Biaya – biaya

Setelah biaya mudik dan lebaran terbitlah biaya tahun ajaran baru 😭😭😭 >> ini berlaku buat elo doang kayaknya, Fran. Orang lain mah santai. Oh ada lagi, “rezeki sudah ada yang atur.” Saya percaya, tapi menghadapi kenyataan ini, sungguh perih. Hiks. Jadi ya, baru saja bernafas setelah biaya mudik dan lebaran. Yang Alhamdulillah nya ada THR. Berlanjut ke biaya tahun ajaran baru, berarti biaya daftar ulang, bayar SPP, bayar les anak, dan lainnya. Eh iya, jangan lupa bayar PBB yang naik sekitar 30% (saya sampe melotot lihat jumlah nominal di lembaran PBB yang mesti dibayar) dan pajak kendaraan Anda. Ditambah biaya rutin sehari – hari. Belum lagi miscellaneous. Loh kok saldo nol nya dikit? Sekali lagi, ini elo doang, Fran. Haha.

Drive thru bayar pajak kendaraan
Drive thru bayar pajak kendaraan

Karena satu dan lain hal. Akhirnya saya yang bertugas bayar pajak kendaraan. Beruntung bayar di drive thru, udah kayak mesen McD ya kann. Tapi sih semua sudah teratur, jadi gak repot dan lama. Enaknya bayar – bayar langsung ke Bank kerjasama. Mau PBB ataupun pajak kendaraan. Tetep aja kalo judulnya bayar trus dalam jumlah yang (bagi saya) lumayan. Bikin pening kepala. Secara seminggu kemarin bayar A, B, C, dst. Liat uang cuma paling lama 5 detik trus bayar ini itu. Tapi trus kembali tersadar, “Alhamdulillah masih bisa bayar ini itu.” Kemudian waras kembali ~ Baca : labil parah. Kalo istri lain pintar atur uang, tidak dengan saya. Maka suami yang kontrol, saya nyesuainnya dengan lebih tau diri aja sih. Beberapa caranya : gak sering lirik aplikasi belanja dan meningkatkan omset bisnis kecil – kecilan biar bisa jajan pribadi karena gajiku tak bisa diganggu gugat *dih, apaan sih *dasar banyak maunya. Alhamdulillah, kita gak tipe tukang jajan makanan. Jadi saya masak terus. Gak juga tipe yang tiap minggu wajib nge-mall. Karena tiap minggu selesein urusan yang tiap minggu memang mesti diberesin alias rutin. Mudah – mudahan Gusti Allah paringi kesehatan selalu, biar bisa penuhi segala kebutuhan. Trus gak lupa bersyukur pastinya. Ngeluh seperlunya *macem betul aja. Hmm, apalagi ya? Oohh, siapkan budget buat qurban bulan depan *catet. Maka insya Allah barokah hidup Anda *benerin jilbab. Postingan curhat begini semoga gak sering ya. Makin lama bisa keliatan tingkat kewarasan saya semana. Hehe. Eh tapi, siapa yang punya curhatan mirip sama saya, ngakuuu??

Advertisements

Teman lama

Kepantasan

Awalnya dia junior saya di kampus, trus kita bareng satu jurusan. Ketika skripsi, ada yang aneh menurut saya. Saya perhatikan dalam diam. Update hidupnya pun sedikit aneh buat saya. Sempat terlibat adu argumen di medsos tapi tak terlalu saya tanggapi. Toh dari awal berteman biasa. Saat politik di medsos memanas, dirinya ikut di suatu kubu. Melawan orang yang tak sepaham dengannya. Semua saya tanggapi biasa. Statusnya terakhir di medsos, cukup mengganggu saya. Utamanya karena mengejek salah satu dosen kami. Dosen – dosen kami merupakan tokoh yang cukup berperan di negeri ini. Kadang sepak terjangnya membuat kami yang pernah jadi mahasiswa mereka cukup menganga tapi trus ya udahlah ya. Menurut saya, biar gimana, guru atau dosen itu pernah mengajar kita. Membagi ilmunya, membimbing, mengarahkan kita agar memiliki pengetahuan lebih. Meskipun ada kalanya guru atau dosen itu nyebelin. Tapi kan tetep aja mesti dihargai. Mungkin berat untuknya berbuat baik atau baik versi liberal kali ya. Entahlah. Jangan pernah ragu berbuat kebaikan

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

(Ar-Rahman : 60)

Kehilangan

Ketika itu, saat senggang, saya membuka Facebook di bagian memories. Kadang seru juga lihat kenangan lama, apalagi pas suntuk melanda. Hingga sampai di status alay saya, 9 tahun yang lalu. Saya pun baca komentar teman – teman saya. Ada satu orang yang lost contact. Saya search namanya di Instagram, karena sepertinya gak aktif di facebook lagi. Hasil penelusuran saya mengejutkan, akhirnya saya googling. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Teman saya telah berpulang lebih dari 6 bulan yang lalu 😭 Update terakhir yang saya tau, almarhumah migrasi dan bekerja di Oz. Sempat lihat update hidup dia sekilas. Saking gak percayanya, saya baca semua artikel media Oz terkait berita almarhumah satu per satu. Selama hampir 10 tahun mengenalnya, berkesan baik dan hangat.

Kebablasan

Semakin mudahnya kita mendapatkan sumber informasi. Sudah semestinya dibarengi dengan mengasah otak kita. Mana informasi yang berkelas dan mana informasi ‘sampah’. Bukan apa – apa. Berita Nasional maupun internasional mesti pinter-pinter ditelaah maksud dan tujuan. Serta akan mengarahkan opini publik kemana?! Itu baru kerja otak, belum lagi dibarengi emosi *biasanya ini cewek. Bahkan teman lama yang saya nilai cukup intelek pun mulai kebablasan dalam meraup informasi yang ada. Sampai turut bangga dan mendukung teman kami lainnya yang berada di garis depan ngotot orasi mengganti pemerintah. Duh! Kalo saya malah malu. Fanatik tuh lebih baik sama Agama dibanding tokoh politik / negarawan. Mereka juga kan manusia biasa seperti kita. Sungguh tindakan yang sia – sia. Memperbaiki mulai dari diri sendiri saya rasa lebih berguna dibanding menghujat orang lain.

Hebat ya, bahkan dari medsos jaman sekarang kita bisa update meskipun tidak berhubungan langsung. Tetap berhati – hati dengan jarimu. Jangan sampai membawa petaka. Ada yang punya cerita yang sama dengan saya?

Rama Shinta by Bella Fawzi

Bukan post berbayar, murni bantu sahabat.

Kalau dulu banget, saya pernah review buku tulisan sahabat saya. Sekarang saya mau kasih pendapat tentang hasil karya terbaru a good friend of mine : Bella Fawzi yang baru aja ngeluarin single terbarunya. Aaakkk, congrats dear! 😘 Lagu Rama Shinta ini terinspirasi dari cerita Ramayana. Oh, tentu saja saya sudah mengantongi izin dari yang bersangkutan untuk bikin post ini ya. Lanjut, saya sudah lihat dan dengerin berkali – kali. Berikut penilaian saya :

>> Lagu, lirik, musiknya menyatu. Saya suka semua instrumen yang bikin lagu ini makin enak didengar. Liriknya menyentuh dan harmoninya dapet banget. Openingnya seruuu. Biola, tabla, marakas, dan bell-nya bikin lagu makin keren. Best part emang pas : “darara… Hooo.. Darara.. Hooo..”

>> Wardrobe, make up, dan detil pelengkap penampilan di video clip nya aku sukaaa. Kain sari dan warnanya elegan. Make up nya juaraaa. Cantik parah lo, Bel! Oh satu yang gue noticed banget. Hena! Hena merah Bella mengingatkan aku dengan hena hitam waktu aku nikah dulu. We both loved Hena 💜

>> Alur video clip dan musik nge – blend asik banget. Lembut syahdu gimanaaa gitu. Mau denger lagu Rama Shinta lihat video clip atau hanya denger lagunya aja sama – sama bikin terhanyut. Ini berdasarkan, ada moment pas denger lagu ini gue sambil merem dan tetep ngena.

Lagu Rama Shinta bisa disimak di sini : Rama Shinta by Isabella Fawzi yang juga ada di : 7digital, 8tracks, AmazonMP3, Anghami, AppleiTunes, AwA, Deezer, Google Music Store, iMusica, In Prodicon, KKBox, Kuack, Line Music, Media Net, Napster, Pandora, Saavn, Shazam, Slacker Radio, Sound Exchange, Spotify, Tidal, United Media Agency (UMA), Yandex, YouTube Music. Terasa sekali single ini amat diperhatikannya every single details – nya. Semoga single-nya sukses dan cepet bikin album ya, Neng Bella. Hasil karyamu selalu menyentuh hatiku *asiikk 😂

Minuman alami / jamu

Sebagai orang Jawa Tengah totok yang sejak aqil baligh sudah dicekoki ibu saya segala rupa jamu. Bahkan waktu saya masih kecil dan libur lebaran di Klaten. Ada Mbak Jamu, yes saat itu dia mbak – mbak yang masih jualan jamu gendong di belakang. Kami anak – anak disuguhi beras kencur atau kunyit asam. Sementara ibu – ibu kami disuguhi jamu yang pahit rasanya. Kunyit asam jadi andalan saya saat haid, manjur terhindar dari bau anyir. Belakangan saya suka jahe, karena menghangatkan tubuh diminum pagi hari atau saat kurang enak badan dan puyeng. Makanya saya selalu cinta Hotel yang menyuguhkan tamunya jamu!

Ada lagi yang selalu saya stock yaitu wedang uwuh. Pertama kali tau dikasih Bapak saya dan ternyata enak. Gak kalah sama jahe. Karena ibu jual jamu langganan dekat tempat tinggal sudah tiada. Saya belum nemu gantinya, jadi belilah saya yang dikemas dalam bentuk bubuk (instant) biasa dijual di supermarket. Jahe dan kunyit asam sudah wajib. Kekurangan minuman instant ini, terlalu manis buat saya. Tapi ya udah standar kali ya. Secara gak minum tiap hari, mudah – mudahan masih bisa ditolerir sama gula darah. Aamiin. Terbaru, saya nemu minuman jahe merah di supermarket lokal lebaran kemarin. Rasanya enak! Tidak terlalu manis. Rasanya bakal minta kirimin kalo stoknya habis nanti.

Kenapa gak bikin sendiri? Saya gak serajin itu dengan aktivitas mondar – mandir sehari – hari. Baca : berangkat, drop anak, drop suami, saya ngantor, jemput anak, pulang. Meskipun gak beberes, tapi masak dan urus anak. Blom kalo pas riweuh remote kerjaan dari rumah. Untuk saat ini, saya pilih beli deh. Lagipula selain minuman itu tidak terus menerus dikonsumsi. Trus kelebihannya buat saya yang lebih suka minuman hangat. Sama seperti teh hangat, jeruk hangat, jeruk nipis hangat, dan semacamnya. Kecuali minuman juice ya mesti dingin dong. Menuju akhir pekan begini, biasanya habis subuhan, minum jahe anget sebelum ke pasar! Saingan sama tukang sayur ya kann. Hehe. Selamat berakhir pekan semua 💙

Etika dan kepantasan mencari uang

Dilatarbelakangi dari beberapa kejadian yang menyayat hati memprihatinkan. Jadi saya diskusi panjang lebar dengan bapaknya Teona dan muncullah beberapa pendapat. Mencari uang (nafkah) tentu menjadi hal wajib, terutama bagi kepala keluarga. Ada juga kan yang pencari nafkahnya si ibu seperti serial Doc Mc’stuffin. Tentu gak ada masalah, menjadi masalah bila cara mencari uang yang bikin geleng – geleng kepala. Berbeda dengan SARA, maka saya tekankan etika dan kepantasan. Ada etikanya lho dan pantas gak begitu?! Tapi ini uang, demi keluarga. Paham sekali, tetap saja Tuhan sudah menyediakan ladang ibadah yang insya Allah menjadikan rezeki yang barokah. Beberapa di antaranya :

1. Mengindahkan kaidah halal haram. Ini berat dan sanksinya mutlak. Bukan hanya soal nominal uangnya tapi berkah gak?

Mencari nafkah yang halal lebih sulit dibanding yang haram

Itu dia tantangannya! Seberapa iman kita, apa kita tetap tawakal atau malah menjerumuskan diri? Wallahuallam. Contoh sederhana : menjual kembali dengan keuntungan dua kali lipat. Wow, menggoda bukan, tapi yang begitu tidak halal. Kembali ke manusianya.

2. Bila kita memiliki aset yang disewakan tapi tidak memenuhi kewajiban yang seharusnya dibayar pemilik. Kecuali sudah ada di perjanjian sebelumnya. Bila ada kesilapan di perjanjian, alih – alih tidak mau tahu. Lebih bijak membicarakannya, apakah akan dibagi dua, atau solusi yang tidak memberatkan kedua belah pihak. Hal yang saya maksud di sini pajak tahunan dari si wajib pajak.

3. Di area Kantor saya, bila mengantar atau menjemput meskipun tidak parkir. Mau hanya semenit pun, dikenakan biaya parkir satu jam. Cari duit sampe begitu amat ya. Hehe. Sejuta umat yang complain, belum ada pergerakan berarti dari pemilik perusahaan parkir. Jadi etis dan pantas gak seperti itu??

Mungkin masih banyak contoh lain yang tidak etis dan tidak pantas. Pun kalau Anda tidak mengerti kaidah halal haram, paling tidak mengerti dong soal etis dan pantas? Jangan karena merasa benar jadi mendzalimi orang lain. Lebih baik sedikit tapi dicukupkan dibanding banyak tapi gak berkah. Saya bukan financial planner, hanya prihatin dengan kejadian yang saya lihat sehari – hari. Kamu punya cerita yang tidak etis atau tidak pantas lainnya?

Kenaikan harga telur

Bukan post politik, murni curhatan emak – emak.

Harus banget ditekankan ya? Iya, meskipun tahun politik masih tahun 2019. Namun suhu politik pasca pilpres sebelumnya sungguh senggol bacok. Jadi kalau bukan post politik ya saya tegaskan. Karena fanatik di suatu kubu belum tentu menjamin hidup Anda sejahtera dan gratis semua *ini hanya ada dalam mimpimu. Kembali ke judul, siapa yang sudah mengalami kenaikan harga telur? Saya ikut tunjuk tangan. Iya sih, saya bukan pengusaha warteg atau resto pun pengusaha kue dan gak bisa baking. Tapi tentu sebagai emak – emak, sehari – hari ya akrab dengan telur. Mulai dari telur ceplok, telur dadar, telur orak – arik, telur gulung iris, perkedel, schotel macaroni yang juga membutuhkan telur, dan olahan pangan telur lainnya. Saya memang jarang beli telur di pasar, biasanya sekalian saat belanja bulanan di supermarket besar, kalau kepepet ya beli di tukang sayur.

Awalnya saya gak terlalu ngeh dengan kenaikan harga telur. Pas baca artikel di koran dan obrolan pas mampir ke pasar. Wuih, lumayan juga ya. Poin yang saya tangkep dari isu ini : permintaan meningkat sementara produksi menurun. Sebabnya antara lain, populasi ayam di kandang berkurang, cuaca tidak kondusif, dan hilangnya antibiotik imbuhan pakan. Seperti dari 1000 ayam yang biasanya menghasilkan 50 kilo/hari sekarang hanya menghasilkan 30 kilo/hari. Untuk cuaca, karena angin kencang dan udara dingin ternyata mempengaruhi. Larangan antibiotik (obat kimia) dan keharusan menggantinya dengan bahan herbal pun dikeluhkan peternak. Di cuaca seperti sekarang kondisi ayam mudah ngedrop. Faktor lain, pengetatan bibit induk dan pakan ternak yang 60% komponennya masih impor sementara rupiah melemah. Upaya peternak salah satunya melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan ptoduktivitas ayam. Efeknya ongkos produksi meningkat. Sumber : Kompas.

Begitulah sedikit informasi sebab dari kenaikan harga telur. Alih – alih menghujat, kalau saya pilih mensiasati. Contohnya dengan melakukan variasi menu, kalau ditelisik lebih jauh ternyata banyak kok olahan yang gak melulu telur. Kalau pengen ya gak apa – apa. Silakan aja Anda beli telur ayam omega, telur ayam kampung, atau telur ayam negeri. Saya kemarin beli telur ayam negeri 1,5 kilo kena di harga 42.600. Kalau suami sama kayak Bapak saya prinsipnya :

Yang penting masih bisa beli

Iya sihh, tapi kan lumayan naiknya *tetep prinsip emak – emak. Jadi sikapilah dengan bijak, jangan pertamax naik, ribut bikin post berisi hujatan. Sekarang telur naik juga gak kalah seram post nya. Mau siapapun yang berkuasa pasti ada aja naik turun harga. Buat saya yang penting itu orang kerja nyata, gak asik korup. Baiklah, daripada makin menjurus jadi post politik. Sekian curhatan hari ini. Jadi berapa harga telur di tempatmu?

Cikini Gold Center

Bukan promosi, murni pengalaman pribadi.

Kawasan Cikini, Jakarta Pusat termasuk kawasan legendaris. Sejak kecil sudah familiar daerah sini. Ke daerah sekitar Cikini dari dulu utamanya tukar uang di tempat penukaran valas legendaris juga persis seberang sekolah swasta laki – laki semua. Trus beli emas di pasar Cikini yang sekarang sudah berubah menjadi Cikini Gold Center (CGC) . Memang tidak semua di pasar Cikini lama pindah ke CGC. Saya akui, kenyamanan baik dari sisi parkir, keamanan, hingga Kantor cabang beberapa Bank ternama, dan tentu saja otomatis ATM center nya juga sungguh menjadi nilai plus CGC. Kalo pasar Cikini lama masih ada juga tapi saya gak familiar. Begitupun tukang bunga yang dulu sebelum reformasi PT KAI mereka ada persis di Stasiun Cikini masih ada di sekitaran pasar Cikini lama.

Seperti di mall, kita bisa muterin semua toko emas. Saya pribadi ada 3 toko emas langganan di CGC. Masing – masing ada kelebihan kekurangan. Ada yang beli logam mulia (LM), perawatan dan perbaikan perhiasan, beli perhiasan, beli liontin, beli mutiara / diamond / batu mulia, sampai jual LM dan perhiasan. Tapi biasanya toko tersebut sebelumnya ada di pasar Cikini lama dan buka juga di CGC. Semua berdasarkan pengalaman pribadi dan rekomendasi (langganan keluarga / teman). Saya kurang suka perhiasan. Karena ke CGC kalo gak beli LM atau beli anting Teona yang bolak balik hilang 😭 Semua model udah dicoba ni anak, tusuk (suweng), anting bulat, sampe anting gantung hilang semua! Ntar lah hilang satu, ntar dua – duanya karena dia yang copot. Hadeuh. Sekarang pakai anting bulat emas putih, semoga awet yah. Huhu.

Menuju CGC amat sangat mudah transportasi umumnya. Bisa menggunakan commuter line turun di stasiun Cikini trus nyeberang deh. Bisa naik bajay atau transportasi online. Soal kuliner pun tidak perlu diragukan lagi. Mau ke Megaria yang sekarang berubah nama jadi Metropole bisa makan aneka rupa kuliner dan nonton bioskop. Atau melipir ke Jl. Raden Saleh juga bisa cicip buanyak kuliner lokal maupun Timur Tengah. Tapi mau nge-mall? Tenang, mall terdekat ada Menteng Huis yang kalo laper banget ada h@n@masa atau d’c0st. Mau ngemil cantik bisa ke Hema *favorite! Jadi kalo mau ‘buang duit’ gak mesti ke Mall, cuma jajan – jajan tapi abis banyak. Sekali – sekali buang duit yang berfaedah bisa mampir ke CGC. Bisa dapet perhiasan mungil lucu nan cantik atau logam mulia demi masa depan yang nyata. Kamu punya toko emas langganan juga gak? Selain mas pacar atau mas bojo ya.