Bee Bee Land, Mall Cipinang Indah, Jakarta Timur.

Bukan post berbayar, murni pengalaman pribadi.

Kesini karena mau ketemu teman lama yang sekarang menetap di Semarang trus lagi datang ke Jakarta. Terdekat dari tempat dia di Mall Cipinang Indah ini. Jaman saya SD sampe selesai SMA, Mall ini belum ada. Sampe gak ngenalin lagi daerah kalimalang saking udah berubah banyak dan jarang lewat juga. Secara saya lebih sering lewat tol pastinya. Kami janjian pagi, pas banget si Bee Bee Land ini baru buka jam 10. Karena hari libur dan gak ada member. Jadi dikenakan 90.000/anak free 1 pendamping. Saya tau tempat ini juga karena googling, di Mall Cipinang Indah ini ada Bee Bee Land dan timezone. Saya pribadi kurang suka tempat permainan seperti timezone, menurut saya gak faedah dan buang uang. Jadi kalau punya kartu permainan. Pastinya itu bukan keinginan saya. Toh juga itu kartu2 gak yang kepake banget gimana. Numpuk aja.

Balik ke pembahasan Bee Bee Land. Konsepnya kayak kidzania versi mini. Kenapa mini, kayaknya terkait lahan yang gak terlalu luas kalau dibandingkan dengan tempat permainan lain di Jakarta. Tapi dengan harga segitu ya masih masuk akal. Pertama, tidak ada batasan waktu bermain selama gelang tanda masuk Bee Bee Land masih digunakan. Bisa keluar masuk juga, tapi anak gak akan betah juga seharian. Karena ya itu2 aja kan. Kemarin anak saya dan anak teman bertahan gak lebih dari 2 jam. Tapi okelah, misal ada kantor polisi, trus anak kita bisa pake kostum kantor polisi. Mainan lain seperti trampolin, kolam bola, dan permainan lainnya pun cukup edukatif dan menghibur.

Oh ya, di leaflet jam operasional hari biasa 08.30 – 18.00 sementara di akhir pekan/libur Nasional 08.30 – 12.00. Trus juga kalau mau bikin acara ulang tahun di situ juga bisa untuk 25 anak dan pendamping. Transportasi umum menuju Mall Cipinang Indah hanya dilalui 2 mikrolet: M 26 dan M 19. Untuk parkir, kemarin kesitu sih saya masih dapat parkir di depan pintu lobby utama. Tapi sepertinya cukup luas. Kesan saya, okelah si Bee Bee Land ini. Kalau tempatnya lebih besar pasti lebih seru dan anak-anak bakal lebih betah.

Bee Bee Land

Mall Cipinang Indah Lantai 2

Jl. Raya Kalimalang, Kav. 88

Jakarta Timur

(021) 21285932

FB: BeebeeLand.eduplay

IG: beebeeland_eduplay

Advertisements

Cerita pemilu

Siang tadi saya ke kelurahan untuk ambil KTP yang hilang, pemirsa *sigh. Mestinya sih Senin sore udah selesai tapi males ambil sore2 dan gak dibolehin juga itu KTP baru dikirim pake gosend ye kan. Selasanya syibuk. Jadilah skip pemilu kali ini. Trus terjadi percakapan berikut:

Petugas (P): “Bu, silakan diisi buku terima KTP barunya.”

Frany (P): “oke. Kemarin di TPS 62 & 63 yang menang siapa, mas?”

P: “mas Wiwi, Bu. Kalo ibu milih siapa?”

F: ngeledek atau apa nih maksudnya?! Jelas2 baru ambil KTP baru siang tadi. “Nicholas Saputra dong, dia mah ngalahin mas Wiwi & mas Wowo.”

Dan para petugas kelurahan pun sepakat dengan saya. Ya iyalahhh. Hanya 1 x 24 jam itu postingan bertahan. Sekarang aja udah lenyap. Huhu. Mari kita screenshoot rame-rame bakal kenang-kenangan. Duh, Rangga. Itu feed IG isinya pemandangan semua, padahal netizen pengen juga ada muka lo buat dipandang *najisabis. Sebagai fans Rangga dari jaman ABG sampe sekarang. Tentu saya pun gak ketinggalan ikutan skrinsyut foto selfie nya. Kamu ikutan juga?

Eat his words

Kupikir short term memories adalah istilah yang tepat menggambarkan diriku. Kupikir long term memories adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan dirimu. Namun aku salah. You forgot the details more than I have to remember, dear. Ingatanmu mungkin salah ketika menjelaskan waktu di mana aku mengikuti itu. Tapi aku ingat betul dan dapat menjelaskan dengan detil bahkan tanggal, bulan, dan tahun ketika aku mengikutinya sendiri. Satu tahun dua bulan aku merasa berjamaah dengan banyak orang lainnya tanpa sejurus denganmu. Ketika kamu murka tanpa lebih dulu mencerna maksudku. Harusnya aku tak perlu heran dan kaget. Aku jelaskan padamu dengan terinci maksudku.

Aku penasaran, bagaimana kesanmu setelah memperoleh kesempatan mengikutinya juga? Bukan untuk menyindir atau membalasmu. Kalaupun kamu tidak terkesan, mungkin Tuhan masih menutup pintu hatimu. Tak masalah. Aku berusaha menerapkannya setahun ke belakang, ilmu yang katanya kamu sudah tahu namun entah pemahamanmu tak sepaham denganku. Perbedaan ini akan jadi bahaya bila tidak disamakan visi dan persepsinya. Ternyata betul adanya. Sampai detik ini pun aku berusaha istiqomah menjalankan ilmu itu sendiri. Dulu kamu mendukung tapi tidak sepenuhnya. Aku amat berharap, setelah mengikutinya, kamu bisa sepaham denganku. Kenapa begitu? Ada harta yang harus kita jaga, ada amanah yang harus kita jalankan, dan ada mutiara yang harus kita ciptakan kilaunya.

Dalam menerapkan ilmu ini, aku pun pasti masih banyak salah dan kurang. Namun aku berusaha dengan segala ketidakberdayaanku. Semoga kamu bisa mencerna, memahami, meskipun mungkin tidak bisa menerapkan langsung. Tapi paling tidak kali ini kita sepaham dan sepemikiran. Sehingga tidak ada miskomunikasi dan salah paham. Harapanku ini, karena aku tau kamu orang baik, berdedikasi, dan luar biasa. Meskipun sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Mungkin saat ini Tuhan menutup mata hatimu, membutakan sanubarimu, dan mengunci akal sehatmu. But every cloud had a silver lining.

Gudeg Jogja Ibu Sudji, Sahardjo, Jakarta Selatan.

Bukan post berbayar, murni pengalaman pribadi.

Rekomendasi gudeg

Setau saya di Jakarta raya ini gak terlalu banyak pilihan restoran gudeg yang oke. Kalo di Jogjakarta tentu banyak pilihan dan kalo di Solo tentu saja gudeg di dalam kendil dari restoran Adem Ayem yang tentu saja take away biar khas gitu loh. Di Jakarta terus terang gak ada yang favorite sih. Ini saya tau saat seorang sahabat yang ngajak mampir pas kita lagi ada keperluan di sekitaran Jl. Sahardjo. Tempatnya kecil sederhana, biasa aja, tapi memang patut untuk direkomendasikan. Saya dan sahabat ini memang bukan tipe yang coba makanan yang belum jelas. Kita lebih suka yang pasti dan sudah tau rasanya. Termasuk si gudeg ini.

Saat saya datang sebelum jam makan siang, kebetulan sebelum waktu sholat Jumat juga. Jadi masih belum ramai dan menu masih lengkap. Kendala utama adalah parkir. Bila membawa mobil, sebaiknya parkir di Pasaraya Manggarai. Kebetulan saya dan sahabat saat itu lagi pake bajay untuk pergi dan pulang. Karena tempat ini gak jauh dari kantor tapi ya gitu, susah parkir. Kalau motor masih bisa parkir di depannya meskipun terbatas. Menurut saya yang penyuka menu khas, rasa masih bisa diterima yang gak terlalu suka manis. Pas lah.

Muraahhh 😍

Gudeg ini bisa jadi pengobat rindu buat yang lagi kangen gudeg. Lokasinya strategis, pas banget belokan shelter busway Manggarai persis seberang pasaraya Manggarai. Oh karena jalannya searah, bila bawa kendaraan jadi mesti putar balik jika ingin menuju kesini. Untuk transportasi umum tentu bisa dijangkau dengan transjakarta dan bajay seperti saya. Hehe. Untuk harga makanannya termasuk murah gaes. Bisa dicoba untuk cicip-cicip weekend besok. Kamu penyuka gudeg jugakah?

Kebencian

Mungkin Anda tipe yang tempramen atau emosian seperti saya? Kalau tidak, Alhamdulillah. Kalau iya, kita harus terus berupaya memperbaiki diri. Ini termasuk dalam doa saya setiap hari: “..mohon diberikan kesabaran agar dapat menjadi manusia yang lebih baik..” Terdengar klise ya doa saya, tapi buat saya berarti sekali kalau sampe Allah betul mengijabah. Meski begitu, saya bukan tipe pembenci. Dulu saat kuliah, saya bahkan bingung saat teman SMP yang kebetulan satu jurusan. Memusuhi saya karena saya berteman dengan mahasiswi yang teman SMP itu benci. Padahal teman SMP itu tidak kenal dengan teman saya! Dalam hati, wow banget ya orang bisa dengan mudah benci tanpa mengenalnya dulu. Dagelan, pikir saya. Tapi ya sudahlah, urusan masing-masing. Meskipun saya emosian tapi tidak serta merta saya membenci orang yang saya amuk/damprat/omelin. Seriously. Itu hanya emosi sesaat yang abis itu juga saya bakalan lupa. Watak buruk memang, saya mengakui. Tapi jangan salah, selain punya segudang kekurangan. Salah satu kelebihan saya, banyak sahabat atau teman yang suka dan sering curhat ke saya. Padahal saya bukan pemberi saran yang baik. Jadi kenapa mereka suka? Karena saya pendengar yang baik dan setelahnya bahkan saya akan lupa atau pasti tidak ingat dengan persis apa sih curhatan mereka. Jadi hanya sesaat aja pahamnya. LOL.

Terdengar saya seperti mengalami penyakit kejiwaan ya. Saya memang berencana mendatangi dokter kejiwaan sebelum akhirnya saya mencoba tes stiffin *buka promo / endorse. Entah ya, menurut saya setelah kami bertiga coba. Hasilnya memang ‘masuk’ ke karakter, watak, dan kenyataan yang ada di kami. Jangan juga dipikir dengan sudah tes, trus bebas dari masalah. Ya gak mungkinlah ya, orang hidup mah pasti ada masalah. Jadi gimana solusinya? Terus berusaha berpasrah diri sama Allah swt. Sulit pasti, tapi memang hanya itu yang bisa dilakukan. Nah, pendorong terkuat saya untuk berubah adalah anak! Luar biasa, karena anak saya semakin besar, semakin kritis, dan semakin cerdas juga bijak. Dua terakhir menyadarkan saya, kalau saya kalah lho dari dia. Saya yang udah tua ini kalah dari anak TK. Karena malu dan tentu saja masalah lain. Jadi saya memang harus berubah. Pun saya yang bukan tipe yang kalem, otomatis bukan tipe wanita yang lemah lembut. Meskipun yang saya bilang suatu hal yang betul, akan lebih baik bila disampaikan dengan lembut *asli pe er banget.

Apakah semudah itu menghapus kebencian? Jawabannya kembali ke diri kita. Apa untungnya membenci? Apa manfaat memelihara kebencian? Apa Anda puas dengan kebencian yang dimiliki? Bila karena kebencian mengalahkan / mengorbankan rasa sayang. Bukankah itu menjadi mudharat dan dzalim??? Percuma dong ibadah jungkir balik kalau ternyata sedangkal itu *ups. Gak berhak menilai ibadah orang tapi yho opo tho?! Kembali lagi ke hati nurani sih, baik untuk yang memelihara kebencian dan pihak yang mendukung kebencian tersebut semakin tumbuh subur. Kelak semua ada pertanggungjawabannya. Begitu pun watak dan perilaku buruk saya. Mudah-mudahan Allah kasih kesadaran, perasaan, iman, dan takwa pada saya agar menjauhi kebencian pada siapapun. Doa yang sama untuk kalian semua 🙂

Pentas seni & khotmul Qur’an 2019

Sabtu lalu sekolah Teona mengadakan acara pentas seni & khotmul Qur’an. Menyesuaikan dengan tema bulan ini dan bulan depan sudah masuk bulan puasa. Gak terasa ya, udah mau lebaran lagi aja. Karena acara diadakan di awal bulan, maka didahului dulu dengan rapat bulanan orang tua. Baru pentas seni dan diakhiri dengan khotmul Qur’an. Pentas seni menampilkan drama musical gitu deh, alur ceritanya sambung menyambung diselingi musik dan tari. Memang selalu menyenangkan dan terhibur lihat anak-anak beraksi.

Drama kelas Teona

Sebetulnya saya justru penasaran dengan acara Khotmul Qur’an. Jadi acara khataman Al. Qur’an juz 30, anak-anak sudah sampai di surat Al. Ghasiyah. Teona pun berganti kostum yang tadinya gamis sesuai tema pentas seni menjadi gamis putih. MC acara pun berganti, setelah pembukaan, dipersilakan masuk per kelas. Kebetulan kelas Teona pertama masuk. Urutannya ada Unta yang tentu saja dalamnya ada 2 orang karena Unta kan kakinya 4. Dilanjutkan anak-anak berbaju putih semua dipakaikan mahkota dan selempang bertuliskan khotmul Qur’an. Lalu berfoto di photobooth dan naik ke panggung menunggu kelas lain masuk. Semua kelas sudah masuk dan menempati tempat duduk di panggung, lalu dites oleh MC dan 2 perwakilan orang tua murid. Mulai dari hanya disebutkan arti nama surat dalam bahasa Indonesia dan anak-anak membaca suratnya. Hingga sambung ayat, udah kayak acara hafidz hafidzah di TV tiap bulan Ramadhan ya kan.

Khotmul Qur’an

Setelah itu, orang tua masing-masing menempati tempat yang sudah ada nama anak. Lalu anak-anak turun per kelas dan menghampiri orang tua. Memakaikan mahkota yang dipakai si anak ke orang tua. Sebagai pengibaratan di akhirat kelak, anak-anak yang penghafal Al. Qur’an atau kita sebut hafidz dan hafidzah akan memakaikan mahkota ke kepala orang tuanya 😢 Betul, saya mewek! Saya gak merhatiin sih ibu-ibu lain gimana. Saya cuma lihat ibu-ibu sebelah saya ikut terharu juga. Saya biasanya ‘kebal’ loh dengan moment-moment mengharukan yang sengaja diciptakan begini. Tapi entah kenapa kok ya mewek juga. Huhu. Sedih aja gitu. Acara dilanjut dengan makan siang, dipisah muslim dan muslimah. Trus makan di tampah bareng-bareng ala Rasulullah. Alhamdulillah.

Acara ditutup dengan foto bersama si Unta. Kesan dari acara ini, kalo saya sih campur aduk. Ada rasa bahagia, seru, lucu, sampai terharu biru. Menandakan kalau hidup itu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Namun yang harus dipegang teguh tentu saja iman dan takwa. Jangan sampai mendzalimi orang apalagi keluarga sendiri. Memuja ego dan narsisme diri sendiri. Family always come first. Keluarga yang solid akan menumbuhkan manusia yang tangguh insya Allah. Happy Monday.

Ada tapi langka

Di tengah gempuran pelakor (perebut laki / suami orang) dan pebinor (perebut bini / istri orang). Kadang bikin kita berpikir gak sih, separah itukah moral masyarakat masa kini? Pastilah, saya pun terbersit hal yang sama. Tapi bobroknya suatu kaum, pastilah masih ada segelintir manusia tulus yang insya Allah punya hati nurani. Tuhan menciptakan segelintir manusia tulus ini untuk menjadi contoh yang patut diteladani. Kebanyakan dari mereka rakyat biasa, tidak selalu berpendidikan, ataupun berada secara materi. Saya hanya punya 2 contoh dan kebetulan sama-sama pasangan suami istri yang mau saya bagi di sini:

  1. Indonesian couple who living in Oz, tiap ada acara profesi berskala Nasional / Internasional di Indonesia. Beliau selalu membawa istrinya yang (maaf) memiliki penyakit syaraf sehingga harus menggunakan kursi roda. Suami pun membawa istrinya tanpa beban, tanpa bantuan, dan santai banget pokoknya. Saya mengenal sosoknya jauh sebelum saya menikah dan buat saya hal tersebut marriage goal bangettt! Hari gini ya kan, suami (maaf) tidak malu membawa istri dengan kondisi yang beda, memperkenalkan istri ke rekan sejawat, bahkan memperlakukannya yang tidak jadi beban. Buat pasangan tersebut mungkin biasa, awalnya istri sehat kemudian diberi ujian hidup sakit. Semua dijalani suami dengan tulus aja *melting liatnya 😍
  2. Mantan rekan kerja yang saya tau dia jujur, berdedikasi, dan pekerja keras. Sejak kerja bareng dalam satu tim. Pernah sharing mengenai istrinya yang memiliki kecemasan berlebih banget. Bulan lalu saya ketemu, ngobrol ini itu. Trus pas mau pulang, sempat sekilas saya tanya kabar istrinya. Dia menjawab, “saya lagi mau bawa istri saya untuk rukyah atau hipnotheraphy.” That was amazing & touching sih buat saya. Alih-alih mengeluhkan si istri, tapi yang dia ceritakan usaha suami untuk membantu istri keluar dari masalah! Itu artinya, teman saya sudah 3 tahun lebih berjuang membantu istrinya! Dia gak menyerah, dia gak merasa sekian tahun tersebut terlambat untuk diobati, dan dia gak berusaha mengalihkan masalahnya dengan hal maksiat * baca: selingkuh misalnya. Dia menceritakan SOLUSI! 👍

Jadi apa sih inti dari 2 contoh di atas?Sesuai judul, segelintir manusia tulus ini ada tapi langka. Jadi gak cuma satwa atau tumbuhan aja yang langka, kalau hewan bisa dikembangbiakan, tumbuhan bisa dibudidayakan. Kalau segelintir manusia tulus gimana menjaganya biar gak punah ya? Kalau dari sudut pandang saya, pasti ada ‘bibit unggul’ di diri segelintir manusia tulus tersebut. Yang saya maksud, seperti: dididik dengan baik oleh orang tuanya atau diberikan nafkah yang halal oleh orang tuanya atau menjaga ibadah dan agamanya atau mencari ridho Allah atau sesederhana bersyukur dengan hidup yang dipunya. Ah rasanya memang semakin langka bukan?