Lah, galakan dia?! 

1. Seorang wanita akhir 20-an sedang menempuh Pendidikan S2, single, sedang tidak bekerja (jadi gak ada penghasilan, biaya hidup dari orang tua). Memiliki tagihan CC yang nunggak beberapa bulan, yang punya hutang siapa yang dikejar siapa. Akhirnya keluarga inti, gotong royong membantu agar lunas. Eehhh, udah dibantu malah marah, left group, dll dsb. Lha gendeng opo piye?! 


2. Seorang mahasiswa tingkat akhir, karena terkendala nilai yang buruk jadi tidak bisa melanjutkan kuliah. Cuti kuliah = sedang bayaran semester dong. Trus gak kuliah nih, belum ada pekerjaan juga. Akhirnya disuruh ngegym, dibayarin pula sama orang tuanya. Eehhh, malah gak berangkat gym, padahal udah dibayar setahun full sesuai permintaan anak. Diingetin dong, “berangkat gym lah sayang loh udah bayar setahun.” Si mahasiswa jawab, “tenang aja uangnya gak akan hilang.” Cari uang gak gampang cuy, situ anak konglomerat?! 


3. Seorang pegawai senior dengan kemampuan pas-pas an, kerja pun macam itu kantor punya nenek moyang. Dibelain, diperingatkan, dan segala upaya agar bisa memperbaiki diri. Malah marah, ini yang sinting siapa ya?! Untuk dipertahankan, kelebihan lo apa? Kalo gak ada kelebihan, untuk apa lo dipertahankan?!  


4. Saat kepepet butuh uang, seseorang meminta belas kasihan untuk dipinjami sahabatnya sejumlah uang, saat jatuh tempo pengembalian bilang kalo gak ada uang. Tapi sosmed dia isinya lagi liburan. Mungkin orang itu bakal mati kali ya kalo gak liburan, jadi lebih pilih muka tebal gak bayar hutang. 


5. Seorang pegawai mengadukan kinerja pegawai lain *what?! Aneh tapi nyata. Yang mengadukan kinerjanya lebih cemerlang? NO. Mungkin yang mengadu ada wewenang menilai pegawai lain, atau mungkin ada kepentingan tertentu, atau mungkin diam2 si pengadu anggota BIN?! Wallahuallam. 


Cerita – cerita di atas dirangkum dari berbagai sumber dan kejadian nyata! Kenapa jadi galakan dia?! Entahlah. Mungkin dia lelah, stress, depresi?! Atau lupa minum obat yang menjaga dirinya tetap waras. Brb, p*p dulu ~

Pic pinjam dari sosmed teman
Advertisements

Peringatan Hari Ayah 

Bulan November ini, sekolah Teona memperingati hari Ayah. Jadi Teona dan teman-temannya membuat undangan handmade untuk Ayah masing-masing. Seperti acara minggu lalu, bedanya kali ini acara melibatkan Ayah dan anak. Oh ya, ada tugas yang sebelumnya mesti disiapkan untuk selanjutnya dikerjakan sendiri oleh anak. Menarik! Teona bikin undangan dan diinfo langsung ke bapaknya dan tentu saja disanggupi. 

Undangan handmade by Teona
Undangan Peringatan Hari Ayah
Salah satu dari sekian banyak kerjasama Ayah dan anak

Ayah menjepit bola dengan sumpit, anak menerima dengan sendok

Kerjasama anak melewati pipa dibantu para Ayah

Hari H tiba di mana Kami ada acara dulu jadi datang sedikit terlambat, namun tepat saat permainan kerjasama Ayah dan anak dimulai. Yeayy. Ayah dan anak langsung ambil bagian. Sementara ibunya nunggu di luar area, hiks. Hehe, sirik aja ya. Jadi saya ambil foto sedikit yang pas kelihatan aja. 
Selesai bermain, saatnya performance. Bapak-bapak diminta masuk terlebih dulu, snack time sambil diskusi performance sesuai kelompok kelas yang sudah ditentukan pihak sekolah. Anak – anak snack time di area luar. Selesai snack time, baru ibu – ibu diizinkan bergabung di acara. Ibu – ibu di area penonton samping, anak – anak area penonton utama. Tibalah saat performance bapak – bapak. Berikut beberapa penampilan para Ayah :

Let’s rock, Dad!

Dapet peran jadi host, performance fashion show.

Fashion Show Profesi

Baby shark dance

Bernyanyi lagu burung kakak tua

Bernyanyi dan bermain musik mars 212

Performance bapak guru lypsinc & medley lagu – lagu bertema Ayah

TK A menyanyi lagu : Ayahku Gagah

Muslim TK B menyanyi lagu : Ayah

Muslimah TK B membaca puisi tentang Ayah dengan backsound lagu Ayah

Selesai performance para Ayah yang seru banget itu. Lalu ada performance dari 2 bapak guru, yaitu lypsinc dan parodi medley lagu Ayah. Giliran anak – anak yang performance nih. Teona dan teman – teman TK A menyanyikan lagu : Ayahku gagah. Kakak muslim TK B menyanyikan lagu : Ayah dan kakak muslimah TK B membacakan puisi dengan backsound lagu Ayah versi B. Inggris. Pokonya semua lagu temanya Ayah deh. Hidup Ayah! Acara terakhir : anak – anak memberikan hasil karya dari tugas yang sempat diberikan beberapa waktu lalu. Anak – anak memodifikasi sedemikian rupa sesuai imajinasi masing – masing trus dikasih deh ke Ayahnya. Terharuuu 😍
Memberi hasil karya handmade anak-anak kepada Ayah masing – masing

Lot’s of hugs

Senang terima hasil karya Teona

Kelihatannya sepele? Kalau saya melihatnya, tujuan sekolah baik kok. Walaupun ajaran Rasulullah : hormati ibu, ibu, ibu, baru Ayah. Tapi Ayah tetap berperan penting di masa tumbuh kembang Ayah. Kalau Ayahnya sibuk alias ora ngopeni. Kelar aja deh, gak tercapai pendidikan tumbuh kembang Anak yang semestinya. Catatan : ini dimaksudkan bila Ayahnya masih ada (baca: hidup) dan waras. Kalau sudah meninggal, biasanya sosok Ayah digantikan oleh paman atau kakek. Intinya gitulah ya. Keesokan harinya, Teona tanya ke bapaknya :

Teona : “Bapak seneng gak main sama Teona di sekolah kemarin?”

Bapaknya : “seneng dong”

Bapaknya bilang ke saya, diinterogasi nih aku. Ya iyalahh, waktu sama bapaknya kan gak sebanyak waktu bersama ibunya. 

Selamat Hari Pahlawan


10 November = Selamat Hari Pahlawan. Pahlawan gak hanya beneran pahlawan yang bertempur di medan perang, karena udah gak zamannya lagi. Berikut orang – orang yang saya anggap pahlawan masa kini :

1. Orang tua. Baik orang tua saya, orang tua lain, bahkan saya selaku orang tua pun saya salut. Karena jadi orang tua gak mudah lho, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan. Saya sendiri pun masih terus belajar. Tidak mudah, apalagi tantangan zaman sekarang. Jadi hormatilah orang tua kita. Hal yang gak sreg atau menurut kita kurang penting. Tapi kalau orang tua, gak ada cerita membantah. Ridho Allah adalah ridho orang tua. Kalau sudah berkeluarga tentu ada ridho suami / istri juga. 

2. Anak yang merawat orang tua. Saat kita semakin masuk usia matang, orang tua pun menua dan sepuh. Apalagi bila semakin ada keterbatasan fisik dan penurunan kesehatan. Hire perawat atau pramurukti aja buat jagain orang tua. Bisa jadi salah satu pilihan solusi. Namun ketika seorang anak memilih untuk merawat sendiri orang tuanya dari menyuapi, memandikan, membersihkan hajat kecil dan besar. Subhanallah, luar biasa pengabdian anak tersebut. 

3. Penggerak peduli lingkungan. Bukan hanya concern ya, tapi bener-bener jadi penggerak. Salah satu teman baik, penggerak peduli lingkungan di wilayahnya. Mengelola Bank sampah, mengolah kembali limbah, dan lainnya. Saya kagum! Karena menggerakkan lingkungan itu gak mudah lho. Hal yang lebih sulit lagi, konsekuen melakukan hal tersebut. Kenapa sulit? Yah selama hidup di dunia, tentu gak bisa jauh dari fitnah. 

4. Orang yang terdzolimi namun tetap sabar. Kalau ngomongin dzolim, saya aja takut kalau tanpa sadar mendzolimi orang yang gak bersalah. Apalagi mendzolimi secara sadar dan orang yang didzolimi sabar menerima kedzoliman kita *naudzubillah

5. Orang yang berkorban demi orang yang dikasihi. Contoh : seorang anak sukses dengan karirnya di luar negeri, orang tua memintanya back for good. Karena orang tua mulai sepuh dan ingin melihat anaknya menikah dan memiliki keturunan. Lalu anak tsb menuruti dengan mengorbankan segala yang ada, karena gak mau nyaman dan bahagia sendiri. Lebih memilih untuk memberikan dan berbagi kenyamanan dan kebahagiaan dengan orang tua. Catatan : di contoh si anak straight ya, kalo ada penyimpangan gak akan saya jadikan contoh. 

Saya rasa lima contoh Pahlawan versi saya tersebut bisa menjadi teladan dan inspirasi paling enggak untuk saya. Gak muluk-lah mesti jadi pahlawan yang dapat bintang tanda jasa. Cukup jadi pahlawan di keluarga dan lingkungan kita dengan tulus. Rasanya hanya diri sendiri dan orang sekitar kita yang bisa merasakan dan menilai. Untuk menjadi lima contoh pahlawan di atas pun butuh mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi. Poin utamanya lagi : SABAR & IKHLAS. Ilmu paling tinggi tuh, gak akan berhenti belajar dan berkontemplasi untuk mencapai ilmu tersebut. Selamat hari Pahlawan dan happy weekend. 

Paradigma kesuksesan


Alkisah seseorang yang tadinya pejabat salah satu bank BUMN merangkak naik karena ‘ditarik’ ke ibukota untuk memimpin suatu kantor cabang. Beliau sendiri yang merekrut langsung pegawai terdekatnya, termasuk beliau merekrut saya. Malang tak dapat ditolak, singkat cerita, ujian hidup yang tragis membuat saya bertemu titik balik kehidupan. Jauuh sebelum kemalangan terjadi pun, menurut saya beliau gak gemilang juga performa-nya. Hanya menang omong besar dan membual. Bahkan ketika tak kunjung membuat cabang menjadi ijo royo – royo alias dari buka, berdarah – darah melulu. Akhirnya beliau ‘melarikan diri’.
Sial rupanya masih ingin dekat dengan saya, salah satu kerabat ternyata sahabat beliau. Tiap ketemu, tanpa saya tanya, diupdate aja dong. Terakhir bertemu si kerabat lebaran kemarin, mungkin dia bingung kali ya basa-basi. Jadi pas pamit pulang, si kerabat inisiatif update, “Beliau sekarang udah jadi GH lho” *like do I care?! Ketemu di dunia maya dengan teman lama dan dengan ucapan yang sama *oh hebat banget kali ya tu orang sampe semua orang banggain beliau.

Alhamdulillah, saya terdidik lihat / bersaudara / berteman melihat kesuksesan seseorang. Orang sukses belum tentu baik, tapi umumnya jago basa-basi. Orang sukses belum tentu tulus, tapi umumnya dengan mudah pasang ekspresi palsu. Orang sukses belum tentu menyenangkan, tapi umumnya berusaha supel karena tuntutan jabatan. Paradigma kesuksesan berbeda di tiap orang. Saya menganggap kesuksesan seseorang itu yang bisa bijaksana dan menikmati setiap perjalanan hidupnya. Jatuh bangkit, sedih senang, namun tetap bertahan dan terus ikhtiar tanpa kenal lelah. Buat apa menjabat namun mendzolimi orang lain? Buat apa menjabat namun untuk mendapatkannya dengan cara yang entah betul sesuai jalur atau tidak? Buat apa menjabat kalau tak bermoral? Hanya mengejar duniawi? Pathetic. Apa paradigma kesuksesan menurutmu? 

Menjadi Ayah yang dirindukan

Naahhh, akhirnya tema parenting Islami bulan November 2017 salah satunya adalah : AYAH / BAPAK / PAPA / PAPI / ABAH / ABI / DADDY dan panggilan sama lainnya. Jumat lalu, anak-anak pulang sekolah sudah siap dengan undangan buatan tangan si anak untuk Ayah tercinta. Anak-anak yang pulang sekolah dijemput Ayahnya, karena jam pulang sekolah saat jam istirahat siang. Saya lihat anak langsung kasih ke Ayahnya dan semua Ayah menyatakan : “insha Allah hadir.” Wuihh, keren ya dari awal diundang langsung oleh anak, para Ayah antusias untuk hadir 👍 Saat bapaknya Teona pulang kantor, Teona menyambut dengan kasih undangan langsung ke tangan bapaknya. Tentu saja langsung disanggupi dan si anak lompat kegirangan *kekuatan wibawa Ayah luar biasa ya.

Undangan buatan Teona untuk bapaknya

Weekend kemarin adalah full acara keluarga dari pihak saya, secara ultah gitu loh. Tapi tetap dong bapaknya Teona hadir di acara rapat bulanan sekaligus parenting Islami ala sekolah Teona. Setiap bulan setelah acara ini, baik salah satu dari Kami yang hadir, akan sharing tentang topik setiap bulannya. Bapaknya Teona bilang, saat rapat mayoritas bapak-bapak. Saking antusiasnya sampe nambah kursi! Wow 😍 Katanya saat akan mulai, ada pembacaan puisi oleh seorang bapak yang isi puisi itu kekinian sekali. Salah satunya, Ayah seharian sibuk bekerja, pulang kerja sampai rumah sibuk dengan HP. Padahal tentu saja, anak butuh sosok Ayah untuk berbagi cerita hari yang dilaluinya, bermain, hingga bermanja-manja ke Ayahnya. Intinya, isi puisi tersebut, kata bapaknya Teona bikin terharu *mau lihat dong muka terharunya 😉

Setelah kemarin, ada iniinidan ini. Narasumber kali in adalah salah satu ustadz yang mengelola salah satu sekolah Hafizh. Beberapa pertanyaan yang diajukan para Ayah antara lain :

👨 Bagaimana cara melarang anak? 

💛 Jelaskan dengan firman Allah, sabda Rasulullah, dan contoh yang pernah terjadi dahulu zaman Nabi-nabi. 


👨 Anak pertama sekolah di sekolah Islam ngetop di Jakarta dan ada assessment. Ada 2 kejadian :

1. Hasil assessment menyatakan bahwa anaknya tidak fokus. Sehingga sering mengganggu teman lain. Bagaimana solusinya? 

  • Instropeksi diri orang tua. Apakah sudah mendidik anak sesuai dengan syariat Islam, bentuk ikhtiar, dan lainnya.
  • Evaluasi nafkah untuk keluarga. Kalau dulu hanya ada halal dan haram. Kalau masa sekarang, contoh : bagaimana aktivitas ribawi-nya. 
  • Bimbing anak dengan cara islami. Seperti : geber sholat sunnah, kencengin dzikir, basuh anak dengan air zam-zam ke kepala hingga seluruh tubuh sambil didoakan. Segala daya upaya pada akhirnya dipasrahkan pada Allah swt. 

2. Si anak menceritakan bahwa assessor menanyakan kenapa tidak boleh?  Si anak menjawab : “karena nanti masuk neraka.” Lalu masih juga ‘dikejar’, “neraka itu apa?” Hadeuh! 💣

💛 Narasumber bilang : mestinya pihak sekolah, apalagi sekolah Islam,  mecari pihak assessment yang sesuai dengan visi misi sekolah. Tidak bisa asal atau misal pun Islam, namun Islam sekuler. Capee deh, ya jadi gak nyambung dan konyol. 

👨 Anak suka melawan bila dinasehati 

Padahal pengalaman hidup si Ayah, dahulu saat Ayah masih kecil disuruh mengaji di Surau. Orang tua Ayah memberi beras (sebagai bayaran untuk guru ngaji) dan lidi (tanda orang tua memberi restu bila anaknya salah atau nakal untuk dipukul dengan lidi). Bila kejadian Ayah yang saat itu masih kecil dipukul lidi oleh guru ngaji lalu mengadu ke orang tua, maka makin habis dia. Poinnya, si Ayah dididik dengan keras, namun anak zaman sekarang kan gak bisa digituin. 
💛 Jawabannya sama dengan 3 poin yang saya bold di atas. 

Jadi bahan renungan dan evaluasi juga untuk Kami dalam mendidik anak. Setiap orang tua tentu ada salah dan khilaf. Namanya juga gak ada tuh sekolah jadi orang tua. Tapi niat dan usaha untuk jadi lebih baik sangat perlu dan dibutuhkan. Yuk. Jangan bosan belajar jadi orang tua yang terbaik untuk anak kita. 

Tiga puluh dua


Wheww, itu angka apa nomer rumah? Banyak amat! Yahh, biar tua yang penting happy. Di hari jadi ke 32 ini, sebenarnya gak ada rencana bikin acara atau apalah. Toh tahun2 kemaren juga santai kok. Ini karena tiba-tiba kakak sepupu saya mengundang acara syukuran kelulusan S2-nya di UGM plusss ultah kita SAMA PERSIS! Yak, saya dan Kakak sepupu sama-sama lahir di 3 November 1985, hanya beda 2 jam, jenis kelamin pun sama-sama wanita, macam anak kembar beda orang tualah. Bedanya ya banyakkk. Selain gak gitu dekat, kami juga beda di segala hal. Misal, saya sudah berkeluarga dan dia belum. Dia sudah S2, saya mentok di tingkat akhir Pendidikan S1. Pokonya banyak bedanya. 

Sejak dini hari sampai saat ini, sosmed yang rame itu WA (esp. WAgrup, satu ngucapin, semua ngucapin  😄) dan FB karena ada bday reminder. Sosmed lainnya adem ayem aja, secara emang gak posting apapun. Ini posting juga di WP. Hehe. Yah gitu deh, 32 tahun semakin tua, semoga semakin bijak. Semakin berkurang usia, semoga jadi pengingat akan hari akhir dan setelahnya. Diparingi iman Islam yang semakin tebal dan istiqomah di jalan-Nya. Aamiin. Bisa mengendalikan emosi (penting nih!), jadi gak rusuh di manapun berada. Jadi sekarang rusuh? Lumayan deh, ribut sana sini. Tapi sadar usialah ya, seperti postingan kemarin. Jangan sampe bisa ngomong tentang orang lain tapi gak bisa ngoreksi diri sendiri.  

Butuh selalu diingatkan, dibimbing, dan didukung oleh semua pihak. Karena saya gak sanggup hidup sendiri. Butuh diberikan kewarasan lahir dan batin. Butuh selalu diperhatikan dan diberikan siraman rohani asal jangan galak – galak *kode buat bapaknya Teona. Intinya, gak bisalah saya sendiri tanpa semua orang di sekitar saya. Berharap yang bersahabat, bertemen, bersodara atau yang memiliki hubungan baik dengan saya gak bosan bertemen, bersahabat, bersodara sama saya. Hehe. Selamat memasuki usia ke-32 *tetep miris sebut 32. Semakin bijaksana, sehat, dan dimudahkan segala urusan. Barakallah. Satu yang pasti, saya gak sabar menyambut akhir pekan ini. Happy weekend all  😘

Terjebak

Pic pinjam dari http://www.buzznet.com

Ada beberapa yang saya pernah dengar : “saya wanita yang terjebak di diri pria” alias bentukannya rambo tapi hati rinto. Namun ada juga “jiwa muda yang terjebak di raga yang tua” *dalam konteks negatif. Alias fisik boleh tua tapi pembawaannya labil. Untuk kasus pertama : selamat, Anda butuh pertolongan secepatnya karena menyalahi kodrat Anda. Untuk kasus kedua : kau habiskan kemana saja hidupmu, sampai baru setua ini lo baru mampu ngebully orang?! Saya mau bahas kasus kedua, karena (lagi-lagi) saya terjebak sama orang model begini. 

Semakin tua, orang diharapkan semakin bijaksana. Karena seperti itulah idealnya. Lalu apa jadinya kalau semakin tua tapi malah asik nyinyir / ngebully / melakukan tindakan yang udah gak penting dilakukan karena masa – masa seperti itu sudah lewat. Hal seperti itu bisa dimaklumi bila dilakukan anak SMP / SMA yang masih labil dan mencari identitas diri. Kalau sudah tua, tentu orang yang lebih muda darinya malah jadi menilai negatif atau lebih parahnya dinilai munafik. 

Jadi, apakah butuh pertolongan juga seperti kasus pertama? Sepertinya Anda sudah terlambat untuk ditolong. Karena manusia umur 20-an saja sudah sulit untuk diubah karakternya. Apalagi yang sudah tua. Duhh, amit-amit ada di posisi kasus pertama atau kedua. Balik ke prinsip hidup saya, “hidup lempeng saja, ada aja cobaannya. Apalagi hidup yang gak jelas dan sekuler.” Kalau Kamu pernah terjebak apa selain kejebak hujan, kejebak banjir, atau kayak saya jebakan betmen??