Ketika tidak bisa memilih

Akhir2 ini ramai dibicarakan hingga dicaci netizen, akibat ulah ibu, suami dan kedua anak turut menjadi korban bully. Yang bikin jadi makin sedih karena saya berteman baik dengan anak – anak tersebut. Saya tau persis, hati mereka baik dan mereka solehah. Begitu netizen ‘menyerang’, saya yang tidak berani membahas topik ini langsung dengan mereka, membaca satu post dari mereka yang bertujuan ‘bicara’ dengan netizen. Lebih bikin terharu, karena mereka berdua bijak bangettt  πŸ˜’ 

“Tidak bisa memilih lahir dari ibu mana dan dari keluarga yang seperti apa” ; “apa yang dilakukan ibu tidak ada sangkut paut dengan anak, karena anak telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan sendiri”. Setidaknya itu yang menyentuh di saya. Terlebih ketika mereka lebih suka dihujat dibanding Ayah mereka yang dihujat *mbrebes mili. Rangkaian kata – kata anak – anak itu muncul dari hati tulus, hasil didikan yang baik, pembelaan anak solehah. Netizen pun tersentuh dengan rasa cinta kedua anak ke Ayah dan Ibu mereka. 

Saya sempat ‘mengintip’ beberapa komentar pedas hingga jahat dari jari netizen. Duh, Gustiii. Orang – orang itu kan gak kenal secara pribadi ya, tapi komentarnya udah kayak paling tau hidup mereka. Bahkan sumpah serapah dari netizen bikin saya prihatin, namun disikapi bijak : “memilih jomblo dibanding Ayah menanggung dosa – dosa gak penting kami (pacaran maksudnya) sebelum menikah”. Kalo aja netizen tau, buanyakkk cowok yang antri dengan berbagai cara agar bisa ‘mencuri’ hati mereka. Kalo aja netizen menyadari, hari gini kita sebagai cewek amat sangat wajib berhati – hati dengan cowok yang belum jelas bibit, bebet, bobotnya. Saya termasuk tipe yang sepaham dengan kedua teman saya tersebut! Toh tidak ada yang salah dengan menjomblo, kami membentengi diri dari sampah masyarakat. Kalimat saya judes? Emang! Kenyataan kok ini.

Komentar – komentar dari netizen amat mencerminkan kualitas pribadi mereka. Contohnya (maaf), mulai dari nama account socmed – nya deh. Kelihatan kok kualitas pribadinya. Lalu rangkaian kalimat dan ejaan di komentar yang mereka tulis. Hadeuh, minta ampun *tepok jidat. Bukan memukul rata netizen ya, tapi kelihatan dengan sangat mudah. Mana orang yang bermutu dan orang yang gak ada mutunya sama sekali. Mari mencoba untuk bijak dalam bersosial media, sopan dalam mengutarakan pendapat (apalagi kalo gak kenal secara pribadi), dan berempati dengan apa yang dialami orang. Situ nyumpahin yang jelek, kalo sumpah itu berbalik ke diri atau keluarga situ kan pasti pedih rasanya. Mending saya, judes tapi gak iseng judesin hidup orang apalagi kalo gak kenal langsung. Iih, siape elo?! 

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

8 thoughts on “Ketika tidak bisa memilih

      1. Lah, bubar pacarannya dari jaman batu kenapa masih cemburu aja
        πŸ˜‚πŸ˜‚

        Aku kira semacam dapet ‘waham’ yang seolah olah beneran terjadi, padahal engga. Lalu, netijen makin ngomporin pula, makin panaslah.
        Btw, baca di blognya sapa gitu aku lupa, beliau ini kenal secara pribadi sama si ibu. Katanya, si ibu ini aslinya orangnya ramah dan baik.
        Salut sama dua anaknya yang bisa menyikapi ini dengan dewasa ☺

        Noted buat diriku juga nih mbak, agar jangan komen julid ttg orang lain.

      2. Nahh, kalopun udah sama2 sendiri tetap gak mungkin bareng karena beda keyakinan ya kan?!!

        Aslinya sekeluarga itu baik semua memang, Na. Suamiku juga fans garis keras si Ayah. Tapiii, kalo lagi ‘kumat’ bikin ‘berita’ kami (aku dan genk. Kebetulan segenk sama si anak pertama) gak pernah iseng bahas, cukup tau aja.

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Frany…

    Apa khabar mbak dan didoakan sihat dalam rahmat Allah. Benar mbak, hidup ini ada ketikanya tidak bisa memilih apabila takdir Allah sudah mendepani kita. Yang perlu dilakukan, adalah mengambil pengajaran dari apa yang berlaku dan bersikap rasional. Setiap yang telah terjadi adalah ujian dari Allah. Mudahan keluarga teman mbak Frany bersabar.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    1. Waalaikumsalam wr.wb. Alhamdulillah sehat, semoga bu Hajjah Fatimah sekeluarga sehat pula. Setuju dengan pendapat bu Hajjah, takdir Allah tak bisa dilawan. Aamiin terima kasih supportnya. Salam hangat dari Jakarta 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s