Posted in Uncategorized

Aturan di grup

Manusia sebagai makhluk sosial, eh tapi ada juga yang ansos (anti sosial). Se-ansos – ansos nya manusia, minimal dia punya grup keluarga. Kalo sebatang kara trus ansos? No comment ya. Bicara yang lazim ajah. Grup yang saya maksud : genk / komunitas / inner circle / sejenis. Bisa juga whatsapp grup atau grup di media sosial (FB contohnya) buat yang masih mainan FB. Sudah selayaknya dalam hidup ini ada aturan dan norma. Mau Anda tinggal di hutan sekalipun ada aturannya, contoh : dilarang menebang pohon atau mengelola sampah yang dihasilkan. Apalagi di dunia nyata ini, semua ada syarat dan ketentuan. Nah tapi namanya juga dalam satu grup ada banyak kepala dan banyak pemikiran. Aturan dibuat untuk menjaga ataupun menyeimbangkan. Misal di wagrup parenting : topik yang dibahas seputar parenting dan isue terkini yang membawa dampak untuk anak. Ada jam tertentu yang dilarang diskusi (18-21). Tulisan tidak boleh disingkat macem anak alay : iya menjadi iaa atau ea • dua – duanya menjadi 2’2 na • maaf menjadi maav 😑😑😑 Begitu deh kira – kira.

Untuk grup di FB biasanya kita ikut sesuai ketertarikan kita, ada dunia masak, dunia travelling, dunia crafting, dan lainnya. Dunia masak ada banyak nih grup – grup nya. Ada grup yang tak luput dari bully dan drama. Ada yang selow aja selama gak rempong, ganggu, ataupun nipu. Yah kenyataannya kan tetep ada aja orang nipu atau modus ala MLM. Begitupun bila berinteraksi di grup. Menurut saya, keluarga dekat lebih santai dan akrab. Keluarga besar lebih rusuh. Kantor dan komunitas lebih jaim (jaga image). Pertemanan tergantung sikon. Grup sesuai dunia-nya yang saya sebut di atas contohnya juga tergantung anggota dalam grup tersebut. Kalau di dunia nyata saya selektif berteman. Hal ini saya terapkan dua kali lipat di media sosial. Mencoba untuk making a friend tanpa berlebihan dan tidak menghiraukan haters atau pengganggu.

Merasa tidak nyaman di grup tersebut? Kalo saya tipe yang langsung cabut. Kecuali keluarga ya, seganggu apapun itu selama tidak menyenggol prinsip (menghina, melecehkan, merendahkan, dan sejenisnya). Insya Allah keluarga segalanya. Sahabat bisa langsung dikonfrontir. Tapi kalo hanya teman ya tinggal berhenti aja berteman sama orang itu. Buat saya percuma memunculkan isue gak nyaman di grup A ke grup B (karena di dunia yang sama). Buat apa? Gak ada untungnya. Lo gak suka / gak nyaman ya keluar aja. Pusing amat pake dibahas, buang waktu dan energi. Begitupun bila ada yang posting. Bila saya suka atau menilainya baik/posistif ya likes atau ladeni bahas lebih lanjut. Kalau gak suka ya skip aja. Beres. Begitu pun dengan wagrup yang punya aturan yang cukup ketat, biasanya wagrup yang bermutu yang begini. Saya gak jadikan beban, ikutin ajalah. Memang kadang butuh keluasan hati untuk melihat suatu hal dengan bijaksana. Bahkan untuk unfollow ataupun unfriend. Kalau banyak mudharat-nya tentu gak perlu dipikir dua kali. Tapi selama bisa ditolerir kenapa tidak. Gimana dengan pengalaman nge-grup kamu?

Author:

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

6 thoughts on “Aturan di grup

  1. Fran, masa grup parenting ada yang nulisnya alay gitu haha aku kok jadi ngebayangin sendiri. Aku ga ikut grup parenting manapun jadinya bayanganku grup parenting tuh ya isinya bahasanya tertata gitu macam seminar2nya. Jadi kalau ada yang jawab atau nulisnya alay aku jadi ketawa bayangin.
    Aku ga ikut grup keluarga manapun. Pernah dimasukkan ke grup keluarga besar dari garis Ibu, tapi aku bilang ga bisa ikutan dan mohon diri keluar. Bukan tidak menghormati mereka, tapi di dunia nyata saja aku tidak cocok dengan beberapa orang yang ada di sana, jadi daripada mengganggu ketentraman hati, apalagi beda waktu ya aku dengan mereka, lebih baik aku keluar. Toh selama ini aku masih dapat informasi2 seputar keluarga besar dari keluarga2 yang memang intens bertukar kabar denganku. Aku lebih nyaman secara japri gitu kalau keluarga. Grup wa aku hanya punya 3. Sudah lebih dari cukup buatku.

    Like

    1. Mohon maaf, aku pun berpikir demikian tapiii ada aja loh yang alay begitu. Makanya ada aja yg left group. Jiper duluan sama aturan gak boleh disingkat/alay/post chat di jam 18-21. Bukannya merendahkan orang tua lainnya, tapi ya memang ada aja yang mesti ‘ditatar’ dulu.

      Itulah, mbak. Wagrup hanya 3 itu sedikit loh. Masalahnya telat memantau wagrup sekolah misalnya. Udah ketinggalan info. Huhu. Jadi memang memantau meski sekilas2 suka gak fokus juga mantaunya.

      Like

  2. Pengalaman grup2an online lumayan lengkap mulai dari jadi admin, member jelata, juru sorak, sampai yang aneh2. Kalau grup parenting, variasinya dari yang level garis keras sampai toleran (yg 18-21 masuk sangat toleran hehehe). Tapi sudah nggak ikut grup parenting kecuali yang sepi atau yang menawarkan solusinya hny satu orang. Karena malah bikin kepala ini pusing (banyakan problemnya daripada solusinya). Semakin kemari grup WA makin jarang bicara mungkin krn banyak medsos yg lebih menarik.

    Like

    1. Wah, mantap pengalamannya 👍 Garis keras saya belum pernah sih. Setuju, yang 18-21 saya baru tahun ini bergabung dan bisa banyak belajar dari pengalaman orang tua lainnya yang insya Allah jadi bekal buat saya kedepannya. Medsos buat saya bener2 buat seru – seruan. Jadi kalo ganggu ya langsung hengkang. Hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s