Pelatihan Parenting oleh Abah Ihsan

Karena pelatihan parenting kali ini saya bayar (biasanya cuma 3-4 jam dan gratis), kali ini 2 hari full 07.30 – 18.00. Jadi saya gak ceritain semua detil. Selain karena saya pelit alias ogah rugi. Gila aja kalo saya bahas semua itu materi, wani piro?! Hahaha.

Ini latepost parahhh. Secara abis ikutan pelatihan kemarin lanjut minggu lalu masuk 4 hari doang karena mau long weekend ya kan. Trus sibuk gila. Jadilah baru posting sekarang. Idealnya pelatihan ini diperuntukkan bagi orang tua (Ayah dan ibu). Saya pun setuju. Walaupun belum pernah tau siapa abah Ihsan? Pelatihan parenting dengan metode seperti apa sih? Trus kenapa setuju? Logikanya kayak konsul program hamil (promil) ke dokter Obgyn aja deh, gak mungkin periksa istri doang, tentu saja suami juga diperiksa. Bikin anaknya kan berdua! Namun setelah perdebatan sengit hingga bertikai hebat. Akhirnya diputuskan hanya saya yang ikut pelatihan *dasarlelaki *sigh.

Judul pelatihan ini : PSPA (Pelatihan Sekolah Pengasuhan Anak) yang berguna dari bayi hingga anak usia 23 tahun. Dapat dilakukan tidak hanya untuk orang tua lengkap, namun juga : sangat lengkap (ada kakek, nenek, atau saudara), orang tua yang long distance marriage, bahkan single parent.

Day 1

Karena 2 hari ditinggal full seharian, saya gak khawatir Suami urus Teona. Dia melakukannya lebih baik dari saya (baca : lemah lembut dan penyabar). Jadi sebelum berangkat saya masak sarapan, lalu untuk makan siang dan makan malam. Yess, 2 menu. Baru siap-siap dan berangkat. Saya datang terlambat 10 menit dan dapat duduk PALING DEPAN. Hoho. Alhamdulillah gak ketinggalan, karena pas banget abis sambutan dan pembacaan ayat suci Al. Quran dan saritilawah. Tengok kanan – kiri kok gak ada yang kenal. Pas nengok baris kedua dari depan alias deretan belakang saya, eh ketemu sosok seorang teman, SpOG hits : dr. Atut Cicih Mayasari, SpOG. Materi dimulai dengan “kenapa pelatihan parenting ini dibutuhkan?” Secara dulu mau ortu petani atau nelayan yang tidak berpendidikan tinggi pun, anak-anaknya bisa sukses. Ya karena dulu belum ada : gadget, sinetron sampah, hingga predator anak. Dengan perkembangan jaman yang semakin tak bermutu, maka orang tua butuh ilmu dan skill dalam mendidik anak. Tujuannya apa? Banyakkk. Salah satunya, orang tua tidak ‘dijajah’ anak.

Mulai dari sini akan banyak dijabarkan Modul, SOP (standard operational procedure), dan PR (pekerjaan rumah) bagi orang tua. Seperti SOP dalam memilih jodoh untuk anak. Hah? Anak milih jodoh sendiri kali. Tetep aja di bawah pengawasan orang tua dong, misal jangan sampelah berbeda aqidah, hingga berakibat anak kita murtad *naudzubillahi min dzalik • remaja yang bermasalah • komunikasi suami dan istri • MALAS mendidik anak, sehingga kasih gadget. Padahal ngapain juga dikasih gadget? Tanpa gadget pun, balita tidak akan nganggur kok! Yang diamini seluruh orang tua dan Guru yang hadir. Nah lho! • pola 18.00 – 21.00 • anak introvert dan ekstrovert • dan masih buanyak lagi. Karena saya pelit, gak saya bagi semualah 😝

Day 2

Masih seperti hari pertama, masak dulu. Udah super kilat pun, giliran mau jalan, qadarullah hujan deras. Jadilah saya telat 5 menit dan beneran gak boleh masuk! Pukul 8 saya bersama kurleb 10 orang tua lainnya yang datang telat diperbolehkan masuk satu per satu. Disiplin si abah Ihsan patut diacungi jempol. Mana ada coba, kita yang bayar eh malah kita yang disuruh tepat waktu dan jika telat pake sanksi. Akibat telat, saya dapat duduk PALING BELAKANG. Huhu. Tapi tidak mengurangi semangat saya ikut pelatihan ini.

Melanjutkan ke modul selanjutnya, SOP lainnya, dan PR lanjutan. Seperti : harga diri anak, akibat harga diri anak hancur • anak bermasalah bukan karena genetik (tidak ada dalilnya) • orang tua saleh belum tentu menghasilkan anak saleh *sedih banget pas tau fakta-fakta yang dijabarkan *dalam hati setuju, “bener juga ya.” • artikel menitipkan anak pada kakek – nenek • lanjutan cara tepat menghandle anak introvert dan ekstrovert • kelas akselerasi • tega(s) • SOP ngamuk • SOP gadget • SOP games • SOP punya anak • Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Abah Ihsan menyampaikan materi dengan seru, lucu, dan cara yang menyenangkan. Hingga gak terasa udah udah magrib menjelang. Bener – bener gak merasa digurui, justru yang saya lihat para orang tua antusias sampe nafsu tuh curhatnya. Baik tentang keluarganya hingga anaknya sendiri. Jadi nambah bahan pembelajaran buat saya dan bukan kita aja satu-satunya orang yang punya masalah di dunia. Abah Ihsan menegaskan, jangan merasa paling menderita di dunia *setuju. Ditayangkan deh video – video sebagai contoh ataupun inspirasi. Tak lupa juga kuis dan games yang bikin ngakak.

Pelatihan ini diikuti 70% ibu dan 30% ayah. Jangan dikira suami sukarela ikut, banyak yang dipaksa istrinya. Sayang saya gagal memaksa suami saya *huh! *egolelaki *tetepkesel. Sisi positifnya, pelatihan ini selain memelihara kewarasan saya, juga membuka mata, pikiran, dan hati saya tentang MENDIDIK ANAK. Anda gak setuju mendidik anak tega(s) dan disiplin? Itu pilihan. Kalau saya tipe yang setuju sekali dengan metode itu. Karena punya dan mendidik anak bukan hanya untuk hari ini dan esok. Tapi (mudah-mudahan) puluhan tahun hingga maut menjemput. Mau Anda orang tua lengkap atau single parent, mau Anda orang tua muda atau usia matang, metode mendidiknya tetap sama. Kembali lagi, anak juga anak Anda. Gimana pun, konsekuensinya Anda yang terima.

Ketika saya cerita lengkap ke seorang sahabat, dia banyak gak setuju dengan metode tega(s) dan disiplin. Menurutnya yang penting anaknya jadi anak baik, gak menyimpang ajaran agama, gak berandalan. Yah, silakan aja. Karena saya suruh coba deh ikut pelatihan ini, alasannya banyak. Memang intinya mesti NIAT, kalau gak niat ya susah. Saya niat karena saya ingin jadi ibu (bukan teman) buat Teona. Saya niat karena saya gak ingin menyesal karena salah pola pendidikan. Saya niat karena saya takut dengan pergaulan jaman sekarang. Saya niat karena saya ingin Teona jadi lebih baik dan berhasil dari Kami. Aahh, pokonya saya gak nyesal mengorbankan waktu akhir pekan untuk ikut ini.

Apakah hanya untuk muslim saja? Tentu tidak, keyakinan lain pun tentu diperbolehkan ikut. Hanya karena saya ikut di sekolah Teona yang khusus muslim, jadi penyampaiannya sesuai kitab dan aqidah Islam. Saya gak sabar mengikuti pelatihan tahap selamjutnya, yaitu :

PDA : Pola Disiplin Anak

Dan

KCR : Kendali Cinta Remaja

Jangan sampai ketika anak sudah aqil baligh, tidak bisa menjaga hasrat biologisnya sehingga menjadi anak yang ‘bebas’ dalam arti sesungguhnya *amit2. Testimony saya : Pelatihan ini amat sangat membantu orang tua dalam memberikan tidak hanya kasih sayang. Namun juga mendidik budi pekerti, disiplin, dan akhlak yang baik.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

15 thoughts on “Pelatihan Parenting oleh Abah Ihsan

  1. Hmm..sudah pernah ikut beberapa level diatas bbrp tahun lalu. Utk pengenalan ke parenting mnrtku cukup oklah. Hny ada beberapa saja yg krg sreg, but overall ok. Tp kalau mau menambah wawasan sebaiknya ikut juga dari yg lain…

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Frany Fatmaningrum….

    Semangat sekali saya membaca pengalaman mbak dalam pelatihan parenting di atas. Amat menggugah hati saya kerana di lokasi saya belum pernah ada pelatihan (baca: kursus) di sini. Memang tidak ramai ibu bapa berminat dengan maklumat seperti ini seolah mereka sudah tahu bagaimana mendidik anak pada hal banyak yang menyimpang dari kefahaman sebenar.

    Saya bersetuju mendidik anak perlu tegas dan berdisiplin di samping kasih sayang. Semuanya kerana niat dan Allah taala.. Jika anak tidak ditegas dan didisiplinkan dari kecil pasti mereka tidak mengetahui baik buruk sesuatu perkara yang dilakukan. Nanti apabila sudah remaj dan jauh dari kita, anak-anak pasti ingat apa yang diajar oleh ibu bapa mereka dan malu untuk melakukan kesalahan.

    Mudahan ada perkongsian lagi yan mbak. Jika kursus seperti ini ada di tempat saya, pasti saya dan suami akan mengikutinya bersama.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam wr. wb bu Hajjah Fatimah.

      Setahu saya abah Ihsan ini sudah pernah diundang juga untuk pelatihan di Kuala Lumpur dan Singapore. Beliau saya yakin jika tak ada halangan, pasti bersedia bila diundang ke Sarikei, Sarawak. Narasumber yang sangat kompeten menurut saya.

      Tak bosan memburu ilmu parenting islami dari beliau, sangat mengena di masalah hidup sehari-hari. Saya setuju dan itu pula yang saya harapkan. Anak ingat yang diajarkan orang tua dan agama. Sehingga jadi pengingat bila ingin melakukan kesalahan hingga maksiat *naudzubillah.

      Terima kasih dan salam hangat dari Jakarta Pusat 🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s