Kebencian

Mungkin Anda tipe yang tempramen atau emosian seperti saya? Kalau tidak, Alhamdulillah. Kalau iya, kita harus terus berupaya memperbaiki diri. Ini termasuk dalam doa saya setiap hari: “..mohon diberikan kesabaran agar dapat menjadi manusia yang lebih baik..” Terdengar klise ya doa saya, tapi buat saya berarti sekali kalau sampe Allah betul mengijabah. Meski begitu, saya bukan tipe pembenci. Dulu saat kuliah, saya bahkan bingung saat teman SMP yang kebetulan satu jurusan. Memusuhi saya karena saya berteman dengan mahasiswi yang teman SMP itu benci. Padahal teman SMP itu tidak kenal dengan teman saya! Dalam hati, wow banget ya orang bisa dengan mudah benci tanpa mengenalnya dulu. Dagelan, pikir saya. Tapi ya sudahlah, urusan masing-masing. Meskipun saya emosian tapi tidak serta merta saya membenci orang yang saya amuk/damprat/omelin. Seriously. Itu hanya emosi sesaat yang abis itu juga saya bakalan lupa. Watak buruk memang, saya mengakui. Tapi jangan salah, selain punya segudang kekurangan. Salah satu kelebihan saya, banyak sahabat atau teman yang suka dan sering curhat ke saya. Padahal saya bukan pemberi saran yang baik. Jadi kenapa mereka suka? Karena saya pendengar yang baik dan setelahnya bahkan saya akan lupa atau pasti tidak ingat dengan persis apa sih curhatan mereka. Jadi hanya sesaat aja pahamnya. LOL.

Terdengar saya seperti mengalami penyakit kejiwaan ya. Saya memang berencana mendatangi dokter kejiwaan sebelum akhirnya saya mencoba tes stiffin *buka promo / endorse. Entah ya, menurut saya setelah kami bertiga coba. Hasilnya memang ‘masuk’ ke karakter, watak, dan kenyataan yang ada di kami. Jangan juga dipikir dengan sudah tes, trus bebas dari masalah. Ya gak mungkinlah ya, orang hidup mah pasti ada masalah. Jadi gimana solusinya? Terus berusaha berpasrah diri sama Allah swt. Sulit pasti, tapi memang hanya itu yang bisa dilakukan. Nah, pendorong terkuat saya untuk berubah adalah anak! Luar biasa, karena anak saya semakin besar, semakin kritis, dan semakin cerdas juga bijak. Dua terakhir menyadarkan saya, kalau saya kalah lho dari dia. Saya yang udah tua ini kalah dari anak TK. Karena malu dan tentu saja masalah lain. Jadi saya memang harus berubah. Pun saya yang bukan tipe yang kalem, otomatis bukan tipe wanita yang lemah lembut. Meskipun yang saya bilang suatu hal yang betul, akan lebih baik bila disampaikan dengan lembut *asli pe er banget.

Apakah semudah itu menghapus kebencian? Jawabannya kembali ke diri kita. Apa untungnya membenci? Apa manfaat memelihara kebencian? Apa Anda puas dengan kebencian yang dimiliki? Bila karena kebencian mengalahkan / mengorbankan rasa sayang. Bukankah itu menjadi mudharat dan dzalim??? Percuma dong ibadah jungkir balik kalau ternyata sedangkal itu *ups. Gak berhak menilai ibadah orang tapi yho opo tho?! Kembali lagi ke hati nurani sih, baik untuk yang memelihara kebencian dan pihak yang mendukung kebencian tersebut semakin tumbuh subur. Kelak semua ada pertanggungjawabannya. Begitu pun watak dan perilaku buruk saya. Mudah-mudahan Allah kasih kesadaran, perasaan, iman, dan takwa pada saya agar menjauhi kebencian pada siapapun. Doa yang sama untuk kalian semua 🙂

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

8 thoughts on “Kebencian

  1. bener bu,, manggilnya ibu atau mbak ya? iya saya setuju, sebenarnya menurut teori saya kebencian muncul karena ada rasa dengki/iri…sudah dijelaskan dalam surat AL-FALAQ bu supaya kita bisa jauh dari sifat buruk ini, salah satunya adalah dengan memperbanyak bersyukur dan berzikir tiap waktunya. Tambahan lagi ternyata ada tips supaya kita bisa terhindar dari bahaya ini, yakni setiap fajar usahakan membaca alquran dan berizikir, karena ada malaikat yang menjadi saksi bisu atas doa kita, selain itu jadikan malam hari sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, ibadah tidak hanya soal shalat dan baca alquran bu (hehe maaf masih ibu) tapi lebih dari itu, bisa dengan melayani suami dan mengajarkan PR anak…begitu pemikiran saya bu….

    Liked by 1 person

  2. Memelihara kebencian hanya merusak diri sendiri. Yg dibenci belum tentu ngerasain. Jd ingat muslim di NZ yg istrinya dibunuh dan memaafkan pelaku (tp hukum tetap berjalan). Inspiring.

    Like

  3. Sama Franny aku dulu juga emosian orangnya🙈 tapi cepet lupa jugak. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur, meski masih tetap belajar, esmosi jiwa agak2 berkurang sih. Kalau hate, hate is a strong word, jadi untuk aku bisa hate sama seseorang or sesuatu, sepertinya ga sering sih, 😜 tapi sakit hati, dislike, dan feel betrayed itu aku pernah mengalami

    Like

    1. Toss, mbak Ria 👐 bukan bangga, tapi merasa ada orang lain merasa hal yang sama. Berarti saya gak gila dalam arti sebenarnya. Hehe.
      Bertambah usia pasti berpengaruh sama emosi jiwa kayaknya itu alami ya.
      Sepertinya memang benci itu pada akhirnya mesti kita yang kondisikan mau sebenci apa sama orang / suatu hal. Karena kan jadi penyakit hati, lalu apa efek positif/negatif, dan yg utama apa manfaatnya utk diri kita dari memelihara kebencian itu. Kalau banyak negatifnya, ya buat apa dipelihara. Mungkin tepatnya kebencian yang membabi buta atau kebencian yg dibuat menjadi parah.

      Liked by 1 person

      1. Iya betul, membenci orang ga ada manfaatnya buat diri kita. Easy to say sih but we are still learning and improving ourselves👌🏻 Kalau aku sekarang sistimnya yang waras ngalah🤪🤪😝

        Like

      2. Yang waras ngalah tapi terdzalimi alias teraniaya lahir batin, Mbak. Jadi mesti ngotot deh. Hehe.
        Menurutku asal hati nurani & akal sehat masih ada meskipun secuil. Bisa mengalahkan kebencian sebesar apapun 😇

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s