Posted in Uncategorized

Air terjun Temam, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. 


Hari terakhir di Linggau, bapaknya Teona keliling kota, saya packing, nunggu Teona bangun. Selesai sarapan, kita menuju rumah tante saya. Kita semua mau ke air terjun Temam, tidak terlalu jauh dari rumah. Air terjun temam masih satu area dengan Temam waterpark, namun waterpark nya belum buka. Biaya retribusinya saya gak tau, karena rame-rame trus dibayarin. Hehe. Ada jembatan gantungnya gitu, tapi kami pilih turun tangga saja. 
Trus sampe bawah foto – foto aja. Suasananya alami, cukup menarik ada obyek wisata yang bisa dikunjungi. 








Selesai foto-foto kami cabut dari Temam. Oh ya, di tembok parkiran ada lukisan-lukisan gitu. Trus saat jalan pulang, kita lewati resto Mang Engking. Tapi di Jakarta, Depok, dan Bekasi juga ada resto mang engking. Pendatang mau yang beda nih. Akhirnya makan di restoran pindang patin. Makanan di resto itu lumayan enak. Saking enaknya, lupa foto dan lupa restonya di sebelah mana. Haha. Belum tau kapan lagi akan ke Lubuk Linggau, keseluruhannya saya cukup menikmati. Air terjun Temam = Niagara-nya Lubuk Linggau.

Posted in Uncategorized

Hajatan sepupu di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. 

Weekend kemarin, keluarga besar dari ibu saya ngumpul di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan untuk menghadiri hajatan sepupu, adik kandung ibu saya menikahkan anak perempuan satu-satunya. Bagusnya, ada pesawat direct Jakarta – Lubuk Linggau. Pake NAM atau Batik. Syukurlah, karena sebelumnya menuju Lubuk Linggau mesti turun di Bengkulu lanjut travel atau turun Palembang lanjut kereta atau travel. Sungguh jadi mudah akses menuju Lubuk Linggau, apalagi rumah tante saya dekat bandara 15 menit-an. Mayoritas keluarga ambil fight pertama pake batik, sementara kita bertiga plus adik saya yang cowok naik NAM siang. Perjalanan ditempuh 1 jam 10 menit menuju bandara Silampari, Lubuk Linggau. Bandara Silampari sendiri belum sepenuhnya selesai, masih progress pembangunan di sana sini. Belum ada troli dan baru 2 maskapai yang langsung ke bandara Silampari. Sampai di rumah heboh dong ya kan menyambut si Teona, Adik ibu saya semua ngumpul. Kami bertiga memutuskan nginap di hotel tempat acara, suami iseng nuker poin di tr@velok@. 

Ada beberapa fakta menarik yang akan saya bold di post ini. Kita selesein semua yang perlu dibantu di rumah dan yang perlu dibawa ke Smart Hotel, tempat acara hajatan berlangsung. Karena sewa ballroom, jadi dapet 2 jatah kamar : president suit dan kamar biasa. Nah pas malam kita turun ke ballroom, layout ruangan ballroom kayak acara seminar, kursi disusun dari depan hingga belakang alias bukan standing party. Oke, beda-beda budayalah ya. Trus mulai juga gladiresik ijab kabul di meja akad. Saat itu ada adik sepupu laki yang bertindak jadi wali yang menikahkan kakak perempuannya. Trus ada MC yang ditunjuk plus 2 orang suami istri selaku pihak panitia. Tapiii, si MC lumayan songong dan cari masalah sama saya. Sebenernya karena saya juga yang kepancing emosi jiwa gara – gara kelakuan si MC. Lumayan memuncak (emosi episode 1). Intinya si MC merasa hebat untuk area tsb, sementara kalo lo posisinya di kota besar, lo hanya bagai butiran debu *cih. 

Esoknya, bila di Jakarta atau kota besar lainnya. Bila acara akad pukul 8 pagi, maka dari subuh pengantin plus keluarga sudah sibuk di-make up, ini perias baru datang pukul 6 pagi! Lumayan bikin senewen ya kan?! Huff. Bukannya nyombong, tapi skill meriasnya juga bisa bersaing sama saya *kibasjilbab. Btw, saya make up sendiri pluss make up in 3 sodara lainnya, lumayanlah ya hasilnya 😎 Akibat telatnya perias = mundurnya pelaksanaan akad jadi dimulai pukul 9 pagi. Alhamdulillah berjalan lancar dan khidmat hingga selesai akad. Saat sarapan, Om saya bilang ke kita keluarga kalau dia ditawarin beli 6 lembar foto yang TERNYATA bukan dijepret oleh fotografer resmi. Duh! Berasa di kebon binatang ya kan, ada fotografer berbayar! (emosi episode 2). Saya ke lobby bilang ke petugas hotel : 

Mbak dan mas, keluarga saya sedang ada acara di ballroom. Ada fotografer tidak resmi yang foto-fotoin keluarga saya trus suruh bayar selembarnya sepuluh ribu. Berasa di kebon binatang.  Kami sudah ada fotografer resmi. Jadi mau petugas hotel yang usir atau saya yang akan usir orang itu?!!! 😠 😡

Yang langsung disanggupi untuk mereka urus dan pas saya balik ke ballroom udah gak kelihatan batang hidung si fotografer tak resmi. Tobat! Pukul 11.00 acara resepsi dimulai, selesai ceremonial, tamu – tamu VIP masuk ke area makan VIP. Tak terkecuali tamu pada umumnya yang pada NYUSRUK MERINGSEK KE VIP AREA!!! Jadi itu bupati, kalapas, dan pejabat lainnya nyentong makanan juga belom, tapi tamu yang tentu bukan VIP, dengan percaya diri antri di VIP area rameee banget. Ini semua orang merasa dirinya VIP ya *tepokjidattt! Saya suruh adik sepupu cari itu panitia penanggung jawab VIP, secara ya meneketehe itu tamu VIP mukanya yang mana ajaaa -_-  Trus pas lihat si penanggung jawab, Bapak – bapak klemar klemer gayanya (emosi episode 3). Duh! Akhirnya, saya serta sepupu – sepupu lainnya bikin pagar betis buat menghalau (baca: arahin tamu biasa ke buffet area). Si MC bukannya turut mengarahkan, hanya mondar – mandir ke VIP area yang justru jadi sasaran empuk buat saya damprat. Arahin kek tamu biasa ke buffet area. FYI, di daerah ini gak model gubuk – gubukan tapi semua buffet. Bukannya tamu tidak boleh makan, tapi setau saya VIP area ada protokolernya gak nyusruk sembarangan begitu aja. Based on pengalaman keluarga besar lain yang nikah undang petinggi negara di Jakarta, hadir di nikahan besar tetangga di JCC, hingga pengalaman nikahan saya sendiri. VIP area tidak digabung dengan tamu biasa, namanya aja VIP ya kann. Innalillahi deh! Emosi gue sampe berepisode. Untungnya acara berjalan lancar, pada akhirnya tamu – tamu paham kalau VIP area dijaga ketat oleh kami agar tetap kondusif gak rusuh. Legaaa. Baru tau juga kalo acara nikahan bagiin souvenirnya di atas pelaminan, di mana – mana juga pas datang isi buku tamu atau pas pulangnya. Balik lagi ke budaya di daerah tsb. Tapi sumpah, saya gak peduli lagi image dan lainnya saking pengen acara berjalan tertib dan lancar. Shame on you buat keluarga lain yang hanya mampu jadi penonton lihat saya dan sepupu – sepupu susah payah aturin VIP area. Kedua adik saya tak kalah sibuk urusin souvenir tapi kalo bagiin di atas pelaminan entah ide dari siapa yang pasti bukan ide keluarga Kami. 

Selesai acara, Kami balik ke rumah trus Kami bertiga plus adik saya yang cowok refleksi di kakiku lanjut ngemall biar otak adem. Hoho. Malamnya kita semua saling pamitan, mengingat besok ada keluarga yang ambil flight pertama. Secara keseluruhan, semoga gak lagi ke hajatan bikin emosi berepisode. Semua ada adab-nya. Nyusruk  =  bentuk kelakuan serampangan yang tidak beretika. Saya bukannya sok beretika, tapi nanti pasti ada suatu saat di posisi mesti beretika. Jadi pelajaran sekaligus pengalaman berharga banget nih buat saya. Anyway, mesti cek tensi darah nih, semoga gak hipertensi 😅

Posted in Uncategorized

Contoh pasangan sehidup semati


Copas :

Mengharu-biru
Solopos.com, MEKAH — Kelompok Terbang (Kloter) 36 Embarkasi Solo berduka. Pasangan suami-istri (pasutri) asal Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Sudarso, 82, dan Sumiyati, 72, secara beruntun dalam selang sehari meninggal dunia di Tanah Suci seusai memenuhi kewajiban haji.
Mbah Putri (Nenek) Sumiyati yang sejak awal keberangkatannya dari Embarkasi Solo telah terlihat lemah di kursi roda, mendahului suaminya menghadap Sang Khalik pada Minggu (3/9/2017) siang waktu Arab Saudi di Mina.
Sementara Mbah Darso, sapaan akrab Sudarso, yang selalu setia mendampingi sang istri mengembuskan napas terakhir, Senin (4/9/2017) sekitar pukul 04.45 di maktab hotel Mekah. Keduanya kini telah dimakamkan di pemakaman umum di Mekah Al Mukaromah.
“Kula sampun ikhlas… namung njih langkung sae menawi kula nderek mbah putri…[Saya ikhlas…tetapi lebih baik kalau saya bersama Sumiyati]” begitu kata Mbah Darso seperti ditirukan Untoro, Petugas Pendamping Haji Daerah (TPHD) Solo yang terus mengawal pasangan suami istri itu.
 

Kalimat itu diucapkan Mbah Darso, kata Untoro, sesaat setelah Sumiyati menghembuskan napas terakhirnya di tenda maktab 54 Mina meski tim dokter telah berusaha keras membantu memulihkan kesehatan Sumiyati. Setelah Mbah Putri pergi itulah, secara psikis Sudarso drop, hingga akhirnya ikut menyusul istrinya ke alam keabadian sehari kemudian.
“Tuhan punya kehendak. Saya kagum dengan kesetiaan Mbah Darso kakung kepada Mbah Putri. Sepanjang perjalanan prosesi haji beliau dengan setia menyuapi, menyibini, mengganti pakaian dalam dan semua kebutuhan mbah putri,” papar Untoro yang juga Kepala Inspektorat Pemkot Solo ini.
Pasangan sepuh itu sejak awal keberangkatan dari Embarkasi Solo sudah menarik perhatian saya. Mbah Darso dengan fisik yang telah terbungkuk-bungkuk tampak mendorong dengan susah payah Mbah Putri Sumiyati yang duduk tawaduk di kursi roda, walau kemudian sejumlah petugas pendamping haji selalu sigap membantu pasangan ini.
“Beliau berdua memang kami kategorikan sebagai pasangan yang berisiko tinggi (Risti). Karenanya kami sebagai petugas pendamping terus membantu mereka, semampu kami,” kata Rosyid Ali Safitri, Petugas Pendamping Ibadah Haji dari Kandepag Kota Solo saat berbicang di lobi  hotel Senin malam.
Bagi saya, sebagai seorang yang juga mengalami keterbatasan fisik karena paraplegia, memahami betapa berat tantangan yang harus dihadapi para calhaj dalam menjalani prosesi ibadah haji. Kekuatan fisik, ketangguhan mental, dan kekokohan psikis benar-benar diuji, khusunya saat mulai wukuf di Arofah, mabid di Musdhalifah, dan bermalam selama tiga sampai empat hari di Mina.
Dalam cuaca panas menyengat, suhu udara rata-rata di atas 40 derajat Celcius sepanjang hari sungguh menjadi ujian berat. Terlebih bagi para lansia seperti Mbah Darso dan Mbah Sumiyati.
Bersyukur, keduanya hingga detik-detik kepergian mereka telah melaksanakan semua prosesi rukun dan wajib haji termasuk wukuf di Padang Arafah, mabid di Musdhalifah dan di Mina sekalipun dengan perhatian yang terus menurus oleh tim pendamping haji dari Kota Solo, provinsi maupun pusat.
“Sejak awal kami sudah mengontak keluarga mbah Darso tentang kondisi yang berisiko tinggi bagi keduanya jika berangkat haji… kami tentu berharap keduanya bisa kembali ke Tanah Air, tapi Allah berkehendak lain,” papar Rosyid.
—————————
Subhanallah, nahh ini nih cinta sehidup semati. Yang pasti, pasangan ini luar biasa beruntung, meninggal setelah menjalankan rukun Islam kelima : haji. Disholatkan dan didoakan jamaah haji seluruh dunia. Semoga bisa menjadi panutan pasangan lainnya. Bukti kebesaran Allah terhadap hamba yang tulus ibadah dan ikhtiar pada-Nya. 

Posted in Uncategorized

Idul Adha 2017 & Pendidikan Qurban di sekolah. 

Setelah kemarin hari raya Idul Adha 10 Dzulhijah 1438 Hijriyah. Kayaknya baru kemarin Idul Fitri, gak terasa udah Idul Adha aja. Muslim / muslimah yang sedang menunaikan ibadah haji sudah mencapai puncak wukuf di arafah Kamis minggu lalu, saya lihatnya turut terharu – biru. Cuma Yang Maha Kuasa yang memilih hambanya untuk menyandang gelar H / Hj *pilih saya dong ya Allah  **benerin dulu aja ibadah lo,  Fran. Kemarin udah pada puas dong ya, hewan qurbannya sudah sampai ke yang membutuhkan. Alhamdulillah. Gimana dengan hari raya Idul Adha kamu? Kalau saya, sholat di masjid dekat rumah saja. Trus pas baruuu banget sampe abis sholat, istri sobat bapaknya Teona yang tinggal di seberang tempat tinggal kita bilang kalo dia mengutus Mbak ART nya nyeberang untuk kirim makanan lebaran : ketupat, opor ayam telur, sambal goreng hati kentang, sayur labu siam, dan dendeng balado  😍 Alhamdulillah, luar biasa. Saya padahal udah bikin juga opor ayam tahu dan sambal goreng daging kentang. Hihi. 

Selesai makan, kita menuju rumah tante saya karena ortu saya mudik menengok mbah putri yang tinggal satu-satunya. Jadi kedua adik saya dan 2 sepupu plus saya sekeluarga janjian ngumpul di rumah tante saya. Sejak pagi hingga habis ashar. Dari jatah yang didapat untuk yang memberikan hewan qurban. Saya dapat daging kambing yang sudah saya oseng pedes *pertama kali masak kambing *dibalurnanas, lanjut diolah di slow cooker. Trus daging sapi menjadi dendeng batokok. Alhamdulillah. Tak lupa kami pun ke rumah saudara bapaknya Teona untuk bersilaturahmi. Jadi impas, semua senang. Oh ya, sempet lihat ada yang nyinyir, pengen punya stok foto di Ka’bah biar bisa upload. Hahaha. Statement sirik nih yeee. Kalo saya respect aja sama yang upload saat di ka’bah kek, di gereja kek, di pura kek, di vihara kek, di kuil kek. Intinya, lo beragama! Daripada cuma bisa sirik *eh siapa sih itu yang nyinyir?! 

Senin, 3 September 2017. Sekolah Teona mengadakan Pendidikan Qurban. Saat datang, journal pagi : ikrar, asmaul husna, sholawat Nabi, materi qurban. Lalu praktek qurban. Anak TK praktek qurban langsung? Gak apa-apa tuh? Gak bikin traumatis? Sabar pemirsa. Jadi anak – anak dari KB – RA – MI – Mts – MA ramai – ramai ke lapangan basket sekolah untuk ambil hewan qurban masing – masing kelompok. Alhamdulillah, hasil sedekah anak-anak RA dapat seekor kambing. Setelah foto, lalu menuju rumah potong hewan di area sebelah. Diinformasikan juga oleh guru, kalau hewan qurban tsb insha Allah diterima Allah swt. Trus disembelihlah kambing tersebut di depan anak – anak. Anak – anak diminta takbir lalu juru sembelih memotong hewan qurban. Pada berani tuh? Ada beberapa anak yang takut. Saya pun sempat memperhatikan ekspresi Teona saat menyaksikan penyembelihan hewan qurban. Saya lihat tidak ekstrim yang gimana kok, ini bentuk pengetahuan sekaligus regenerasi. Kalau kelak, merekalah generasi yang akan turut menyembelih saat idul qurban. Trus saya tanya juga ke tetangga yang dosen Psikologi salah satu universitas negeri di Jakarta, selama didampingi plus diberikan ilmu pengetahuan / pendidikan yang sesuai aqidah insha Allah aman. Semoga idul adha kita semua tahun ini diterima Allah swt dan menjadi berkah untuk semua. Aamiin ya robbal alamin.