Posted in Uncategorized

Piscok (pisang coklat)

Beberapa hari yg lalu kakak ipar balik dari nginep di rumah saudara di Tangerang dan bawa banyak oleh2, salah satunya tiga sisir pisang! Karena banyak banget, kami memutuskan bikin piscok (pisang coklat) aja *ini pertama kalinya coba bikin ternyata gampang bangettt

Resep Piscok

Bahan:
Kulit lumpia, beli jadi
Pisang, potong lurus memanjang, bisa potong jadi 2 atau 4
Keju, saya pake keju yg slice, jadi tinggal potong. 1 slice iris jadi 4
Meises secukupnya

Cara membuat:
Lebarkan kulit di piring, taruh potongan pisang yg memanjang + keju slice yg dipotong panjang + tabur meises. Gulung memanjang. Taruh di tempat. Bisa langsung digoreng atau masuk kulkas terlebih dahulu. Goreng dengan api kecil.

image

Seperti itu tampilannya Setelah digoreng. Menurut saya sih enak bikin sendiri, kalo beli ga pake keju makanya murce. Walopun simpel tapi serius enak buat cemilan.

Posted in Uncategorized

Anak berbakti = bisa diandalkan

Dari pengalaman yg saya lihat baik keluarga sendiri atau sahabat bahkan kolega. Pasangan suami istri bisa punya anak berapa pun, di sini saya ga membahas bagi yg belum atau tidak punya anak ya. Misal pasangan suami istri punya 10 anak dan semuanya sukses tapi pasti ada satu atau beberapa anak saja yg bisa diandalkan. Seorang sahabat baik adalah satu dari tiga bersaudara, tapi sepengetahuan saya hanya teman saya yg diandalkan orang tuanya.
Kenapa gitu ya?

Menurut saya udah hukumnya. Seperti di mana di setiap keluarga pasti aja ada satu orang yg beda dari yg lain. Jadi ya pada umumnya tidak semua anak yg dilahirkan dalam satu keluarga bisa diandalkan. Jadi yg bisa diandalkan udah pasti berbakti? Menurut saya: SUDAH PASTI. Bisa diandalkan itu kan udah pasti karena pengertian dengan kondisi orang tua atau keluarga lain. Dan menjadi berbakti bukannya bisa diakui oleh seseorang tapi statement tsb bisa didapat karena penilaian orang terdekat atau sekitar.

Ada anak yg bisa diandalkan karena memang niat atau berkeinginan begitu namun ada pula yg tanpa direncanakan harus berada di posisi tersebut. Saya pernah dengar kisah nyata, di mana seorang anak laki2 sudah established di US. Suatu waktu dia mendapat kabar Ayahnya sakit keras, anak laki2 tsb meninggalkan hidupnya yg mapan di US dan kembali ke Indonesia untuk merawat Ayahnya hingga akhir hayatnya. Pada akhirnya menjadi anak berbakti memang menjadi pilihan.

Satu lagi poin penting, menjadi anak berbakti bukan saja diwajibkan tapi secara sadar ataupun tidak, dilalaikan. Yg terpenting adalah MAU, mau menyempatkan waktu, mau repot, mau berbagi, dan mau untuk tulus. Kalo saya? Saya masih berproses ke arah situ. Saya justru masih sering banget ngerepotin orang tua saya, masih mbok-mbok’en.

Posted in Uncategorized

Pregnancy

image

Sedikit cerita tentang kehamilan Teona.
1. Saya full mual muntah selama sembilan bulan hingga selesai melahirkan.
2. Saya suka ngemut dan menghancurkan es batu di mulut saya, bapaknya Teona geleng2 & ngelus dada. Akibatnya tambalan gigi permanen saya copot dan harus ganti baru ;p
3. Tes lab 2 kali, awal kehamilan dan saat tugas kantor ke Sing. Triple test di empat bulan dan vaksin tetanus di tujuh bulan.
4. Ibu saya bilang kulit saya jadi lebih gelap dan dekil. Plus saat hamil saya malas dandan karena ga mual aja udah bagus.
5. Justru pas hamil jadi lebih garang, galak sama orang, gitu2.

Walopun kehamilan cukup bikin saya kapok tapi saya terima dengan legowo. Masih untung dalam waktu 4 bulan setelah keguguran masih dikasih hamil lagi. Dokter obgyn bilang pasca keguguran istirahatkan rahim tiga bulan. Pada kenyataannya gak cuma rahim tapi mental juga gue istirahatkan, hahaha.

Posted in Uncategorized

Miscarriage moment

Bukan mau mengungkit masa lalu, sekedar berbagi pengalaman. Semoga orang lain tidak akan mengalami seperti yg saya alami. Seperti yg sering saya bilang, karier terakhir saya bekerja di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia, di salah satu cabang commercial business banking *cukup clue nya, ntar makin detil aja cabang mana nya ;p

Saya benci lembur kalo ga kepaksa banget. Saat itu akhir Januari 2012 saya masih newly wed, saya nikah 22 Januari 2012 dan hingga akhir Januari keluarga dari pihak suami masih di Jakarta.    Karena awal tahun ternyata sibuk berat, seminggu sebelum nikah saya masih raker keluar kota. Dalam hati cuma membatin: “kan saya udah info atasan kalo 22 Januari mau nikah kok dia bikin raker mepet banget sama acara saya?!” Tapi saya pikir, siapalah saya ini, kan cuma jongos.

Kembali ke cerita awal, setelah nikah saya gak ambil cuti karena toh ga ada acara bulan madu, tapi ya gak juga lembur kali. Kenyataannya saya kepaksa lembur. Yang bikin saya gak enak hati, keluarga suami selalu nunggu saya pulang baru makan malam, yg mana saya sampe jam 8 malem aja. Super ga enak hati dong.

Awal Februari 2012 saya hamil, tentu saja saya seneng banget. Sejak bekerja di sini jujur aja saya gak sreg, dua faktor utama adalah: atasan dan gaji *jujur banget ini* makanya sejak bekerja di sini saya downgrade banget, sedih banget. Plus saya sering di-coaching dengan alasan ga penting dan terlalu mengada-ada, orang yg coaching saya setipe dengan atasan saya. Saya iya2 aja, balik lg siapalah saya ini.

Awal april merupakan klimaks dari semua, saya lembur untuk rapat cukup penting esok hari. Keesokannya saya datang pagi buta untuk menyelesaikan semuanya. Karena satu kekurangan sepele, atasan saya memaki saya dengan kerasa hingga komisaris perusahaan jalan tol keluar saking lengkingan atasan saya menggema karena di satu lantai ada cabang saya dan kantor komisaris jalan tol itu. Saya udah gak kuat lagi, saya terintimidasi. Saya nangis karena takut dan malu. Orang yg saya telfon pertama adalah Ayah saya kemudian suami. Setelah makan siang saya ajukan surat resign yg justru membuat dua orang: atasan+staf yg suka coaching saya menertawakan saya habis-habisan. Mereka mengejek dan malah makin merendahkan saya. Saat itu udah gak ada lagi terbersit “siapalah saya ini”. Saya sudah muak!

Sejak itu saya tidak lagi menginjakkan kaki di kantor, segala urusan yg berkaitan dengan resign lewat office boy merangkap kurir. Beberapa hari kemudian saya keguguran. Innailaihi wa innailaihi rajiun.

Suami bilang saya dendam sama dua orang itu. Saya gak mengiyakan tapi dengan jelas saya katakan, semoga Tuhan memberikan saya umur untuk melihat atau paling tidak mengetahui akhir hayat hidup kedua orang itu.

Posted in Uncategorized

Jujur dan tulus

Hari gini sulit kan nemuin orang jujur, kalo ada semisal ketinggalan HP di taxi trus supirnya balikin, pasti langsung ngetop di socmed. Terakhir ketika supir taxi burung biru dengan tulus dan jujur masang foto anak bungsunya yg akan ultah dan berniat bekerja giat demi bisa memestakan anaknya. Saya tau dari acara inspiratif tiap sore hari. Berakhir dengan pihak manajemen yg memestakan begitu juga dengan restoran cepat saji. Pertanyaan si presenter, apakah restoran cepat saji tersebut akan mengadakan pesta utk anak kurang mampu lainnya atau hanya moment ini saja? Tulus atau oportunis?

Pengalaman saya belakangan ini misal:
1. Sudah lama saya tidak naik commuter line (comline) ke Depok untuk sebuah keperluan, yg saya tau naik comline bisa menggunakan e-money. Tapi ternyata mesti diaktivasi dulu, itu yg saya tidak tau. Hari itu saya pergi dengan Teona dan adik lelaki saya. Posisinya saya gendong  Teona yg sedang tidur, adik saya udah sukses masuk duluan. Dengan sigap petugas yg ada di situ membantu saya, karena saya tidak mungkin turun untuk aktivasi jadi petugas tsb yg turun ke loket. Saat kembali saya siapkan uang tip sebagai terima kasih saya pikir daripada saya turun naik gendong anak. Tapi dengan sopan dan sungguh2 petugas itu menolaknya, “tidak, Bu. Terima kasih. Ini sudah tugas saya.” Akhirnya saya mention @commuterline dan men-twit mengenai petugas tsb dengan harapan jika petugas tsb tidak menerima ucapan terima kasih dari saya. Saya berharap mendapat reward dari PT KAI. Kalo di kantor suami, tiap bulannya ada pegawai teladan sesuai standar yg ditetapkan. Hadiahnya berupa 2  voucher minimarket. Yah, semacam itu pula harapan saya.

2. Suatu pagi saya dan kakak ipar yg sedang berkunjung belanja ke pasar. Kami beli daging sapi dan iga sapi. Saat memilih saya memperhatikan los daging tsb punya timbangan elektrik, bukan manual. Dalam hati berucap, “hebat juga, berarti timbangannya akurat.” Setelah bayar, saya beralih ke los sayuran tidak jauh dari situ. Saya dengar penjual daging memanggil-manggil, ” bu, bu!” Saya nengok cari orang yg panggil tp karena ga ngeh saya lanjut memilih sayuran. Panggilan tsb kembali terdengar, saya datangi penjual daging itu. “Bu, Ibu kan beli iga sekilo, tadi iganya kurang, Bu. Ini iga kekurangannya. Maaf ya, Bu. Untung saya cepat ingat, takut dosa” Sambil memberikan iga kekurangannya ke saya. Alhamdulillah batin saya, masih ada pedagang yg jujur. Hari gini kan banyak yg mengambil hak orang lain padahal jelas hukumnya, mengambil bahkan mencuri sebutir gandum saudaramu maka tidak akan berkah dan dicabut pahala sholatnya *cmiiw*

Perihal jujur itu sebenarnya remeh tapi amat berarti. Jujur dan tulus menurut saya saling berkaitan dan mahal harganya. Penjilat dan cari untung yg ga halal berceceran di mana-mana. Udah ga heran lihatnya. Tapi jujur dan tulus karena semakin langka jadi amazing lihatnya. Konon itu memang tanda2 akhir zaman.