Mahram

Pasti udah pada tahu atau familiar dengan istilah Mahram ya. Mungkin bisa dibaca di link berikut : ini dan ini. Orang tua saya pun sudah memberitahu dan mengajarkan mengenai mahram sejak kecil. Ketika menginjak aqil baligh, kami pun semakin dikenalkan mana saja sih yang mahram dan yang bukan. Mahram terbagi beberapa, karena sedarah, sepersusuan, dan pernikahan. Selain kakak sepupu perempuan, tentu saya memiliki sepupu laki – laki. Saat aqil baligh adalah masa di mana mengenal lawan jenis, orang tua saya mengajarkan bahwa kakak sepupu dari pihak Ayah HARAM untuk disukai (baca : memiliki perasaan cinta), karena sedarah. Sementara kakak sepupu dari pihak Ibu masih boleh bila ada kemungkinan hingga menikah. Bahkan bukan hanya dikenalkan mengenai mahram di keluarga, tapi juga disebutkan nama kakak sepupu si A, B, C yang bukan mahram, agar jelas. Sampe jatuh cinta yang gimana dengan sepupu sih Alhamdulillah enggak dan jangan sampe. Keluarganya dia lagi dia lagi. Tapi semua ada kelebihan dan kekurangannya lah ya.

Mahram pun kita kenal ketika menjalankan ibadah umroh atau haji. Wajib ada mahram ataupun membayar mahram. Untuk membayar mahram, saya kurang paham ya, karena tidak pernah. Kalau ketentuan standar adalah “mahram yang usianya di bawah 45 tahun.” Karena di bawah 45 tahun masih kategori usia produktif dari menstruasi hingga potensi untuk hamil. Sementara di atas 45 tahun pada umumnya sudah menjelang masa menopause, sehingga tidak lagi produktif *CMIIW. Saya kembali memperdalam mahram ketika menikah, karena memiliki Papa mertua, seorang kakak ipar laki – laki, dan kesemua ponakan laki – laki. Buat apa memperdalam, jadi saya tau kapan bisa buka jilbab, itu aja sih.

Sekarang giliran saya yang mulai mengajarkan mahram ke Teona, Alhamdulillah di sekolah pun sudah mulai diajarkan. Perjalanan insya Allah masih panjang tentang mahram. Saya gak saklek gimana juga, menjalankan sesuai keyakinan agama yang saya anut tentu baik menurut saya. Teona pun belum yang sepenuhnya mengerti soal mahram ini. Kalau untuk yang sepersusuan, sudah saya bahas dengan suami saat saya jadi ibu donor ASI. Anak bungsu artinya anak susuan saya ke-8 adalah laki – laki. Saat teman saya meminta ASI saya, kami diskusi cukup panjang. Kelak anak kita gak bisa menikah lho ya. Suami saya pun gak keberatan saat saya minta izin kasih sekian kantong ASIP dengan alasan yang sudah saya jelaskan dan sepakati dengan teman saya, kata suami “kasih ajalah, gak akan Teona nikah sama X.” PD banget ye bapaknya Teona. Oma si anak susu saya sering bercanda kalau kami ketemu. “Hey, kalian berdua tak bisa nikah ya, jangan pacaran ya,” kata Oma. Teona sama anak itu jangankan paham, yang ada mereka asik lari kejar-kejaran. Kamu ada pengalaman tentang mahram?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Mahram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s