Posted in Uncategorized

Pelanggaran HAM

Source: Majalah Femina 08/2018

Meskipun saat maraknya kasus pelanggaran HAM terjadi saya masih abg alias baru aqil baligh. Belum paham sepenuhnya, namun dalam diam saya mengikuti. Bertanya dalam diam, kenapa yang vokal (aktivis) harus dibunuh? Kalau pemerintah saat itu tidak salah, kenapa mesti takut? Pasca tragedi Mei 1998, saya kembali tersentak ketika masih dalam suasana lebaran 2004. Bapak saya memerintahkan ibu dan kami bertiga untuk berkemas kembali ke Jakarta. Almarhumah Mbah Putri saya bingung, Bapak saya menjelaskan ada kejadian yang terkait kantor BUMN tempatnya bekerja. Saya banyak bertanya ke Bapak saya, siapa Munir? Kenapa bisa dibunuh? Bapak saya menjawab sesuai pengetahuannya saat itu. Pada akhirnya, ketika saya mengenyam pendidikan S1. Semakin terjawab semua pertanyaan saya, baik dari literatur, senior, bahkan dosen pengajar.

Meskipun awalnya saya merasa salah jurusan, karena saya bukan anak/keponakan/atau apapun terkait pemerintahan ataupun pejabat tinggi Indonesia. Namun, waktu juga yang membuktikan, mereka yang hebat itu kemampuan akademiknya semana. Dosen – dosen saya pada jamannya dulu, menceritakan bahwa membawa bahkan membaca buku karangan Pramudya Ananta Toer itu dilarang bahkan ilegal. Di otak saya, seburuk itukah pemerintahan pada masa itu? Maka ketika saya membaca artikel di majalah wanita mengenai pelanggaran HAM. Meskipun tidak terkait, saya selalu penasaran dengan akhir ceritanya. Karena meskipun pemerintahan sekarang pada akhirnya menaruh perhatian setelah dua periode yang lalu tidak ada reaksi positif. Akhir cerita masih belum terjawab. Apalagi masih ada beberapa pejabat tinggi sekarang yang saat kasus itu muncul memiliki andil.

Takut, munafik, opportunis, atau apapun sebutannya. Tak hanya saya sebagai rakyat, sudah pasti keluarga dari korban pelanggaran HAM menginginkan akhir cerita yang ADIL. Apakah masih ada keadilan di zaman sekarang? Apakah hukum akan ditegakkan? Apakah akan ada penyelesaian? Karena nyawa yang hilang tentu tidak akan pernah kembali. Saat mahasiswa, saya pun bukan aktivis. Diajak demonstrasi saya ogah. Bentuk keprihatinan atau rasa simpatik saya mungkin tak berarti. Namun harapan akan adanya akhir cerita yang terbaik tentu dinanti. Memperbaiki Indonesia tidak bisa dari sejarah masa lalu, ‘produk lama’, atau manusia yang ‘bobrok mengakar’. Mudah – mudahan bisa diperbaiki mulai dari diri kita sendiri, anak hingga keturunan kita kelak. Pengetahuan kamu tentang pelanggaran HAM sebatas apa? Kamu termasuk yang cuek atau mengikuti kasus ini?

Author:

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

8 thoughts on “Pelanggaran HAM

  1. Politik terkadang sering melupakan perikemanusiaan. Dan banyak juga standar ganda. Sama seperti pertanyaan apakah untuk keberlangsungan banyak nyawa perlu menghilangkan sedikit nyawa? Spt polemik tentang hukuman mati. Kalau soal keadilan didunia memang sulit adil yg bisa manusia lakukan hanya mendekatinya….semoga kita dijauhkan dari perbuatan tdk adil..

    Like

    1. Barusan ngobrol sama anak Trisakti angkatan ‘reformasi’. Di mana kampus dikepung, helikopter di atas kampus dan sniper nembak-nembakin. Orang itu bilang, saya hanya beruntung gak kena tembak. Duhh, perihhh hati ini dengernya 🙁 Buat yang gak kena dampaknya langsung mungkin gak penting. Post ini merupakan bentuk keprihatinan saya terhadap aksi kamisan (kemis-an) dan pada keluarga yang ditinggalkan. Mengikhlaskan nyawa tak berdosa lebih berat dibanding menuntut keadilan. Manusia tetap berusaha, biar Tuhan yang menentukan.

      Like

    1. Hehehe, udah gak jaman lagi lenyap-begitu-saja, Mbak Ria. Aku cuma berharap masih ada keadilan di muka bumi ini, masih ada manusia yang memiliki secuil perasaan, dan memiliki sekeping hati nurani. Semangat menuntut keadilan tidak boleh runtuh, karena artinya sisi kelam itu menang, dan kebobrokan belum berakhir.

      Liked by 1 person

      1. Menurutku karena banyak oknum yang ‘bermain’, udah kayak mafia aja. Oknum tersebut yang mesti diberantas, gak mudah, tapi yang begitu aku setuju dilenyapkan. Hehe.

        Aku salut, meskipun pasti ada aja kontra. Tapi ajang asian games menunjukkan Indonesia yang sebenarnya. Final bulu tangkis kemarin, saat Jonathan kalah 2 set, temenku yang nonton langsung, di depannya ada 2 mbak berjilbab yang turut memberi dukungan, “ayo Jojo, bismillah pasti bisa.” Temenku seneng karena meski berbeda keyakinan tapi saling dukung dan mendoakan untuk usaha terbaik. Muncul meme, Asian Games 5 periode, karena bikin kita semua jadi kompak 😃

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s