Social climber

Saya bukan termasuk yang rajin menyimak acara talkshow, tapi topiknya menarik nih untuk disimak. Talkshow di salah satu televisi swasta ini, dipandu dr. Lula Kamal, dr. Boyke Dian Nugraha, dengan narasumber dr. Diana Papayungan (spesialis kejiwaan). Social climber merupakan istilah bagi individual yang membutuhkan pengakuan sosial yang lebih tinggi dari kondisi sosial yang sebenarnya. Hal ini menjadi semakin parah bila menjadi penyimpangan. Penyimpangan meskipun belum berat tetap membawa dampak negatif bagi keluarga dan orang sekitar *intinya tetep aja ngerepotin. Di antaranya :

1. Mengada – adakan (menjadi negatif), misal aslinya gaya hidupnya biasa aja atau pas – pas an. Tapi karena satu dan lain sebab jadi harus beralih ke kehidupan jet set padahal gak mampu.

2. Identitasnya tidak terlalu ditampilkan. Biasanya salah satu ciri social climber, gak ketauan asal usul, latar belakang keluarga, latar belakang Pendidikan, pekerjaan tidak terlalu ditampilkan.

3. Biasanya orangnya biasa – biasa saja. Datang dari latar belakang yang biasa saja lalu berubah mewah. Berbeda bila dari lahir sudah ‘sendok emas’ alias kaya dari lahir. Atau berangkat dari keluarga yang struggle atau saklek. Orang kayak gini ‘cepet kebaca’ nya sih.

4. Biasanya apa yang diomongin benar tapi ternyata tidak sesuai kenyataan.

Keyakinan tidak benar yang dia yakini benar.

Rada horor ya, tapi nyata adanya. Jatuhnya semacam bluffing gitu ya. Orang tipe begini paling cepet saya tinggal pergi karena gerah telinga nanggepinnya.

5. Kebanyakan di masyarakat secara umum, bukan hanya di sekolah, kampus, atau kantor. Artinya mau tetangga, temen arisan, temen nongkrong, temen satu komunitas, dan lainnya.

Perlunya edukasi kesehatan jiwa baik dari eksternal maupun internal amat sangat dibutuhkan. Di talkshow tersebut disarankan internal keluarga inti terlebih dahulu baru ke dokter spesialis kejiwaan. Kalau saya boleh menambahkan, ke ustadz / ustadzah dengan latar belakang pendidikannya baik dan kompeten bisa juga dibantu. Meskipun yang begini jarang yang mengakui, kecuali keluarga atau sahabat dekat yang menyarankan si social climber itu berobat atau memeriksakan dirinya.

Melajang pun bisa menjadi faktor pemicu seseorang menjadi social climber. Kembali lagi ke niat dan tujuan manusia tersebut. Duhh, amit – amit ya. Di otak saya itu melajang = mengukir prestasi dibanding pacaran sana sini, flirting gak jelas, hubungan bebas, dan semacamnya. Gak manfaat banget dan tentu saja lebih banyak mudharatnya. Berikut masukan yang disarankan untuk menghindari jadi social climber :

1. Jadi diri sendiri, ini hukumnya wajib lah ya. Ngeri amat jadi diri orang lain, freak abis.

2. Berpikir positif / positive vibes / hudznuzon. Ini juga wajib dan bagus banget. Setuju!

3. Cari lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Nahh, ini juga penting. Daripada gak bisa ngimbangin trus pelampiasan jadi social climber, selamatkan diri sedini mungkin lebih bijak rasanya. Misal pindah sekolah / kuliah, berhenti dari pekerjaan tersebut, atau meninggalkan teman / lingkungan / komunitas tersebut.

4. Berpikir jernih, apakah butuh dampingan professional. Hari gini gak jadi tabu kok. Zaman udah berubah, mesti sayangi diri fisik dan mental. Konsultasi ke dokter spesialis jiwa bukan berarti Anda gila.

Secara keseluruhan sih saya setuju sekali dengan pembahasan ketiga dokter tersebut. Hari gini kalo gak pinter jaga diri, ngeri banget. Rasanya gak hanya dunia selebritas, manusia pada umumnya mau di kota atau daerah juga rentan kok. Kalo saya kebetulan punya beberapa sahabat dekat yang siap nyakar kalo di antara kita betingkah dan susah diingetin alias berubah ke negatif seperti sombong misalnya. Termasuk salah satunya yang memang berlatar belakang dokter yang bakal dengan senang hati nyeret saya ke dokter spesialis kesehatan jiwa (SpKJ) kalo (amit-amit) saya begini. Hihi. Kamu punya teman yang social climber?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

9 thoughts on “Social climber

      1. Udah diobrak-abrik sama blogger lainnya, hahaha. Ntahlah klo lantas dia reborn sbg blogger dgn nama lain& jd social climber penipu di circle lain

    1. Karena di TV bahasanya jadi dijaga sopan santunnya. Kalo bahasa aku : “kere munggah bale” alias kere naik kelas. Itu di mana pun pasti ada, Mbak Ria. Gak ada yang salah dengan ‘naik kelas’, yang salah karena jadi norak. Namun tidak didukung dengan tingkat Pendidikan maupun intelektualitas yang mumpuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s