti saya akan dengan senang hati berteman dengan Gie. Sosoknya tegas dan pemberani. Bisa jadi teman yang pas dengan saya yang ribet binti labil ini. Karena pada dasarnya, saya suka dengan orang yang memiliki karakter berbeda dan percaya diri dengan perbedaan itu. Saya paling malas berteman dengan orang mainstream, yang tidak terbuka dengan hal – hal yang luas, bidang yang berbeda, dan terlalu datar bagai katak dalam tempurung. Buat saya, orang seperti itu gak asik. Ah, Gie. Andai kita bisa berkesempatan berteman. 
Meskipun Gie ragu akan Tuhan. Ragu bukan berarti tidak percaya Tuhan. Namun pemikiran dan keberaniannya saya salut. Well, tidak ada manusia yang sempurna bukan. Gie aktivis, memimpin demonstrasi. Saya bukan aktivis, boro – boro ikut demo. Disuruh demo sama senior, saya kabur! Takuuttt. Gie pun pernah menjadi dosen untuk kelas Antropologi. Otak dan nyali saya tidak sehebat Gie. Tapi sosoknya berbeda. Andaikan saya berkesempatan mengenalnya, saya mau bilang: “Gie, kita nge-genk yuk!”

Advertisements

All about your first born

Sekali – sekali ikutan yang sedang trend. Nyontek dari  blog Emmy dan Ria“ALL ABOUT YOUR FIRST BORN”. 

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Tidak
2. Father in the room? Tidak
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Awal Mei
6. Birth date? Akhir April 2013. Teona kepalanya gak masuk ke jalan lahir. 
7. Morning sickness? Permanen selama 9 bulan. Obat mual? Gak efek.
8. Cravings? Iya dongs, antara lain : Al. Baik, kue putri salju, chicken strip CFC. Hoho.

9. Kilos gained? 10 kg !

10. Sex of the baby? Perempuan

11. Place you gave birth? RS. Husada, Jakarta.
12. Hours in labour room? 30 menit.

Total rawat inap 4 malam, karena Teona disinar (kuning). Penyebabnya Teona walaupun saya lahirkan tapi Kami berbeda golongan darah *kuasa Allah.
13. Baby’s weight? 2.8 kg Panjang 49 cm
14. Baby’s name? Teona 
15. How old is your baby today? 4 tahun
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 3 :
– Mual muntah full 9 bulan dan masih tetap bekerja. Hehe.

– Karena pernah memiliki riwayat keguguran. Jadi tes lab saya super lengkap. Antara lain : Tes lengkap awal kehamilan, tes saat ingin terbang ke luar negeri, dan triple XXX test. 

– Saat hamil sama sekali tidak idealis. Tetap beli botol susu, sterilizer, dll. Yang berakhir gak kepake, karena Teona tidak pernah pakai botol dot. Tetap beli pospak, padahal kenyataannya 3 bulan Teona full popok kain, lanjut clodi (cloth diaper). Jadi pospak hanya untuk saat pergi saja. Tetap baca – baca tentang sufor, ternyata Alhamdulillah ASI melimpah. Tidak sufor sama sekali *Subhanallah.
17. Who’s the obgyn?  dr. Fransiska Mochtar, SpOG.

Saya cukup positif dengan tema ini. Bisa memotivasi wanita yang belum punya anak tapi sebenarnya ingin punya anak atau memang sedang program inseminasi / bayi tabung; jadi pembelajaran untuk ibu hamil di luar sana; dan berbagi pengalaman.

Warung Sate Sederhana, Jatinegara, Jakarta Timur.

BUKAN POST BERBAYAR! BUKAN ENDORSE! MURNI PENGALAMAN PRIBADI.



Saya tau warung ini dari kecil, karena faktor asal yang punya warung dari Klaten, Jawa Tengah. Orang tua saya sering ajak makan di sini. Trus dari dulu terkenal enak. Menunya : tongseng kambing, gulai kambing, dan sate kambing. Pokonya meng – kambing. Hehe. 

Dulu saya pernah lihat liputan acara makan2nya Pak Bondan pernah liput ke warung sate Sederhana ini juga. Ciri khas nya, ada pengamen keroncong yang menghibur di situ. Karena namanya warung, jadi yaa gitu deh, gayanya warung banget, gak ada AC. Tempatnya juga gak gede, jadi gantian nunggu yang selesai makan. Lumayan sauna kalo pas lagi jam makan siang. 

Untuk harga, standar. Gak murah tapi gak mahal juga. Porsi nasinya banyak, jadi saya biasanya mesen setengah daripada gak habis. Bisa minta tambah irisan cabe rawit kayak temen saya pas makan. Saya udah cukup dipuaskan dengan yang tersaji. Lokasinya persis di samping hotel Alia, Jatinegara. Kalo naik kendaraan pribadi mesti parkir di pinggir jalan, tukang parkir minta 10.000. Kalau naik transportasi umum yang lewat sini, mikrolet 01, transjakarta juga lewatin tapi tempat makannya lumayan jauh dari shelter busway. Buat penggemar kambing, bisa dicicipin. Buat selera saya, sudah mendarah daging kambing banget. Hehe.

Warung Sate Sederhana 

Pusat : Gg. Lele Matraman Raya 224 Jatinegara. Telp. (021) 8508151

Cabang : Jl. Pahlawan Revolusi Pondok Bambu, Jakarta Timur. Telp. (021) 8604128

Playground indoor di mall

Sebagai orang tua yang (sebenarnya) gak mau sering2 ajak anak main ke mall. Rada bingung juga, mau ajak main kemana lagi. Palingan ruang terbuka hijau macam taman lapangan banteng atau perpus cikini. Acara2 seperti playdate emang udah paling nyaman ya di mall, permainan anak2 ada, laper tinggal cari foodcourt atau resto, mushola, hingga toilet pun tersedia. Ditambah dengan buanyak – nya mall di Jakarta, tinggal pilih deh mau mall yang kayak apa. Meskipun saya lahir, besar, dan tinggal di Jakarta. Saya bukan anak mall tapi ya terpaksa deh main2 ke mall. 
Sekarang saat udah punya anak, tentu tak terelakan ke playground indoor di mall. Sebenernya lagi, saya gak sreg dengan playground indoor di mall. Alasan karena di playground indoor bayar, bukan alasan utama, alasan ke sekian lah itu. Yang utama, saya memang lebih suka anak2 di ruang terbuka aja sih. Strategi di mall pasti ada playground indoor memang gak bisa disalahkan, tapi gak yang tepat juga *ribet ye gue. Intinya, anak saya mau gak mau ya jadi kenal dengan playground indoor di mall. Jadi candu sih Alhamdulillah enggak. Cuma ini anak kan makin mudeng ya, jadi kadang keinget trus minta ke salah satu permainan di mall. Intinya saya dan suami menyesuaikan dengan situasi dan kondisi aja sih. 

Pusing kan lihat banyaknya kartu. Udahlah kartu debit, kartu supermaket, kartu RS, masih ditambah kartu permainan -_-  Tapi kalo gak simpan, tiap pas ke mall dan mau main, beli kartu lagi dong. Seperti yang terjadi, dobel2 deh tuh kartu permainan padahal saldonya masih ada. Hadeuh. Dengan simpan kartu2 ini, misal mau main, tinggal isi saldo aja *kalau saldo habis. Bedanya ibukota dengan daerah, di Jakarta jarang ada tempat yang gratis. Kalo daerah, masih ada sawah, danau, pantai, hutan. Banyak tempat (gratis) yang bisa dijelajahi. Memang semua ada kelebihan dan kekurangan. Post ini bukan ajakan untuk ngumpulin kartu permainan ya, saya aja males banget sebenernya, terpaksa ini. Ada gak sih yang sama kayak saya, terpaksa punya banyak kartu playground indoor di mall?

Random thoughts 

Beberapa hal berikut sering terlintas di sela – sela aktivitas kesibukan saya. Kok bisa? Yah lihat orang sekitar atau pas lagi ngebahas sama suami atau temen. Selain jadi self reminder, saya bertekad jangan sampeee hal tersebut ada di saya atau saya alami atau saya lakuin *amit – amit.

1. Kerja paksa untuk narapidana. Narapidana (napi) hukumannya pembinaan. Tapi kan gak semua yang masuk penjara trus sadar dan insyaf. Nah, yang gak bisa disadarkan dan bertobat inilah yang mesti ‘dipecut’ untuk kerja paksa. Pindahin mereka ke pelosok yang ndesooo banget. Trus suruh bikin jembatan kek, bikin irigasi kek, bikin jalan kek. Pokoknya infrastruktur yang belum ‘tersentuh’ akibat uangnya dikorupsi *eh. Atau memang daerah pelosok tersebut memang terisolir. Kerja paksa di sini bukan kayak jaman penjajahan tapi daripada kerjaannya tidur, makan, plesiran *eh. Mending diberdayakan aja para napi ini.

2. Cerita bayi tabung. Jadi kerjaan saya sebenernya gak jauh dari pasangan infertil dari berbagai latar belakang dan ras. Seneng begitu tau pasangan tsb sudah hamil. Namun ternyata tidak selesai sampai di situ. Ada pasangan, yang pasti suaminya ras yang diidolakan. Protes keras karena saat bayi hasil bayi tabung tsb lahir ada sedikiittt kekurangan. Sumpah, kekurangan itu (menurut saya) hanya ujian kecil. Dibanding elo udah usaha mahal tapi gak berhasil alias gagal bayi tabung. Kalau di agama saya, apapun yang terjadi ke diri kita insha Allah akan jadi ladang amal dan pahala untuk kita. Namun untuk si suami tsb, kalau di negaranya, bayi seperti itu tidak seharusnya dilahirkan  😢  Entah dia gak percaya Tuhan, gak beragama, atau dia lupa / gak tau kalau dia ciptaan Tuhan juga kali ya?! Saya speechless 😡

3. Tuntutan. Hari gini tuntut menuntut kayaknya udah jadi hal biasa. Ngadu ke LSM trus lapor polisi atas tuntutan bla bla. Orang yang duitnya gak berseri walaupun otaknya gak ada pun bisa nuntut. Sebenernya rada heran aja, hari gini gampang bangett buat cari track record si pelapor. Apakah orang tsb dari latar belakang yang baik? Apakah ada sejarah kriminal sebelumnya? Dan sejenisnya. Mbok ya ditelusuri dulu, mending nangkep koruptor kelas kakap dibanding ngurus tuntutan alay.

4. Sebentar pakai jilbab sebentar lepas jilbab. Hak dia kali. Okey, tapi bila pelakunya sudah berumur, hendaknya lebih bijaksana dan istiqomah. Pake ya seterusnya, atau lepas aja sekalian. Kan lagi belajar? Saya maklum tapi karena contoh seperti ini ada di sekitar saya. Jadi saya cukup tau persis kualitas orang – orang seperti ini. 

5. Jadi benalu di hidup orang lain. Sejak kecil saya udah liat contoh – contoh manusia benalu. Menjijikan sekali. Jadi saya bertekad untuk hidup mandiri, apalagi setelah nikah. Berusaha untuk tidak menjadi benalu, tahu diri, dan hidup sesuai kantong. Tapi manusia benalu biasanya gak sadar dan santai aja jalaninnya. Hiihhh! 

Zaman berkembang, teknologi semakin maju, manusia semestinya meningkatkan kualitas diri. Malu sama generasi muda, malu sama orang sekitar, dan paling penting malu sama diri sendiri. Memperbaiki diri wajib hukumnya. 

Mineapolis, Plaza Indonesia.

BUKAN ENDORSE! BUKAN POST BERBAYAR! MURNI PENGALAMAN PRIBADI.


Saya lupaaa soal bayar2nya berapa, bisa cek langsung aja ya. Tapi saya ingat detil permainannya. Haha. 

1. Hideout. Semacam indoor outbound gitu deh. Ada perosotan (tertutup dan terbuka), mini stage, dan bisa nerobos di kolong panggung. Hehe. Perpaduan rumput sintetis dan lantai kayu. Aman untuk anak – anak. 

2. Carousel. Teona naik kuda bareng batita lainnya. 

3. Kereta api. Kita nunggu di stasiun trus saat kereta berhenti baru naik dan keliling mall di lantai tersebut dengan kereta. 

4. Cricks garden. Semacam indoor garden gitu deh. Permainan bola, beberapa permainan keahlian, beberapa permainan ketangkasan, dan lainnya. Rumput sintetis dan vynil cukup aman. 

5. Fishing & colouring. Jadi fishing ada di dekat no. 1 (hideout) sementara colouring dekat no 3 (kereta api). Fishing dengan jaring dan ember kecil. Colouring dengan cat minyak / spidol. 

Karena tidak menyatu, jadi no 1 – 5 beda – beda lokasi namun masih berdekatan Dan satu lantai. Tentu saja di lantai tersebut banyak bertebaran brand – brand luar khusus anak – anak. Plaza Indonesia adalah mall yang tidak memiliki department store seperti c3ntr0 atau d3b3nh4m5. Brand paling standarnya Zar@. Jadi pas jeda (anak laper dan rest room) kita pilih rehat di cafe aja.

Duluu pas masih single, saya ke plaza Indonesia buat ketemu temen atau nyushi. Tapi begitu ada Teona, disesuaikan jadi ‘momong anak’. Haha. Hadeuh, mall lagi, mall lagi. I have no choice  😜

Ketika tidak bisa memilih

Akhir2 ini ramai dibicarakan hingga dicaci netizen, akibat ulah ibu, suami dan kedua anak turut menjadi korban bully. Yang bikin jadi makin sedih karena saya berteman baik dengan anak – anak tersebut. Saya tau persis, hati mereka baik dan mereka solehah. Begitu netizen ‘menyerang’, saya yang tidak berani membahas topik ini langsung dengan mereka, membaca satu post dari mereka yang bertujuan ‘bicara’ dengan netizen. Lebih bikin terharu, karena mereka berdua bijak bangettt  😢 

“Tidak bisa memilih lahir dari ibu mana dan dari keluarga yang seperti apa” ; “apa yang dilakukan ibu tidak ada sangkut paut dengan anak, karena anak telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan sendiri”. Setidaknya itu yang menyentuh di saya. Terlebih ketika mereka lebih suka dihujat dibanding Ayah mereka yang dihujat *mbrebes mili. Rangkaian kata – kata anak – anak itu muncul dari hati tulus, hasil didikan yang baik, pembelaan anak solehah. Netizen pun tersentuh dengan rasa cinta kedua anak ke Ayah dan Ibu mereka. 

Saya sempat ‘mengintip’ beberapa komentar pedas hingga jahat dari jari netizen. Duh, Gustiii. Orang – orang itu kan gak kenal secara pribadi ya, tapi komentarnya udah kayak paling tau hidup mereka. Bahkan sumpah serapah dari netizen bikin saya prihatin, namun disikapi bijak : “memilih jomblo dibanding Ayah menanggung dosa – dosa gak penting kami (pacaran maksudnya) sebelum menikah”. Kalo aja netizen tau, buanyakkk cowok yang antri dengan berbagai cara agar bisa ‘mencuri’ hati mereka. Kalo aja netizen menyadari, hari gini kita sebagai cewek amat sangat wajib berhati – hati dengan cowok yang belum jelas bibit, bebet, bobotnya. Saya termasuk tipe yang sepaham dengan kedua teman saya tersebut! Toh tidak ada yang salah dengan menjomblo, kami membentengi diri dari sampah masyarakat. Kalimat saya judes? Emang! Kenyataan kok ini.

Komentar – komentar dari netizen amat mencerminkan kualitas pribadi mereka. Contohnya (maaf), mulai dari nama account socmed – nya deh. Kelihatan kok kualitas pribadinya. Lalu rangkaian kalimat dan ejaan di komentar yang mereka tulis. Hadeuh, minta ampun *tepok jidat. Bukan memukul rata netizen ya, tapi kelihatan dengan sangat mudah. Mana orang yang bermutu dan orang yang gak ada mutunya sama sekali. Mari mencoba untuk bijak dalam bersosial media, sopan dalam mengutarakan pendapat (apalagi kalo gak kenal secara pribadi), dan berempati dengan apa yang dialami orang. Situ nyumpahin yang jelek, kalo sumpah itu berbalik ke diri atau keluarga situ kan pasti pedih rasanya. Mending saya, judes tapi gak iseng judesin hidup orang apalagi kalo gak kenal langsung. Iih, siape elo?!