Minuman alami / jamu

Sebagai orang Jawa Tengah totok yang sejak aqil baligh sudah dicekoki ibu saya segala rupa jamu. Bahkan waktu saya masih kecil dan libur lebaran di Klaten. Ada Mbak Jamu, yes saat itu dia mbak – mbak yang masih jualan jamu gendong di belakang. Kami anak – anak disuguhi beras kencur atau kunyit asam. Sementara ibu – ibu kami disuguhi jamu yang pahit rasanya. Kunyit asam jadi andalan saya saat haid, manjur terhindar dari bau anyir. Belakangan saya suka jahe, karena menghangatkan tubuh diminum pagi hari atau saat kurang enak badan dan puyeng. Makanya saya selalu cinta Hotel yang menyuguhkan tamunya jamu!

Ada lagi yang selalu saya stock yaitu wedang uwuh. Pertama kali tau dikasih Bapak saya dan ternyata enak. Gak kalah sama jahe. Karena ibu jual jamu langganan dekat tempat tinggal sudah tiada. Saya belum nemu gantinya, jadi belilah saya yang dikemas dalam bentuk bubuk (instant) biasa dijual di supermarket. Jahe dan kunyit asam sudah wajib. Kekurangan minuman instant ini, terlalu manis buat saya. Tapi ya udah standar kali ya. Secara gak minum tiap hari, mudah – mudahan masih bisa ditolerir sama gula darah. Aamiin. Terbaru, saya nemu minuman jahe merah di supermarket lokal lebaran kemarin. Rasanya enak! Tidak terlalu manis. Rasanya bakal minta kirimin kalo stoknya habis nanti.

Kenapa gak bikin sendiri? Saya gak serajin itu dengan aktivitas mondar – mandir sehari – hari. Baca : berangkat, drop anak, drop suami, saya ngantor, jemput anak, pulang. Meskipun gak beberes, tapi masak dan urus anak. Blom kalo pas riweuh remote kerjaan dari rumah. Untuk saat ini, saya pilih beli deh. Lagipula selain minuman itu tidak terus menerus dikonsumsi. Trus kelebihannya buat saya yang lebih suka minuman hangat. Sama seperti teh hangat, jeruk hangat, jeruk nipis hangat, dan semacamnya. Kecuali minuman juice ya mesti dingin dong. Menuju akhir pekan begini, biasanya habis subuhan, minum jahe anget sebelum ke pasar! Saingan sama tukang sayur ya kann. Hehe. Selamat berakhir pekan semua 💙

Advertisements

Etika dan kepantasan mencari uang

Dilatarbelakangi dari beberapa kejadian yang menyayat hati memprihatinkan. Jadi saya diskusi panjang lebar dengan bapaknya Teona dan muncullah beberapa pendapat. Mencari uang (nafkah) tentu menjadi hal wajib, terutama bagi kepala keluarga. Ada juga kan yang pencari nafkahnya si ibu seperti serial Doc Mc’stuffin. Tentu gak ada masalah, menjadi masalah bila cara mencari uang yang bikin geleng – geleng kepala. Berbeda dengan SARA, maka saya tekankan etika dan kepantasan. Ada etikanya lho dan pantas gak begitu?! Tapi ini uang, demi keluarga. Paham sekali, tetap saja Tuhan sudah menyediakan ladang ibadah yang insya Allah menjadikan rezeki yang barokah. Beberapa di antaranya :

1. Mengindahkan kaidah halal haram. Ini berat dan sanksinya mutlak. Bukan hanya soal nominal uangnya tapi berkah gak?

Mencari nafkah yang halal lebih sulit dibanding yang haram

Itu dia tantangannya! Seberapa iman kita, apa kita tetap tawakal atau malah menjerumuskan diri? Wallahuallam. Contoh sederhana : menjual kembali dengan keuntungan dua kali lipat. Wow, menggoda bukan, tapi yang begitu tidak halal. Kembali ke manusianya.

2. Bila kita memiliki aset yang disewakan tapi tidak memenuhi kewajiban yang seharusnya dibayar pemilik. Kecuali sudah ada di perjanjian sebelumnya. Bila ada kesilapan di perjanjian, alih – alih tidak mau tahu. Lebih bijak membicarakannya, apakah akan dibagi dua, atau solusi yang tidak memberatkan kedua belah pihak. Hal yang saya maksud di sini pajak tahunan dari si wajib pajak.

3. Di area Kantor saya, bila mengantar atau menjemput meskipun tidak parkir. Mau hanya semenit pun, dikenakan biaya parkir satu jam. Cari duit sampe begitu amat ya. Hehe. Sejuta umat yang complain, belum ada pergerakan berarti dari pemilik perusahaan parkir. Jadi etis dan pantas gak seperti itu??

Mungkin masih banyak contoh lain yang tidak etis dan tidak pantas. Pun kalau Anda tidak mengerti kaidah halal haram, paling tidak mengerti dong soal etis dan pantas? Jangan karena merasa benar jadi mendzalimi orang lain. Lebih baik sedikit tapi dicukupkan dibanding banyak tapi gak berkah. Saya bukan financial planner, hanya prihatin dengan kejadian yang saya lihat sehari – hari. Kamu punya cerita yang tidak etis atau tidak pantas lainnya?

Kenaikan harga telur

Bukan post politik, murni curhatan emak – emak.

Harus banget ditekankan ya? Iya, meskipun tahun politik masih tahun 2019. Namun suhu politik pasca pilpres sebelumnya sungguh senggol bacok. Jadi kalau bukan post politik ya saya tegaskan. Karena fanatik di suatu kubu belum tentu menjamin hidup Anda sejahtera dan gratis semua *ini hanya ada dalam mimpimu. Kembali ke judul, siapa yang sudah mengalami kenaikan harga telur? Saya ikut tunjuk tangan. Iya sih, saya bukan pengusaha warteg atau resto pun pengusaha kue dan gak bisa baking. Tapi tentu sebagai emak – emak, sehari – hari ya akrab dengan telur. Mulai dari telur ceplok, telur dadar, telur orak – arik, telur gulung iris, perkedel, schotel macaroni yang juga membutuhkan telur, dan olahan pangan telur lainnya. Saya memang jarang beli telur di pasar, biasanya sekalian saat belanja bulanan di supermarket besar, kalau kepepet ya beli di tukang sayur.

Awalnya saya gak terlalu ngeh dengan kenaikan harga telur. Pas baca artikel di koran dan obrolan pas mampir ke pasar. Wuih, lumayan juga ya. Poin yang saya tangkep dari isu ini : permintaan meningkat sementara produksi menurun. Sebabnya antara lain, populasi ayam di kandang berkurang, cuaca tidak kondusif, dan hilangnya antibiotik imbuhan pakan. Seperti dari 1000 ayam yang biasanya menghasilkan 50 kilo/hari sekarang hanya menghasilkan 30 kilo/hari. Untuk cuaca, karena angin kencang dan udara dingin ternyata mempengaruhi. Larangan antibiotik (obat kimia) dan keharusan menggantinya dengan bahan herbal pun dikeluhkan peternak. Di cuaca seperti sekarang kondisi ayam mudah ngedrop. Faktor lain, pengetatan bibit induk dan pakan ternak yang 60% komponennya masih impor sementara rupiah melemah. Upaya peternak salah satunya melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan ptoduktivitas ayam. Efeknya ongkos produksi meningkat. Sumber : Kompas.

Begitulah sedikit informasi sebab dari kenaikan harga telur. Alih – alih menghujat, kalau saya pilih mensiasati. Contohnya dengan melakukan variasi menu, kalau ditelisik lebih jauh ternyata banyak kok olahan yang gak melulu telur. Kalau pengen ya gak apa – apa. Silakan aja Anda beli telur ayam omega, telur ayam kampung, atau telur ayam negeri. Saya kemarin beli telur ayam negeri 1,5 kilo kena di harga 42.600. Kalau suami sama kayak Bapak saya prinsipnya :

Yang penting masih bisa beli

Iya sihh, tapi kan lumayan naiknya *tetep prinsip emak – emak. Jadi sikapilah dengan bijak, jangan pertamax naik, ribut bikin post berisi hujatan. Sekarang telur naik juga gak kalah seram post nya. Mau siapapun yang berkuasa pasti ada aja naik turun harga. Buat saya yang penting itu orang kerja nyata, gak asik korup. Baiklah, daripada makin menjurus jadi post politik. Sekian curhatan hari ini. Jadi berapa harga telur di tempatmu?

Cikini Gold Center

Bukan promosi, murni pengalaman pribadi.

Kawasan Cikini, Jakarta Pusat termasuk kawasan legendaris. Sejak kecil sudah familiar daerah sini. Ke daerah sekitar Cikini dari dulu utamanya tukar uang di tempat penukaran valas legendaris juga persis seberang sekolah swasta laki – laki semua. Trus beli emas di pasar Cikini yang sekarang sudah berubah menjadi Cikini Gold Center (CGC) . Memang tidak semua di pasar Cikini lama pindah ke CGC. Saya akui, kenyamanan baik dari sisi parkir, keamanan, hingga Kantor cabang beberapa Bank ternama, dan tentu saja otomatis ATM center nya juga sungguh menjadi nilai plus CGC. Kalo pasar Cikini lama masih ada juga tapi saya gak familiar. Begitupun tukang bunga yang dulu sebelum reformasi PT KAI mereka ada persis di Stasiun Cikini masih ada di sekitaran pasar Cikini lama.

Seperti di mall, kita bisa muterin semua toko emas. Saya pribadi ada 3 toko emas langganan di CGC. Masing – masing ada kelebihan kekurangan. Ada yang beli logam mulia (LM), perawatan dan perbaikan perhiasan, beli perhiasan, beli liontin, beli mutiara / diamond / batu mulia, sampai jual LM dan perhiasan. Tapi biasanya toko tersebut sebelumnya ada di pasar Cikini lama dan buka juga di CGC. Semua berdasarkan pengalaman pribadi dan rekomendasi (langganan keluarga / teman). Saya kurang suka perhiasan. Karena ke CGC kalo gak beli LM atau beli anting Teona yang bolak balik hilang 😭 Semua model udah dicoba ni anak, tusuk (suweng), anting bulat, sampe anting gantung hilang semua! Ntar lah hilang satu, ntar dua – duanya karena dia yang copot. Hadeuh. Sekarang pakai anting bulat emas putih, semoga awet yah. Huhu.

Menuju CGC amat sangat mudah transportasi umumnya. Bisa menggunakan commuter line turun di stasiun Cikini trus nyeberang deh. Bisa naik bajay atau transportasi online. Soal kuliner pun tidak perlu diragukan lagi. Mau ke Megaria yang sekarang berubah nama jadi Metropole bisa makan aneka rupa kuliner dan nonton bioskop. Atau melipir ke Jl. Raden Saleh juga bisa cicip buanyak kuliner lokal maupun Timur Tengah. Tapi mau nge-mall? Tenang, mall terdekat ada Menteng Huis yang kalo laper banget ada h@n@masa atau d’c0st. Mau ngemil cantik bisa ke Hema *favorite! Jadi kalo mau ‘buang duit’ gak mesti ke Mall, cuma jajan – jajan tapi abis banyak. Sekali – sekali buang duit yang berfaedah bisa mampir ke CGC. Bisa dapet perhiasan mungil lucu nan cantik atau logam mulia demi masa depan yang nyata. Kamu punya toko emas langganan juga gak? Selain mas pacar atau mas bojo ya.

Godaan iman

Akhir pekan lalu, kami halal bihalal ke dua orang sahabat baik. Obrol punya obrol (tanpa penawaran awalnya), saya dan suami yang manusia biasa ini, tertarik dengan topik obrolan itu. Ada beberapa faktor sebenarnya dan bukan karena alasan investasi. Investasi untuk kami amal ibadah aja banyakin. Kalo materi mau sebanyak apa juga gak dibawa mati ini. Diskusi saya dan suami pun menjadi panjang. Segala kelebihan dan kekurangan kami pertimbangkan dengan detil. Ternyata ada godaan berikutnya, berbeda namun ada persamaannya. Pertimbangan pun semakin dalam di antara dua kepala berbeda latar belakang ini. Galau sih enggak ya. Godaan iman ini rada gawat juga kalau diikuti.

Akhirnya kami gak sengaja kompak (ini tumben!) merenung. Jangan sampai godaan iman ini memberatkan kami berdua. Gemerlap dunia memang gak akan berhenti menggoda manusia. Tapi kalau dikejar terus mau sampe kapan. Sederhananya gadget, kalau mau ngikutin gak akan ada habisnya, selalu muncul seri terbaru. Mendapatkan hal tersebut pun jodoh – jodohan. Kalau mampu tapi belum jodoh ya gak klop. Ibarat orang kaya raya tapi belum dapat hidayah untuk umroh / haji ya gak akan terjadi. Setelah urun rembuk, kami putuskan untuk menunda sampai kelak insya Allah dibukakan dan dimudahkan jalannya. Pada akhirnya terlalu berambisi dan terburu – buru padahal hal tersebut belum bisa didapatkan khawatir akan jadi boomerang.

Kalau terkait gaya hidup, sebenarnya gak juga. Termasuk kebutuhanlah. Godaan iman begini juga belum perlu sampai yang butuh ibadah khusus gimana juga. Tapi cukup kepikiran, hehe. Gak munafiklah, namanya juga tergoda. Kesimpulannya buat kami, asal sandang, pangan, papan, dan sedikit miscellaneous (boleh dong ya) tercukupi amat sangat bersyukur. Ah iya, jangan karena keinginan jadi lupa bersyukur ya. Mudah – mudahan kami bisa qana’ah. Kalau godaan iman kamu apa nih?

Social climber

Saya bukan termasuk yang rajin menyimak acara talkshow, tapi topiknya menarik nih untuk disimak. Talkshow di salah satu televisi swasta ini, dipandu dr. Lula Kamal, dr. Boyke Dian Nugraha, dengan narasumber dr. Diana Papayungan (spesialis kejiwaan). Social climber merupakan istilah bagi individual yang membutuhkan pengakuan sosial yang lebih tinggi dari kondisi sosial yang sebenarnya. Hal ini menjadi semakin parah bila menjadi penyimpangan. Penyimpangan meskipun belum berat tetap membawa dampak negatif bagi keluarga dan orang sekitar *intinya tetep aja ngerepotin. Di antaranya :

1. Mengada – adakan (menjadi negatif), misal aslinya gaya hidupnya biasa aja atau pas – pas an. Tapi karena satu dan lain sebab jadi harus beralih ke kehidupan jet set padahal gak mampu.

2. Identitasnya tidak terlalu ditampilkan. Biasanya salah satu ciri social climber, gak ketauan asal usul, latar belakang keluarga, latar belakang Pendidikan, pekerjaan tidak terlalu ditampilkan.

3. Biasanya orangnya biasa – biasa saja. Datang dari latar belakang yang biasa saja lalu berubah mewah. Berbeda bila dari lahir sudah ‘sendok emas’ alias kaya dari lahir. Atau berangkat dari keluarga yang struggle atau saklek. Orang kayak gini ‘cepet kebaca’ nya sih.

4. Biasanya apa yang diomongin benar tapi ternyata tidak sesuai kenyataan.

Keyakinan tidak benar yang dia yakini benar.

Rada horor ya, tapi nyata adanya. Jatuhnya semacam bluffing gitu ya. Orang tipe begini paling cepet saya tinggal pergi karena gerah telinga nanggepinnya.

5. Kebanyakan di masyarakat secara umum, bukan hanya di sekolah, kampus, atau kantor. Artinya mau tetangga, temen arisan, temen nongkrong, temen satu komunitas, dan lainnya.

Perlunya edukasi kesehatan jiwa baik dari eksternal maupun internal amat sangat dibutuhkan. Di talkshow tersebut disarankan internal keluarga inti terlebih dahulu baru ke dokter spesialis kejiwaan. Kalau saya boleh menambahkan, ke ustadz / ustadzah dengan latar belakang pendidikannya baik dan kompeten bisa juga dibantu. Meskipun yang begini jarang yang mengakui, kecuali keluarga atau sahabat dekat yang menyarankan si social climber itu berobat atau memeriksakan dirinya.

Melajang pun bisa menjadi faktor pemicu seseorang menjadi social climber. Kembali lagi ke niat dan tujuan manusia tersebut. Duhh, amit – amit ya. Di otak saya itu melajang = mengukir prestasi dibanding pacaran sana sini, flirting gak jelas, hubungan bebas, dan semacamnya. Gak manfaat banget dan tentu saja lebih banyak mudharatnya. Berikut masukan yang disarankan untuk menghindari jadi social climber :

1. Jadi diri sendiri, ini hukumnya wajib lah ya. Ngeri amat jadi diri orang lain, freak abis.

2. Berpikir positif / positive vibes / hudznuzon. Ini juga wajib dan bagus banget. Setuju!

3. Cari lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Nahh, ini juga penting. Daripada gak bisa ngimbangin trus pelampiasan jadi social climber, selamatkan diri sedini mungkin lebih bijak rasanya. Misal pindah sekolah / kuliah, berhenti dari pekerjaan tersebut, atau meninggalkan teman / lingkungan / komunitas tersebut.

4. Berpikir jernih, apakah butuh dampingan professional. Hari gini gak jadi tabu kok. Zaman udah berubah, mesti sayangi diri fisik dan mental. Konsultasi ke dokter spesialis jiwa bukan berarti Anda gila.

Secara keseluruhan sih saya setuju sekali dengan pembahasan ketiga dokter tersebut. Hari gini kalo gak pinter jaga diri, ngeri banget. Rasanya gak hanya dunia selebritas, manusia pada umumnya mau di kota atau daerah juga rentan kok. Kalo saya kebetulan punya beberapa sahabat dekat yang siap nyakar kalo di antara kita betingkah dan susah diingetin alias berubah ke negatif seperti sombong misalnya. Termasuk salah satunya yang memang berlatar belakang dokter yang bakal dengan senang hati nyeret saya ke dokter spesialis kesehatan jiwa (SpKJ) kalo (amit-amit) saya begini. Hihi. Kamu punya teman yang social climber?

Hidung

Gak akan bahas tentang mancung atau pesek ya, kuno banget ngebahas itu. Justru mau ngebahas hidung manusia sungguh hebat *kuasa Allah tentunya. Post ini sebenarnya terinspirasi dari 3 poin di bawah ini sih. Gak ada pesan sponsor paling hanya nyinyir semata 😅

1. Salim (cium tangan). Saya sering memperhatikan generasi milenial di keluarga besar saya, kalo salim itu gak cium tangan dengan hidung mereka. Melainkan pake pipi atau kening samping . Hmmm, gini ya. Hampir 33 tahun saya cium tangan pake hidung, sesuai ajaran orang tua saya. Alhamdulillah hidung sampai paru – paru saya sehat wal afiat. Meskipun tentu saja saat salim, tangan yang saya cium tak selalu wangi. Tapi kan tanda hormat muslim ke muslim yang lebih tua. Fenomena salim saat ini sungguh menyedihkan kalau menurut saya. Tapi kembali lagi ke didikan dari orang tuanya sih.

2. Sujud / posisi bersujud. Posisi yang kita lakukan minimal 34 kali sehari (sholat 5 waktu). Bila sholat di rumah / mushola / masjid lazim menggunakan sajadah sebagai alas sholat. Saat melakukan ibadah umroh, utamanya di Masjidil Haram. Selesai melaksanakan thawaf (mengelilingi Ka’bah). Disunnahkan melakukan sholat sunnah 2 kali atau jika kita beruntung bisa sholat sunnah 2 rakaat di hijr Ismail. Kadang tidak sempat menggelar sajadah (pengalaman pribadi saya). Jadi kita langsung ambil posisi sholat, selesai sholat pun biasanya kita segera diminta laskar (sebutan untuk penjaga Masjidil Haram dan masjid Nabawi) untuk minggir agar dapat bergantian dengan jamaah lain. Bila di dalam masjid Nabawi masih ada sajadah termasuk di Raudhah (makam Rasulullah), ditertibkan oleh laskar wanita bercadar hitam. Namun di Masjidil Haram, yang saya lihat laskarnya pria semua. Jadi sujud tanpa sajadah pun entah berapa kali dilakukan. Yang mana lantai marmer tebal tersebut telah dipijak jutaan muslim. Meskipun kerbersihan area tersebut insya Allah terjamin, karena petugas kebersihan saya perhatikan seperti tanpa henti membersihkan Rumah Allah tersebut. Alhamdulillah sujud tanpa sajadah pun gak ada masalah asal niatnya ibadah.

3. Penciuman wangi ataupun bau, kondisi lega atau sesak. Ketika mudik kemarin, saya membantu membuat bara api dari kayu bakar atau tempurung kelapa. Tidak mudah dan asapnya tidak hanya sesak ketika terhirup juga pedih di mata. Ataupun bila kita sesekali lewat pemukiman dekat tempat pembuangan akhir yang baunya luar biasa (bagi saya). Namun anak – anak lingkungan itu asyik bermain. Begitu pun bila berdiri dekat kandang hewan, minta ampun. Saat ke pasar masuk ke bagian ikan, ayam, dan daging. Juga bila merawat manula yang perlu bantuan membersihkan diri (kotorannya), karena tidak lagi bisa membersihkan diri disebabkan sakit. Bila tidak biasa, tentu saja mengganggu penciuman. Namun apakah kemudian hidung kita jadi sakit atau indera penciuman jadi rusak? Tentu tidak.

Apa sih sebenarnya yang ditakutkan karena ketidaksterilan yang toh tidak terus – menerus selama 24 jam non stop??? Gak ada! Kadang kitanya aja yang lebay. Kalau saya justru prihatin teramat sangat bila tiga hal di atas menjadi KENDALA. Karena segala sesuatu apalagi yang bernilai ibadah, masa sih mau dinilai dengan penilaian dari sudut pandang manusia?! Apalagi manusia gak ada yang sempurna, yang sok sempurna banyak! Jadi hidung kamu se-steril apa?