Pola pendidikan yang keliru

Kenapa keliru malah dibikin post? Biar kebodohan saya tidak dialami orang tua lain di luar sana. Itulah susahnya gak ada mata pelajaran, mata kuliah, atau bahkan fit and proper test untuk jadi orang tua yang baik dan benar. Huhu. Semua serba relatif dan situasional. Gak perlu baku juga tapi perkembangan zaman dan ajaran agama yang tidak seiring sejalan. Membuat menjadi orang tua itu suatu tantangan tersendiri. Sering saya bilang dalam pola pengasuhan saya dan suami trial and error gak karuan. Karena kami belum pernah jadi orang tua sebelumnya. Bukan alasan sebenarnya, memang menjadi orang tua itu proses belajar. Tidak bisa hanya baca buku atau literatur. Pengalaman orang tua kita atau bahkan teman yang sudah jadi orang tua lebih dulu. Lha wong anaknya beda, sikonnya beda, yang jadi orang tua-nya pun beda. Meskipun masalahnya sama tapi penanganan di kenyataan yang kita hadapi gak seindah saran dari dokter atau psikolog di majalah wanita. Asliiik beda buangeettt.

Pola pengasuhan selain berdua, ada masa-nya sendiri. Saat siang ke sore, saya sendiri mengasuh. Jadilah selain recalling yang diajarkan di sekolah. Saya ajarkan yang saya bisa, paling tidak saya paham dan bisa nih ngajarin dikit-dikit. Contohnya : belajar Iqra. Iqra merupakan pengenalan huruf hijaiyah, dasar sebelum pada akhirnya bisa membaca Al.Quran. Duluuu, saya ikut Taman Pendidikan Al. Quran (TPA) di komplek orang tua. Saya sudah trial di TPA dekat sini, tapi penilaian saya amat kurang memuaskan. Private ngaji pun belum, karena saya merasa kalau Iqra mah insya Allah bisa deh. Saat rapat bulanan kemarin, disounding kalau pola pendidikan tidak lagi iqra, so old school. Saya bengong. Jadi gimana pola pendidikan pengenalan huruf hijaiyahnya? Menggunakan metode TILAWATI *brb googling. Trus diperkenalkan dan orang tua diajari. Bila normalnya dari perkenalan awal huruf, masuk iqra 1 sampai selesai iqra 6 dulu bisa sampai 6 tahun. Melalui metode tilawati ini hanya 2 tahun saja. Wow, luar biasa keren.

Awalnya perkenalan dengan kartu huruf hijaiyah, Teona sudah beres itu di usia 3 tahun. Ada buku jilid 1 (gabungan iqra 1 dan 2) dan jilid 2 (gabungan iqra 3 – 6). Kemudian ada alat peraga. Metode ini saya benar – benar baru tahu. Jadi saya mesti belajar agar bisa ngajarin lagi ke anak saya. Harapannya agar bisa linear dengan yang diajarkan di sekolah. Tidak hanya saya yang keliru mengajarkan iqra di zaman sekarang, namun tetap yang keliru ya mesti segera diperbaiki dong. Untuk tajwid sendiri diperkenalkan namun belum yang complicated. Misal mad thabi’i diperkenalkan ke anak panjang 2 ketuk. Iyalah, anak masih susah juga mencerna dan memahaminya. Nanti saat SD pun mungkin baru bisa mulai yang agak susah tajwid dan lainnya. Tajwid itu ibaratnya grammar. Bedanya grammar kan hanya untuk writing, listening, and conversation semata. Kalau tajwid fungsi utamanya menjadi rambu – rambu saat membaca kitab suci Al. Quran yang insya Allah dunia akhirat. Soal penting gak penting, dikembalikan lagi ke orang tua. Karena menjadi orang tua kita gak akan pernah siap meskipun sudah dipersiapkan sebaik mungkin sebelumnya. Samalah kayak kematian, mau dipersiapkan kayak apa juga kita gak akan pernah siap. Proses kehidupan, kalau keliru ya wajar. Asal jangan kebablasan dan keblinger. Kamu pernah lihat atau nengalami sendiri kekeliruan dalam pola pendidikan anak?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

6 thoughts on “Pola pendidikan yang keliru

    1. Dari yang aku tangkap : sekolah mengajarkan A, orang tua di rumah recallingnya juga A. Aku pun karena baru tau, meskipun salah metode tapi trus cepet2 jelasin ke anak kalau konsepnya sama (pengenalan baca huruf hijaiyah) namun cara belajarnya yang beda. Yang penting gak menyimpang jauh dari yang diajarkan di sekolah.

      Intinya mau kita sekolahin anak di sekolah terbagus, termahal, tersuper sekalipun. Peran orang tua tetap penting. Gak bisa anak dilepas atau didelegasikan pendidikannya ke orang lain. Artinya kita mesti bener ngajarinnya. Kalo boleh mengulang, pas kuliah ada jurusan “parenting islami” pasti aku ambil jurusan itu. Hihi.

      Liked by 1 person

  1. Kalau aku utk anak TK yg penting kenal huruf aja dulu dan nada a-i-u…sama hafalan yg benar…baca tulis arab diperlakukan sama seperti calistung baru 7 tahun dikenalkan. Nggak terlalu berminat lomba2an anak sdh khatam Quran usia TK…yg penting anaknya suka dan nggak tertekan. Buat apa jago hafalan dan bacaan saat kecil tapi pas gedenya ditinggalin karena nggak rasain nikmatnya. Just my two cents.

    Like

    1. Masing2 ortu punya hal yang diutamakan. Usia 7 thn tentu ada lagi hal yang sudah wajib dilakukan. Saya setuju yang penting suka dan tidak tertekan. Khatam belum ditargetkan, mengalir saja. Intinya, kalo buat Kami Agama dasar, utama, dan gak bisa untuk disalahgunakan. Based on ortu saya ngajarin saya, yang baik saya geber ke anak, yang menurut saya kurang atau sudah tidak compatible dengan perkembangan jaman ya gak diikuti. Ortu pasti tau yang terbaik untuk anaknya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s