Hidung

Gak akan bahas tentang mancung atau pesek ya, kuno banget ngebahas itu. Justru mau ngebahas hidung manusia sungguh hebat *kuasa Allah tentunya. Post ini sebenarnya terinspirasi dari 3 poin di bawah ini sih. Gak ada pesan sponsor paling hanya nyinyir semata 😅

1. Salim (cium tangan). Saya sering memperhatikan generasi milenial di keluarga besar saya, kalo salim itu gak cium tangan dengan hidung mereka. Melainkan pake pipi atau kening samping . Hmmm, gini ya. Hampir 33 tahun saya cium tangan pake hidung, sesuai ajaran orang tua saya. Alhamdulillah hidung sampai paru – paru saya sehat wal afiat. Meskipun tentu saja saat salim, tangan yang saya cium tak selalu wangi. Tapi kan tanda hormat muslim ke muslim yang lebih tua. Fenomena salim saat ini sungguh menyedihkan kalau menurut saya. Tapi kembali lagi ke didikan dari orang tuanya sih.

2. Sujud / posisi bersujud. Posisi yang kita lakukan minimal 34 kali sehari (sholat 5 waktu). Bila sholat di rumah / mushola / masjid lazim menggunakan sajadah sebagai alas sholat. Saat melakukan ibadah umroh, utamanya di Masjidil Haram. Selesai melaksanakan thawaf (mengelilingi Ka’bah). Disunnahkan melakukan sholat sunnah 2 kali atau jika kita beruntung bisa sholat sunnah 2 rakaat di hijr Ismail. Kadang tidak sempat menggelar sajadah (pengalaman pribadi saya). Jadi kita langsung ambil posisi sholat, selesai sholat pun biasanya kita segera diminta laskar (sebutan untuk penjaga Masjidil Haram dan masjid Nabawi) untuk minggir agar dapat bergantian dengan jamaah lain. Bila di dalam masjid Nabawi masih ada sajadah termasuk di Raudhah (makam Rasulullah), ditertibkan oleh laskar wanita bercadar hitam. Namun di Masjidil Haram, yang saya lihat laskarnya pria semua. Jadi sujud tanpa sajadah pun entah berapa kali dilakukan. Yang mana lantai marmer tebal tersebut telah dipijak jutaan muslim. Meskipun kerbersihan area tersebut insya Allah terjamin, karena petugas kebersihan saya perhatikan seperti tanpa henti membersihkan Rumah Allah tersebut. Alhamdulillah sujud tanpa sajadah pun gak ada masalah asal niatnya ibadah.

3. Penciuman wangi ataupun bau, kondisi lega atau sesak. Ketika mudik kemarin, saya membantu membuat bara api dari kayu bakar atau tempurung kelapa. Tidak mudah dan asapnya tidak hanya sesak ketika terhirup juga pedih di mata. Ataupun bila kita sesekali lewat pemukiman dekat tempat pembuangan akhir yang baunya luar biasa (bagi saya). Namun anak – anak lingkungan itu asyik bermain. Begitu pun bila berdiri dekat kandang hewan, minta ampun. Saat ke pasar masuk ke bagian ikan, ayam, dan daging. Juga bila merawat manula yang perlu bantuan membersihkan diri (kotorannya), karena tidak lagi bisa membersihkan diri disebabkan sakit. Bila tidak biasa, tentu saja mengganggu penciuman. Namun apakah kemudian hidung kita jadi sakit atau indera penciuman jadi rusak? Tentu tidak.

Apa sih sebenarnya yang ditakutkan karena ketidaksterilan yang toh tidak terus – menerus selama 24 jam non stop??? Gak ada! Kadang kitanya aja yang lebay. Kalau saya justru prihatin teramat sangat bila tiga hal di atas menjadi KENDALA. Karena segala sesuatu apalagi yang bernilai ibadah, masa sih mau dinilai dengan penilaian dari sudut pandang manusia?! Apalagi manusia gak ada yang sempurna, yang sok sempurna banyak! Jadi hidung kamu se-steril apa?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

2 thoughts on “Hidung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s