Adopsi anak

Sejak kecil saya familiar dengan anak pancingan ataupun anak adopsi. Keluarga besar saya yang notabene-nya keluarga Jawa Tengah totok, sejak dulu termasuk keluarga yang terbuka. Meskipun kami bukan keluarga dari praktisi kesehatan, kami mengenal teknologi bayi tabung sejak akhir tahun 90-an. Saat itu salah satu tante dari keluarga besar ‘mancing anak’ sampai 2 orang, Alhamdulillah akhirnya berhasil mendapatkan anak laki – laki melalui proses bayi tabung jaman segitu ya. Ada satu budhe yang juga mendapatkan anak melalui program bayi tabung di awal tahun 2000-an. Ada yang susah punya anak tapi ngotot mau hamil secara alami, padahal usia yang tidak lagi muda, pendidikan cukup tinggi, dan berkecukupan *eh pilihan masing – masing sih ya. Pilihan terakhir adopsi anak, ini di keluarga saya gak ada. Namun orang sekitar banyak. Alasannya mulai dari karena susah punya anak namun naluri sebagai orang tua bergelora, membantu karena anak tersebut yatim piatu, hingga punya anak kandung 3 namun membantu anak keluarga atau saudara jauh yang kondisi finansial kurang.

Seorang sahabat, memiliki adik yang sedang berusaha bayi tabung ketiga kalinya, sebelumnya 2 kali di Jakarta, kali ini mencoba program bayi tabung di Penang. Di tengah ikhtiar yang pantang menyerah, si istri ingin adopsi anak secara legal dari sebuah panti asuhan. Subhanallah, saya sungguh salut. Usaha penjajakan ke anak perempuan di panti asuhan tersebut sangat tulus dan luar biasa. Dia sudah mengajukan untuk adopsi anak perempuan tersebut, masih dalam proses. Panti asuhan memiliki aturan khusus dan cukup ketat. Bagus kalo menurut saya. Di antaranya : memiliki penghasilan di atas 8 juta, memiliki tempat tinggal, bersedia sepertiga hartanya diwariskan untuk anak adopsi, dan yang paling utama menerima anak yang sudah diadopsi gimana pun kondisinya kedepan. Poin terakhir menurut saya, sama seperti kita lahirin anak kandung, normal atau (maaf) berkebutuhan khusus ya memang wajib diterima dengan ikhlas. Bedanya dengan proses adopsi adalah ketulusan dan kebesaran hati calon orang tua angkat mulai dari asal anak tersebut dan riwayat kesehatan anak. Ujian dari penilaian dari panti asuhan yang tidak mudah, maka perjuangan masih dilanjutkan. Apalagi bila ingin adopsi bayi, ketentuannya lebih detil lagi. Ada calon orang tua angkat yang hanya datang absen saja tanpa berinteraksi dengan anak, ada yang sudah 40 kali datang untuk penjajakan dengan si anak namun belum selesai proses adopsinya, dan berbagai macam tipe dan karakter orang.

Alur proses adopsi anak

Diskusi kami berlanjut, karena di keluarga saya kakak sulungnya yang tidak memiliki keturunan, sementara adik bungsunya ‘buang nafas’ jadi anak alias beranak mulu. Hadeuh. Maka salah satu anaknya diadopsi secara legal oleh kakak sulung. Awalnya tidak legal namun karena menimbulkan masalah jadi sekalian dilegalkan. Sahabat saya memiliki pengalaman berseberangan, bahwa ibunya membesarkan anak adiknya (keponakan) namun berakhir tidak baik. Maka keluarganya segan mengambil anak yang masih keluarga. Pengalaman orang tentu berbeda. Adopsi anak jadi bentuk ikhtiar selain tetap bayi tabung. Kenapa sih orang ngotot punya anak? Saya melihatnya sebagai naluri, semakin tua naluri orang tua muncul. Kemudian kalau dalam agama yang saya anut, memiliki keturunan adalah wajib. Mau kandung atau adopsi. Surah di Al. Quran maupun hadist menyatakan demikian. Saya salut dengan orang yang adopsi anak dan menyayangi anak adopsi seperti anak kandungnya. Bahkan sahabat saya itu karena anak kandungnya sudah dewasa semua dan belum memiliki cucu, berpikir untuk adopsi anak seperti adiknya. Semua pilihan dan hak masing – masing. Yang penting jangan sampe seperti kasus Angeline beberapa waktu lalu, tragis. Kalau memang gak punya naluri orang tua dan gak butuh punya anak ya jangan adopsi anak manusia. Kamu punya cerita yang sama atau mirip dengan cerita saya?

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

6 thoughts on “Adopsi anak

  1. Hmmmm aku n suami kan cukup lama juga ya nunggunya sblm akhirnya bs lahir B. Sebelumnya itu ga terfikir bayi tabung krn suami mikirnya, klopun ada dokunya, marilah pergi Umroh aja berdua. Dan opsi adopsi jg dicoret krn bingung ntr urusan nutup auratnya. Klo adopsi anak laki, tar guah yg ribet dong klo doski udah baliq— kudu jilbab’an terus walo di rumah. Klo anak perempuan jg pun, problema serupa. Ya bener kata jeung Frany lah ya, tiap orang punya pertimbangan berbeza-beza.

    Like

  2. pengalaman saya di keluarga sendiri nih fran. ayah saya meninggal waktu kita masih usia sekolah. nah tante saya mutusin utk ngebiayain adik bungsu sampai selesai. keluarga tante ini memang hidupnya sangat lebih dari cukup, high society gitu dweh. karena lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga tersebut, gaya hidup si adik kebawa-bawa sangat jauh berbeda dengan kita yang dibesarkan b dan pas-pasan saja. efeknya hubungan jadi dingin dari udah lama…. intinya memang kalau mau ngambil atau ngebiayain keluarga sendiri gapapa, tapi buat si anak gak lupa diri dan kakinya tetap memijak bumi.

    Like

    1. Turut prihatin, Mbak Kayka. Ada sisi positif dan negatifnya tentu saja. Begitu pula selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Sodaraku jadinya dilegalkan karena ibu kandungnya labil, main ambil lagi seenaknya sementara iparnya ngurus anaknya bener2 tulus wajar kalo akhirnya dilegalkan. Sekarang sudah SD dan tau ibu kandungnya tapi mungkin belum mudeng banget ya. Kalau sahabatku, adopsi Anak keluarga jauhnya dengan legal juga dan Alhamdulillah kemudian hamil alami. Saya perhatikan rasa sayangnya sama antara kedua anak itu. Bentuk ikhtiar banyak banget, saya saja gak berhenti salut sama semua contoh yang mengadopsi anak dengan tulus ikhlas.

      Like


  3. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jswaaaah salut salu! mudah-mudahan berkah semuanya mbak. Pilihan keluarga besar mbak yang adopsi anak tapi bisa dengan tulus sayang, itu kok ya berasa ‘malaikat’ banget ya. Maksudku, baik banget siiiiih kaliaaaan :” Sebab, jujur, aku orangnya masih sering selfish, posesif, dan nggak suka ada orang asing masuk ke kehidupanku. Aku tau ini nggak baik heu. Di keluargaku masih agak tabu meski ada juga yang adopsi.

    Like

    1. Saat di panti asuhan, sahabatku ngomong sama adiknya yang mau adopsi, kebetulan aku kenal juga. Pas adiknya bilang, panjang dan repot banget ya proses adopsi. Sahabatku bilang ke adiknya, “mau serepot dan sesulit apapun, kalo sudah niat dan rejeki pasti ditunjukkin sama Allah.”

      Masing – masing keluarga pasti ada topik yang tabu, sensitif, atau bahkan dilarang. Hal yang lumrah.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s