Posted in frany's-parenthood, info-sharing-update

Ketika segalanya online

Murni curhatan emak-emak. Yang eneg, skip ajaa.

 

Masuk ke minggu kedua Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), singkatnya: sudah mulai terbiasa dengan pola belajar dan ya memang mandiri. Mulai paham dengan strategi “gak bisa diakses jadi harus download aplikasinya dulu.” Karena pemilik aplikasi juga kan mengedepankan profit bukan murni edukasi anak-anak. Lo pake aplikasi yang gue bikin nih, ya suka-suka gue. Begitu kira-kira pendapat saya. Plus untung rugi antara penggunaan aplikasi yang berbayar dengan yang tidak berbayar. Macem udah paling kuat ajalah signal internet di Indonesia ini *baru awal udah full misuh-misuh kan. Haha.

A
Les

Hampir full dalam seminggu, sekian jam dalam sehari, penggunaan internet untuk belajar kan udah wajib hukumnya. Kalau di negara maju mungkin tida jadi masalah, nah untuk negara berflower yaa gitu deh. Saya bisa jamin gak semua orang punya kuota / wifi unlimited. Sing sabar dan harap maklum aja. Misal di saya, 6 jam dalam sehari di weekdays, sejam-an di Sabtu untuk les. Belum lagi ketika si bocah akses r*angg*r* untuk belajar ringan di luar jam yang saya sebutkan tadi.

C
Terima Rapor Online

Kalau di atas saya bicara soal anak, emaknya pun tentu tidak ketinggalan. Contoh di saya ketika terima rapor online dan parents meeting. Haha. Terima rapor online, posisi saya saat itu lagi dalam perjalanan tugas luar kantor bersama 2 rekan kerja, meskipun pas itu saya gak lg nyetir. Konsen? Berusaha banget untuk konsen yang diomongin kedua wali kelas. Cuma ya beda banget2 dan gak bebas kaya kalo terima rapor langsung. Saya nilai, wali kelas juga paham dan maklum dengan kondisi begini ya kan.

B
Parents Meeting

Lain hal dengan parents meeting yang diadakan pas libur, saya lagi milah-milah baju mau nyuci, HP berdering-dering. Masya Allah! Kelupaan jadwal dong!! Nyamber jilbab trus jawab panggilan vcall di HP. Trus berusaha fokus di topik yang dibahas biar gak ada pertanyaan yang kelupaan ditanyain. Ada kali hampir se-jam bahas dampak covid sehingga bisa dipastikan sampai akhir tahun ya masih akan terus begini. Begitu juga degan penyesuaian ini itu dalam pembelajaran untuk les.

Kalau sebelumnya saya cuma familiar sama belanja online, saat ini jadi wajib paham bahwa segalanya online lho. Online dalam hal positif lho ya, gak bicara buat yang emang suka dating online *niittt *kemudiansensor. Wkwkwk. Ataupun penipuan online yang emailnya kadang suka mampir bahkan rekan ada yang kena juga. Hadeuh. Jadi gimana pendapat Kamu ketika segalanya online?

Author:

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

7 thoughts on “Ketika segalanya online

    1. aku setengah setuju setengah keberatan. Karena aku jadi effort banget, trus anak jg fous ga fokus jadinya. Sementara okelah, tp kalo seterusnya. Bisa gilaakkk. Hahaha.

      Like

      1. Hahaha bisa kubayangkaaan! Aku skrg ga keberatan semua serba online, selain krn dasarnya mager (males pergi2), trs juga kan anakku blm sekolah. Jd perjuangan ortu& pendamping anak SFH sih blm kualami; tp bisa kubayangkan, secara ngeladeni duo balita bermain aja, aku sering merasa mo meledak.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s