Parenting Islami Maret 2018

Seperti biasaaa, setelah rapat bulanan di sekolah, dilanjut ada narasumber parenting islami. Siap2 ‘ditampar bolak-balik’ karena salah pola asuh nih. Hehe. Bagusnya, selalu ada bahan untuk koreksi diri dalam pola pengasuhan anak. Narasumber kali ini, memiliki 3 puteri yang semuanya hafidzah (penghafal Al. Quran) *wow 😍 Bergerak di bidang sosial namun juga narasumber di berbagai perusahaan. 15 menit pertama, seperti biasanya godaan setan : “aahh, gue udah tau dari parenting islami sebelumnya” atau “yaelah, udah gue terapin nih sekarang” *congkak, hingga “hadeuh, bosen, pulang aja apa nih?!” Bukan setan namanya kalo gak bikin hati manusia gundah gulana ya kann. Alhamdulillah hati nurani mengatakan “ikutin sampe selesai, sombong dipelihara, jangan sok deh lo!” Akhirnya ngikutin sampe selesai. Emang enak setan kalah *cih

Awalnya beliau menjabarkan motivasi mengapa ingin ketiga puterinya menjadi hafidzah. Salah satunya yang nancep di otak saya : setinggi – tingginya ilmu dan jabatannya. Kalau tidak mengenal Tuhan dan agamanya. Hidupnya akan sia – sia. Beneerrr banget ini yang ditekankan kedua orang tua saya yang efeknya Alhamdulillah kena banget ke saya dan kedua adik saya. Zaman sekarang semakin banyak anak – anak yang hafal Al. Quran, itu BUKAN TREND. Kalo mengulang sejarah mah, sebelum dan saat orba Indonesia sekuler bangett. Alhamdulillah pasca reformasi, mulai menggeliat wanita berjilbab hingga kini banyak manusia yang menjadi penghafal Al. Quran. Tentu saja, ini kuasa Allah swt. Pembahasan lanjut ke pendidikan pesantren, yang ditekankan adalah pesantren BUKAN pemgalihfungsikan pengasuhan anak *noted.

Karena dunia berubah, maka berkembanglah teknologi. Namun bagaimana menggunakan teknologi (dalam hal ini gadget) dengan tepat guna. Efek buruknya tentu kita udah tau semualah ya, antara lain : konsumeris, materialistis, hedonisme >> jangan sampai menjadi pola hidup atau lifestyle kita *naudzubillah. Contoh :

1. LGBT :

  • Menengah keatas >> lifestyle
  • Menengah kebawah >> konsumeris

2. Pornografi adalah awal dari s3ks bebas

Maka bila pengetahuan ketaqwaaan beragama dengan ditanamkan dengan pola yang benar. Insya Allah akan menjadi pengingat ketika anak akan melakukan maksiat atau tindakan brutal / liar. Contoh terkini : mbak Awbener *kalo kata si abah ihsan 🙈

Nilai strategi sebuah keluarga : menanamkan nilai – nilai ketaqwaan sehingga menghindari kemungkaran dan kemaksiatan. Bila kita sebagai orang tua menghadap Allah swt lebih cepat, anak kita memiliki ketangguhan dan ketaqwaan. Membentuk keteladanan seperti Rasulullah SAW : ketangguhan dan kemandirian. Orang tua hendaknya menjadi tempat anak bercerita, berdiskusi, memberikan masukan, hingga pilihan solusi di luar pemikiran anak dan anak yang memutuskan solusinya. Sehingga dibutuhkan monitoring dan evaluasi (MonEv). MonEv ternyata gak hanya di perusahaan atau bisnis tapi ternyata di pola asuh juga wajib ada. Contoh : orang tua memberikan tantangan pada anak, tentu tantangan untuk anak yang memang orang tua menilai anak tersebut mampu. Misal : tantangan masuk perguruan tinggi negeri favorite *ini pengalaman saya bangeettt.

Filosofinya, bila orang tua menanamkan kemandirian maka anak akan mandiri. Pola asuh yang diterapkan dengan baik adalah modal dan bekal anak kita di kehidupan berumah tangganya kelak. Salah satu sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khatab menggantungkan cambuk di rumahnya, sahabat lain bertanya, “untuk apa cambuk itu?” Umar bin Khatab menjawab, “untuk mencambuk anak – anakku bila berbuat kesalahan.” Sepanjang hayatnya, Umar tidak pernah memakai cambuk tersebut. Apa mesti begitu? Menurut saya tergantung, kalau anaknya bebal macem anak jaman sekarang emang butuh dicambuk biar gak liar *galak *tega(s)

Mendidik TIDAK mendadak, butuh proses berulang – ulang, kedepankan TAWAKAL dan MEMAHAMI.

When your child is talking to you, face it, focus with all your heart

Ada 2 video yang ditayangkan yang menyentuh :

  1. Beberapa orang tua ditanya secara terpisah, “ingin berbuka puasa sama siapa?” Para orang tua tersebut menjawab rata – rata ingin dengan teman atau artis. Lalu anak – anak dari orang tua tersebut secara terpisah pula ditanya pertanyaan yang sama, “ingin berbuka puasa sama siapa?” Anak – anak menjawab, “ingin berbuka puasa sama papa dan mama.” Ada yang bilang papa mama sibuk jadi biar ngumpul, ada yang bilang biar terasa suasana Ramadhannya, ada yang bilang maunya sama papa mama saja. Titik. 😢😢😢
  2. Ini video lama yang udah sering juga beredar, udah taulah isi keseluruhannya. Tentang tulisan dengan backsound ketika orang tua sudah sepuh mengalami penurunan fungsi otak, organ, dan daya tahan tubuh. Meminta anak – anaknya memahami kalau mereka seperti itu karena sudah tua dan karena saat duluu kita kecil, mereka mengurus kita dengan sepenuh hati 😭😭😭😭😭

Duuhhh, ternyata gak cuma saya, bahkan yang pada hadir rasanya tidak siap untuk secara bersamaaan digempur dan diingatkan hal – hal seperti itu. Mewek berjamaahlah kita semua. Iiihh, ini nih yang paling saya sebeelll dari parenting islami. Sekuat tenaga jaim dan sok kuat. Emang gak bisalah udah. Itu semua kesalahan pola asuh tergambar jelas di otak saya 😭

Pesan narasumber pada kita orang tua :

Bila Anda memiliki pola pengasuhan dan komunikasi dengan anak yang masih salah, segeralah perbaiki. Karena manusia tidak cukup hanya beramal saleh tanpa mengindahkan kewajibannya dalam mendidik anak. Marilah mengkaji pola pengasuhan anak secara islami, bersama – sama secara berjamaah.

Published by Frany

Jakarta - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: