Pelatihan Komunikasi & Pola Asuh Anak (Modul 1) day 2

Hari kedua pelatihan, Teona dan bapaknya pergi playdate. Saya masih antusias mengikuti pelatihan. Hari ini berbeda ruangan dengan kemarin, cukup baik untuk mengganti suasana agar tidak bosan. Pelatihan dimulai dengan mengupas 2 surat di Al. Qur’an. Eh kok ya pas banget belakang saya ada rak buku dan tentu saja ada Al. Qur’an. Karena posisi saya yang paling dekat, jadi saya ambilkan, tapi ternyata saya disuruh bacain dong surat Ar. Rahman ayat 1-9. Pas banget semalam saya habis baca surat itu sampai habis *iihh, kok bisa pas gini ya. Karena tanpa persiapan ngaji di depan khalayak ramai, tentu grogi-lah ya. Walaupun saya bacanya gak seperti qariah, mudah – mudahan harokat dan tajwidnya bener. Aamiin. Inti surat Ar.Rahman ini, Allah udah kasih loh semua yang manusia butuhkan. Tinggal gimana manusianya, mau beriman atau tidak. Keterlaluan kalau mendustakan nikmat Allah *hiks.

Lanjut surat An. Nisa ayat 9 

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, maka mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka bicara dengan tutur kata yang benar.”

Subhanallah ya, semua2 ada loh di al. Qur’an. Kata ibu pelatih : “makanya Al. Qur’an jangan hanya dibaca, tapi juga diamalkan.” JLEB! Nusuk banget tuh ke hati. Hehe. Tak lupa membahas 2 hadis :

  1. Ketika bersusah hati mengurus anak, itulah yang akan menjadi penghalang api neraka. AAMIIN, saya mengamini paling kenceng  ✌
  2. Meninggal saat mengurus anak adalah bentuk jihad. 

Masalah yang sering diungkapkan saat pelatihan oleh orang tua murid : GADGET! Alhamdulillah saya TIDAK ADA masalah dengan itu *namun tentu saya ada masalah dalam bentuk yang lain dong. Ini jawaban ibu pelatih :

  • 0-5 tahun tidak boleh berhubungan dengan monitor *hadeuh, susah ya. Hiks
  • 5-7 tahun hanya 5 menit menonton TV.
  • 7-9 tahun bisa ditambah waktunya namun tetap dibatasi.
  • 9 tahun bisa diberi gadget (contohnya : HP jadul, yang hanya bisa telp & SMS) *itu mah bukan gadget yes.
  • 13 / 14 tahun bisa dilenalkan internet.

Prakteknya: susah, bu pelatih 😦 Teona nonton TV tapi amat sangat saya batasi waktunya, biasanya hanya sore hari saja. Karena pagi – siang sekolah, tidur siang, nah sore baru deh. Malam main sama saya atau bapaknya Teona, jadi gak nyandu juga. Sementara untuk gadget, kami memang gak kasih Teona gadget, hanya mengenalkan saja agar Teona tau. Jadi Alhamdulillah gak ada kecanduan yang gimana. 

Masalah lainnya, komunikasi yang kadang tak sejalan dengan pasangan dalam hal pola asuh anak  *ini masalah sejuta umat juga ya kan. Jawaban bu pelatih : perasaan adalah landasan dari sebuah hubungan. Maka kita harus bisa mengendalikan perasaan = kecerdasan luar biasa *duh, susah juga ya :\ 

Kalau saran dari para psikolog tidak boleh bilang TIDAK / JANGAN pada anak. Bu pelatih bilang : BOLEH BILANG TIDAK / JANGAN NAMUN DENGAN INTONASI YANG LEMBUT *noted. Lalu kalo psikolog bilang TIDAK BOLEH MARAH KE ANAK, bu pelatih bilang : BOLEH MARAH, NAMUN CARA MARAH DAN PENANGANANNYA HARUS TEPAT  *yes! Hoho. Yang penting boleh marah, kalo gak bisa makin meledak. Apalagi tipe kayak saya, senggol dikit, tanduk keluar. 
Di pelatihan hari kedua ini, tetap dengan game dan kertas kerja. Gak kalah seru dengan hari sebelumnya. Juga tetap ada waktu berkomtemplasi, kalau kemarin tentang anak, hari kedua ini tentang kita saat masih anak-anak. Aahh, gak kalah mewek deh saya sama kemarin *emak2cengeng. 
Contoh kasus : saat ayah / ibu meninggal dunia, anak harus bisa mengatasi perasaan dan masalahnya (thinking skill). Thinking sskill itulah yang membantu orang tua, saat orang tua berada di titik terendah, sehingga anak bisa bersikap dewasa dan pintar. Caranya? Tentu saja dengan menjalankan syariat Islam, ajarkan anak sholat umur 7 tahun, bila umur 10 tahun tidak mau sholat maka boleh dipukul *aturan memukul silakan dibuka Al. Qur’an – nya, jangan asal pukul ya! 

Metoda no lose : 

  • Mengajak untuk mengetahui situasi konflik 
  • Mengetahuo konsekuensi 

Mengajak anak untuk menentukan masalah siapa? Bagaimana menyelesaikannya?

Contoh kasus : ketika anak diancam oleh temannya, tentu kita ingin anak melawan (tanpa bantuan orang tua). Karena anak harus belajar membela diri dan berani! Sugestikan ambang psikologi anak. Menurut anak gimana? Anak maunya apa?
TUGAS UTAMA ORANG TUA:

Membesarkan dan mendidik agar anak menjadi soleh  / solehah. Bekerja hanyalah sarana, bukan justru sebaliknya! *ini penting. Karena kita ingin anak2 kita menjadi khalifah di muka bumi ini, mengingat buanyak generasi yang sudah rusak. YANG PERLU DIINGAT : ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH SUATU KAUM, BILA KAUM ITU TIDAK INGIN MENGUBAHNYA. Tentu saya mau banget berubah jadi lebih baik dalam mendidik anak. Penjelasan dan poin2 penting lainnya, mudah – mudahan bisa dijalankan. Aamiin. Semoga bermanfaat!

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Pelatihan Komunikasi & Pola Asuh Anak (Modul 1) day 2

  1. gadget ditekankan banget nggak boleh buat anak2 ya…
    iih.. untungnya jaman anak2ku kecil belum ada gadget, dan masih banyak acara untuk anak di TV..
    jaman sekarang memang tantangan banget deh gedein anak….

    1. Jaman aku kecil juga belum ada gadget, mbak. Sekarang pin aku insya Allah gak akan berlebihan soal gadget.

      Mudah – mudahan tantangan lainnya pun bisa aku hadapi dengan bijaksana *wish me luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s