Posted in Uncategorized

Latihan manasik haji 2017

Teona pertama kali ini mengikuti pendidikan manasik haji di sekolah yang diadakan minggu lalu. Sejak sebulan sebelumnya sudah mulai ‘nyicil’ buat batu untuk lempar jumrah. Saat saya tanya ke gurunya kekurangannya berapa? Gurunya bilang, kurang 15. Apahh?!! Total batu yang diperlukan ada 21, dibagi 3 jadi tiap jumrah dilempar 7 batu. Batunya ya gak beneran, jadi kertas koran dibuat bentuk bulat dan diselotip atau dilakban bening. Trus dimasukkin ke tas kain putih kecil untuk dibawa saat lempar jumrah. Kegiatan lempar jumrah, simbolis melempar setan dengan batu. Alhamdulillah pas hari H, 21 batu sudah terkumpul dan siap dipakai. 

Saya dan Teona lumayan terburu-buru ke sekolah, karena diminta berkumpul pukul 06.20 am 😯 Teona ada di kloter 7 dan lantunan “labbaikallahumma labaik, labbaikalla syarikalakalabbaik. Innalhamda wal nikmata lakawalmulk laa syarikalah.” Terus menerus berkumandang, serasa manasik haji beneran deh. Saya pun gak mengikuti sampe selesai, selain juga security  nya cukup ketat dan orang tua gak bisa ‘meringsek’ sembarangan. Karena sudah ada areanya sendiri. Mengingat pendidikan manasik ini sejak KB-RA-MI-Mts-MA (kelompok bermain – raudhatul athfal / TK,  madrasah ibtidaiyah / SD,  madrasah tsanawiyah / SMP, madrasah aliyah / SMA). Jadi kakak – kakak Mts dan MA ada yang bertugas menjadi panitia. Salah satu tugasnya membimbing di tiap kloter adik-adik KB dan RA. TK aja udah lucu, eh KB lebih lucu lagi. Udahlah pake ihrom belum beres, jalan ngikutin rombongan sambil minum botol dot πŸ˜† Saya aja yang lihatnya ketawa geli, lucu abiss. Saat thawaf mengelilingi ka’bah (imitasi lah ya ka’bah nya), anak KB hanya sekali thawaf, anak RA 2x thawaf. Ya iyalah, mereka gak berceceran keluar dari area hijr Ismail juga udah baguusss banget. Haha. 

Trus saat minum air zamzam, karena cuaca lumayan terik, jadi pada nambah deh. Gak cukup segelas. Begitupun saat sa’i, kalau benerannya antara bukit shafa ke bukit marwa saat lewati lampu warna hijau kita harus berlari kecil. Kalau di pendidikan manasik haji, tidak ada lampu tapi dikasih tulisan : LARI πŸ˜„ Anak KB dan RA juga belum bisa baca juga kalo suruh lari, mereka ngikutin kloternya aja yang penting gak kocar – kacir. Saat ibu guru bilang, “sekarang berbaris ya, kita mau tahalul (memotong sedikit rambut / botakin plontos)”. Spontan anak perempuan mengeluarkan sedikit rambutnya untuk dipotong, yang laki – laki pun hanya dipotong rambut sedikit hanya untuk formalitas. Pikir saya, berarti Teona dan teman – temannya sudah diberi pengetahuan tentang detil kegiatannya sampe tahu betul, tahalul itu potong rambut. 

Setelah itu saya gak mengikuti lagi karena mesti ngantor. Lumayanlah bisa dokumentasiin dikit – dikit. Maklum, emaknya ikutan exciting πŸ˜ƒ Saya cukup puas dan Teona pun menikmati Pendidikan manasik haji. Saya jadi ingat pengalaman diri sendiri manasik haji saat masih TK dulu. Hihi. Turut memgamini doa orang-orang agar dapat diberikan umur, hidayah, dan kesempatan untuk berhaji. 

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Latihan manasik haji 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s