6th wedding anniversary 

Gak mau bilang, “gak terasa ya udah 6 tahun”. Tentu aja terasa bangeettt. Teona aja bentar lagi genap 5 tahun. Apaan gak berasa?! Rasanya campur aduk, namanya juga rumah tangga. Ada naik – turun, BT – seneng, santai – ruwet. Repeat. Apalagi untuk tetap istiqomah. Misal, kalo belum bisa menghilangkan aktivitas ribawi, minimal mengurangi. Kalo belum bisa menjadi panutan, minimal gak berhenti untuk belajar menjadi panutan. Kalo belum bisa sabar, minimal gak kebakaran jenggot, calm down. Yang terakhir sih saya bangett. Tapi saya mah gak nyerah terus belajar dan berusaha.

Namanya rumah tangga, tentu gak hanya dua orang tapi melibatkan dua keluarga. Tahun – tahun kemarin, bener-bener penyesuaian. Kalo sekarang, wis sakarepe wae, yang penting aman terkendali. Saya gak luput dari salah dan khilaf. Pasti suami juga gitu. Dia jauuuhhhh lebih sabar dari saya. Ngajarin saya banyak hal. Sama-sama saling ngingetin untuk tawaddu. Gak lelah mendidik saya dan Teona. Paling enggak, turut membantu kerjaan rumah tangga dan momong anak. Itu amat sangat membantu saya. Harapannya, Kami bisa lebih baik dan solid menjalani rumah tangga. Gak meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Menjadi manusia yang lebih baik dan berbakti pada kedua orang tua Kami. Aamiin.

Maaf karena masih harus terus berusaha ingetin aku untuk lebih sabar dan berprasangka baik untuk semua hal.

Terima kasih untuk semua, bahkan hal – hal kecil seperti ‘membangunkan aku dari pelukan setan’ ketika waktu subuh datang.

Jangan pernah lelah dan menyerah mengarungi hidup bersamaku dan puteri kita.

Mudah – mudahan Kita selalu mendapat barokah dan hidayah Allah swt agar tetap sabar dan tegar.

Advertisements

Digoda atau menggoda?

Tentu kalo jomblo yang digoda, seneng jumawa manja gimana gitu ya. Lah kalo istri orang? Saya gak bicara suami orang yang digoda. Ibaratnya kucing dikasih ikan asin ya pasti mau lah. Walaupun kembali lagi ke pribadi masing – masing. Saya rasa prinsip ini berlaku juga kalau istri orang digoda. Apapun statusnya, IRT atau ibu bekerja mau diceng-in (diledek) atau digoda pasti ada aja. Sepintar apapun kita membawa diri. Alih – alih bergosip, mesti dilihat dulu konteks dari digoda itu.

Contoh kasus :

Di suatu komunitas, seorang anggotanya (istri orang) tidak lagi aktif hadir karena konon menurut pengakuan ybs, digoda oleh anggota komunitas lain yang juga suami orang. Sudah difasilitasi pun gak mengubah pendirian si istri orang ini. Wallahuallam. Hari gini teknologi maju, misalpun diganggu kontak chat / telepon. Bisa diblok nomernya. Kalau mau berprasangka baik, si empunya wadah komunitas pun sudah bijak memfasilitasi. Menurut saya si istri orang jadi lebay.

Kalau saya pribadi, apa yang menimpa kita tentu dari apa yang kita buat. Poin pentingnya bisa jadi bahan koreksi diri, gimana cara kita membawa diri, penampilan, bahasa tubuh menggoda lawan jenis atau tidak?! Gak bisa sok kecantikan juga, bisa saja modusnya iseng, mengambil keuntungan, atau apalah gak penting. Gak perlu jadi baper lah. Lakukan hal yang berfaedah saja, shay.

Sedikit berbagi cerita, saya pun kadang masih dapat perlakuan ledekan dari kolega yang tentu suami orang. Semisal lagi rame-rame, trus kolega tsb bilang ke saya, “sayang udah ada yang punya lo.” Karena di publik tentu saya balas juga bercanda. Kalau bilangnya secara pribadi tentu saya kick. Saya bisa jamin sebatas flirting saja, karena kolega tersebut tau saya lebih muda darinya, memuji berlebihan, dan lainnya. Asal gak hanya berdua, tidak ketemu tiap hari, dan saya merasa ada saksi (orang lain) yang tau dan dengar. Namun tetap jadi bahan koreksi untuk saya: apakah saya belum menutup aurat seutuhnya, apakah saya se-eksis itu, apakah saya lebay, dan lainnya. Sampe orang kok bisa berlaku begitu ke kita (baca : meledek / menggoda). Menghindari fitnah dan ledekan berikutnya.

Sayang sebetulnya kalau baper, selain menutup tali silaturahmi. Tentu segala sesuatu bisa coba disikapi dengan baik, ada solusi lah *edisi bijak *benerin jilbab. Manusia dewasa yang waras dan berakhlak tentu tau batas lah. Kalau gak direspon positif juga pasti tau diri kok. Lagipula percayalah, bisa flirting ke kita, pasti bisa flirting juga ke orang lain. Jadi biarkanlah. Setuju?

Mak ubi, Pecenongan, Jakarta Pusat. 

Bukan post berbayar! Murni pengalaman pribadi. 





Seperti biasa, tau tempat makan ini dari bapaknya Teona. Selesai rapat bulanan orang tua di sekolah Teona, sebelum ke tujuan selanjutnya. Saya pengen makan dulu, jatuhnya brunch ya. Akhirnya suami ajak ke Mak Ubi, menu yang ditawarkan ala Medan Deli gitu. Pesanan Kami antara lain : lontong sayur Medan, mie kocok, lupis, dan roti bakar selai sarikaya. Semua yang Kami pesan enak! Cucok pokonya. Sayangnya Kami gak pesen kopi, kunjungan berikutnya pasti coba dicicip. 






Tempatnya tidak terlalu luas namun cozy. Suami bilang Wi-Fi nya oke, saya gak coba. Lha wong mau fotoin aja, anak udah gak sabar. Ladenin bocah dulu sampe doi makan sendiri dengan tenang. Lokasinya cukup strategis, persis seberang Red Top Hotel, Jakarta Pusat. Pelayanannya oke dan sopan. Trus mak ubi ini buka sejak pukul 08.00  sampai pukul 22.00. Sip deh buat nikmatin sajian Medan Deli di Jakarta. 

Persiapan ajal? 

Serem ya judulnya 🙈 Saya bukan yang mau kasih ceramah atau pencerahan. Murni pengalaman pribadi dan kejadian terkini. Jadi saat saya mau balik Jakarta kemarin, salah satu anggota keluarga suami menitipkan pesan yang kurang lebih :

Kalau saya mati, untuk aset semua dokumen bla bla. Lalu lainnya saya titip kamu *sambil menunjukkan dan menerangkan satu per satu ke saya 

  • Waduh! Secara bukan keluarga kandung atau sedarah. Saya rada bingung juga mesti bersikap gimana. Dalam hati, “siapa gue?!”. Trus cerita ke bapaknya Teona yang ditanggapi dengan santai!  Hadeuh.
  • Salah satu sahabat curhat tentang kondisi rumah tangganya, di akhir cerita dia bilang : “kalau mendadak gue mati, paling enggak elo tau persoalan ini.” Astaghfirullah. 
  • Terkini kejadian rubuhnya salah satu gedung termegah di Jakarta. Saat saya tiba di sekolah untuk jemput Teona pulang. Masuk WA dari sahabat lainnya yang memberitahu kalau gedung tsb rubuh dan beruntung suaminya sudah selesai rapat dan keluar gedung 5 menit sebelum kejadian rubuh. Allahu akbar. 
Pic dapat dari sahabat

Sampe saat ini saya masih lihat beritanya dan tentu saja penasaran sebabnya. Persiapan ajal? Tentu persiapan sih gak mulai hari ini aja ya, tapi setiap waktu. Hanya saja, sungguhlah ditunjukkan bahwa kematian sungguh dekat. Menjadi catatan untuk saya supaya lebih berserah diri terhadap takdir Allah swt. 

Pohon Coklat

Setelah dulu pernah bahas pohon wijen, maka sekarang mau ceritain pohon coklat. Saya nemunya saat antar Mama mertua ke rumah kakak ipar di Sungai Tambang, Sijunjung, Sumatra Barat. Kebetulan kakak ipar punya kebun yang isinya pohon coklat. Trus saya tanya, “kayak apa sih?”. Ditunjukin deh si buah coklat yang bentuk kulit luarnya sedikit mirip buah blewah *ngomongin blewah jadi inget bulan puasa ya. Tapi isinya beda, justru mirip daging buah manggis. Rasanya gak semanis manggis tapi tetap manis. Enakkk. 




Nah, biji coklat tersebut dijemur hingga kering, lalu dikumpulkan hingga sekian kilo. Trus dijual ke daerah Solok, hasil penjualan coklat langsung dibelikan bareh Solok aka beras Solok. Hehe. Seru juga denger cerita kakak ipar, saya malah norak karena baru tau. Sebagai pecinta dan penikmat coklat. Rasanya cupuw banget gak ngerti asal muasal coklat. Kemarin pas saya nanya-nanya coklat itu, stoknya ada sekarung, beratnya gak nimbang. Yang pasti saya gak kuat ngangkat. 
Sayangnya, saya gak ikut baik ke ladang maupun ke tambang. Karena badan gembrebeg, tenggorokan sakit buat nelan. Saya memutuskan untuk minum obat dan tidur. Padahal saya yakin, kalo ikut bakal banyak hal baru yang saya dapet. Yang pasti pada panen pepaya dan singkong. Eh ini juga lucu, keluarga suami sebut singkong itu ubi. Padahal ubi ya ubi, singkong ya singkong. Gemes yee. Jadilah ‘proyek’ sore hari, bikin keripik singkong pedas. Judulnya pohon coklat, akhirannya singkong *apa sih, Fran..  Happy weekend all! 

Milad Sekolah Teona 2017

Awal bulan Januari diperingati milad (ulang tahun) Sekolah Teona. Acaranya macam-macam, kalo kelompok A (TK nol kecil) tampil fashion show dan tampil menyanyi. Sementara adik – adik kelompok bermain dan kakak – kakak TK B, madrasah ibtidaiyah (SD), madrasah tsanawiyah (SMP), dan madrasah aliyah (SMA) pun menampilkan ekstrakulikuler masing – masing. Ada lomba – lomba seperti misalnya lomba sholat berjamaah antar sekolah. Trus artisnya sebenarnya lumayan. Tapi karena saya gak pro poligami, jadi saat dia mau tampil saya minta pulang. Padahal sebelummya saya termasuk lumayan suka lagu-lagunya. Jalan menuju surga banyakk, gak hanya melalui itu. Maaf2 aja deh. Eh kecuali yang dipoligami nenek-nenek atau janda tua kayak Rasulullah. Karena kasusnya mirip kasus muljem, males ah *ini apa sih gue?! 


Selain artis tsb sekaligus pengumpulan dana untuk Palestina. Sejak datang, kita sudah diberi bendera Indonesia dan sisi satu lagi bendera Palestina. Ini jadi pembahasan saya dan suami. Tahun sudah 2018, kok masih ada negara yang dijajah? Udahlah dijajah, masih didzolimi pula 😠 Indonesia dulu juga dijajah, ada kerja paksa juga. Tapi itu duluuu. Tolong bantu saya kasitau, selain Palestina, negara mana lagi yang dijajah? Dijajahnya pun separah Palestina? Seluruh dunia udah murka lho sama Israel. Apalagi dengan sempat ditutup / dibatasi ibadah di masjid Al. Aqsa 😠😠😠 Namun Alhamdulillah, semua ada hikmahnya. Umat muslim baik secara mandiri / backpaker bahkan travel tour mengadakan travelling ke Palestina. Tujuannya memenuhi shaf-shaf sholat di masjid Al. Aqsa dan menunjukkan pada zionis Israel bahwa umat muslim apapun kondisinya tetap solid. Sedikit cerita, April 2017 seorang teman dengan keluarganya (mereka orang Indonesia) travelling ke Palestina. Mau masuk ke area masjid Al. Aqsa diperiksa ketat, mau sholat pun Di bawah pengawasan senapan tentara Israel. Alhamdulillah, dalam bulan ini teman lain backpaker bersama keluarganya ke Palestina. Jauh lebih kondusif. Niat saya semakin dalam, insha Allah suatu hari bila masih ada umur bisa ibadah di masjid Al. Aqsa dan ziarah ke makam Nabi – nabi juga napak tilas sejarah Islam. Oh ya, kalau ke Al. Aqsa biasanya orang mampir ke laut mati. Disarankan untuk tidak berlama-lama di tempat yang kena azab Allah, Nabi Luth dari Sodom *silakan dicari sejarah Nabi Luth as. 





Kembali ke acara milad, ada bazaar dan cek kesehatan gratis. Teona main di stand RA (TK) bikin semacam pl@yd0ugh dan sempet ‘ngintip’ kakak Mts (SMP) yang pada memanah. Saya dan suami cek darah (gula darah sewaktu, kolesterol, asam urat). Sementara Teona periksa gigi gratis juga. Hihi. Secara keseluruhan acara milad Alhamdulillah sudah baik dan meriah. Teona senang, Kami sebagai orang tua pun turut senang. 

Aktivitas Teona libur akhir tahun 2017

Meskipun akhir tahun kemarin terkait urusan keluarga, tentu aja Teona si anak yang belum mengerti beban hidup. Dia nganggepnya liburan ke rumah kakek dan nenek. Gak apa-apa, menyesuaikan situasi dan kondisi. Tetep ajakin dia mencari aktivitas untuk mengisi liburannya. Apa aja sih? 

1. Main hujan – hujanan. Kalo di Jakarta gak akan saya atau bapaknya izinin main hujan – hujanan. Tapi lain hal pas di rumah mertua, Teona main hujan – hujanan ditemani bapaknya. Habis itu tentu saja mandi air hangat dan balur minyak telon *emakposesif

2. Pergi ke ladang dan tambang batu bara. Ini yang saya gak ikutan, jadi cuma fotoin pas mau jalan. Cerita kakak ipar, pas ke kolam besar untuk kasih makan ikan, Teona teriak : “haiii ikaannn, ketemu lagiii.” Ikannya pada kabur kali ya denger teriakan heboh nih anak. Haha. Trus pas kasih makan kambing, Teona suapin dan si kambing otomatis narik makanan yang disuap. Tapi sama Teona ditarik juga. Jadilah Teona dan kambing tarik – tarikan •_•  Ngerecokin sepupunya yang lagi supervisi di tambang dan tak lupa panen pepaya dan singkong. Asiikk. 



3. Merayakan ulang tahun kakek dan sepupu. Saat di rumah kakak ipar, anaknya berulang tahun. Jadi kita beli kue di salah satu supermarket. Karena gak ada h0ll@nd bakery, h@rv3st, ataupun ch33sec@ke f@ct0ry. Trus saat di Padang merayakan ulang tahun kakek. Tentunya Teona ikutan seru, namanya juga ulang tahun. 

4. Kondangan / jagong / baralek. Kondangan tuh bahasa betawi, orang Jakarta biasa bilang kondangan. Sementara Bapak dan Ibu saya bilangnya, “jagong shik yo”. Trus di minang menyebutnya baralek. Apapun itu, intinya menghadiri hajatan acara pernikahan. Kali ini perempuan minang menikah dengan pria mandailing. Psst, ini juga pertama kalinya saya ke nikahan di Padang. 


5. Main di halaman belakang rumah kakek dan nenek. Jadi karena ada 2 kolam dan banyak pohon buah. Ngobrol sama kakek, siram tanaman, kasih makan ikan. Oh itu bapaknya Teona pegang senapan angin, untuk menghalau monyet liar. Karena di halaman belakang berbatasan sama hutan kecil sebelum laut lepas. Gitu deh intinya. Pelurunya pun larut di air rawa.
Pastilah berbeda aktivitas Teona di Jakarta dan pas ke Padang. Saat ke rumah ortu saya dan pas ke Jawa pun tentu beda lagi aktivitasnya. Pokonya kasih aja ini anak pengalaman-pengalaman baru yang gak ditemui sehari-hari. Jadi ada cerita baru yang bisa dia ceritain. Yang penting seneng dan gak rewel. Sempet rewel sekali tapi masih di bawah kontrol saya dan bapaknya. Alhamdulillah aman terkendali.