Local People

Local people yang saya maksud gak melulu orang dari daerah atau suku tertentu. Pokoknya orang yang berdomisili di suatu wilayah tertentu. Local people ini pun berlaku untuk orang daerah maupun orang dari negara lain. Intinya lokal ya kann. Saya ada dua pengalaman receh yang memang ‘ngena’ terkait local people. Satu nyebelin satu nyenengin. Hidup kan selalu berlawanan bukan. Saya gak sebut suku ya, karena gak terlalu penting. Kalau yang memang kita temui, utamanya lebih ke aksen atau logat yang jelas berbeda. Jadi mesti mencerna lebih lama untuk mengerti maksudnya. Plus kita bisa tebak ini orang asalnya darimana. Kecuali aksennya bisa menyesuaikan dengan orang lokal. Ini hebat, seperti bunglon, bisa menyesuaikan *apa sihhh

  1. Ketika di suatu daerah dan kondisi diri saya sedang tidak kondusif alias lagi ribet berujung emosi jiwa. Pesan transportasi online dan pas telfonan itu bapak ngomong pake bahasa daerah setempat. Tentu saja saya jadi ketus dan bilang bahwa saya tidak mengerti yang dia omongin. Ngomong pake bahasa Indonesia gak dosa kaliii dan lagi kan lo sebagai penyedia jasa. Meskipun di daerah gak selalu dapat customer orang lokal juga kan. Hadeuh. Itu nyebelin sih, kalau kondisi normal mungkin saya masih bisa tolerir. Tapi karena kondisi lagi tidak menyenangkan tanpa ba bi bu. Langsung saya matiin telepon, cancel pesanan, order baru lagi. Per er banget, sumpahhh.
  2. Saya lagi ada keperluan di suatu wilayah di Jakarta Timur. Trus si bocah minta dibelikan kok untuk badminton. Yang mana permintaan tersebut tidak ada di minimarket maret2an. Tapi saya tetep usaha cari ke mini maret trus dijawab ya gak ada pastinya. Tapi trus ada orang lokal yang kasih tau bahwa ada toko buku dekat situ yang sudah pasti menjual. Saya terima kasih nya berkali-kali saking merasa terbantu bangett. Alhamdulillah, rezeki.

Suka lihat gak kalau orang lagi cari alamat trus nanya ke orang lokal? Saya pribadi pun sering apalagi saya gak selalu hafal daerah di Jakarta, suka bingung cari jalan tikus, dan lainnya. Sebisa mungkin saya mengajak kita semua untuk bisa menolong dengan memberikan informasi yang valid. Bukan informasi asal. Karena itu sungguh berarti untuk si penanya. Masa iya orang iseng nanya alamat. Pasti karena butuh dan ada keperluan kan. Soal bahasa daerah, saya gak nyalahin kalau orang lokal ya pasti berbahasa daerah. Atau bahasa negara tertentu bisa juga. Tapi tolong sesuaikan dengan lawan bicara Anda. Saya untuk bahasa Jawa jauh lebih pasif daripada bahasa Inggris misalnya. Gimanalah ceritanya diajak ngomong bahasa dari pulau seberang. Ngerti kaga, emosi iya. Telfonan juga kan gak bisa ditranslate kayak chat atau artikel yang bisa dicopas taruh di googletranslate.

Jawabannya bukan salah sendiri gak bisa bahasa setempat, tapi berempati aja. Kalau posisinya dibalik, Anda di daerah kekuasaan saya trus Anda gak bisa bahasa setempat, siapa yang mau bantu? Itu lebih ke toleransi sih. Saya pernah sotoy alias sok tau pas belanja di Pasar Beringharjo, berakhir keder pas dijawab harga pake bahasa Jawa halus. Kapok! Saya pun langsung mendadak kalem dan tunjuk sana sini saat belanja di Pasar Sukawati, sementara Tante saya asyik nawar pake bahasa Bali. Kaga bisa bahasa Bali ya kann. Lain hal kalau ada di daerah atau negara yang kita familiar, sebut saja sengaja belajar bahasa daerah atau negara tertentu yang penting bisa komunikasi. Tapi terkadang kita tidak ditempatkan dalam kondisi yang settingan-nya bisa memahami aksen / logat daerah / negara setempat. Derita lo? iya sih, tapi seperti saya bilang sebelumnya. Kalau kondisi dibalik. Kan balik lagi ke toleransi.

Kenapa tiba-tiba ngoceh tentang ini? Gak ada yang melatarbelakangi sih. Tiba-tiba keinget aja. Trus sempet mikir, mestinya pas SMA gue masuk kelas 3 bahasa ya. Trus masuk FIB (fakultas ilmu budaya) nya UI. Huh! ngayal aja terus. Masih Senin pagi banget inii. Kalau Kamu ada pengalaman dengan local people kayak saya?

Published by Frany

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

2 thoughts on “Local People

  1. Salfok sama minimarket maret2an wkwk

    Saya pernah mencoba ngeblend dengan orang lokal sini dengan meniru cara ngomong melayunya. Udah pede banget karena ngira cukup mirip dengan yang sering diomongin sini. Eh pas praktek langsung, dibilang “bapak aslinya dari mana? Bahasa melayunya aneh hihihi…” 😭

    Liked by 1 person

    1. Huahahaha. Udah sok-sok Melayu masih juga terdengar asing ya kan. Tapi dihargailah usaha untuk adaptasinya. Saya pun pastinya berusaha kalau pas lagi di suatu daerah manaa trus tiba2 medok. Tapi di sikon tertentu yang tidak memungkinkan untuk mentoleransi, pusing juga jadinya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: