Oase di siang terik

Kemarin saya harus ketemu orang dan saya bersikap macam the sacred Riana. Datang gak halo, pergi gak goodbye. Intinya gitu lah ya. Selesai urusan, saya naik angkutan umum, mikrolet. Duduk di samping supir mikrolet. Lewatlah suatu SD, seorang anak laki-laki seusia Teona memberhentikan mikrolet yang saya naiki.

Supir Mikrolet: “naik, tong.”

Tong atau entong adalah panggilan untuk anak laki-laki di Betawi.

Si anak pun naik mikrolet

Gak lama paling sekiloan jaraknya si anak berseragam merah putih dengan tas kebesaran disandangnya itu minta berhenti di kiri jalan masuk gang dan memberi ongkos uang dua ribu rupiah ke supir mikrolet.

Supir mikrolet pun memberi kembalian seribu rupiah, “buat jajan es, tong. Hati-hati turunnya liat kiri, ada motor gak.”

Saya tersenyum sejuk. Sereceh itu oase di siang terik, cukup menyiram hati dan pikiran saya yang panas penuh lelah mondar-mandir dan emosi jiwa.

Si entong naik mikrolet dengan ongkos seribu rupiah, mayan dapet kembalian buat jajan es. Supir mikrolet meskipun dapet seribu rupiah tapi dapet pahala juga dong. Saya jadi dapet hiburan juga lihat interaksi mereka. Sederhana tapi sweet 🙂

Advertisements

Idul Fitri 2019

Assalamualaikum wr.wb

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk semua teman2 WP 🙏 Apa kabarrr??

Alhamdulillah ON lagi setelah sekian lama. Lebaran kali ini kami habiskan dengan rute: Jogja – Klaten – Solo – Salatiga – Semarang 💪 Haha! Homebase tetap di ‘Klaten bersinar’. Seriusan itu slogannya sejak saya kecil. Banyakk banget cerita sampe bingung mau mulai darimana. Menghabiskan sisa Ramadhan di Klaten & Solo sangat seru. Kadang saya berpikir, enak kali ya tinggal di daerah. Tenang & tentram. Beli makan gak pernah zonk. Murah dan enak. Biaya hidup juga layak. Gak padat kayak di Jakarta. Udara bahkan air pun terasa lebih nyaman & segar di daerah. Tapi saya rasa, poin utamanya karena romantisme yang sudah saya rasakan sejak saya lahir sampai setua ini. Berikut rangkuman foto-foto kami:

Rowo Jombor, Klaten.
Alun – alun Klaten
Masjid Agung Al. Aqsha, Klaten.
Kereta kencana di bandara Adi Sucipto, Jogja.

Percaya gak kalau Teona beneran betah 😃 Saya aja sampe kepikiran, “pindah aja apa ya?” Semenyenangkan itu? Jawabannya iya! Amat sangat. Di mana pun hidup pasti ada cobaan. Tapi kampung halaman adalah tempat kedua yang sangat saya rindukan setelah tanah suci. Kalau di tanah suci gak mikir urusan dunia. Di kampung halaman gak mikir ribet. Masalah2 yang ada dihadapi dengan cara sederhana ditemani keluarga yang guyub. Beda debgan kehidupan nyata yang senggol bacok bakar! Yang bikin lebih menyenangkan lagi adalah, mudik sekarang beneran masuk tol Bekasi keluar tol Kartasura di Solo! Gilak! Enak bangettt. Berangkat mudik jam 9 pagi sampai tujuan jam 5 sore trus buka puasanya jam setengah 6 aja dong 😍 Pulang mudik berangkat jam 5 pagi sampai rumah jam 2 siang udah pake macet di Cikampek Karawang. Paling tidak nyamannya lewat tol, gak ketemu lampu merah & pasar tumpah. Bye Pantura peninggalan Daendels.

Shalat ied di lapangan UNS, Solo.
Halal bihalal
Ibu & Teona
Venue halal bihalal aka seberang rumah bokap

Arus mudik antar Jogja – Klaten – Solo – Salatiga – Semarang saya simpulkan ramai lancar aman terkendali. Beneran teratur, gak yang gengges rempes. Nggilani di bandara Jogja karena rame banget macem di pasar. Tapi lainnya oke sih. Jogja seru. Klaten cintaku. Solo adem ayem. Salatiga kucinta. Semarang mantap. Semua acara halal bihalal baik dari keluarga Ibu saya di Klaten maupun halal bihalal dari keluarga Bapak saya di Salatiga berjalan lancar, kompak, seru. Alhamdulillah saya tidak bermasalah dengan pertanyaan gengges dari keluarga khas di medsos. Kenapa gitu? Emang aja saya gak baper dan bodo amatan. Gak saya ambil hati, ngapain amat. Saya judes tapi males buang energi & rusak suasana. Lebaran 2019 ini superrr menyenangkan!!! Nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Frany? Gak ada dong! Gimana dengan cerita lebaran atau mudik kamu?

Pendidikan Sholat Idul Fitri 2019

Setahun berlalu, cerita tahun lalu ada di sini. Tahun ini pelaksanaannya sedikit berbeda. Terkait dengan isue kerusuhan ketidakpuasan pemilu. Dikhawatirkan massa sudah banyak berkumpul. Meskipun Pendidikan Sholat Idul Fitri 2019 diselenggarakan 21 Mei 2019. Namun KPU sudah mengumumkan dini hari. Saat datang pagi-pagi ke sekolah, memang ada massa tapi gak yang rame buanget. Trus kakak MI (setara SD) baru pada pulang selesai MABIT (Malam Binaan Iman dan Taqwa). Sementara KB – RA baru pada datang untuk sholat ied. Kalau tahun lalu diadakan di luar sekolah, ceritanya di tanah lapang. Tahun ini diadakan di dalam sekolah.

Pendididikan Sholat Idul Fitri 2019

Kami menempati tempat sholat sambil mengumandangkan takbir. Sholat ied dilakukan sesuai aturan kemudian dilanjutkan ceramah oleh perwakilan salah satu orang tua murid. Setelahnya guru memberikan pendidikan makna sholat ied dan penunjangnya. Penunjang di sini, ketupat dan teman-temannya. Yaitu opor ayam. Kalau di Jakarta atau Pulau Jawa pada umumnya. Menu lebaran itu ketupat, opor ayam, sambal goreng (bisa ati ampela, kreni: daging giling dibulet-buletin, dan lainnya sesuai selera). Sebelum pulang, anak-anak diberikan medali karena sebagian besar anak-anak RA memang sudah berusaha menjalankan ibadah puasa, baik setengah hari ataupun full sampai maghrib. Juga anak-anak sudah bangun subuh untuk dapat melaksanakan sholat idul fitri tanpa drama. Medali tsb sebagai reward. Juga dapat box yang berisi satu ketupat, opor ayam, dan kerupuk udang. Gak untuk dimakan saat itu juga, tentu menunggu saat berbuka. Hehe.

Ceritanya menu lebaran

Ini jadi Pendidikan Sholat Idul Fitri terakhir sebagai anak TK. Diharapkan masuk SD nanti ya sudah bisa menjalankan ibadah (sholat, puasa, mengaji) dengan baik dan benar. Insya Allah. Lalu sejak kemarin sudah mulai libur lebaran. Libur dimajukan, lagi2 ya terkait hasil pemilu. Kemarin Jakarta sepiii. Yang rame yang pada demo sih. Saya memang sengaja tidak mengikuti berita di TV. Standby HP untuk pantau kerjaan dan nonton drakor. Begitu seharian sampai akhirnya WA dan medsos (IG & FB) down. Akhirnya menjelang sore melupakan HP sampai sahur tiba. Baru ON lagi katanya jam 11an malam. Skeptis amat? Saya ngurusin hidup saya aja udah ribet, males ngurusin orang/pemimpin yang saya kenal pribadi juga enggak, saudara juga bukan. Sudahlah, perbaiki diri sendiri saja dan keluarga. Jadi jangan berharap saya fanatik ke satu kubu. Mbuh ra weruh. Have a great day, people 😉

Kewenangan

Tiap manusia dalam hidup pasti punya kewenangan. Ibu rumah tangga diberi Allah kewenangan memelihara rumah tangga dan anak-anak. Kemudian pegawai atau yang menjalankan profesi lepas pun punya kewenangan. Ada gak manusia hidup yang tidak punya kewenangan? Saya rasa tidak ada. Minimal memiliki kewenangan terhadap dirinya sendiri.

Kewenangan pasti ada pertanggungjawabannya dunia akhirat. Apalagi kewenangan yang bersifat merekomendasikan bahkan menentukan/memutuskan nasib orang.

Tentu saja tidak yang serta merta orang diberikan kewenangan seperti yang saya sebut di atas. Pasti ada kompetensinya juga dianggap berkapasitas untuk memikul beban kewenangan tersebut. Bila kewenangan itu dijalankan dengan baik, sesuai aturan, menggunakan akal pikiran, dan hati nurani. Tanpa mengindahkan segala hukum yang berlaku, insya Allah diberikan reward di dunia tapi juga ganjaran pahala untuk bekal di akhirat. Tapi bila kewenangan tsb dijalankan tidak sesuai yang saya sebut di sebelum ini. Misal karena berpihak pada pihak tertentu atau adanya bentuk penyuapan atau adanya kepentingan tertentu. Dengan hal tsb menjadikan salah satu pihak terdzalimi dan sudah pasti menjadikan pihak lain menjadi pihak yang dzalim. Naudzubillahi min dzalik.

Alhamdulillah saya belum pernah di posisi yang sampai harus menentukan ‘hidup mati / keberlangsungan hidup orang lain’ insya Allah. Entah ya, seingat saya belum pernah dan jangan sampai. Tapi bila ketika kewenangan itu ada di saya, memberikan rekomendasi keberlangsungan nasib orang lain. Baik sendiri atau dalam grup. Semoga Allah menjaga saya untuk dapat menjalankan kewenangan yang memang dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Misaalll sampai saya salah menjalankan kewenangan tersebut, saya harap pertanggungjawabannya dapat ditanggung saat di dunia saja. Aamiin, mudah-mudahan. Namun bila saya pihak yang benar tapi direkomendasi atau bahkan diputuskan bersalah. Semoga jadi penggugur dosa-dosa saya. Sebaliknya bila saya pihak yang salah tapi dinyatakan benar. Semoga Allah memberikan rahmat & hidayahNya agar saya menyadari untuk menerima kesalahan, berjuang memperbaiki, agar tidak mendzalimi orang lain. Kalau kamu sendiri, pernah gak memikul kewenangan yang cukup berat?

Ramadhan 2019

Memasuki hari ke-10 puasa Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah puasa Teona semakin stabil. Awal-awal katanya “mau mati.” Saya tanya, mau mati emang gimana rasanya? Katanya, “sakit perut, pusing, laper, haus.” Baiklah, dicatat. Trus setelah buka, saya tanya lagi apakah masih terasa mau mati? Jawabnya, “udah enggak sih.” Jadi intinya energi habis pemirsa. Semakin kesini keluhan semakin berkurang, pada akhirnya waktu yang tersisa diisi dengan tidur, baca buku, menggambar, dan lainnya.

Ngabuburit menggambar
Habis mandi sore, sholat ashar, eh lanjut tidur.

Tantangan lainnya adalah saat tarawih. Ketemu teman sebaya hingga yang lebih kecil. Tantangan ini tidak hanya berlaku untuk Teona tapi ibunya juga. Karena terganggu kekhusyukan ibadahnya, kalau Teona nengok ke saya sambil kasih ‘pandangan mata konfirmasi’ yang tetap berakhir saya cuekin sih. Ya masa mau batalin sholat, selama gak acara nangis, insya Allah lanjut ajalah.

Contoh 1:

Teona sebelahan sama anak perempuan yang lebih kecil sedang sholat sambil ngedot botol susu. Trus anak itu nawarin Teona ngedot dari botol susu dia 😄 Teona karena gak kenal botol dot, tentu saja menggeleng ke anak tsb tapi trus nengok ke saya. Inti dari nengok konfirmasi itu: aku nolak lho Ibu ditawarin minum dari botol dot anak itu.

Contoh 2:

Sholat tarawih Teona membawa tempat minum bertali warna pink barbie. Ada anak laki-laki baru lancar jalan, mondar-mandir. Dia tertarik dengan tempat minum Teona yang ditaruh di depan sajadah. Anak itu mulai narik-narik tali tempat minum. Teona mulai merasa insecure, nengok ke saya. Inti dari nengok konfirmasi itu: aku gak mau lho Ibu kalo sampe tempat minum aku diambil anak itu. Beruntung anak tsb gak bawa lari tempat minum Teona, karena pasti akan dikejar 😂

Gawat ya kan, kekhusyukan saya buyar. Ya Allah, maafin ya. Abis gimana lagi. Huhu. Maghrib tiba, saat berbuka pun Teona udah kayak di restoran, pesan ingin ini dan itu. Keinginannya sebisa mungkin diikuti sebagai reward puasanya. Bersyukur, sahur no drama. Karena saya tekankan, sudah mau SD lho. Anak SD wajib berpuasa, apalagi kalau sudah 7 tahun: sholat dan puasa itu wajib. Nanti ada masanya kalau tidak menjalankan boleh dipukul atau dihukum.

Tidak ada target tertentu sih buat anak. Tapi saya berusaha mengusahakan yang seharusnya dilakukan anak seumur dia, gak ada alasan manjain karena kasihan masih kecil. Selama hal itu masih wajar dan memang ada di syariat Islam. Waktu tidur memang berubah drastis. Namun Alhamdulillah bisa diantisipasi sesuai kemampuan saya. Gimana dengan pengalaman puasa kalian?

Niat baik & kesempatan

Niat baik

Tidak semua orang punya! Mari bicara jujur, sebaik / sesoleh apapun kita. Pasti pernah merasa malas berniat baik. Mungkin bisa bantu, tapi males aja. Kita juga gak bisa memaksa seseorang harus punya niat baik. Itu hak dia lho. Paling kita cuma bisa mikir, “andai dia punya sedikit niat baik. Insya Allah semua ini akan jadi lebih baik.” Itu menurut Anda, menurut orang itu tidak. Pendapatnya lah yang terbaik. Bebas dong. Atau rasa kapok bahkan trauma bisa mengikis niat baik seseorang. Kalau menurut saya, “jangan dengan sengaja menutup niat baik yang sebetulnya bisa muncul dari hati nurani Anda.” Kalau Anda masih punya hati nurani sih ya. Apalagi sesungguhnya Anda punya potensi untuk memberikan niat baik Anda tsb. Apapun itu, Allah maha membolak-balikan hati manusia.

Kesempatan

Sama seperti niat baik, ada orang yang mau kasih kesempatan berulang kali ada juga yang tidak. Hak dia dong. Ada yang berhati luas memberikan kesempatan berulang dan dengan sabar tak kenal lelah mengajarkan hingga tercapai seperti yang diinginkan. Ada juga yang dangkal, “gue udah kasih lo berulang kali kesempatan, sampai akhirnya gue gak bisa lagi kasih lo kesempatan.” Manusiawi. Ada pepatah, kesempatan tidak datang dua kali. Tapi menurut saya yang paling pas, “jangan bosan memberi kesempatan, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh.” Manusia butuh kesempatan, Anda mau kasih kesempatan itu gak? Kalau mau, ganjarannya pahala. Kalau tidak mau, wallahuallam.

Saya juga bukan manusia yang baik hati, yang akan dengan mudah punya niat baik, dan memberikan kesempatan. Saya separah-parahnya manusia. Misal ada orang yang bukan lagi meminta tapi bahkan memohon niat baik saya dan minta diberikan kesempatan. Saya mungkin tidak punya alasan untuk menolak orang itu. Siapa gue??? Allah saja maha memaafkan hambanya. Meskipun buat saya, syarat dan ketentuan berlaku. Asal masih sewajarnya dan betul-betul dijalankan tanpa ada tujuan buruk kedepannya. Eh tapi ini menurut saya, si-ibu-kurang-cerdas-tapi-sok-tau. Gimana menurut pendapat kamu?

Cita-cita anak jaman sekarang

Masih related dengan post sebelumnya, saat ceremonial wisudawan kan dipanggil satu per satu. Trus disebut cita-citanya apa. Kalau jaman dulu saat ditanya, “cita-citanya mau jadi apa?” Anak-anak jawabannya standar: guru, polisi, dokter, pedagang, dan seterusnya. Zaman berkembang, lapangan kerja pun tidak lagi sebatas profesi umum yang saya sebut tadi. Saat saya kecil, sudah banyak teman yang bercita-cita jadi pengacara, penyanyi, pembawa acara, koki, pengusaha, dan lainnya. Saat acara wisuda kemarin, ada beberapa cita-cita yang menarik perhatian saya. Mungkin anak sekarang udah bisa lebih spesifik menjelaskan cita-cita mereka, seperti: dokter kecantikan, guru tari, designer, pastry chef, dan lainnya. Tidak semua yang saya anggap menarik sempat saya ambil gambarnya. Tapi ini beberapa yang saya ingat dan mendapat antusias pemirsa seperti:

Youtuber

Ini ada beberapa anak yang cita-citanya menjadi youtuber. Emang lagi hits ya kan, semacam kayak selebgram, vlogger, atau influencer. Profesi ini tentu saja menarik, berkaitan dengan kreativitas. Anak-anak jaman sekarang pun memang menyukai content kreatif kan.

Cinematografer

Ada juga yang mau jadi movie maker. Sama hal nya seperti profesi sebelumnya yang saya sebut, menarik untuk anak-anak yang hobi nonton ke bioskop lihat film dari sisi artistik dan lainnya. Bikin mereka tertarik untuk membuat hal tersebut.

Programmer

Dunia digital dan mutimedia pun pasti tidak luput dari perhatian anak-anak. Makanya ada jurusan informasi teknologi (IT). Profesi ini pun mulai booming bersamaan dengan berkembangnya dunia media sosial.

Dirut BI (Bank Indonesia)

Ini bisa jadi terinspirasi dari anggota keluarga, biasanya sih gitu. Profesi ini tidak hanya berat namun juga menjadi sorotan ya kan. Kepikiran aja tu anak mau jadi dirut BI.

Pasukan pembebasan Palestina

Ini mendapat applause paling heboh dan teriakan “Aamiin” yang membahana dari semua hadirin yang hadir. Seorang anak yang pasti tersentuh hatinya melihat saudaranya terdzalimi lahir batin. Saya aja amazed dan terharu loh. Subhanallah. Bisa kepikiran punya cita-cita semulia itu 👍😍

Masih banyak profesi lainnya yang unik dan menarik. Yang bikin orang tua murid tercengang bangga dengan cita-cita anak-anak jaman sekarang sungguh semakin banyak ragamnya. Alhamdulillah, menunjukkan kalau dengan majunya jaman tapi tidak melupakan nilai luhur dan mulia. Sebetulnya cita-cita saya gak kesampean, yaitu jadi orang yang kerja di kedubes. Kenapa gitu? Gak apa-apa. Menurut saya seru. Meskipun jalan hidup saya bukan di situ tapi jadi kuli dan IRT. Sing penting halal lan barokah tho. Kalau kamu apa cita-citamu dulu?