Catatan Akhir Tahun 2020

Awal tahun yang cukup berat, pertengahan tahun yang semakin berat, dan akhir tahun yang mulai bisa menikmati. Awal Ramadhan penuh rezeki, Alhamdulillah bertahan hingga akhir tahun. Segala fitnah, caci maki, pengkhianatan, sampai hujatan netijen. Ngalah-ngalahin heboh GA deh pokoknya. Haha. Cuma beda kasus aja. Tahun ini mengalami 2,5 bulan sekolah offline dan 9 bulan sekolah online. Not bad. Rutinitas berubah total. Kewaspadaan semakin meningkat tapi di lain hal dari yang sebelumnya ya. Kedzoliman masih bertahan. Tahun ini merasakan terima rapor online. Membatasi diri dari segala hal yang busuk. Memaksakan diri untuk lebih bersabar. Alhamdulillah perkembangan bocah semakin ke arah yang positif.

Tahun 2020 saya gak punya resolusi, ditempa berbagai hal, mudah-mudahan membuat mental sekuat baja. Kadang kalau merasa sedih, gak bisa keluar air mata, saking banyakkk banget yang mesti dikerjain dan berkejaran dengan waktu yang kayaknya 24 jam gak cukup. Rezeki tahun 2019 mungkin masih lebih baik dari tahun ini. Tapi tetap harus disyukuri dong. Tingkat stress di 2019 lebih tinggi daripada tahun ini. Half time working mom but full time mom untuk si bocah memang luarr biasa. Semoga sesuai harapan, bisa menjadi qurrota ayun.

Pada akhirnya saya hanya mau bergaul degan orang-orang yang tulus, bukan yang muak, jijik, dan benci sama saya. Do I care? I don’t care juga sama lo, zolim! Emang ada yang tulus? Ternyata banyakkk. Jauh lebih banyak daripada yang julid. Mau galak, judes, kasar juga yang penting kan gimana orang memperlakukan gue. Mereka baik, gue bisa jauuhhh lebih baik. Lo pelit dan zolim, gue bisa jauuhhh lebih jahat lagi. Ada saatnya dari yang awal takut ke suatu tempat sekarang yaelah biasa aja kayak maen ke rumah temen saking sering bolak-balik. Malah saya berencana untuk lebih mengakrabkan diri untuk back up saya kedepannya.

Trus belakangan banyak kejadian yang menakjubkan, yang bikin “gila banget sih rezeki gue.” Trus norak gituu. Bahkan ada yang “tau gitu dulu gak gue ajak berantem, taunyaa…” Wkwkwk, temen-temen gue ngakak sampe puas. Sialan emang. Pada akhirnya, gue gak merasa pandemi ini sialan, malah seru tau. Mengingat dunia sudah overpopulated, mungkin ya saat ini filternya. Alih-alih kembali lagi, umur manusia kan Allah yang tentukan. Jadi berpasrah dan bertawakal aja. Yang selamat dari covid, suatu berkah. Yang sembuh dari covid, Allah masih kasih kesempatan lo untuk bertaubat. Buat yang lebih dulu menghadap ilahi, semoga menjadi yang terbaik. Meskipun feeling gue tahun 2021 masih gini-gini aja. Tapi mari hadapi dengan legowo dan ikhlas. Jadi apapun yang kita akan hadapi bisa tetap bertahan dan semangat menjalaninya.

Tanya kenapa?

Post ini murni berdasarkan pendapat, penilaian, pengamatan pribadi. Tapi lebih banyak dari pengalaman orang lain dan tingkah laku manusia yang ditemui sehari-hari.

Kenapa anak kok bisa menjajah orang tuanya? Ini pertanyaan besar sih sejak punya anak. Itu anak kan harus nurut orang tuanya, kenapa kalau gak dibelikan apa yang diinginkan trus mewek, trus jadi diturutin. Kecuali orang tua nyuruh anak / membebaskan anak menjadi mudharat / sesat. Itu ya gak bener. Ini kita bicara dalam konteks mendidik. Eh tapi kalo didikannya moderat susah juga ya.

Kenapa orang jalan di tol, di jalur kanan tapi nyantai? Lo kan bisa jalan di tengah atau kiri sekalian. Kanan itu ya cepettt. Ini gak masuk akal gue sih. Lelet tapi di jalur kanan itu bikin emosiii.

Kenapa CV lo harus pakai / ada warna merah menyala? Etika standar powerpoint aja kan pakai 2 warna yang netral. Pun kalau berwarna juga ada etikanya, gak merah cabe juga warna yang lo pake.

Kenapa orang yang selingkuh trus playing victim malah jadi spotlight? Pertama, dia yang betingkah. Kedua, kok ya orang masih percaya sama manusia kayak gitu. Ketiga, bukan cuma pantes diazab, tapi juga wajib jadi kerak neraka kalo gue bilang. Setara sama koruptor.

Kenapa orang yang minjem uang (ngutang), tapi galakan dia pas ditagih? Ini dosanya mirip sama kasus di atas. Udah ada juga kasus yang malah viral kan ya. Trus kalah lagi pas di pengadilan. Wkwkwk. Mau elo orang gedean juga, utang tetap utang. Dibawa sampe mati.

Kenapa mengemis dijadikan profesi tetap? Udahlah jalan sekitar situ bolong2 gak karuan, berderetlah itu pengemis berbagai model. Misal masih muda, kalau cewek, apa bisa jadi pembantu. Kalau cowok apa bisa jadi kuli. Atau profesi lain yang menghasilkan lumayan. Bukan cuma duduk bawa anak menadahkan tangan. Tuhan kasih lo nafas dan energi untuk hidup agar bisa berusaha dengan jalan yang halal.

Kenapa mengkambinghitamkan orang lain menjadi suatu hal yang lumrah? Orang yang mengusahakan suatu hal yang benar tapi mungkin salah menurut perspektif orang lain, lalu orang lain melakukan hal yang benar dengan ‘caranya.’ Lalu orang yang berusaha itu trus jadi salah karena ulah menjilat orang lain. Itu wow banget sih.

Kenapa orang yang melakukan kesalahan, trus dia bertindak mulia demi menggugurkan kesalahannya. Trus merasa harus diapresiasi dan dihargai? Orang yang menjadi korban dari tindak kejahatan juga berhak untuk tidak menerima usaha Anda. Siapa elo mesti banget diapresiasi dan dihargai?? Kalau memang merasa salah, ingin memperbaiki. Lakukan secara konsisten dengan niat tulus tanpa berharap dinilai baik. Kenapa trus jadi si oknum yang nentuin ini itu? Gak masuk akal.

Kenapa ada orang yang mudah menyerah, malas untuk berjuang, dan asik nge-block usaha orang untuk berkompromi? Itu hak orang sih, tapi ya jangan menuntut macam-macam. Segala sesuatu itu 2 arah, mana bisa satu arah. Emangnya jaman penjajahan. Tantangannya pasti ada, untuk bisa mewujudkan itu. Misal ada peluang lain yang ‘sengaja diciptakan’ sehingga menutup jalan menjadi solusi. Keras hati in a bad way menjadi suatu kemenangan sepihak yang dirasa pantas untuk dibanggakan. Naudzubillahi min dzalik.

Kenapa masih jaman, dengan wewenang / kekuasaan yang dimiliki. Menjadikan orang lain pantas untuk kalah? Padahal ini Negara hukum, semua ada aturan. Tapi berhasil ‘dilemahkan’ demi tercapainya suatu tujuan. Pada akhirnya memang jika keadilan tidak bisa didapatkan di dunia, mesti banyak berdoa supaya bisa dapat keadilan tersebut di akhirat. Terpaksa nrimo dan tetap tegak maju untuk sukses.

Mungkin dari sepuluh hal di atas, ada yang tidak sependapat? iishh, gue gak minta orang sependapat sama guee. Silakan untuk berpendapat jika dirasa perlu. Kalau dirasa gak penting juga gak masalah. Selamat berakhir pekan.

Kondangan saat pandemi

Dua minggu yang lalu, seorang sahabat laki-laki yang juga makhluk ini tau saya banget. Gimana tempramen dan ngototnya saya. Esp waktu kuliah menghadap kajur (kepala jurusan), yang saat itu saya dengan modal IPK tiga sekian. Tapi masih punya tanggung jawab 5 mata kuliah di semester depan, tapi ngotot mau skripsi juga. Saya tau pasti bakal terjal jalannya dan saya tau emosi saya gak sampe 10 menit bisa meledak. Daripada hancur-hancuran. Saya bawa dia nih buat nemenin. Ketika situasi memburuk tapi saya gak ada kata menyerah atau mengalah. Akhirnya dia suruh saya keluar ruangan, biar emosi saya dan kajur sama-sama reda ceritanya. Alhamdulillah kajur approved jugaaa! Dengan syarat dan ketentuan berlaku. Tapi yang penting lanjut dengan pembuktian. Meskipun babak belur, saya bisa buktikan kalau saya mampu! Well, saya gak akan ngotot kalau saya gak mampu. Next, dia lanjut S2 di NUH. Dia juga paling sabar karena cewek-cewek di jurusan saya ajaib semua, termasuk saya! Haha.

Dia dan satu sahabat laki-laki lain yang ketika saya turun kereta di stasiun UI, tinggal left message aja ke mereka berdua. Entah itu hanya bilang: “takor” atau “kancil” (nama kantin). Takor: taman korea. Jauh sebelum drakor hits, kampus udah namain kantin pake Korea. Kancil: kantin psikologi, fakultas tetangga yang sebelahan sama fisip. Tergantung mood saya lagi pengen nongkrong di mana sambil nunggu kuliah mulai. Trus mereka ucluk-ucluk bakal dateng, kita nongkrong bareng. Aahh, itu priceless bangettt. Gak akan bisa ngulang masa itu. Rindu sangat.

Rapid Covid Test

Jadi, ketika si makhluk ini menikah. Hukumnya wajib, gak boleh enggak, untuk hadir dongg. Saya dan sahabat perempuan yang gak kalah ajaib dari saya. Kami datang dengan anak masing-masing. Dihelat di kediaman mempelai wanita. Ini kali pertama saya kondangan. Udah pasti tahun 2020 gak bisa kondangan kann. Yang berbeda, gak ada antri salaman. Yang ada pas baru masuk, saya dan si bocah mesti antri rapid covid test. Alhamdulillah hasilnya (-) jadi Kami boleh masuk. Kalau hasilnya reaktif, gak boleh masuk. Setelah prosesi “palang pintu”. Karena sahabat saya betawi asli, sementara mempelai wanita jawa asli. Trus hadirin dipersilakan ke ruang keluarga, yang mana akad nikah ditonton melalui TV. Saya sempat mengabadikan akad nikah yang dilaksanakan di gazebo depan rumah, selanjutnya saya share di wagrup dongg.

Kondangan saat pandemi

Setahun lebih gak kondangan, saya sampe lupa katering mana aja yang lagi hits di Jakarta. Private akad nikah ini di rumah mempelai wanita, tapi kateringnya gak kaleng-kaleng. Menu-menunya mantab. Bahkan sahabat cewek saya yang lagi selesein disertasi tapi kelakuan bikin tepok jidat ini bilang, Steak nya lebih enak dari restoran A****. Hahaha. Dalem banget tuh testimony. Roasted duck, Sawarma, sampe Kambing guling semua enakk. Pas saya cerita ke temen di genk lain, dia komen, “Ya iyalah, itu katering mehong dan lagi hits tau.” Bukti ketidakgaulan saya sungguh parahh.

Happy Wedding

Saat prosesi “palang pintu”, azan ashar berkumandang. Jadi hening sejenak, hingga azan selesai. Alhamdulillah jam 5 an sore, acara udah beres. Udah foto-foto sama pengantin. Pamitan, trus kita cabut. Saya dan sahabat cewek suka banget sama prosesi adatnya, suka banget sama baju pengantinnya, suka banget sama rumah ceweknya, anak-anak Kami suka banget sama halaman depan dan belakang yang luass. Yang paling penting, Kami suka makanannyaa. Haha. Meskipun si makhluk ini gak lepas dari nasehat hingga intimidasi saya dan sahabat cewek. Tapi semoga dia bisa membuktikan kalau dia good enough untuk jadi imam, suami, dan Ayah yang baik kelak. Bukan laki-laki lemah, cengeng, rapuh, ringkih. Trus contohnya kita kasih tau kan. Dia bilang, insya Allah berusaha jadi yang terbaik dan naudzubillah jangan sampai jadi sampah kayak gitu. Well said.

Rekomendasi Seafood di Bekasi Timur

Bukan postingan berbayar, murni pengalaman pribadi.

Teman seruangan di kantor memiliki usaha keluarga yaitu seafood. Seperti kita ketahui, seafood di area jabodetabek tuh buanyak banget yang enak dan recommended. Terlepas dari ini jualan temen sendiri, saat itu saya sedang menginap di rumah tante dan menikmati seafood bersama tante dan sepupu (3 orang dewasa). Jadi saya datang kondisi masih hangat, siap santap. Seperti seafood lain mereka punya paket, saya pun tanya paket dan bumbu apa yang paling favorite?

Nama tempatnya “Ngerang Ndeprok”. Berlokasi di Rawalumbu, Bekasi Timur. Areanya mirip Tebet atau Rawamangun, kanan kiri isinya makanan. Kawasan kuliner gitu. Dari menu di atas, yang favorite: “Kepiting Campur Komplit dengan Bumbu Saus Padang.” Saya pesan itu dengan sate gurita. Isi paket terdiri dari 1 ekor kepiting, aneka rupa kerang-kerangan, udang, cumi, dan jagung. Menurut saya, tidak pelit bumbu. Jadi mau digado begitu saja ataupun dengan nasi tetap berasa bumbunya. Kepitingnyanya sudah langsung bisa dinikmati, mudah diambil dagingnya. Pedasnya pas mantap. Sate guritanya dengan saus asam manis juga sedap dan lunak. Tante saya memuji bumbunya, sepupu saya bilang di Bogor (kebetulan dia kerja di Bogor), paket seperti yang saya beli harga di atas seratus ribu. Dia pun hafal mana kerang bambu, kerang dara, kerang batik, dan lainnya.

Kerang Batik
Kerang Ijo
Kerang Bambu
Sate Gurita

Seafood ini bisa dipesan di gofood ataupun pesanan melalui WA dan IG sesuai namanya ya. Bisa dicek langsung. Saya pun merekomendasikan ke orang-orang di kantor. Jadi kalau pandemi usai, kita mau jadwalin dine in. Kalau take away kan terbatas mau cicip ini itu pake dibungkus dulu.

Lokasi langsung saya belum terlalu paham jalannya, dari pintu keluar tol timur hanya setengah jam, rutenya pun tidak terlalu sulit. Kalau sekarang sudah bisa dine in tapi masih dibatasi. Harga sangat terjangkau, bumbu bisa pilih sesuai selera, mau saus Padang, rica-rica, asam manis. Rasa gak kaleng-kaleng, bumbu gak pelit, bahan utama (seafood-nya) segar. Bisa cek langsung ke TKP atau sekalian jastip aja apa nih?! Haha. Nah, bisa jadi pilihan kuliner Kamu weekend ini kan.

Local People

Local people yang saya maksud gak melulu orang dari daerah atau suku tertentu. Pokoknya orang yang berdomisili di suatu wilayah tertentu. Local people ini pun berlaku untuk orang daerah maupun orang dari negara lain. Intinya lokal ya kann. Saya ada dua pengalaman receh yang memang ‘ngena’ terkait local people. Satu nyebelin satu nyenengin. Hidup kan selalu berlawanan bukan. Saya gak sebut suku ya, karena gak terlalu penting. Kalau yang memang kita temui, utamanya lebih ke aksen atau logat yang jelas berbeda. Jadi mesti mencerna lebih lama untuk mengerti maksudnya. Plus kita bisa tebak ini orang asalnya darimana. Kecuali aksennya bisa menyesuaikan dengan orang lokal. Ini hebat, seperti bunglon, bisa menyesuaikan *apa sihhh

  1. Ketika di suatu daerah dan kondisi diri saya sedang tidak kondusif alias lagi ribet berujung emosi jiwa. Pesan transportasi online dan pas telfonan itu bapak ngomong pake bahasa daerah setempat. Tentu saja saya jadi ketus dan bilang bahwa saya tidak mengerti yang dia omongin. Ngomong pake bahasa Indonesia gak dosa kaliii dan lagi kan lo sebagai penyedia jasa. Meskipun di daerah gak selalu dapat customer orang lokal juga kan. Hadeuh. Itu nyebelin sih, kalau kondisi normal mungkin saya masih bisa tolerir. Tapi karena kondisi lagi tidak menyenangkan tanpa ba bi bu. Langsung saya matiin telepon, cancel pesanan, order baru lagi. Per er banget, sumpahhh.
  2. Saya lagi ada keperluan di suatu wilayah di Jakarta Timur. Trus si bocah minta dibelikan kok untuk badminton. Yang mana permintaan tersebut tidak ada di minimarket maret2an. Tapi saya tetep usaha cari ke mini maret trus dijawab ya gak ada pastinya. Tapi trus ada orang lokal yang kasih tau bahwa ada toko buku dekat situ yang sudah pasti menjual. Saya terima kasih nya berkali-kali saking merasa terbantu bangett. Alhamdulillah, rezeki.

Suka lihat gak kalau orang lagi cari alamat trus nanya ke orang lokal? Saya pribadi pun sering apalagi saya gak selalu hafal daerah di Jakarta, suka bingung cari jalan tikus, dan lainnya. Sebisa mungkin saya mengajak kita semua untuk bisa menolong dengan memberikan informasi yang valid. Bukan informasi asal. Karena itu sungguh berarti untuk si penanya. Masa iya orang iseng nanya alamat. Pasti karena butuh dan ada keperluan kan. Soal bahasa daerah, saya gak nyalahin kalau orang lokal ya pasti berbahasa daerah. Atau bahasa negara tertentu bisa juga. Tapi tolong sesuaikan dengan lawan bicara Anda. Saya untuk bahasa Jawa jauh lebih pasif daripada bahasa Inggris misalnya. Gimanalah ceritanya diajak ngomong bahasa dari pulau seberang. Ngerti kaga, emosi iya. Telfonan juga kan gak bisa ditranslate kayak chat atau artikel yang bisa dicopas taruh di googletranslate.

Jawabannya bukan salah sendiri gak bisa bahasa setempat, tapi berempati aja. Kalau posisinya dibalik, Anda di daerah kekuasaan saya trus Anda gak bisa bahasa setempat, siapa yang mau bantu? Itu lebih ke toleransi sih. Saya pernah sotoy alias sok tau pas belanja di Pasar Beringharjo, berakhir keder pas dijawab harga pake bahasa Jawa halus. Kapok! Saya pun langsung mendadak kalem dan tunjuk sana sini saat belanja di Pasar Sukawati, sementara Tante saya asyik nawar pake bahasa Bali. Kaga bisa bahasa Bali ya kann. Lain hal kalau ada di daerah atau negara yang kita familiar, sebut saja sengaja belajar bahasa daerah atau negara tertentu yang penting bisa komunikasi. Tapi terkadang kita tidak ditempatkan dalam kondisi yang settingan-nya bisa memahami aksen / logat daerah / negara setempat. Derita lo? iya sih, tapi seperti saya bilang sebelumnya. Kalau kondisi dibalik. Kan balik lagi ke toleransi.

Kenapa tiba-tiba ngoceh tentang ini? Gak ada yang melatarbelakangi sih. Tiba-tiba keinget aja. Trus sempet mikir, mestinya pas SMA gue masuk kelas 3 bahasa ya. Trus masuk FIB (fakultas ilmu budaya) nya UI. Huh! ngayal aja terus. Masih Senin pagi banget inii. Kalau Kamu ada pengalaman dengan local people kayak saya?