Posted in randomtought

Hal di luar kuasa kita

GB

Default template jodoh, maut, rezeki sudah diatur Yang Maha Kuasa. Sudah mutlak adanya, jangan diperdebatkan lagi. Namun ketika menjalani hidup, kadang ada aja hal-hal yang berada di luar kuasa kita, kayak sekarang aja deh. Dikasih ujian wabah corona, langsung kicep semua kan. Mau apa lo? Mau sombong gimana lagi lo? Gak ada kann. Yang mau gue bahas lebih ke hal yang karena di luar kuasa kita, ya gak bisa kita kendalikan. Qadarullah kalo di Agama saya bilangnya.

  1. Kesehatan. Iyalahh, ini udah gak bisa dan gak boleh banget sombong. Karena sekali lo kena, DAR! Habis sudah. Menjaga kesehatan haruslah ya, bentuk ikhtiar. Tapi se-vegan apapun elo, se-keto gimana pun diet lo, se-natural apapun makanan lo. Kalo emang mesti kena diabetes karena keturunan / kena stroke karena serangan / bahkan kanker yang mendadak muncul tanpa gejala. Ya gimana lagi?? Sederhananya, gue liat seorang bapak muda sehat, obesitas sedikit, tapi masih okelah. Tapi saat ini terbaring di ICU karena covid padahal WA terakhir saling mengucapkan Selamat Idul Adha. Tentu itu di luar kuasa kita bukan. Kesehatan memang mahal tapi juga manusia ada batasnya ketahanan fisiknya.
  2. Pengkhianatan / Kebohongan. Gue jadikan satu part ya, karena saling terkait. Contohnya tentu buanyakkk: penipuan (online/offline); perselingkuhan; berteman dengan teman yang munafik, hingga memanfaatkan keluarga sendiri in a bad way. Entah kenapa, dari dulu jaman kuliah bahkan sampe sekarang , teme gue pamit pergi sama gue padahal dia pergi sama selingkuhannya dan gue selalu di posisi yang gak bisa berbuat apa-apa alias ya diem aja. Apakah gue munafik? Entah ya. Gue merasa itu buka urusan gue. Ketika diminta pendapat gue memberikan pandangan, tapi selebihnya gue gak mau ikut campur. Tapi gue berani menegaskan bahwa perselingkuhan = hina! apapun alasannya. Balik lagi, pemikiran orang di luar kuasa kita.
  3. Keturunan. Ini termasuk rezeki ya, kayak punya keluarga besar yang solid, sahabat dan teman yang peduli dan sayang sama kita. Seorang sahabat bercerita kenapa dia belum juga punya anak dan merasa kita udah di usia yang “ayo dong hamil, keburu menopause nih!” Kita emang di thirty something tapi kan parno mungkin ya. Gue kasih pendapat, bahwa banyak orang di luar sana yang habis-habisan moril materil gimana caranya biar bisa punya anak. Tapi yang punya anak malah diterlantarkan dalam arti sebenarnya, hanya dijejalin uang yang juga yah begitu aja. Gak juga yang mandi uang. Ada juga yang gampang hamil tapi selalu dan berulang kali keguguran. Bahkan ada yang hamil tapi anaknya (maaf) memiliki kekurangan. Apa sih yang lo sedihin? Karena lo bukan yang paling menderita dan lo bisa lakuin usaha apapun yang ingin dilakukan. Meskipun hasilnya ya bukan kita yang bisa nentuin. Paling tidak jangan putus asa dan berdoa terus.

Gue juga bukan manusia yang bener-bener amat, bukan yang religius di level tinggi. Termasuk kaku, gak asik, dan cuek. Tapi serius deh, gue si manusia yang kadang meledak-ledak kadang  lempeng ini. Pada akhirnya cuma bisa menjalani, menikmati, dan mensyukuri aja. Muncul perasaan sedih, kecewa, marah, bahkan tidak akan bisa memaafkan. Karena gue memang tipe pendendam. Rasanya manusiawi. Tapi kan hidup terus berjalan dan Yang Maha Kuasa tidak tidur. Mau sumpah serapah apapun yang dikeluarkan tidak akan mengubah keadaan. Kadang gue mikir, kalau gue harus memaafkan manusia-manusia yang sudah gue blacklist dari hidup gue. Mungkin gue gak akan bisa baik meskipun palsu, yang ada malah gue jadi congkak luar biasa dan akan gue jadikan dia keset dalam arti sebenar-benarnya. Jadi, gak usah dan gak penting maafan kan yaa?! Kalo elo nih, apa sih hal-hal di luar kuasa lo?

Author:

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

6 thoughts on “Hal di luar kuasa kita

    1. Kalau sekarang memang yang jadi concern dampak dari corona ini. Semua orang pasti merasakan dampak yang bahkan sama sekali tak terduga & terbayangkan sebelumnya. Bismillah, tetap semangat, Mbak Dea.

      Like

    1. Untuk yg berpikiran sehat pasti introspeksi ya, buat yang apatis paling hanya menjalani sampai seberapa kuat dan seberapa jauh bisa bertahan. Mestinya bisa tobat tapi gengsi. Itu juga PR untuk diri sendiri menurut saya. Kalau saya pribadi karena banyakkk banget contoh dan pengamatan dari orang sekitar. Yang gak kena pengamatan saya pasti lebih banyak. Hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s