Posted in Uncategorized

Menjadi Ayah yang dirindukan

Naahhh, akhirnya tema parenting Islami bulan November 2017 salah satunya adalah : AYAH / BAPAK / PAPA / PAPI / ABAH / ABI / DADDY dan panggilan sama lainnya. Jumat lalu, anak-anak pulang sekolah sudah siap dengan undangan buatan tangan si anak untuk Ayah tercinta. Anak-anak yang pulang sekolah dijemput Ayahnya, karena jam pulang sekolah saat jam istirahat siang. Saya lihat anak langsung kasih ke Ayahnya dan semua Ayah menyatakan : “insha Allah hadir.” Wuihh, keren ya dari awal diundang langsung oleh anak, para Ayah antusias untuk hadir 👍 Saat bapaknya Teona pulang kantor, Teona menyambut dengan kasih undangan langsung ke tangan bapaknya. Tentu saja langsung disanggupi dan si anak lompat kegirangan *kekuatan wibawa Ayah luar biasa ya.

Undangan buatan Teona untuk bapaknya

Weekend kemarin adalah full acara keluarga dari pihak saya, secara ultah gitu loh. Tapi tetap dong bapaknya Teona hadir di acara rapat bulanan sekaligus parenting Islami ala sekolah Teona. Setiap bulan setelah acara ini, baik salah satu dari Kami yang hadir, akan sharing tentang topik setiap bulannya. Bapaknya Teona bilang, saat rapat mayoritas bapak-bapak. Saking antusiasnya sampe nambah kursi! Wow 😍 Katanya saat akan mulai, ada pembacaan puisi oleh seorang bapak yang isi puisi itu kekinian sekali. Salah satunya, Ayah seharian sibuk bekerja, pulang kerja sampai rumah sibuk dengan HP. Padahal tentu saja, anak butuh sosok Ayah untuk berbagi cerita hari yang dilaluinya, bermain, hingga bermanja-manja ke Ayahnya. Intinya, isi puisi tersebut, kata bapaknya Teona bikin terharu *mau lihat dong muka terharunya 😉

Setelah kemarin, ada iniinidan ini. Narasumber kali in adalah salah satu ustadz yang mengelola salah satu sekolah Hafizh. Beberapa pertanyaan yang diajukan para Ayah antara lain :

👨 Bagaimana cara melarang anak? 

💛 Jelaskan dengan firman Allah, sabda Rasulullah, dan contoh yang pernah terjadi dahulu zaman Nabi-nabi. 


👨 Anak pertama sekolah di sekolah Islam ngetop di Jakarta dan ada assessment. Ada 2 kejadian :

1. Hasil assessment menyatakan bahwa anaknya tidak fokus. Sehingga sering mengganggu teman lain. Bagaimana solusinya? 

  • Instropeksi diri orang tua. Apakah sudah mendidik anak sesuai dengan syariat Islam, bentuk ikhtiar, dan lainnya.
  • Evaluasi nafkah untuk keluarga. Kalau dulu hanya ada halal dan haram. Kalau masa sekarang, contoh : bagaimana aktivitas ribawi-nya. 
  • Bimbing anak dengan cara islami. Seperti : geber sholat sunnah, kencengin dzikir, basuh anak dengan air zam-zam ke kepala hingga seluruh tubuh sambil didoakan. Segala daya upaya pada akhirnya dipasrahkan pada Allah swt. 

2. Si anak menceritakan bahwa assessor menanyakan kenapa tidak boleh?  Si anak menjawab : “karena nanti masuk neraka.” Lalu masih juga ‘dikejar’, “neraka itu apa?” Hadeuh! 💣

💛 Narasumber bilang : mestinya pihak sekolah, apalagi sekolah Islam,  mecari pihak assessment yang sesuai dengan visi misi sekolah. Tidak bisa asal atau misal pun Islam, namun Islam sekuler. Capee deh, ya jadi gak nyambung dan konyol. 

👨 Anak suka melawan bila dinasehati 

Padahal pengalaman hidup si Ayah, dahulu saat Ayah masih kecil disuruh mengaji di Surau. Orang tua Ayah memberi beras (sebagai bayaran untuk guru ngaji) dan lidi (tanda orang tua memberi restu bila anaknya salah atau nakal untuk dipukul dengan lidi). Bila kejadian Ayah yang saat itu masih kecil dipukul lidi oleh guru ngaji lalu mengadu ke orang tua, maka makin habis dia. Poinnya, si Ayah dididik dengan keras, namun anak zaman sekarang kan gak bisa digituin. 
💛 Jawabannya sama dengan 3 poin yang saya bold di atas. 

Jadi bahan renungan dan evaluasi juga untuk Kami dalam mendidik anak. Setiap orang tua tentu ada salah dan khilaf. Namanya juga gak ada tuh sekolah jadi orang tua. Tapi niat dan usaha untuk jadi lebih baik sangat perlu dan dibutuhkan. Yuk. Jangan bosan belajar jadi orang tua yang terbaik untuk anak kita. 

Posted in Uncategorized

Tiga puluh dua


Wheww, itu angka apa nomer rumah? Banyak amat! Yahh, biar tua yang penting happy. Di hari jadi ke 32 ini, sebenarnya gak ada rencana bikin acara atau apalah. Toh tahun2 kemaren juga santai kok. Ini karena tiba-tiba kakak sepupu saya mengundang acara syukuran kelulusan S2-nya di UGM plusss ultah kita SAMA PERSIS! Yak, saya dan Kakak sepupu sama-sama lahir di 3 November 1985, hanya beda 2 jam, jenis kelamin pun sama-sama wanita, macam anak kembar beda orang tualah. Bedanya ya banyakkk. Selain gak gitu dekat, kami juga beda di segala hal. Misal, saya sudah berkeluarga dan dia belum. Dia sudah S2, saya mentok di tingkat akhir Pendidikan S1. Pokonya banyak bedanya. 

Sejak dini hari sampai saat ini, sosmed yang rame itu WA (esp. WAgrup, satu ngucapin, semua ngucapin  😄) dan FB karena ada bday reminder. Sosmed lainnya adem ayem aja, secara emang gak posting apapun. Ini posting juga di WP. Hehe. Yah gitu deh, 32 tahun semakin tua, semoga semakin bijak. Semakin berkurang usia, semoga jadi pengingat akan hari akhir dan setelahnya. Diparingi iman Islam yang semakin tebal dan istiqomah di jalan-Nya. Aamiin. Bisa mengendalikan emosi (penting nih!), jadi gak rusuh di manapun berada. Jadi sekarang rusuh? Lumayan deh, ribut sana sini. Tapi sadar usialah ya, seperti postingan kemarin. Jangan sampe bisa ngomong tentang orang lain tapi gak bisa ngoreksi diri sendiri.  

Butuh selalu diingatkan, dibimbing, dan didukung oleh semua pihak. Karena saya gak sanggup hidup sendiri. Butuh diberikan kewarasan lahir dan batin. Butuh selalu diperhatikan dan diberikan siraman rohani asal jangan galak – galak *kode buat bapaknya Teona. Intinya, gak bisalah saya sendiri tanpa semua orang di sekitar saya. Berharap yang bersahabat, bertemen, bersodara atau yang memiliki hubungan baik dengan saya gak bosan bertemen, bersahabat, bersodara sama saya. Hehe. Selamat memasuki usia ke-32 *tetep miris sebut 32. Semakin bijaksana, sehat, dan dimudahkan segala urusan. Barakallah. Satu yang pasti, saya gak sabar menyambut akhir pekan ini. Happy weekend all  😘

Posted in Uncategorized

Terjebak

Pic pinjam dari http://www.buzznet.com

Ada beberapa yang saya pernah dengar : “saya wanita yang terjebak di diri pria” alias bentukannya rambo tapi hati rinto. Namun ada juga “jiwa muda yang terjebak di raga yang tua” *dalam konteks negatif. Alias fisik boleh tua tapi pembawaannya labil. Untuk kasus pertama : selamat, Anda butuh pertolongan secepatnya karena menyalahi kodrat Anda. Untuk kasus kedua : kau habiskan kemana saja hidupmu, sampai baru setua ini lo baru mampu ngebully orang?! Saya mau bahas kasus kedua, karena (lagi-lagi) saya terjebak sama orang model begini. 

Semakin tua, orang diharapkan semakin bijaksana. Karena seperti itulah idealnya. Lalu apa jadinya kalau semakin tua tapi malah asik nyinyir / ngebully / melakukan tindakan yang udah gak penting dilakukan karena masa – masa seperti itu sudah lewat. Hal seperti itu bisa dimaklumi bila dilakukan anak SMP / SMA yang masih labil dan mencari identitas diri. Kalau sudah tua, tentu orang yang lebih muda darinya malah jadi menilai negatif atau lebih parahnya dinilai munafik. 

Jadi, apakah butuh pertolongan juga seperti kasus pertama? Sepertinya Anda sudah terlambat untuk ditolong. Karena manusia umur 20-an saja sudah sulit untuk diubah karakternya. Apalagi yang sudah tua. Duhh, amit-amit ada di posisi kasus pertama atau kedua. Balik ke prinsip hidup saya, “hidup lempeng saja, ada aja cobaannya. Apalagi hidup yang gak jelas dan sekuler.” Kalau Kamu pernah terjebak apa selain kejebak hujan, kejebak banjir, atau kayak saya jebakan betmen??