Coaching 

Awal karir saya bermula di tahun 2005 saat liburan semester 3, bapak saya gatel lihat libur semester 3 bulan kerjaannya makan – tidur – nge-mall repeat. Akhirnya saya disuruh kerja magang, selesai D3 langsung ditarik kerja di situ. Lanjut S1 pun kerja sambil kuliah. Yang terakhir pilihan saya sih, but it was quite challenged. Serulah pokonya. Selama itu kerjaan saya baik2 saja, semua hal banyak yang saya pelajari. Mulai dari airlines IT systems, advertising, obgyn, hingga perbankan. Barulah di perbankan saya mengenal coaching! Sebelumnya saya tidak tau istilah coaching apalagi di-coaching, gak pernah! 

Entah nasib saya yang apes atau politik di bank BUMN terdepan, terpercaya, tumbuh bersama Anda itu terlalu kejam. Yang pasti selama di bank itu, saya 4 kali di-coaching. 3x sama pihak HRD dan sekali dengan pihak lain. Fyi, saya bukan front office, tepatnya saya di commercial banking masih satu bagian dengan si penulis terkenal yang juga banker. Sejak awal di situ saya memang merasa hidup saya downgraded. Tapi saya pikir, saya sudah memilih dan gak mungkin mundur. Keluhan ‘mereka’ ke saya saat itu antara lain (ini sudah saya rangkum jadi satu ya) : kurang senyum, kurang ramah, kurang perhatian, kurang supel, kurang berdedikasi, kurang tanggap. Kesemuanya saya tanggapi dengan ketawa aja, bukannya sombong. Tapi kalo kesalahan receh tadi memang benar, rasa-rasanya tidak mungkin saya bisa menyelenggarakan National dan International Congress dengan sukses. Bukan hanya sekali 2 kali saja saya buat acara itu tapi setahun bisa lebih dari 5 kali. Yahh, ‘mereka’ gak perlu dan gak penting juga tahu itu. 

Kutipan : majalah Femina no. 10/XLV

Saat majalah Femina mengulas hal ini, jadi flashback ke masa suram itu. Trus ternyata coaching yang saya alami SALAH KAPRAH! Alih – alih  menemukan potensi saya, memaksimalkannya, memberikan kesempatan potensi itu untuk tumbuh, serta membangkitkan kesadaran saya untuk berubah agar kinerja lebih baik. Yang saya rasakan, gak seperti yang di artikel. Entah saya yang angkuh atau ‘mereka’ yang konyol. Yang pasti amat tidak nyaman dan selalu ada rasa ingin muntah tiap abis di – coaching. Kalau saya fresh graduated, mungkin iya2 aja digituin. Tapi karena udah ‘melanglang buana’, jadi komen saya : sampah banget coaching-an lo! 

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

9 thoughts on “Coaching 

  1. Wah Fran, kamu masih satu bagian sama mbak penulis itu ya? Aku tau aku tau hihihi. Tapi kamu pasti skrg jadi coach yang handal dong ahhh

    1. Karena aku pernah ‘dizolimi’, jadi aku berusaha tidak menzolimi orang lain. Semua orang juga aku yakin gitu kok. Penulis yg filmnya sekarang lagi diputer di bioskop itu loh *kodenya makin jelas. LOL

  2. masih banyak perusahaan yang salah menafsirkan definisi coach…dianggap melakukan coaching padahal teaching, lalu org yg melanggar aturan perusahaan jg bkn urusan coach juga sebetulnya krn itu urusan indisipliner…dan melakukan coach pada org yg tdk butuh di coach (sama rata bkn perkasus)…coach tdk akn pernah berhasil kalau ybs juga tdk punya keinginan di coach..

  3. Hahaha, iya nih dikantorku juga kasih workshop nggak tepat sasaran, gue pernah bikin workshop buat nyindir karyawan atas permintaan bos utk yg kerjanya nggak beres, sumpah nggak berhasil workshopnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s