Warna – warni Ramadhan

Gak terasa Ramadhan sebentar lagi berakhir. Ada kesenangan, kelucuan, bahkan kesedihan yang saya rasakan. Kesenangannya ada di post ini, ini, dan ini. Manusiawi menurutku kalo ada bete atau sedihnya secara hidup naik turun, enak gak enak, manis pahit, dan seterusnya. Biasalah. Tapi kalo pas melow ya gitu deh. Hehe. Untungnya, bete atau sedih sewajarnya, gak lebay sampe mengganggu suasana hati sehari – hari. Kelucuan dan kesedihan yang saya rasakan :

  1. Bapaknya Teona dinas dadakan dan lama. Kalo kemarin – kemarin saya masih rajin bantu siapin ini itu. Kali ini boro – boro. Tuker uang aja di hari H sorenya berangkat -_- Trus kalo biasanya lumayan sering kontak, ini jarang banget macem diisolasi. Selain karena perbedaan waktu juga sih.
  2. Tarawih 23 rakaat. Selama 25 tahun di masjid komplek rumah ortu terbiasa 11 rakaat, terdiri dari 8 rakaat sholat tarawih @ 4 rakaat dan 3 rakaat sholat witir. Sementara Masjid dan musola di dekat tempat tinggal saya semua menganut 23 rakaat *tepok jidat. Bukan masalah banyak rakaatnya. Beberapa kali saya ikut si 23 rakaat ini, bacaan Al. Fatihah nya kayak sekali tarikan nafas macem ijab kabul. Bacaan panjang pendeknya diterabas begitupun surat pendeknya *dohhh! Saya gak sreg!!! Selama hampir 6 tahun ini, saya tarawih bareng suami di mushola tempat tinggal kami. Rasa gak sreg nya saya ibarat perdebatan kaum Islam fanatik VS kaum Islam liberal dan kaum hijrah VS kaum moderat. Alot dan gak akan pernah sepaham. Saya menghormati yang pro 23 rakaat, monggo kerso. Tapi saya tetap berpegang yang 11 rakaat.
  3. Rencana halal bihalal keluarga besar kedua orang tua yang diselenggarakan di Jawa Tengah, tepatnya Klaten dan Magelang. Tiap kali bukber keluarga, selalu ada pembahasan acara halal bihalal yang saya gak bisa hadiri karena saya mudik ke Padang! *cryingsuperload. Memang ada perbedaan yang cukup signifikan *ya iyalahhh. Di lubuk hati terdalam, tentu saya pengeeennn banget bisa ikutan halal bihalal keluarga Bapak dan ibu saya seperti saat belum nikah dulu. Seluruh keluarga besar pun menyayangkan namun ya mereka menghargai. Poin utamanya : saya gak bisa hidup tanpa keluarga besar saya.
  4. Alhamdulillah gak hanya ibadah puasa, ibadah sholat tarawih pun Teona antusias. Ketika pulang ke rumah orang tua, saya ataupun adik perempuan sering ajak Teona tarawih. Suatu ketika, Teona bersebelahan dengan batita bergamis muslim tapi sedang minum botol dot posisi duduk dan berdiri (ganti – ganti). Saat Teona sedang sholat, sikap berdiri. Batita tersebut melepas botol dot nya dan menyodorkan botol dot nya ke Teona. Seperti : “kamu mau susu aku gak, Kak?” Teona pun yang disodori botol dot pun menggeleng. Utamanya karena Teona gak kenal botol dot, dia sendiri aja gak pernah pakai gimana ditawarin botol dot anak lain 😅
  5. Gimana sih membangunkan sahur anak yang baru belajar sahur? Alhamdulillah karena sekarang sebagai orang tua, pola asuh saya semakin matang dan percaya diri. Karena sudah ikut. Jadi saya sudah tau tips dan trik – nya memaksa secara halus dan tega(s). Mengingat Teona sudah 5 tahun, kewajiban ibadah sholat, puasa, mengaji dan lainnya mutlak dijalankan di usia 7 tahun. Jadi 2 tahun ini mesti ‘digembleng’ agar terbiasa dan gak manja. Alhamdulillah Teona bisa diajak qana’ah dan istiqomah 😘

Jadi gimana solusinya? Nomor 1, bapaknya Teona tentunya udah pulang! Yeayy. Nomor 2, karena bapaknya Teona udah pulang, kami bisa sholat tarawih sendiri. Nomor 3, yah saya sih mikirnya : “gak akan selamanya begini kok, sabar aja. Gusti Allah mboten sare.” Bijaksana ya kann 😎 Insya Allah kalo dijalani dengan sabar dan ikhlas akan ada hikmah terindah. Aamiin. Nomor 4 dan 5, masih terus belajar dan diperbaiki agar sesuai syariat dan istiqomah. Begitu pun ujian di bulan Ramadhan ini sungguh luarrr biasa. Insya Allah jadi penggugur dosa saya. Aamiin. Gak terasa besok puasa terakhir, selamat menyambut malam takbiran. Semoga kita masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan berikut – berikutnya. Selamat mudik dan berkumpul bersama keluarga tercinta ❤

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Warna – warni Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s