Apologize, for the last person who knew this sh*t

This post dedicated for my special guy since TK until now and forever. Cause ‘us’ will be still and always segitu-dalemnya-tapi-I do nothing-pdhl elo paling tau gue.

Kenapa guy bukan boy atau man? Karena gue pengen sampe setua dan sampe kapanpun kita ya bakalan selalu sama. Genk kita pun akan begitu terus. Since elo paling awet ye bertemen sama gue, paling sabar, saling mengerti luar dalam. Lo tau persis gue bukan tipe begitu dan tidak akan pernah melakukan itu. Gue gak perlu usaha untuk capek-capek meyakinkan elo. Gue tau lo sepercaya itu sama gue. Tapi beberapa waktu ke belakang, gue amat sangat menjaga harkat, martabat, dan harga diri gue. Bahwa kita gak akan pernah tau hati dan niat orang. Jangan sampai gue dijebak. Jangan sampai gue terjerumus jadi hina seperti dia. Karena kita lebih berkelas dibanding dia, jangan sampe gue jadi ‘samanye’ sama dia. Lo pasti paham maksud gue.

Wajar kalau awalnya lo marah dan gak terima. Kalo aja lo tau, segimana gue pengen banget ‘nyeret’ elo dan satu lagi sobat kita untuk duduk bareng dan bahas semuanya sejak awal. Gak enak memang tau belakangan bahkan tau dari orang lain. Orang lain lebih peka. Tapi bukan berarti lo gak peka. Gue yang emang bersikap kita seperti biasanya ngakak-ngakak gak jelas buat hiburan pastinya. Tapi pas gue jelasin alasan gue, kenapa lo langsung paham? gak jadi marah dan malah dukung gue? Karena lo segitu memahami gue kan?!

Gue pastikan jaraaanggg banget orang yang punya pertemanan kayak kita. Lo tau gue pas TK jambak jepit rambut sobat kita yang lain, yang genk kita jugaa. Lo yang pasang badan pas gue suruh jadi pacar palsu yang malah lebih kayak kembar-siam-kaku-najis. Saking gue bilang gue geli banget sama satu cowok gak jelas. Coba orang lain, mana mauuu??!! Sekarang pun, lo mau jambak gue, gue terima deh. Gue salah. Tapi gue tau lo gak akan begitu.

Gue yakin sampe kapanpun kita bakal berbeda pandangan hidup. Gak masalah. Yang penting kita dan genk kita pastinya. Bakalan jadi best support system untuk satu sama lain. Trus lo juga tau genk-genk gue lainnya dan gue pun begitu. Pas McD Sarinah ditutup kemarin, kenangan yang paling gak akan gue lupa. Hampir tengah malem. Gue, elo, dan R (sobat kita satu lagi). Kita duduk manis dengerin curhatan si R, elo seperti biasa banyak complain, dan gue bengong-bengong ngantuk. Haha. Trus endingnya komen berfaedah gue, “kita gak ada di posisi R, kita cuma denger cerita. Gue sih yakin R bisa lewatin semua.” Bahkan sampe sekarang R masih melewati itu dan berhasil. Saat itu lo mengamini kan? Dari rentetan pertanyaan lo kenapa begini, kenapa begitu, mestinya begini, dan gak harus begitu.

Capek banget kalau di titik ini, kita menghakimi lainnya. Cara bertemen kita gak begitu. Seperti elo bilang, kita buktinya bisa kok mengerti sobat kita lainnya yang lo bilang ‘very special’. Kita trus gak akan juga berhenti berteman kan. Iiihh, pokoknya gue minta maaf lah. Sarange, Oppa *wink*

Pengakuan & Pembuktian

Post ini sekedar bercerita dari sudut pandang pribadi. Untuk yang gak setuju gak apa-apa bangettt.

Kebetulan untuk cerita pertama, kejadian ini baru saya ketahui baru-baru ini. Bahwa ada rekan kerja seruangan yang ternyata tidak suka bahkan memfitnah dengan segala cara tentang saya. WOW. Kadang saya suka bingung dan gak habis pikir kalau ada orang yang entah sirik, cemburu, bahkan ya segitu bencinya. Karena selain bukan sosok yang gemilang, juga sama sekali tidak menonjol di bidang apapun alias biasa bangettt. Tapi ya kita gak bisa mengendalikan perasaan orang. Bisa aja yang tadinya baik dan sayang sama kita berubah 180 derajat trus muak, jijik, dan benci. Pasti bisa banget. Allah maha membolak-balikan hati manusia. Saat tau gimana? Amazing ceunah. Sampe bengong, gak percaya, tapi berakhir salut dengan segala upaya yang dilakukan. Bukan saya yang tersingkir tapi malah dia. Wallahuallam. Orang tuh gigih kerja keras, bener, dan sungguh-sungguh. Tapi ini gigih untuk memfitnah orang, itu luar biasa terniat sih saya bilang. Entah dia merasa terancam, butuh pengakuan, atau pembuktian dia lebih baik dari saya?? Saya nya gimana? Gak merasa dan cuek aja. Emang gak pernah segitunya ngurusin orang sih. Pas kita merasa “harus banget ya kayak gitu?” Perasaan itu muncul pas lagi sadar dijahatin orang sih. Kalo pas saya nya jahat ke orang ya gak sadar juga. Hehe.

Berikutnya saya lupa pernah sempet cerita di blog apa enggak. Dua orang kenalan yang terlibat perselingkuhan berakhir rujuk dengan istrinya, Alhamdulillah. Terlepas dari yang satu masih mudah dan yang satu udah tua. Intinya karena kesenangan sesaat sempet banget hampir di ujung kehancuran. Sedih ya. Seperti Syekh Ali Jaber bilang di channel YT seorang artis, “apa sih yang kita cari dalam hidup?” Itu berasa ditampar loh pas denger full semua yang dia omongin. Karena sebagai tipe orang yang memelihara dendam, ya pastinya telak banget semua yg diomongin itu bener. Kayak mudah diomongin tapi sulit diterapkan dengan hati yang ikhlas. Trus ya, kedua orang kenalan saya itu sekarang jauh lebih ceria, lebih ikhlas, dan lebih bersemangat menjalani hidup. Beda banget pas masih selingkuh, ruwet. Ngeliatnya aja kita pasti empet dan eneg. Ketika Allah selamatkan, emang pasti bersyukur banget ya. Inti yang digarisbawahi di sini, perempuan akan menopause dan laki-laki akan ada masanya tidak bisa ereksi lagi. Apa yang dibanggakan?! Tapiii, ketika apa yang kita tuduhkan ke orang dan malah dengan senang hati diakui. Itu sebagai bukti pengakuan dan pembuktian diri apa gimana juga saya gak ngerti. Denger pengakuannya aja rasa mo meninggal bangettt. Haha.

Trus saya gak ada butuh pengakuan dan pembuktian diri gitu? Ada dongg. Pengakuan sih saya bukan tipe yang aneh-aneh. Jadi ngaku-ngaku ajalah. Tapi untuk pembuktian diri? Rasanya saya lebih ke apa yang saya mau trus tercapai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Lebih membuat saya lega dan senang. Itu pembuktian diri juga dongg?! Kalau gak tercapai, yah belum rejeki. Gitu aja mikirnya biar gak stress. Kadang pengakuan dan pembuktian diri gak selalu berasal dari diri sendiri. Latar belakang keluarga, situasi dan kondisi, bahkan hal-hal yang mungkin secara sadar atau tidak sadar. Tidak bisa dengan mudah kita hindari. Kalau kamu nih, sepenting apa sih pengakuan dari orang lain dan pembuktian diri kamu?

Hal di luar kuasa kita

GB

Default template jodoh, maut, rezeki sudah diatur Yang Maha Kuasa. Sudah mutlak adanya, jangan diperdebatkan lagi. Namun ketika menjalani hidup, kadang ada aja hal-hal yang berada di luar kuasa kita, kayak sekarang aja deh. Dikasih ujian wabah corona, langsung kicep semua kan. Mau apa lo? Mau sombong gimana lagi lo? Gak ada kann. Yang mau gue bahas lebih ke hal yang karena di luar kuasa kita, ya gak bisa kita kendalikan. Qadarullah kalo di Agama saya bilangnya.

  1. Kesehatan. Iyalahh, ini udah gak bisa dan gak boleh banget sombong. Karena sekali lo kena, DAR! Habis sudah. Menjaga kesehatan haruslah ya, bentuk ikhtiar. Tapi se-vegan apapun elo, se-keto gimana pun diet lo, se-natural apapun makanan lo. Kalo emang mesti kena diabetes karena keturunan / kena stroke karena serangan / bahkan kanker yang mendadak muncul tanpa gejala. Ya gimana lagi?? Sederhananya, gue liat seorang bapak muda sehat, obesitas sedikit, tapi masih okelah. Tapi saat ini terbaring di ICU karena covid padahal WA terakhir saling mengucapkan Selamat Idul Adha. Tentu itu di luar kuasa kita bukan. Kesehatan memang mahal tapi juga manusia ada batasnya ketahanan fisiknya.
  2. Pengkhianatan / Kebohongan. Gue jadikan satu part ya, karena saling terkait. Contohnya tentu buanyakkk: penipuan (online/offline); perselingkuhan; berteman dengan teman yang munafik, hingga memanfaatkan keluarga sendiri in a bad way. Entah kenapa, dari dulu jaman kuliah bahkan sampe sekarang , teme gue pamit pergi sama gue padahal dia pergi sama selingkuhannya dan gue selalu di posisi yang gak bisa berbuat apa-apa alias ya diem aja. Apakah gue munafik? Entah ya. Gue merasa itu buka urusan gue. Ketika diminta pendapat gue memberikan pandangan, tapi selebihnya gue gak mau ikut campur. Tapi gue berani menegaskan bahwa perselingkuhan = hina! apapun alasannya. Balik lagi, pemikiran orang di luar kuasa kita.
  3. Keturunan. Ini termasuk rezeki ya, kayak punya keluarga besar yang solid, sahabat dan teman yang peduli dan sayang sama kita. Seorang sahabat bercerita kenapa dia belum juga punya anak dan merasa kita udah di usia yang “ayo dong hamil, keburu menopause nih!” Kita emang di thirty something tapi kan parno mungkin ya. Gue kasih pendapat, bahwa banyak orang di luar sana yang habis-habisan moril materil gimana caranya biar bisa punya anak. Tapi yang punya anak malah diterlantarkan dalam arti sebenarnya, hanya dijejalin uang yang juga yah begitu aja. Gak juga yang mandi uang. Ada juga yang gampang hamil tapi selalu dan berulang kali keguguran. Bahkan ada yang hamil tapi anaknya (maaf) memiliki kekurangan. Apa sih yang lo sedihin? Karena lo bukan yang paling menderita dan lo bisa lakuin usaha apapun yang ingin dilakukan. Meskipun hasilnya ya bukan kita yang bisa nentuin. Paling tidak jangan putus asa dan berdoa terus.

Gue juga bukan manusia yang bener-bener amat, bukan yang religius di level tinggi. Termasuk kaku, gak asik, dan cuek. Tapi serius deh, gue si manusia yang kadang meledak-ledak kadang  lempeng ini. Pada akhirnya cuma bisa menjalani, menikmati, dan mensyukuri aja. Muncul perasaan sedih, kecewa, marah, bahkan tidak akan bisa memaafkan. Karena gue memang tipe pendendam. Rasanya manusiawi. Tapi kan hidup terus berjalan dan Yang Maha Kuasa tidak tidur. Mau sumpah serapah apapun yang dikeluarkan tidak akan mengubah keadaan. Kadang gue mikir, kalau gue harus memaafkan manusia-manusia yang sudah gue blacklist dari hidup gue. Mungkin gue gak akan bisa baik meskipun palsu, yang ada malah gue jadi congkak luar biasa dan akan gue jadikan dia keset dalam arti sebenar-benarnya. Jadi, gak usah dan gak penting maafan kan yaa?! Kalo elo nih, apa sih hal-hal di luar kuasa lo?

Ketika segalanya online

Murni curhatan emak-emak. Yang eneg, skip ajaa.

 

Masuk ke minggu kedua Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), singkatnya: sudah mulai terbiasa dengan pola belajar dan ya memang mandiri. Mulai paham dengan strategi “gak bisa diakses jadi harus download aplikasinya dulu.” Karena pemilik aplikasi juga kan mengedepankan profit bukan murni edukasi anak-anak. Lo pake aplikasi yang gue bikin nih, ya suka-suka gue. Begitu kira-kira pendapat saya. Plus untung rugi antara penggunaan aplikasi yang berbayar dengan yang tidak berbayar. Macem udah paling kuat ajalah signal internet di Indonesia ini *baru awal udah full misuh-misuh kan. Haha.

A
Les

Hampir full dalam seminggu, sekian jam dalam sehari, penggunaan internet untuk belajar kan udah wajib hukumnya. Kalau di negara maju mungkin tida jadi masalah, nah untuk negara berflower yaa gitu deh. Saya bisa jamin gak semua orang punya kuota / wifi unlimited. Sing sabar dan harap maklum aja. Misal di saya, 6 jam dalam sehari di weekdays, sejam-an di Sabtu untuk les. Belum lagi ketika si bocah akses r*angg*r* untuk belajar ringan di luar jam yang saya sebutkan tadi.

C
Terima Rapor Online

Kalau di atas saya bicara soal anak, emaknya pun tentu tidak ketinggalan. Contoh di saya ketika terima rapor online dan parents meeting. Haha. Terima rapor online, posisi saya saat itu lagi dalam perjalanan tugas luar kantor bersama 2 rekan kerja, meskipun pas itu saya gak lg nyetir. Konsen? Berusaha banget untuk konsen yang diomongin kedua wali kelas. Cuma ya beda banget2 dan gak bebas kaya kalo terima rapor langsung. Saya nilai, wali kelas juga paham dan maklum dengan kondisi begini ya kan.

B
Parents Meeting

Lain hal dengan parents meeting yang diadakan pas libur, saya lagi milah-milah baju mau nyuci, HP berdering-dering. Masya Allah! Kelupaan jadwal dong!! Nyamber jilbab trus jawab panggilan vcall di HP. Trus berusaha fokus di topik yang dibahas biar gak ada pertanyaan yang kelupaan ditanyain. Ada kali hampir se-jam bahas dampak covid sehingga bisa dipastikan sampai akhir tahun ya masih akan terus begini. Begitu juga degan penyesuaian ini itu dalam pembelajaran untuk les.

Kalau sebelumnya saya cuma familiar sama belanja online, saat ini jadi wajib paham bahwa segalanya online lho. Online dalam hal positif lho ya, gak bicara buat yang emang suka dating online *niittt *kemudiansensor. Wkwkwk. Ataupun penipuan online yang emailnya kadang suka mampir bahkan rekan ada yang kena juga. Hadeuh. Jadi gimana pendapat Kamu ketika segalanya online?

Guru

IMG_20200725_155501

 

Sudah saya ketahui dengan pasti dan persis. Guru memiliki peran amat sangat penting selain peran saya pribadi terhadap si bocah. Sejak kelompok bermain kecil di usia 2,5 tahun sampai saat ini dan mudah-mudahan seterusnya. Kalau dapat guru yang tepat, DAR!!! Mantaplah pokoknya. Terstimulasi, tergali, terdukung, termotivasi, dan ter- ter- positif lainnya. Si bocah bukan hanya antusias tapi juga pake hati banget kan ya anaknya ini. Trus tersalurkan dengan baiklah intinya. Alhamdulillah saya termasuk beruntung untuk urusan guru. Meskipun pasti ada aja ketemu satu dua guru yang kurang pas dalam menarik hati buah hati saya. Tapi tidak menyurutkan semangat belajarnya, cuma jadi kurang greget aja.

Guru-guru yang menurut saya oke di anak saya, antara lain:

  1. Wali kelas. Yang kurang greget pas kelompok bermain besar dan TK B aja, alih-alih menstimulasi yang ada malah kagum dan takjub dengan si bocah. Agak heran dan mbatin aja, “bukannya mestinya tugas elo ya?!” Tapi ya sudahlah. Wali kelas kelompok bermain kecil, TK A, kelas 1, dan sekarang kelas 2. Alhamdulillah mantap! Saya malah suka wali kelas yang bersifat membangun. Jadi ada teman diskusi yang sama-sama memahami seutuhnya si bocah nih.
  2. Guru tahfidz. Ini ketemu saat kelompok bermain kecil yang bahkan saking sayangnya sama Teona pernah saya lihat Ibu guru peluk Teona pake hati dan terharu. Sweet banget. Trus sekarang nih Bapak guru tahfidz-nya bagus (pengamatan seminggu ini dan belum ngajar tatap muka). Jadi masih penilaian sekilas yang saya bisa nilai.
  3. Guru musik. Alhamdulillah bangeettt, dua gurunya (sebelumnya dan sekarang) sama-sama sabar dan pengertian. Kereennn banget bisa bikin anak gue segitu antusiasnya tuh luar biasa. Menarik perhatian dan menarik hati sampe senurut itu. Memang guru adalah koentji.

 

Di antara guru-guru yang berkesan itu tentu tidak lepas dari omelan dan teriakan emaknya kalau melenceng sedikit. Demi menjaga terjadinya penyimpangan yang berujung penyesalan. Maka harus segera ditertibkan dong. Guru saya izinkan koreksi bila bocah ada kekurangan atau kesalahan. Tapi kendali tetap ada di tangan saya. Misal ketika wali kelas merekomendasikan si bocah lebih baik di B dibanding A. Melalui diskusi panjang kali lebar. Menghasilkan keputusan bulat dari saya untuk mengikuti saran gurunya. Diskusi sama si bocah juga dia iya-iya aja. Pembuat keputusan ya si emak buas ini.

Emang beda banget si bocah sama saya. Jaman sekolah, saya bodo amat mau gurunya siapa. Baru pas kuliah rada melek dikit dan yang kurang pasti saya juga gak antusias. Sama seperti di kehidupan nyata, manusia yang saya nilai gak mutu juga dengan atau tidak disengaja pasti terhempas dari hidup saya. Kalau saya yang dihempas ya emang itu jalannya mungkin. Semoga guru si bocah beneran sportif ya. Rekomendasi wali kelas ini tetap melalui seleksi ketat yang artinya gue mesti memantau dengan ketat juga baik cara belajar maupun psikologis si bocah. Dia mau gak, kalo mau dia happy gak, dan seterusnya.

Tantangan dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini kan 70% ada di porsi saya, 30% di porsi guru. Segala itu zoom, googlemeet, googleclassroom, quizizz, kahoot, dan lainnya kan saya yang mesti dampingi si bocah. Kalau saya bilangnya teknisi merangkap ART. Tapi demi anak apa sih yang enggak, yang penting masih dalam batas wajar alias tidak lebay. kalau buat kamu, peran guru segimananya sih? Trus guru apa yang berkesan?