All about your first born

Sekali – sekali ikutan yang sedang trend. Nyontek dari  blog Emmy dan Ria“ALL ABOUT YOUR FIRST BORN”. 

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Tidak
2. Father in the room? Tidak
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Awal Mei
6. Birth date? Akhir April 2013. Teona kepalanya gak masuk ke jalan lahir. 
7. Morning sickness? Permanen selama 9 bulan. Obat mual? Gak efek.
8. Cravings? Iya dongs, antara lain : Al. Baik, kue putri salju, chicken strip CFC. Hoho.

9. Kilos gained? 10 kg !

10. Sex of the baby? Perempuan

11. Place you gave birth? RS. Husada, Jakarta.
12. Hours in labour room? 30 menit.

Total rawat inap 4 malam, karena Teona disinar (kuning). Penyebabnya Teona walaupun saya lahirkan tapi Kami berbeda golongan darah *kuasa Allah.
13. Baby’s weight? 2.8 kg Panjang 49 cm
14. Baby’s name? Teona 
15. How old is your baby today? 4 tahun
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 3 :
– Mual muntah full 9 bulan dan masih tetap bekerja. Hehe.

– Karena pernah memiliki riwayat keguguran. Jadi tes lab saya super lengkap. Antara lain : Tes lengkap awal kehamilan, tes saat ingin terbang ke luar negeri, dan triple XXX test. 

– Saat hamil sama sekali tidak idealis. Tetap beli botol susu, sterilizer, dll. Yang berakhir gak kepake, karena Teona tidak pernah pakai botol dot. Tetap beli pospak, padahal kenyataannya 3 bulan Teona full popok kain, lanjut clodi (cloth diaper). Jadi pospak hanya untuk saat pergi saja. Tetap baca – baca tentang sufor, ternyata Alhamdulillah ASI melimpah. Tidak sufor sama sekali *Subhanallah.
17. Who’s the obgyn?  dr. Fransiska Mochtar, SpOG.

Saya cukup positif dengan tema ini. Bisa memotivasi wanita yang belum punya anak tapi sebenarnya ingin punya anak atau memang sedang program inseminasi / bayi tabung; jadi pembelajaran untuk ibu hamil di luar sana; dan berbagi pengalaman.

Warung Sate Sederhana, Jatinegara, Jakarta Timur.

BUKAN POST BERBAYAR! BUKAN ENDORSE! MURNI PENGALAMAN PRIBADI.



Saya tau warung ini dari kecil, karena faktor asal yang punya warung dari Klaten, Jawa Tengah. Orang tua saya sering ajak makan di sini. Trus dari dulu terkenal enak. Menunya : tongseng kambing, gulai kambing, dan sate kambing. Pokonya meng – kambing. Hehe. 

Dulu saya pernah lihat liputan acara makan2nya Pak Bondan pernah liput ke warung sate Sederhana ini juga. Ciri khas nya, ada pengamen keroncong yang menghibur di situ. Karena namanya warung, jadi yaa gitu deh, gayanya warung banget, gak ada AC. Tempatnya juga gak gede, jadi gantian nunggu yang selesai makan. Lumayan sauna kalo pas lagi jam makan siang. 

Untuk harga, standar. Gak murah tapi gak mahal juga. Porsi nasinya banyak, jadi saya biasanya mesen setengah daripada gak habis. Bisa minta tambah irisan cabe rawit kayak temen saya pas makan. Saya udah cukup dipuaskan dengan yang tersaji. Lokasinya persis di samping hotel Alia, Jatinegara. Kalo naik kendaraan pribadi mesti parkir di pinggir jalan, tukang parkir minta 10.000. Kalau naik transportasi umum yang lewat sini, mikrolet 01, transjakarta juga lewatin tapi tempat makannya lumayan jauh dari shelter busway. Buat penggemar kambing, bisa dicicipin. Buat selera saya, sudah mendarah daging kambing banget. Hehe.

Warung Sate Sederhana 

Pusat : Gg. Lele Matraman Raya 224 Jatinegara. Telp. (021) 8508151

Cabang : Jl. Pahlawan Revolusi Pondok Bambu, Jakarta Timur. Telp. (021) 8604128

Playground indoor di mall

Sebagai orang tua yang (sebenarnya) gak mau sering2 ajak anak main ke mall. Rada bingung juga, mau ajak main kemana lagi. Palingan ruang terbuka hijau macam taman lapangan banteng atau perpus cikini. Acara2 seperti playdate emang udah paling nyaman ya di mall, permainan anak2 ada, laper tinggal cari foodcourt atau resto, mushola, hingga toilet pun tersedia. Ditambah dengan buanyak – nya mall di Jakarta, tinggal pilih deh mau mall yang kayak apa. Meskipun saya lahir, besar, dan tinggal di Jakarta. Saya bukan anak mall tapi ya terpaksa deh main2 ke mall. 
Sekarang saat udah punya anak, tentu tak terelakan ke playground indoor di mall. Sebenernya lagi, saya gak sreg dengan playground indoor di mall. Alasan karena di playground indoor bayar, bukan alasan utama, alasan ke sekian lah itu. Yang utama, saya memang lebih suka anak2 di ruang terbuka aja sih. Strategi di mall pasti ada playground indoor memang gak bisa disalahkan, tapi gak yang tepat juga *ribet ye gue. Intinya, anak saya mau gak mau ya jadi kenal dengan playground indoor di mall. Jadi candu sih Alhamdulillah enggak. Cuma ini anak kan makin mudeng ya, jadi kadang keinget trus minta ke salah satu permainan di mall. Intinya saya dan suami menyesuaikan dengan situasi dan kondisi aja sih. 

Pusing kan lihat banyaknya kartu. Udahlah kartu debit, kartu supermaket, kartu RS, masih ditambah kartu permainan -_-  Tapi kalo gak simpan, tiap pas ke mall dan mau main, beli kartu lagi dong. Seperti yang terjadi, dobel2 deh tuh kartu permainan padahal saldonya masih ada. Hadeuh. Dengan simpan kartu2 ini, misal mau main, tinggal isi saldo aja *kalau saldo habis. Bedanya ibukota dengan daerah, di Jakarta jarang ada tempat yang gratis. Kalo daerah, masih ada sawah, danau, pantai, hutan. Banyak tempat (gratis) yang bisa dijelajahi. Memang semua ada kelebihan dan kekurangan. Post ini bukan ajakan untuk ngumpulin kartu permainan ya, saya aja males banget sebenernya, terpaksa ini. Ada gak sih yang sama kayak saya, terpaksa punya banyak kartu playground indoor di mall?

Random thoughts 

Beberapa hal berikut sering terlintas di sela – sela aktivitas kesibukan saya. Kok bisa? Yah lihat orang sekitar atau pas lagi ngebahas sama suami atau temen. Selain jadi self reminder, saya bertekad jangan sampeee hal tersebut ada di saya atau saya alami atau saya lakuin *amit – amit.

1. Kerja paksa untuk narapidana. Narapidana (napi) hukumannya pembinaan. Tapi kan gak semua yang masuk penjara trus sadar dan insyaf. Nah, yang gak bisa disadarkan dan bertobat inilah yang mesti ‘dipecut’ untuk kerja paksa. Pindahin mereka ke pelosok yang ndesooo banget. Trus suruh bikin jembatan kek, bikin irigasi kek, bikin jalan kek. Pokoknya infrastruktur yang belum ‘tersentuh’ akibat uangnya dikorupsi *eh. Atau memang daerah pelosok tersebut memang terisolir. Kerja paksa di sini bukan kayak jaman penjajahan tapi daripada kerjaannya tidur, makan, plesiran *eh. Mending diberdayakan aja para napi ini.

2. Cerita bayi tabung. Jadi kerjaan saya sebenernya gak jauh dari pasangan infertil dari berbagai latar belakang dan ras. Seneng begitu tau pasangan tsb sudah hamil. Namun ternyata tidak selesai sampai di situ. Ada pasangan, yang pasti suaminya ras yang diidolakan. Protes keras karena saat bayi hasil bayi tabung tsb lahir ada sedikiittt kekurangan. Sumpah, kekurangan itu (menurut saya) hanya ujian kecil. Dibanding elo udah usaha mahal tapi gak berhasil alias gagal bayi tabung. Kalau di agama saya, apapun yang terjadi ke diri kita insha Allah akan jadi ladang amal dan pahala untuk kita. Namun untuk si suami tsb, kalau di negaranya, bayi seperti itu tidak seharusnya dilahirkan  😢  Entah dia gak percaya Tuhan, gak beragama, atau dia lupa / gak tau kalau dia ciptaan Tuhan juga kali ya?! Saya speechless 😡

3. Tuntutan. Hari gini tuntut menuntut kayaknya udah jadi hal biasa. Ngadu ke LSM trus lapor polisi atas tuntutan bla bla. Orang yang duitnya gak berseri walaupun otaknya gak ada pun bisa nuntut. Sebenernya rada heran aja, hari gini gampang bangett buat cari track record si pelapor. Apakah orang tsb dari latar belakang yang baik? Apakah ada sejarah kriminal sebelumnya? Dan sejenisnya. Mbok ya ditelusuri dulu, mending nangkep koruptor kelas kakap dibanding ngurus tuntutan alay.

4. Sebentar pakai jilbab sebentar lepas jilbab. Hak dia kali. Okey, tapi bila pelakunya sudah berumur, hendaknya lebih bijaksana dan istiqomah. Pake ya seterusnya, atau lepas aja sekalian. Kan lagi belajar? Saya maklum tapi karena contoh seperti ini ada di sekitar saya. Jadi saya cukup tau persis kualitas orang – orang seperti ini. 

5. Jadi benalu di hidup orang lain. Sejak kecil saya udah liat contoh – contoh manusia benalu. Menjijikan sekali. Jadi saya bertekad untuk hidup mandiri, apalagi setelah nikah. Berusaha untuk tidak menjadi benalu, tahu diri, dan hidup sesuai kantong. Tapi manusia benalu biasanya gak sadar dan santai aja jalaninnya. Hiihhh! 

Zaman berkembang, teknologi semakin maju, manusia semestinya meningkatkan kualitas diri. Malu sama generasi muda, malu sama orang sekitar, dan paling penting malu sama diri sendiri. Memperbaiki diri wajib hukumnya. 

Mineapolis, Plaza Indonesia.

BUKAN ENDORSE! BUKAN POST BERBAYAR! MURNI PENGALAMAN PRIBADI.


Saya lupaaa soal bayar2nya berapa, bisa cek langsung aja ya. Tapi saya ingat detil permainannya. Haha. 

1. Hideout. Semacam indoor outbound gitu deh. Ada perosotan (tertutup dan terbuka), mini stage, dan bisa nerobos di kolong panggung. Hehe. Perpaduan rumput sintetis dan lantai kayu. Aman untuk anak – anak. 

2. Carousel. Teona naik kuda bareng batita lainnya. 

3. Kereta api. Kita nunggu di stasiun trus saat kereta berhenti baru naik dan keliling mall di lantai tersebut dengan kereta. 

4. Cricks garden. Semacam indoor garden gitu deh. Permainan bola, beberapa permainan keahlian, beberapa permainan ketangkasan, dan lainnya. Rumput sintetis dan vynil cukup aman. 

5. Fishing & colouring. Jadi fishing ada di dekat no. 1 (hideout) sementara colouring dekat no 3 (kereta api). Fishing dengan jaring dan ember kecil. Colouring dengan cat minyak / spidol. 

Karena tidak menyatu, jadi no 1 – 5 beda – beda lokasi namun masih berdekatan Dan satu lantai. Tentu saja di lantai tersebut banyak bertebaran brand – brand luar khusus anak – anak. Plaza Indonesia adalah mall yang tidak memiliki department store seperti c3ntr0 atau d3b3nh4m5. Brand paling standarnya Zar@. Jadi pas jeda (anak laper dan rest room) kita pilih rehat di cafe aja.

Duluu pas masih single, saya ke plaza Indonesia buat ketemu temen atau nyushi. Tapi begitu ada Teona, disesuaikan jadi ‘momong anak’. Haha. Hadeuh, mall lagi, mall lagi. I have no choice  😜

Ketika tidak bisa memilih

Akhir2 ini ramai dibicarakan hingga dicaci netizen, akibat ulah ibu, suami dan kedua anak turut menjadi korban bully. Yang bikin jadi makin sedih karena saya berteman baik dengan anak – anak tersebut. Saya tau persis, hati mereka baik dan mereka solehah. Begitu netizen ‘menyerang’, saya yang tidak berani membahas topik ini langsung dengan mereka, membaca satu post dari mereka yang bertujuan ‘bicara’ dengan netizen. Lebih bikin terharu, karena mereka berdua bijak bangettt  😢 

“Tidak bisa memilih lahir dari ibu mana dan dari keluarga yang seperti apa” ; “apa yang dilakukan ibu tidak ada sangkut paut dengan anak, karena anak telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan sendiri”. Setidaknya itu yang menyentuh di saya. Terlebih ketika mereka lebih suka dihujat dibanding Ayah mereka yang dihujat *mbrebes mili. Rangkaian kata – kata anak – anak itu muncul dari hati tulus, hasil didikan yang baik, pembelaan anak solehah. Netizen pun tersentuh dengan rasa cinta kedua anak ke Ayah dan Ibu mereka. 

Saya sempat ‘mengintip’ beberapa komentar pedas hingga jahat dari jari netizen. Duh, Gustiii. Orang – orang itu kan gak kenal secara pribadi ya, tapi komentarnya udah kayak paling tau hidup mereka. Bahkan sumpah serapah dari netizen bikin saya prihatin, namun disikapi bijak : “memilih jomblo dibanding Ayah menanggung dosa – dosa gak penting kami (pacaran maksudnya) sebelum menikah”. Kalo aja netizen tau, buanyakkk cowok yang antri dengan berbagai cara agar bisa ‘mencuri’ hati mereka. Kalo aja netizen menyadari, hari gini kita sebagai cewek amat sangat wajib berhati – hati dengan cowok yang belum jelas bibit, bebet, bobotnya. Saya termasuk tipe yang sepaham dengan kedua teman saya tersebut! Toh tidak ada yang salah dengan menjomblo, kami membentengi diri dari sampah masyarakat. Kalimat saya judes? Emang! Kenyataan kok ini.

Komentar – komentar dari netizen amat mencerminkan kualitas pribadi mereka. Contohnya (maaf), mulai dari nama account socmed – nya deh. Kelihatan kok kualitas pribadinya. Lalu rangkaian kalimat dan ejaan di komentar yang mereka tulis. Hadeuh, minta ampun *tepok jidat. Bukan memukul rata netizen ya, tapi kelihatan dengan sangat mudah. Mana orang yang bermutu dan orang yang gak ada mutunya sama sekali. Mari mencoba untuk bijak dalam bersosial media, sopan dalam mengutarakan pendapat (apalagi kalo gak kenal secara pribadi), dan berempati dengan apa yang dialami orang. Situ nyumpahin yang jelek, kalo sumpah itu berbalik ke diri atau keluarga situ kan pasti pedih rasanya. Mending saya, judes tapi gak iseng judesin hidup orang apalagi kalo gak kenal langsung. Iih, siape elo?! 

Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017

Indonesia International Motor Show (IIMS) adalah event terbesar otomotif di Indonesia. Kalau mau cari mobil motor, aksesoris otomotif, dan sejenisnya pas kesini. IIMS berlangsung 27 April – 7 Mei 2017. Yang mana tanggal 3 – 7 Mei 2017 ada Jakcloth jugaa. Kalo saya ngapain ke IIMS? 1. Secara tempat acaranya dekat. 2. Ada arena bermain anak – anak. Poin ke2 yang mau saya bahas lebih lanjut di post ini.

Kami sampai sekitar pukul 10.30, loket terbagi 3: cash, BC*, dan tiket IIMS yang dibeli di ind0maret. HTM-nya weekdays 50.000 dan weekend / tanggal merah 60.000. Anak > 3 tahun bayar full dan >60 tahun FREE. Saat masuk kami langsung jelajahi semua area. Sangat menarik dan menggoda iman lihat pameran IIMS ini. Saya aja yang gak ngerti otomotif seneng lihatnya, gimana yang ngerti. Gak cuma komersil, ada juga mobil hasil karya anak Universitas Islam swasta di Jogja yang juga dipamerkan. 

Setelah puas menjelajahi semua area, kamipun menemukan beberapa titik yang kids – friendly *tapi saya gak inget di hall mana aja. Titik pertama di hall mobil2 komersil, tapi lebih buat toddler sih. Jadi Teona nengok aja tanpa kesitu. Titik kedua, playground indoor yang menyediakan otomotif – puzzle gitu deh, ini menarik. Ada sekitar 30 menit di situ main2. 

Titik terakhir adalah IIMS road safety, TEONA GIRANG!!! Jadi semacam tes ambil SIM A. Setelah ortu bayar 20.000 dan isi biodata anak. Lanjut si anak menyerahkan sendiri ke petugas untuk diverifikasi dan difoto kayak kita foto untuk bikin SIM di Samsat. Setelah SIM jadi lanjut naik mobil untuk ‘dites’ tentang rambu – rambu lalu lintas, jalur perjalanan seperti lewat perlintasan kereta api, putar di bunderan, dan lainnya sebanyak 3 putaran. Waktu dibatasi sekitar 10-15 menit, untuk anak usia 3-12 tahun. Apakah beneran dites? Ya enggaklah, permainan aja ini. Pengoperasian mobilnya pun kalo mau digas biar bisa jalan injek gas, kalo mau rem angkat aja kaki dari pedal gas. Mudah bukan. Untuk anak 3 tahun kan belum mudeng ya, petugas yang akan jalankan mobil via remote. Petugas siap siaga sejak SIM jadi hingga selesai di bawah pengawasan bapak dan ibu polisi *beneran ini polisinya. Haha. Pas udah selesai, kita sempet pindah untuk test drive mobil beneran. Selesai dari situ saya udah gempor pengen pulang, tapi Teona minta sekali lagi ke titik ketiga *tobat! Mana jarak dari tempat test drive ke titik ketiga itu lumayan, secara PRJ luasss. Bapaknya Teona yang bujuk saya, gak apa2 sekali lagi. Atas dasar SAYANG ANAK, kita jabanin ke titik ketiga (lagi!) 😥 Teona tetep excited aja dong, dia seneng banget berkali – kali lewat perlintasan kereta api. Padahal keretanya cuma maju mundur doang trus palangnya kebuka (dibukain sama mas petugasnya sih) trus Teona jalanin mobil lagi *tepok jidat. 

Maaf kalo review ala ala ini jadi lebih detil cerita tentang permainan anak – anak dibanding review mobil motor keluaran terbaru, harap maklum! Tempat makannya sendiri gak berbentuk foodcourt kayak kalo event Java Jazz gitu sih. Karena IIMS makan tempat untuk arena test drive nya. Toilet banyak tersebar. ATM mobile yang saya lihat BC* aja. Saya pun berani jamin, 3 – 7 Mei bakal lebih rame karena event Jakcloth mulai plus barengan pula sama IIMS. Oh ya, kalo udah malem ada live music. Tapi kalo malem gak mungkinlah ya, karena bawa anak. Bapaknya Teona ngincer pas Isyana Sarasvati perform, saya bilang : gak janji ya, lihat sikon Teona. Hihi. Sekian review saya, bukan endorse. Yang mau lengkapin review saya, monggo share di kolom komen.