15 Ramadhan 1441 Hijriyah

Assalamualaikum temans. Gimana perjalanan ibadah puasa Ramadhannya? Tidak terasa sudah setengah jalan ya. Tahun 2020 ini sungguh luar biasa tahun perjuangan. Berjuang melawan corona, berjuang mengajarkan anak belajar di rumah selama 2 bulan ke belakang dan belum tahu sampai kapan? Juga masih masuk bergilir WFH – WFO (khusus buat saya) dengan segala manis, asam, pahit getir, dan lainnya. Betul-betul semacam ujian hidup yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jadi sehari-hari aktivitas seputar kerjaan, tugas sekolah, tugas les, repeat. Trus tahun ini juga untuk pertama kalinya ibadah tarawih di rumah. Sedihnyaaa. Buat yang tau ambiance sholat tarawih di masjid itu gimana semangat dan euphorianya sungguh terasa dan itu yang jadi perbedaan dibanding hari biasa. Subuhan di masjid pun jadi gak bisa. Beneran banyakan di rumah.

Gimana merasakan check point di mana-mana. Gimana merasakan beli gula 1 kilo hanya boleh untuk 1 transaksi pembelanjaan. Gimana mall semua pada tutup, hanya supermaket, apotik yang boleh buka. Meskipun tetap banyak yang harus disyukuri di rumah aja, masih bisa berkumpul dan beribadah jamaah bersama keluarga. Paling yah ngeliatin drama kehidupan dari media sosial. Kadang merengut dengan kebodohan yutuber gak mutu, kadang tertawa melecehkan dengan kelakuan gak penting, bahkan gak habis pikir dengan kesombongan manusia. Tentu saja salut dengan manusia yang masih berjuang, bertahan, dan pantang menyerah. Dibandingkan saat melihat manusia cengeng, lemah, dan melarikan diri lepas dari tanggung jawab karena tidak sanggup dengan hidupnya. Seneng lihat igstory dan postingan temen-temen yang positif. Entah itu masak-masak, jualan, perjuangan ngajarin anak, sampai aktivitas sehari-hari di rumah. Iri (dalam konteks positif) dengan Vietnam yang sudah tidak lockdown dan anak-anak bisa kembali masuk sekolah. Eneg yang sebenar-benarnya karena baik sabang maupun merauke masyarakat seakan gak peduli atau mungkin skeptis menghadapi wabah.

Berusaha mencerna, ada penelitian yang menginformasikan wabah selesai di bulan September, ada yang bilang Oktober, dan seterusnya. Banyak rencana baik yang harus ditunda atau bahkan diubah sedemikian rupa demi kemaslahatan umat karena saat ini jauh dari kondisi normal. Turut prihatin untuk siapapun yang terkena pemutusan hubungan kerja. Allah maha tau yang terbaik, stay positive. Sebetulnya karena alasan itu juga, saya merasa malu kalau mau sambat. Benar-benar harus banyak bersyukur. Seperti nilai moral dari bincang hati ke hati Aa Gym dan Bang Hotman. Bahwa duniawi cukup di tangan, jangan di hati. Itu bener banget. Masih ada fase selanjutnya, karena dunia beneran hanya sekejap. ‘Filsafat hidup’ yang diistilahkan bang Hotman itulah ajaran Islam sesungguhnya.

Ibadah sejatinya memang hubungan manusia dengan Tuhannya kalau kata orang-orang liberal. Gak perlu diumumkan. Tapi di bulan suci ini, tentu jadi pengingat dong. Gimana ibadah jamaah kita? Gimana memperbaiki diri kita? Udah khatam Al.quran belum? Muhasabah dirinya sampai mana? Dan seterusnya. Di kondisi normal aja gak ada kok yang bisa kita sombongin, apalagi hari giniii. Masih bisa hidup layak, sehat, dan cukup aja udah Alhamdulillah banget. Buat yang masih mencela wabah, kayak memaki wabah, contohnya “f**kin covid 19”. Mohon maaf nih, wabah ini ada atas seizin Allah. Artinya situ ngatain Allah? Makanya tolong rada dipake dikit otaknya ya. Cerita dong perjalanan puasa kamu sampe sekarang?

Published by Frany

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: