Menanamkan ibadah kepada anak dengan menyenangkan

Dalam rangka mengisi libur tanggal merah dengan berfaedah • mumpung lagi balik ke rumah ortu jadi bisa nitip Teona bentaran • agar kewarasan tetap terjaga maksimal. Poin terakhir paling penting, karena ibu yang waras jauuhh lebih dibutuhkan daripada ibu yang kalem tapi cuek. Oke, segerakan prelude – nya. Alhamdulillah Karena memang sudah rezeki saya, biar kata waiting list, dapet juga seat nya. Akibat saya telat ngeh pengumumannya di wagrup -_- Trus pas daftar ndilalah udah masuk antrian, udah pasrah karena mosok sih tanggal merah ada yang cancel. Ehh ada dong. Yeayy. Saya antusias dateng ke acara ini, bukan karena haus ilmu parenting islami namun juga menjaga kewarasan saya. Semakin kesini, saya butuh ini lho demi bisa tetap waras dan istiqomah. Acara sebelumnya ada di sini.

Apaan sih parentang parenting? Intinya begini, pola asuh orang tua kita dulu tidak 100% benar (ada yang keliru) dan compatible untuk diterapkan di jaman sekarang. Dulu punya anak banyak tanpa babysitter atau ART asik2 aja, less stress. Dulu belum ada war – war an kayak sekarang. Dulu belum ada predator beredar. Dulu hingga orba Indonesia masih liberal, Alhamdulillah meskipun bukan negara Islam tapi sebagai negara mayoritas muslim, semakin banyak yang berhijrah. Trus perkembangan dan pergaulan anak jaman sekarang mengerikan. Nah ini yang bikin saya butuh pegangan dan melakukannya secara berjamaah. Saya mau berbagi kesimpulan dari acara “Menanamkan ibadah kepada anak dengan menyenangkan.”

Kita akan rajin ibadah bila punya iman. Muliakan anak (menaklukan hatinya, tubuhnya, jiwanya) melalui kasih sayang dan mengajarkan ADAB (perilakunya). Maka anak tersebut akan menjadi hadiah, kegembiraan untuk hidup kita.

Abah Ihsan mengulang Pekerjaan Rumah (PR) orang tua.

  1. Sediakan waktu 18.00 – 21.00 dan mulai usia 10 tahun melakukan private time.
  2. Bebaskan hidup anak selama tidak berlebihan dan berbahaya.
  3. Kalau anak sudah berlebihan, beri batas dan konsekuensi yang jelas.

Contoh : 10 tahun yang lalu TV menjadi masalah, sekarang ada yang lebih parah untuk anak kita : internet. Maka sebelum usia 17 tahun, anak perlu 3 D : dibutuhkan, didampingi, dan dipinjamkan. Sebelum usia 17 tahun orientasinya bukan baik atau buruk tapi senang atau tidak senang. Mungkinkah anak sebelum 17 tahun matang? Mungkin, bila sudah yatim piatu, maka terpaksa untuk bisa survived.

4. Jangan bicara negatif di depan anak, karena akan menjadi software. Contoh : bodoh, bandel.

5. Bila anak berbuat baik, maka pujilah. Kalimat baik adalah sodaqoh.

6. Jadilah tempat curhat terbaik untuk anak.

Ada 2 cara membuat anak mau beribadah :

1. Targhib, memotivasi anak. Adakan instilasi (majelis ilmu) tentang Allah, Rasul, Tauhid, Akhlak, dan lainnya dengan orang tua (interaktif). Contoh : muslim itu kewajibannya sholat, bila tidak sholat ya bukan muslim. Jangan sampai :

“Gue gak sholat yang penting gak bom orang dibanding sholat tapi ngebom orang” *naudzubillahi min dzalik *jangan sampai seperti itu

Contoh lain, Indonesia bukan negara muslim namun kita bebas menjalankan syariat Islam (mayoritas). Baca buku dengan baca gadget (e-book) berbeda. Untuk apa kita hidup? Darimana kita berasal? Banyak tema yang bisa ditelaah lebih dalam. Kalau orang tua tidak bisa melakukan majelis ilmu, JANGAN BANYAK NUNTUT! *jleb bangett 😢

2. Tarhib, pembiasaan pada anak. Biasakan sholat wajib berjamaah, di bawah 7 tahun diajarkan, minimal ikut atau berada di dekat kita yang sedang sholat. Biasakan tidak ada kegiatan lain saat berjamaah, meskipun sedang mens. Semua anak yang sedang tarhib sholat, sampai dia bisa sholat tanpa disuruh, sholatnya didampingi (7-10 tahun), begitu pun dengan berwudhu. Setelah > 7 tahun sesekali dimuthaba’ah (diassesment). Biasakan tidur di awal waktu sehingga bisa bangun lebih awal. Karena sudah wajib, maka siapkan konsekuensi. Misal : bila menunda-nunda sholat hingga batas waktu yang disepakati, maka hak bermainnya dicabut.

Semua disiplin berawal dari ketegasan. Sebagian besar anak akan menguji kita, maka bersabarlah. Pendidikan tidak ada mendadak, tapi didudukkan. *semoga bisa 💪

Contoh : ujian bangun sahur, bisa diseret / diangkat. Menindak adalah cara agar tidak memaki atau kasar dengan anak. Anak tidak boleh berteriak ke orang tua. Kegiatan sholat – makan – tidur, anak wajib ditemani untuk bisa disentuh jiwanya.

Ada pertanyaan – pertanyaan yang sangat bagus, saya catat. Tapi berikut yang saya share poin pentingnya saja ya, intinya tentang game yang lagi hits terkini tapi ada juga pertanyaan topik yang berbeda:

* Jangan pernah memberikan kompensasi yang berbentuk kesia -siaan. Jangan sampai orang tua yang gengsi bila anak tidak punya gadget.

* Bila suami main game, kewajibannya terlalaikan atau tidak? Bila tidak, anak jangan dilibatkan. Lebih baik baca buku.

* Banyak yang keren dan sukses dari game tapi yang rusak lebih banyak!

* Sebutkan kebaikan dari game?? Game = kesia – siaan.

* Bila suami mengajak kemaksiatan maka berpisah dibolehkan.

* Bila anak berbohong dan tertangkap bash. Alih – alih menekan anak. Ketika anak menangis, orang tua yang meminta maaf pada anak karena ternyata anak tega berbohong.

* Agama adalah pedoman, bila tidak ada agama, apa bedanya dengan orang barat?! Hidup bebas tanpa norma.

Terus terang saat ngebahas game, saya banyakan melongo tapi tetep nyimak. Karena kami gak ngegame, duluuu pas saya masih kecil iya, macem PS. Tapi game online jaman sekarang kami belum pernah sentuh dan ternyata lebih bahaya ya. Itu nama game dan jenis permainannya saya baru tau dan dengar. Gak gaul parah. Tapi saya amat bersyukur gak kenal sama game itu. Poin penting dan hikmah banyak saya ambil dari acara mata pena (nama alumni pelatihan abah Ihsan). Duuhhh, semoga semua ibu – ibu kewarasannya tetap terjaga ya *elo doang kali, Fran yang mesti memelihara kewarasan. Ibu – ibu lain mah santai. Haha. Jadi ada yang bermasalah dengan pola asuh anak atau malah Anda sendiri yang kecanduan game?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

2 thoughts on “Menanamkan ibadah kepada anak dengan menyenangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s