Posted in frany's-parenthood, info-sharing-update, Teona

Guru

IMG_20200725_155501

 

Sudah saya ketahui dengan pasti dan persis. Guru memiliki peran amat sangat penting selain peran saya pribadi terhadap si bocah. Sejak kelompok bermain kecil di usia 2,5 tahun sampai saat ini dan mudah-mudahan seterusnya. Kalau dapat guru yang tepat, DAR!!! Mantaplah pokoknya. Terstimulasi, tergali, terdukung, termotivasi, dan ter- ter- positif lainnya. Si bocah bukan hanya antusias tapi juga pake hati banget kan ya anaknya ini. Trus tersalurkan dengan baiklah intinya. Alhamdulillah saya termasuk beruntung untuk urusan guru. Meskipun pasti ada aja ketemu satu dua guru yang kurang pas dalam menarik hati buah hati saya. Tapi tidak menyurutkan semangat belajarnya, cuma jadi kurang greget aja.

Guru-guru yang menurut saya oke di anak saya, antara lain:

  1. Wali kelas. Yang kurang greget pas kelompok bermain besar dan TK B aja, alih-alih menstimulasi yang ada malah kagum dan takjub dengan si bocah. Agak heran dan mbatin aja, “bukannya mestinya tugas elo ya?!” Tapi ya sudahlah. Wali kelas kelompok bermain kecil, TK A, kelas 1, dan sekarang kelas 2. Alhamdulillah mantap! Saya malah suka wali kelas yang bersifat membangun. Jadi ada teman diskusi yang sama-sama memahami seutuhnya si bocah nih.
  2. Guru tahfidz. Ini ketemu saat kelompok bermain kecil yang bahkan saking sayangnya sama Teona pernah saya lihat Ibu guru peluk Teona pake hati dan terharu. Sweet banget. Trus sekarang nih Bapak guru tahfidz-nya bagus (pengamatan seminggu ini dan belum ngajar tatap muka). Jadi masih penilaian sekilas yang saya bisa nilai.
  3. Guru musik. Alhamdulillah bangeettt, dua gurunya (sebelumnya dan sekarang) sama-sama sabar dan pengertian. Kereennn banget bisa bikin anak gue segitu antusiasnya tuh luar biasa. Menarik perhatian dan menarik hati sampe senurut itu. Memang guru adalah koentji.

 

Di antara guru-guru yang berkesan itu tentu tidak lepas dari omelan dan teriakan emaknya kalau melenceng sedikit. Demi menjaga terjadinya penyimpangan yang berujung penyesalan. Maka harus segera ditertibkan dong. Guru saya izinkan koreksi bila bocah ada kekurangan atau kesalahan. Tapi kendali tetap ada di tangan saya. Misal ketika wali kelas merekomendasikan si bocah lebih baik di B dibanding A. Melalui diskusi panjang kali lebar. Menghasilkan keputusan bulat dari saya untuk mengikuti saran gurunya. Diskusi sama si bocah juga dia iya-iya aja. Pembuat keputusan ya si emak buas ini.

Emang beda banget si bocah sama saya. Jaman sekolah, saya bodo amat mau gurunya siapa. Baru pas kuliah rada melek dikit dan yang kurang pasti saya juga gak antusias. Sama seperti di kehidupan nyata, manusia yang saya nilai gak mutu juga dengan atau tidak disengaja pasti terhempas dari hidup saya. Kalau saya yang dihempas ya emang itu jalannya mungkin. Semoga guru si bocah beneran sportif ya. Rekomendasi wali kelas ini tetap melalui seleksi ketat yang artinya gue mesti memantau dengan ketat juga baik cara belajar maupun psikologis si bocah. Dia mau gak, kalo mau dia happy gak, dan seterusnya.

Tantangan dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini kan 70% ada di porsi saya, 30% di porsi guru. Segala itu zoom, googlemeet, googleclassroom, quizizz, kahoot, dan lainnya kan saya yang mesti dampingi si bocah. Kalau saya bilangnya teknisi merangkap ART. Tapi demi anak apa sih yang enggak, yang penting masih dalam batas wajar alias tidak lebay. kalau buat kamu, peran guru segimananya sih? Trus guru apa yang berkesan?

Author:

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

2 thoughts on “Guru

  1. tau gak fran saat school from home ini mulai yang kepikiran sama saya itu apakah semua anak2 usia sekolah di indonesia punya akses komputer dan internet? kalau gak punya gimanakah? apa mereka dapat bantuan laptop dan akses internet? kalau iya hebaaat 🙏🏻

    Like

    1. Sehati kita, Mba Kayka. Itu juga yang menjadi concern aku. Makanya aku lumayan memperhatikan berita seputar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) ini, Jadi meskipun di gang2, bahkan ada yang numpang ke tetangga. Menjadi kompleks ketika di daerah lain, kebetulan baca berita di Agam, Sumbar itu sampai ada kelok HP karena anak2 dapat signal di situ. Di Sawahlunto, tatap muka langsung tidak setiap hari tapi begitu ada yang positif covid trus sekolah tutup.

      Yang bikin menghela nafas, mbok ya dipikirkan solusi yang cermat dan efisien selain online ini. Mengingat tidak semua orang mampu mengakses internet. Jadi, boro-boro bantuan laptop, subsidi kuota misalnya, juga gak ada. Kita aja yang bayar provider untuk wifi di rumah, signal naik turun. Kalau saya berharap, Mendiknas bisa bekerjasama dengan SEMUA provider untuk meningkatkan kualitas layanan di masa pandemi ini. Tapi yah mungkin belum kepikiran kali ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s