Hari Ayah 2018

Hallo, gimana libur sehari kemarin? Atau ada yang bablas Senin-nya pas harpitnas cuti. Kami sih tetap Senin masuk dan kemarin libur buat belanja bulanan. Sirik ih sama yang bablas liburan long wiken kemarin atau malah jangan-jangan baru berangkat liburan hari ini *superrr iri. Seperti tahun lalu, sekolah Teona mengadakan acara peringatan hari Ayah. Undangan handmade by Teona udah sampe ke tangan bapake beberapa hari sebelum 12 November 2018. Sama juga seperti tahun lalu, acaranya senam bareng lanjut lomba bareng Ayah. Yang mana ibu-ibunya ‘disisihkan’ demi quality time bareng Ayah. Jadi tak banyak dokumentasi pribadi yang saya dapat. Hingga saat menyusun nasi kuning dan lauk berdua Ayah anak. Trus performace anak dan performance Ayah barulah ibu-ibu diizinkan nonton. Teona performance, nyanyi bareng teman-teman muslimah, “I love you, daddy.” Yang mana itu lagu dia hafal dan nempel banget di otaknya. Trus terpilih baca puisi juga dia. Bapaknya Teona dan kelompoknya beraksi dengan dancing Ayah trus dancing sama Anak. Judul lagu ne lali, poko’e lagu pinguin gitu lah. Haha. Terakhir kasih kartu buatan sendiri buat Ayah. So sweet.

Lomba para Ayah
Menata nasi kuning dan lauk pauk bersama Ayah

Alih-alih nyontek budaya barat dengan father’s day nya. Ini sih ngimbangin karena bulan depan ada hari ibu gak sih?! Hehe. Bukan nyontek plek ketiplek budayanya ya. Makna dan tujuannya kalau menurut saya beda. Karena sebelum acara selesai, ada drama teatrikal dari para guru tentang Ayah. Cerita dari 3 orang anak kecil yang melakukan aktivitas dan didikan Ayah mulai dari sholat berjamaah, ngaji bareng, olahraga bareng. Lanjut hingga anak-anak dewasa dan berakhir Ayahnya meninggal dunia. Meskipun bisa juga anak yang meninggal terlebih dahulu sebelum Ayah. Beda banget kan sama budaya father’s day. Apakah hari Ayah lebih baik dari budaya father’s day? Balik lagi ke prinsip dan kepercayaan masing-masing kali ya. Kalo saya sih yang penting sesuai syariat agama aja. Kalo liberal kan saya gak ikutan.

Dancing with Ayah
Teona dan bapak
Menyanyikan lagu “I ❤ you, Daddy”
Drama guru, bermain bersama Ayah.
Peluk Ayah masing-masing 😍
Drama guru, ketika Ayah tiada.

Kenapa baru sekarang ada hari Ayah? Biar seimbang karena bulan depan hari Ibu mungkin ya. Dibawa santai aja, ini kan acara anak TK yang berbasis agama. Poinnya mengajarkan bagaimana menyayangi dan menghormati Ayah dalam agama saya. Gimana di kala menikmati waktu bersama Ayah hingga Ayah telah meninggal dunia. Anak yang memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga menguburkan. Kaga ada urusannya sama budaya-budaya an. Lagian kapan lagi liat para Ayah beraksi di depan anak-anak. Satu lagi poin pentingnya, sampai akhir hayat jasa Ayah pasti memegang peranan penting dan menyentuh hati kita terdalam. Bukan hanya Ayah jadi cinta pertama untuk anaknya seperti istilah barat. Kalau di budaya timur menjadi imam/pemimpin dan teladan bagi anak-anaknya dalam konteks agama apapun. Saya meyakini itu karena melihat sendiri sejak kecil hingga sekarang di keseharian. Mau suku dan agama apapun peran Ayah tidak kalah besar dengan peran ibu. Kamu punya pendapat soal hari Ayah?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

10 thoughts on “Hari Ayah 2018

  1. met hair ayah yaaa… teona yang digendong sama papanya, kliatan deh kalau miriiip banget ❤️ btw kesetaraan juga kali ya buat bapak-bapak ada hari ayahnya. kalau di jerman hari ayah ini gak seperti hari ibu agak-agak gitu deh jadi ajang acara piknik bareng minum-minum kaum pria *mengerikan* jadi gak patut dicontoh.

    Like

    1. Terima kasih mbak Kayka 🙏
      Aduhh itu dia fotokopi bapaknya bangeett.

      Betul, kesetaraan. Hihi.
      Ternyata hari Ayah di Barat begitu ya, mbak. Kalau di sekolah Teona agak takjub juga sih sampe ada drama mengkafani Ayah. Tapi itu kenyataan ya. Huhu. Jadi sedih.

      Like

      1. ❤️ peluk untuk teona yaaa…

        kalau di tempat lain kurang tau ya fran. tapi ya gitu deh hari khusus pria gitu gak tua gak muda, apalagi kalau gak minum-minum.

        wah drama mengkafani? gak terlalu dini kah fran? yup tapi itulah kenyataan di dalam hidup ya, cepat atau lambat 🙏🏻

        Like

      2. Peluk kembali untuk Tante Kayka ❤❤❤

        Boneka gitu sudah dikafani. Diajari kalau Ayah gak selamanya bisa nemenin anak-anak. Ada masa ketika usianya habis di dunia, jadi anak-anak hormat ke Ayah. Praktek mengkafaninya kalau tidak salah nanti pas SD. Terima kasih, mbak Kayka 🙏🙏

        Liked by 1 person

  2. Kayaknya baru2 aja ya di Indonesia gencar tentang hari ayah. Aku malah ngehnya tahun ini. Entah tahun kemaren ga ingat apakah sudah ramai hari ayah di Indonesia. Yang aku pahami dan rasakan selama di Belanda, ga ada jelek2nya sama sekali (maksudnya tidak seperti yang tersirat kamu tulis bahwa hari ayah di budaya barat nampaknya kok tidak terlalu bagus). Malah ajang buat kumpul keluarga, sama dengan hari Ibu. Aku ga mau menggeneralisir karena beda negara beda yg dilakukan saat hari ayah atau Ibu. Di keluarga kami, sama kayak semua keluarga di Belanda (karena hari Ayah dan Ibu di Belanda sudah jadi tradisi, bukan lagi tentang budaya) yang dilakukan saat hari ayah atau Ibu : pagi seluruh anggota keluarga mengucapkan hari ayah atau Ibu, membuatkan sarapan, memberikan hadiah misalkan coklat atau bunga. Siangnya berkunjung ke Oma dan Opa untuk kumpul keluarga. Sudah, begitu saja. Malah jadi hari yang menyenangkan karena kumpul keluarga. Tidak semua budaya barat itu seperti yang umum digambarkan di TV, dikasih lihat yg bebas2nya saja. Banyak yang bisa diambil baiknya, asal bisa membuka hati dan pikiran bahwa tak seagamapun tetap bisa membawa kebaikan. Hari Ibu di Belanda dirayakan setiap hari minggu, minggu ke dua bulan Mei. Hari Ayah dirayakan setiap hari minggu, minggu kedua bulan Juni.

    Like

    1. Barat mayoritas non muslim, sehingga tradisi yang ada umumnya tidak bernilai syariat/ibadah muslim *ya iyalah. Meskipun saya tidak menafikan non muslim pun banyak yang menjunjung tinggi dan menanamkan nilai Islam seperti kejujuran, keikhlasan, ketulusan, dll. “Tidak seagama bisa membawa kebaikan” sudah pasti dong. Namun untuk saya yang masih miskin ilmu Agama, akan lebih bermanfaat berteman dengan orang-orang yang bisa saya teladani. Tentu gak juga memusuhi yang liberal, paling jaga jarak. Barat pun lebih bebas karena negara-negaranya tidak selalu mayoritas beragama tertentu.

      Alhamdulillah tradisi hari Ayah di keluarga mbak Deny hangat dan manis. Ternyata hari Ayah dan hari Ibu pun berbeda peringatannya di masing-masing negara ya. Nice info, mbak 👍

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s