Etika dan kepantasan mencari uang

Dilatarbelakangi dari beberapa kejadian yang menyayat hati memprihatinkan. Jadi saya diskusi panjang lebar dengan bapaknya Teona dan muncullah beberapa pendapat. Mencari uang (nafkah) tentu menjadi hal wajib, terutama bagi kepala keluarga. Ada juga kan yang pencari nafkahnya si ibu seperti serial Doc Mc’stuffin. Tentu gak ada masalah, menjadi masalah bila cara mencari uang yang bikin geleng – geleng kepala. Berbeda dengan SARA, maka saya tekankan etika dan kepantasan. Ada etikanya lho dan pantas gak begitu?! Tapi ini uang, demi keluarga. Paham sekali, tetap saja Tuhan sudah menyediakan ladang ibadah yang insya Allah menjadikan rezeki yang barokah. Beberapa di antaranya :

1. Mengindahkan kaidah halal haram. Ini berat dan sanksinya mutlak. Bukan hanya soal nominal uangnya tapi berkah gak?

Mencari nafkah yang halal lebih sulit dibanding yang haram

Itu dia tantangannya! Seberapa iman kita, apa kita tetap tawakal atau malah menjerumuskan diri? Wallahuallam. Contoh sederhana : menjual kembali dengan keuntungan dua kali lipat. Wow, menggoda bukan, tapi yang begitu tidak halal. Kembali ke manusianya.

2. Bila kita memiliki aset yang disewakan tapi tidak memenuhi kewajiban yang seharusnya dibayar pemilik. Kecuali sudah ada di perjanjian sebelumnya. Bila ada kesilapan di perjanjian, alih – alih tidak mau tahu. Lebih bijak membicarakannya, apakah akan dibagi dua, atau solusi yang tidak memberatkan kedua belah pihak. Hal yang saya maksud di sini pajak tahunan dari si wajib pajak.

3. Di area Kantor saya, bila mengantar atau menjemput meskipun tidak parkir. Mau hanya semenit pun, dikenakan biaya parkir satu jam. Cari duit sampe begitu amat ya. Hehe. Sejuta umat yang complain, belum ada pergerakan berarti dari pemilik perusahaan parkir. Jadi etis dan pantas gak seperti itu??

Mungkin masih banyak contoh lain yang tidak etis dan tidak pantas. Pun kalau Anda tidak mengerti kaidah halal haram, paling tidak mengerti dong soal etis dan pantas? Jangan karena merasa benar jadi mendzalimi orang lain. Lebih baik sedikit tapi dicukupkan dibanding banyak tapi gak berkah. Saya bukan financial planner, hanya prihatin dengan kejadian yang saya lihat sehari – hari. Kamu punya cerita yang tidak etis atau tidak pantas lainnya?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s