Lingkungan yang ‘bersih’

Lingkungan yang saya maksud di sini suasana sekitar tempat tinggal, suasana di tempat kerja, pergaulan dengan teman – teman. Ketika manusia niat memperbaiki diri, maka bertemannya tentu dengan lingkungan yang baik. Contoh kasus, pecandu narkoba bila ingin sembuh ya mesti masuk rehabilitasi ; orang yang niat diet ya follow socmed yang berkaitan dengan motivasi dan menu diet ; dan orang yang ingin terampil ya ikuti pelatihan2 kreatif yang banyak diadakan. Kalo saya, pengen lebih belajar banyak tentang Islam esp. Parenting islami, spesifik lagi SABAR.  Mengingat sejak dulu saya orangnya gak sabaran, terutama soal akademik dan kerjaan. Waktu kuliah paling gak bisa sekelompok sama orang ‘ntarsok’ (ntar – besok) atau paling gemes kalo kerjaan saya mandeg di orang lain. 

Sebenernya memperbaiki diri saya mengalami proses yang sangaattt panjang. Bahkan hingga detik ini, kenapa? Karena SABAR ilmu yang paling tinggi bukan? Dan saya ibarat mie ramen, levelnya 1 melulu *sigh. Sekitar 4 taunan yang lalu, saya memutuskan BERHENTI BERSAHABAT dengan seseorang yang saya sih anggap dia sahabat tapi ternyata tidak buat dia. Saya sedih luar biasa, suami menghibur : “berarti Allah nunjukkin orang itu gak pantas kamu sayang dan jadi sahabat kamu.” Akhirnya saya putuskan, unfriend dan tidak lagi berhubungan apapun. Yes! Saya lebih jahat kalo dijahatin duluan. Memaafkan BISA tapi melupakan TIDAK BISA. Akhirnya, saya memutuskan untuk semakin selektif berteman. Biarlah dibilang congkak, Allah maha tau – lah. Balik lagi ke memperbaiki diri dan parenting islami. Ini pun saya masih dalam proses, karena saya mau selamat dunia akhirat dong. Mulai dari diri saya sendiri, kemudian memutuskan berumah tangga, hingga punya anak landasannya ya Islam. Orang mau bilang sok religius ya terserah *siap2 lo gue unfriend! Abis sebel, berubah ke arah yang lebih baik malah dibully *hush! Sanah 

Oleh karena itu, meskipun dengan segala keterbatasan yang saya punya. Mudah  – mudahan saya bukan termasuk orang munafik. Saya pun bertekad terus belajar agar bisa selalu istiqomah. Jadi saya butuh lingkungan yang ‘bersih’. Bersyukur banget dapat ilmu parenting islami kemarin, masih butuh proses yang panjaangg. Tapi saya berkeyakinan, orang lain bisa mempraktekan, kenapa saya gak bisa?! Pun ketika saya diingatkan seorang sahabat (yang ini saya sudah pastikan beneran sahabat. Haha) bahwa dalilnya ada dan shohih. Saya berbesar hati mengakui saya salah dan minta maaf. Nah, saya butuh teman yang tipe begini. Saling mengingatkan dan mengkoreksi. Jangan lagi ada cerita salah memilih sahabat deh ya, perih cin! 

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

13 thoughts on “Lingkungan yang ‘bersih’

  1. Mbak Frany. Aku percaya kok kamu tidak congklak eh congkak. Memang kita harus selektif kan. Klo sama yg kurang sealiran ya CTA … Cukup Tau Aja… ga usah akrab2.

  2. Mbak mbak mbak, aku skrg juga lagi ‘menarik’ diri dari lingkup yang ga sehat. Tetep say hello, tapi kalo untuk terlalu dekat, rasanya nehik dulu lah ya. Aku lagi ga mau stres πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      1. Nah itu mbak. Ada beberapa orang yang bawa ‘aura negatif’. Misal : suka ngajakin ghibah, suka crita yang melas melas.
        Bener kata mbak frany, mending aku apatis di lingkungan tsb, asal aku bisa waras dan bahagia πŸ˜…πŸ˜…

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Frany….

    Apa khabar mbak ? Didoakan sihat dan bahagia hendaknya di sisi keluarga. Alhamdulillah, pentingnya memilih sahabat yang membawa kebaikan dunia dan akhirat sangat dituntut agama. Kerana dengan sesiapa sahaja kita berdampingan akan membawa impak yang berkainan. Jika sahabat baik, pastinya kita menjadi bertambah baik akhlaknya. Jika sahabat yang buruk akhlak sudah tentu kita akan terbabit sama dengan keburukan tersebut bimbang sukar untuk berubah apabila rebung sudah tidak dapat dilentur.

    Semoga usaha murni yang dilakukan oleh mbak Frany diberkati dan dirahmati Allah SWT. Aamiin. Salam manis dari Sarikei, Sarawa. πŸ™‚

    1. Waalaikumsalam wr.wb. bu Hajjah Fatimah. Alhamdulillah kabar baik, semoga bu Hajjah Fatimah sekeluarga juga dalam keadaan sehat pula.

      Sahabat bila baik atau buruk, Allah pasti tunjukkan. Oleh karena itu, saya sudah kebal dibilang congkak / angkuh. Itu pilihan saya untuk berteman. Terima kasih untuk dukungannya. Salam hangat dari Jakarta Pusat πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s