Cerita Delman Wisata

Ini pengalaman Teona pertama kali cobain naik delman wisata. Kalo bareng orang lain dan mau nunggu sampe penuh, tarifnya 5.000/orang. Kalo mau borongan (sewa hanya untuk diri sendiri) kena biaya 20.000. Seputaran itu jaraknya sekilo. Saat di jalan, Saya lihat kusir yang anak kecil hitungannya, memecut kuda yang ternyata bernama lemot (e nya dibaca seperti tape ya). Saya tegur, “jangan dipecut, Dik. Kasian.” Toh kudanya gak melenceng atau melawan kok. Lalu Saya iseng tanya, berapa harga kudanya? Kusir bilang, 18juta udah sama delmannya. 


Semoga kuda2 untuk delman wisata dirawat dengan baik ya. Gak sampai hati lihat hewan yang dimanfaatkan untuk mencari rezeki tapi disakiti. Allah maha penjaga makhluknya. Tetap semangat, kuda!

Advertisements

Tujuh belasan 2016

Di lingkungan kami, acara tujuh belasan baru aja diadakan Sabtu kemarin. Jam 7 pagi kami baru keluar, jalan santai, trus berhenti untuk skipping. Saya udah lamaaaaa banget gak skipping. Bapaknya Teona yang rajin, kemarin itu saya cobain skipping dan engap! Astagfirulloh. Nafas Senin-Kamis, debaran jantung kerasa banget, capek banget rasanya tapi seneng. Harapan BB balik ke 48 kilo seperti sebelum lahiran serasa dekat padahal mah jauhh. Haha. Pas lagi skipping di area terbuka, temen saya yang mau pergi dadah2 dari mobilnya karena lihat kita. Temen saya juga pasti tau, saya gaya2an olahraga. Haha.
Selesai skipping, kita ke tempat acara. 
Ternyata acara tujuh belasan akan dimulai. Wah, seru nih. Acara awal, pawai karnaval dan sepeda hias diiringi ondel-ondel dan musik tanjidor. Lalu lomba2 pun dimulai, ada lomba mewarnai, lomba kelereng, lomba memasukkan paku dalam botol, dan lainnya. Di tengah acara kami balik, padahal baru jam 10 tapi si bocah udah geje. Padahal masih ada lomba panjat pinang yang berhadiah dispenser dan lainnya dibungkus rapi pake kertas coklat. Akhirnya kami balik, tapi untung gak nungguin, panjat pinang baru berlangsung jam 3 sore. 


Catatan: saat lomba masukin paku ke dalam botol, orang tua atau pengasuh ada aja yang bantuin si anak yang lagi ikutan lomba. Untung digalak-in sama panitia nya, kalo gak boleh ada bantuan. Kejadian ini jadi bahan diskusi saya bapaknya. Pengen menang tapi curang. Sebenarnya esensi dari lomba itu kan berjuang sendiri, menang atau kalah gak terlalu penting. Anak berusaha sendiri yang patut dihargai. Tapi entah ya, kadang Saya mikir, beda pemikiran atau saya kali yang katro.  
Oh ya, sebenernya anak usia 3 udah bisa ikutan lomba, tapi Teona belum bisa ambil bagian sebagai peserta. Terbukti di tengah acara, minta pulang, rewel ngantuk. Jadi tahun ini partisipasinya sebagai penonton deh. Biar tau dan belajar apa itu lomba dan kemeriahan acara tujuh belasan ๐Ÿ™‚

Teman bikin pusingย 


Saat muda, maksudnya saat sekolah sampai kuliah. Saya gak ada masalah dalam berteman, sehingga saya punya banyak genk, bukan genk sosialita loh ya. Genk itu pun masih awet sampai sekarang walopun jarang ketemu karena kesibukan masing2. Selama bekerja pun, saya gak ada masalah dalam berteman. Saya gak merasa berkewajiban harus punya banyak teman, semua mengalir aja. Toh apapun yang terjadi sama saya, family came first. Temen ya sekedarnya, gak terlibat segitu dalamnya juga *privacy.



Saat ini, ketika sudah menjadi ibu2. Alhamdulillah Saya menemukan teman ibu2 lain yang kurang lebih sebaya, seru dan cocok untuk bertukar pikiran maupun bertukar info . Tapi tidak begitu dengan teman2 ibu2 yang usia 35 keatas *mending sebut umur deh daripada identitas. Yang saya temui atau yang ada di sekitar Saya, minta ampun nyebelinnya. Udah jaga jarak pun tetep aja ribet, segala hal pokonya. Saya gak cocok! Kalo sebut usia wanita katanya gak sopan, tapi akan lebih gak sopan lagi kalo saya bahas perbedaan tingkat pendidikan *yes, bukan nyinyir lagi ini tapi udah ketus. Walopun secara materi mereka jauhh berlebih dari saya, dibuktikan dengan mobil sport dan mobil mahal lainnya. Tapi tidak sinkron dengan cara berpikirnya.
Bapaknya Teona mengingatkan agar saya gak terpengaruh (minta beli mobil sport) omongan mereka. Haha. Ya kaliii. Jelas2 Saya apatis dalam segala hal kecuali keimanan ya. Insya Allah qana’ah.  Makanya temen di dunia nyata, sehari-hari, yang pas di hati. Saya maintance sebaik-baiknya tanpa embel2 diprospek-lah. Saya paling benci diprospek! Cuma bisa banyak2 berdoa, supaya dijauhkan dari orang2 yang ga asik! Amin.

Nasionalisme WNA?


Kalo ada beberapa teman kuliah Saya yang memilih bersuami WNA dan getol memamerkan paspor barunya yang bukan lagi paspor Indonesia. Kembali lagi itu hak mereka, peran saya di socmed hanya sebagai pemirsa. Namun yang menarik, belakangan ini ramai dua berita yang berkaitan dengan kewarganegaraan Indonesia-nya. Berita pahit yang menyangkut kewarganegaraan seseorang.

  1. Seorang menteri yang baru 20 hari menjabat diberhentikan dengan hormat oleh Presiden karena memiliki paspor Amerika. Sebuah media melansir berita bahwa ex menteri tersebut sudah menjadi WNA melalui proses naturalisasi pada Maret 2012 dengan diambilnya oath of allegiance atau sumpah setia kepada negara Amerika Serikat. (Sumber: Liputan6.com) Walopun bisa membuktikan dirinya memiliki paspor Indonesia dan tentu sebagian masyarakat menilai pencopotannya tidak fair. Balik lagi, Indonesia melaksanakan UU, kalo menyimpang tentu tidak konstitusional *kurang tajem nih intelnya ๐Ÿ˜‰
  2. Seorang pelajar gagal  dikukuhkan menjadi paskibraka pada upacara 17 Agustus di istana negara. Alasan gagal dikukuhkan karena pelajar tersebut memiliki paspor Perancis. Sementara peraturan perekrutan paskibraka wajib WNI. Dalam UU no. 12 Tahun 2006 jelas disebutkan: seseorang kehilangan warga negara apabila memiliki paspor (negara lain). (Sumber: kompas.com) Sial aja ini pelajar, biar gimana dia masih anak2, mana sih ngerti birokrasi bikin dia jadi begini. 

    Kalau dinilai tidak fair? Ya memang tidak. Indonesia mungkin gak seperti Korut tapi tiap negara memiliki UU dan peraturan yang berlaku. Pendekatannya tentu aja beda, ex menteri malang melintang di dunia minyak selama 20 tahun di amrik. Gampang aja menerima dengan legowo. Sementara si pelajar, tentu aja susah menerima karena merasa berdedikasi. Sehingga menpora menggunakan pendekatan yang berbeda. Hmm, bukan salah bunda mengandung kalau kenyataan bikin mutung *ngarang. 

    Mungkin udah waktunya gak lagi menuntut dwikewarganegaraan untuk anak hasil pernikahan campur ataupun yang memang memilih bermigrasi dalam hal pekerjaan dan kehidupan. Tapi masa depan individu tersebut akan kemana? Wallahualam. Kasian loh mereka, nasionalisme mereka jadi luntur hanya karena hal warga negara. Gak bisa juga sakit hati, pilihan hidup.

    Manusia ibarat tukang parkir

    Kisah nyata: seorang istri bekerja di suatu bank BUMN dan suami bekerja di suatu institusi pemerintah. Mereka dianugerahi dua anak, perempuan dan laki-laki. Secara finansial cukup mapan, selain memiliki mobil dan motor mereka sekarang sedang membangun rumah impian. Alhamdulillah. Namun di tengah kebahagiaan mereka, Allah berkehendak lain, anak laki-laki nya diambil olehNya. Tepat 40 hari kemudian, Allah mengambil suaminya. Allahu akbar. Allah maha mengatur, maha kuasa. Suatu masa diberi rezeki yang berlimpah, di masa lain diambil kembali rezeki tersebut. Semua pasti ada maksud, diberi ujian berat dan bertubi-tubi. Insya Allah akan dinaikkan derajatnya. Amin.

    Belajar dari kisah nyata di atas, saya berkesimpulan: manusia ibarat tukang parkir. Tugasnya mengatur dan mengamankan. Tapi kalo ‘si empunya’ datang dan mengambil ya mesti rela. Satu lagi, kalo Allah mau kasih ujian, sejentik jari bisa terjadi. Apapun itu bentuknya, mulai dari kehilangan barang, tidak tercapai suatu keinginan, hingga kehilangan orang yang berarti di hidup kita. Subhanallah. Bener2 menjadi ‘tamparan’ supaya lebih dekat dengan Allah, bukan hanya sekedar mengingatNya. Agar kita gak merasa paling hebat dan berakhir dengan kesombongan. 


    Menjadi pelajaran penting bagi orang di sekitarnya dan agar yang mengalami ujian dapat mengambil hikmah di balik ini semua. Speechless? Iya pastilah. Tapi apalah manusia, hanya debu di padang pasir. Semua manusia pasti punya ujian hidupnya masing2, mudah2an dapat kita sikapi dengan bijaksana *postingandalem *semogadijagaimanislamkita

    Cerita apotik Rini, Rawamangun (lagi)

    Kenapa cerita apotik Rini lagi sih? Keabisan ide ya? Karena saya makin cintaaa dong sama apotik Rini. Sekarang Rini bertempat di gedung baru dan modern 3 lantai lengkap dengan lift! Bangunan lamanya? Masih ada kok, tapi semua udah pindah ke gedung baru. Gedung barunya super keren kalo saya bilang. Lokasi apotik Rini, saya ulang lagi sebagai pembaruan post terdahulu. Persis seberang supermaket Tip-Top dan sebelah Dunkin donut. Pinggir jalan kok tempatnya dan ‘dihiasi’ dengan aneka rupa kuliner yang menggugah selera. Sayang Saya kalo ke apotik Rini selalu dalam kondisi panik dan kepepet. Jangankan cicip kuliner sekitar situ, mau fotoin gedung baru apotik Rini aja sampe gak kepikiran dong. 
    Sedikit curhat, Teona seminggu ini batuk pilek. Saya masih pake obat biasa, tapii abis bangun tidur siang kok badannya anget, kok sampe 38-nan derajat. Makannya bagus, minum saya banyakin. Udah minum tempra juga tapi batuk berdahak juga. Telp bapaknya Teona ternyata lagi lembur. Duh, bakal malem banget plg. Saya cek folder bening tempat simpen segala rupa riwayat kesehatan plus COPY RESEP! Benar sekali ibu2, tiap kali anak sakit, abis konsul ke dokter Spesialis Anak kan dikasih resep dan suruh nebus di apotik. Jangan lupa minta copy resepnya, lain waktu kalo keulang sakit yang sama tinggal tebus obatnya *tips ala Frany ๐Ÿ˜‰


    Setelah nemu saya fotoin copy resep dan kirim ke WA apotik Rini, Alhamdulillah fast response. Ini kedua kalinya saya tebus obat dengan sistem begini. Trus langsung meluncur pake ojek online. Fyi, apotik rini itu daerah rame, jadi suka macet. Apalagi malem hari di mana waktu kuliner udah digelar, extra sabar. Jujur aja sepanjang jalan waktu berangkat saya gak putus istighfar, soalnya sedih banget rasanya. Begitu sampe jam 19.30, bayar, nunggu sekitar 5 menit trus dipanggil, dijelasin (lagi) baru cabut balik. Segitu mudahnya beres urusan tebus obat. Lega rasanya diberi segala kemudahan pas saat genting. Siapapun pemilik apotik Rini, Semoga Anda dapat pahala yang banyak ya. Amin. Buka 24 jam + fast response = service excellent.

    P.S. Bukan post berbayar!

    Cerita BNPB Solo


    Kebetulan rumah keluarga bapaknya Teona deket banget sama kan sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Surakarta. Hari pertama di Solo, jam 8 pagi, kami lewatin depan kantor BNPB dan berjejerlah mobil pemadam kebakaran lengkap dengan personilnya siap siaga. Teona tiba2 berhenti trus ngeliatin mobil pemadam.  

    Saya rasa Teona seperti teringat akan dua hal:

    1. Ada satu episode di serial ipin upin mengenai pemadam kebakaran. Cukup mendidik dan berkesan. Pasti udah pada tau kan ya. 

    2. Saat berkunjung ke Kidzania, ada fire department. Bisa mulai dari usia berapa saja tapi sayangnya saat itu selalu full antrian. Teona cukup kecewa karena gak bisa ikutan menjadi petugas pemadam, lengkap dengan kostum dan replika mobil pemadam. Jadi tiap antri di ‘wahana’ lain trus denger sirine dan mobil pemadam lewat. Dia liatin aja, haha. Kasian. Kapan2 kita ke kidzania lagi deh ya.  

    Karena kami berdiri di depan kantor agak lama. Seorang bapak menghampiri kami, ajak kenalan dan ajak Teona salim. Trus bapak itu menggendong Teona masuk ke dalam, kami ngikutin. Bapak itu memperkenalkan dan memperlihatkan Teona dengan segala rupa perangkat Mobil pemadam kebakaran. Wah, jadi nambah pengetahuan anak gue! Hehe. Trus beneran dibunyiin sirinenya, rada kaget Teona awalnya. Tapi kita bilang, kan kayak Mei-mei (di serial ipin-upin). 

    Setelah sekitar setengah jam di situ, kami pun pamit. Bapak petugas tanya kita darimana dan mau kemana? Trus kita nunjuk2 dong tempat hotel ke rumah keluarga. Haha. Terima kasih banyak ya bapak petugas yang saya lupa namanya *short term memories *alesan. Jadi bisa belajar langsung gak pake replika dan gratis pula. Unpredictable moment.