Ramadhan 2019

Memasuki hari ke-10 puasa Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah puasa Teona semakin stabil. Awal-awal katanya “mau mati.” Saya tanya, mau mati emang gimana rasanya? Katanya, “sakit perut, pusing, laper, haus.” Baiklah, dicatat. Trus setelah buka, saya tanya lagi apakah masih terasa mau mati? Jawabnya, “udah enggak sih.” Jadi intinya energi habis pemirsa. Semakin kesini keluhan semakin berkurang, pada akhirnya waktu yang tersisa diisi dengan tidur, baca buku, menggambar, dan lainnya.

Ngabuburit menggambar
Habis mandi sore, sholat ashar, eh lanjut tidur.

Tantangan lainnya adalah saat tarawih. Ketemu teman sebaya hingga yang lebih kecil. Tantangan ini tidak hanya berlaku untuk Teona tapi ibunya juga. Karena terganggu kekhusyukan ibadahnya, kalau Teona nengok ke saya sambil kasih ‘pandangan mata konfirmasi’ yang tetap berakhir saya cuekin sih. Ya masa mau batalin sholat, selama gak acara nangis, insya Allah lanjut ajalah.

Contoh 1:

Teona sebelahan sama anak perempuan yang lebih kecil sedang sholat sambil ngedot botol susu. Trus anak itu nawarin Teona ngedot dari botol susu dia πŸ˜„ Teona karena gak kenal botol dot, tentu saja menggeleng ke anak tsb tapi trus nengok ke saya. Inti dari nengok konfirmasi itu: aku nolak lho Ibu ditawarin minum dari botol dot anak itu.

Contoh 2:

Sholat tarawih Teona membawa tempat minum bertali warna pink barbie. Ada anak laki-laki baru lancar jalan, mondar-mandir. Dia tertarik dengan tempat minum Teona yang ditaruh di depan sajadah. Anak itu mulai narik-narik tali tempat minum. Teona mulai merasa insecure, nengok ke saya. Inti dari nengok konfirmasi itu: aku gak mau lho Ibu kalo sampe tempat minum aku diambil anak itu. Beruntung anak tsb gak bawa lari tempat minum Teona, karena pasti akan dikejar πŸ˜‚

Gawat ya kan, kekhusyukan saya buyar. Ya Allah, maafin ya. Abis gimana lagi. Huhu. Maghrib tiba, saat berbuka pun Teona udah kayak di restoran, pesan ingin ini dan itu. Keinginannya sebisa mungkin diikuti sebagai reward puasanya. Bersyukur, sahur no drama. Karena saya tekankan, sudah mau SD lho. Anak SD wajib berpuasa, apalagi kalau sudah 7 tahun: sholat dan puasa itu wajib. Nanti ada masanya kalau tidak menjalankan boleh dipukul atau dihukum.

Tidak ada target tertentu sih buat anak. Tapi saya berusaha mengusahakan yang seharusnya dilakukan anak seumur dia, gak ada alasan manjain karena kasihan masih kecil. Selama hal itu masih wajar dan memang ada di syariat Islam. Waktu tidur memang berubah drastis. Namun Alhamdulillah bisa diantisipasi sesuai kemampuan saya. Gimana dengan pengalaman puasa kalian?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

13 thoughts on “Ramadhan 2019

      1. Kami bertiga udah ikut tes stiffin, aku si manusia insting hidup sama 2 manusia feeling meskipun yg 1 introvert yg 1 ekstrovert. Semacam salah bgt gt. Tp kan Allah yg atur ya. Sbg manusia insting amat sgt disarankan lbh mendekatkan diri sama Tuhan krn bad temper nya ini.

        Jd alih2 cari artikel itu, menurutku lebih baik kita tau dulu nih diri kita tipe manusia yg mana. Meskipun solusinya tentu ada di diri sendiri. Mbak Tyke punya support system, aku sejak awal gak ada, skrg2 baru ada & terpaksa ada. Apalagi makin besar, udah mau SD. Blm lg ujian hidup, musibah (atau azab?), dll dst.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s