When husband send a message

Kalo suami kerja, kami biasa berkirim pesan, telfon kalo urgent aja. Suatu ketika dia kirim ini:

Bismillahirrahmanirrahim

” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumping (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul berkata kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah? Allah tiada membuat matamu menangis. “Fathimah kemudian menjawab: ” Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan kesibukanku dalam rumah”.

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi:

“Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan menyelesaikan urusan rumah.

Kemudian Nabi berkata kepada puterinya, Fathimah: “Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu

Wahai Fathimah, barangsiapa orang perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya.

Wahai Fathimah, barang siapa orang perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum) untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang).

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak di hari Kiamat.

Wahai Fathimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan di hari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga.Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega, maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya”mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang belum lewat”. Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”.

Amin ya robbal alamin.

Kagum

Saya baru menyadari sekarang, saat kuliah kenapa teman-teman saya suka Negara Rusia. Mereka bilang ‘politik’ banget, yah karena saya di jurusan ilmu politik, FISIP UI itu jadi sesuatu. Di mana para pemikir yang menciptakan teori A, B, C, dst berasal dari sana. Tapi karena saat kuliah saya mendapat
kesempatan umroh pertama kali, jadi saya kasih euphoria. Kagum banget sama tanah suci, jadi buat saya Rusia ya biasa aja *sotoy*

Ketika lulus kuliah, saya sempat diminta tolong sahabat untuk jadi saksi karena dia mau volunteer ke Rusia dalam salah satu program yang diadakan UI. Dia mengalami hal yang menyenangkan di sana dan berkesan. Tapi buat saya masih biasa aja. Setelah itu ada teman sejurusan kami yang resign dari salah satu institusi pemerintahan, pergi ke Rusia melanjutkan kuliah.

Sekarang sahabat lain yang juga masih satu jurusan, akhir bulan ini akan lanjut kuliah juga di salah satu universitas terkemuka di Rusia. Sesuatu banget ya Rusia itu, walopun lagi-lagi buat saya biasa aja *ga jiwa anak politik banget sih gw. Haha.

Buat saya UEA jauh lebih keren, karena dibalik yang orang bilang konvensional, tapi ada kesan yang buat saya kagum. Jangan salah, mereka tetep update brand barat lho. Menurut saya ada something yang bikin UEA cukup istimewa di mata saya. Dengan tidak mengurangi kekaguman saya pada Negara Asia tenggara Dan Australia yang pernah saya singgahi.

Saya doakan yang terbaik untuk sahabat saya, semoga Rusia memberikan pelajaran dan pengalaman berharga untukmu.

Frany’s Motherhood

Sedikit cerita tentang pengalaman saya sebagai ‘buru’ alias ibu baru. Saya hamil Teona, selama 9 bulan full mual muntah dan tetap bekerja. Saya melahiran dengan proses caesar dikarenakan indikasi medis. Melalui proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini), menikmati breast massage dari tangan para suster di RS yg ternyata rasanya maknyos! sakit bangettt. Tapi entah karena itu atau gift dari Allah, ASI saya melimpah ruah sampai netes dan rembes. Sebagai ibu baru, meraba-raba mencari solusi, akhirnya menggunakan penampung plastik (breast pad) sampai kurang lebih setahun *baru sekitar 3-4 bulan ini saya lepas breast pad. Akhirnya saya sempat mendonorkan ASI saya ke-7 anak lainnya, sengaja saya posting di twitter @aimi_ASI dan @ID_AyahASI membagikan ASI kepada bayi lain yang membutuhkan. Anak susu saya antara lain: Jihan, Della, Shaina, Alka, Kamaratih, Salsabila, dan Hatta. Anak susu terakhir saya seorang lelaki, dikarenakan Hatta adalah anak tetangga di apartemen yang saat itu sedang opname karena muntaber sufor.

Sekarang Teona masih ASI, Alhamdulillah. Tapi saya beri tambahan susu UHT. Saya pun meminimalkan penggunaan pospak (popok sekali pakai), saya imbangi dengan clodi (cloth diapers). Selain ramah lingkungan juga lebih hemat. So far, pengalaman jadi Ibu adalah CAPEK! Hahahaha. Karena itu saya belum terpikir untuk menambah anak lagi, masih gempor bok! Rencana selanjutnya adalah memperkenalkan dan mengajarkan Teona ilmu agama. Cita-cita jangka panjang, ingin sekali Teona bisa menjadi seorang hafidzah (penghafal Al. Qur’an) insya Allah. Semoga diberikan kemudahan dan jalan untuk bisa mencapainya. Amin. Teona sekarang 16 bulan dengan tingkah polah yang lucu, menggemaskan, tidak bisa diam, gak kenal capek, sedikit ngeyel tapi sebenarnya nurut.

Nanti saat usia 2 tahun, Teona akan mulai diajarkan untuk sekolah dan juga mulai minum susu formula. Semoga ga susah untuk disapih, Teona yang merupakan cucu pertama di keluarga saya dan cucu perempuan pertama di keluarga suami menjadi kesayangan seluruh keluarga. Saya hanya berharap agar tidak salah mendidik dia, menjadikan agama sebagai dasar hidupnya, dan memberikan pendidikan serta penghidupan yang layak untuk Teona. Perjuangan masih panjang, tapi saya dan suami optimis kita bisa menjalani parenthood dengan baik. Salah satu cara menjadikan teman atau saudara contoh yang patut atau tidak patut ditiru dalam mendidik anak. Walaupun selalu diselaraskan metode saya dan suami tapi memang semua butuh proses, yang jelas kami akan memposisikan diri sebagai orang tua dan Teona sebagai anak, bukan teman. Konvensional dalam pandangan barat tapi yang terpenting tidak menyimpang ajaran agama. Doakan kami! 🙂

 

Jiwa Kepemimpinan si Kecil berawal dari Keluarga

Era globalisasi yang mengiringi pertumbuhan si kecil, membawa kita sebagai orang tua untuk memahami dan melakukan strategi agar putra atau putri kita dapat belajar untuk memiliki jiwa pemimpin sejak dini.  Sejak si ibu mengandung, tanpa disadari telah mengembangkan jiwa kepemimpinan, dengan cara mendoakan janin agar tumbuh sehat. Selain karena takdir Tuhan juga dibantu asupan gizi ibu hamil yang baik, calon bayi memimpin dirinya sendiri agar dapat tumbuh sehat. Misalnya dengan gerakan ataupun respon yang ditimbulkan. Setelah lahir pun, peran Ibu adalah yang utama, setelah itu peran Ayah. Ibu adalah orang pertama yang mendidik anak sejak awal, contohnya menerapkan jam tidur siang dan tidur malam. Hal sepele tetapi penting dalam tumbuh kembang bayi/ Kemudian berlanjut dengan mengajarkan canda tawa, makan, berjalan, bicara, dan seterusnya.

 

Seiring berjalannya waktu, anak butuh kemandirian. Sehingga anak perlu diajarkan berjalan sendiri tanpa perlu dititah ataupun digandeng oleh orang tuanya. Bisa makan sendiri bahkan melakukan aktivitas buang air sendiri. Namun hal yang terpenting dari semua itu adalah mental anak yang terdidik dengan baik semenjak kecil. Diibaratkan kertas putih yang polos, maka anak perlu ditulis bahkan dibentuk sedemikian rupa. Orang tua wajib menagrahkan sehingga di masa yang akan datang, anak dapat memilih bidang yang diminatinya. Jauh sebelum memimpin atau menjadi pemimpin. Peran ibu atau orang tua, dalam hal ini dibutuhkan keselarasan orang tua untuk mendidik buah hati menjadi hal yang utama.

 

Mendidik mental, membentuk karakter, dan watak sangat dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Hal tersebutlah yang telah saya alami, selain peran ibu, peran keluarga, bahkan lingkungan pun memiliki peranan penting. Walaupun termasuk orang tua baru, tapi saya memiliki pandangan bahwa pola asuh sejak bayi memiliki peranan penting yang membentuk hingga masa dewasa. tidak hanya sebagai memori tetapi juga sebagai pedoman hidup yang akan dipegang untuk menjalani kehidupannya kelak. Dalam pengamatan saya, banyak ibu atau orang tua yang terlewat mendidik si kecil untuk tidak hedonis. Banyak contoh yang telah saya lihat sepanjang hidup saya yang membuat saya merencanakan cara mendidik si kecil untuk tidak hedonis.

 

Hedonis adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Hedonis menyebabkan individu menjadi pribadi yang pragmatis dan tentu saja konsumtif. Hal tersebut nantinya akan memicu terjadinya korupsi, menyebabkan ketidakpekaan terhadap sekitar, dan mengakibatkan tekanan bila tidak sanggup memenuhi gaya hidup hedonisme itu. Tidak pernah ada yang salah mengejar rezeki selama itu di jalan yang benar, namun pada zaman sekarang hal tersebut menjadi rancu dan perlu diperdebatkan, sehingga perlu pemahaman yang disesuaikan dengan keyakinan orang tua dalam mendidik anaknya. Mungkin banyak pihak yang kontra dengan rencana cara mendidik saya, karena menekankan pada anti hedonisme. Terlepas dari suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), saat ini realita kehidupan sangat akrab dengan hedonisme. Dari sudut pandang saya, pemimpin yang baik tidak mengenal hedonisme, ironis bila membandingkan dengan kenyataan yang ada pada saat ini.

 

Siapa yang bisa disalahkan dengan adanya hedonisme? Kembali pada pola pemikiran dan pola asuh yang diterapkan orang tua pada si kecil. Dari yang telah saya jabarkan sebelumnya, saya memilih untuk merencanakan si kecil menjadi individu yang bisa memimpin dirinya sendiri, kemudian memimpin keluarga dengan baik. Hingga pada saatnya nanti diberikan kepercayaan untuk memimpin orang lain, mudah-mudahan dapat menjadi pemimpin yang peka, bertanggung jawab, dan jauh dari karakter hedonis. Semoga tidak hanya sekedar rencana atau harapan dari saya sebagai orang tua, tetapi juga menjadi pedoman hidup si kecil nantinya. Karena baik usaha maupun peranan orang tua tidak akan menjadi sia-sia bila dilakukan dengan tulus dan berkesinambungan.

https://i0.wp.com/nutrisiuntukbangsa.org/wp-content/uploads/2013/09/revisi-posterblog-writing-competition-1.5-04092013.resized.jpg

#LombaBlogNUB