Posted in Uncategorized

Medan Napoleon

BUKAN POST BERBAYAR, BUKAN ENDORSE, BUKAN JUALAN! MURNI OLEH-OLEH!!! 😄


Maghrib minggu kemarin, tiba-tiba ibu ART tetangga yang biasa ditugasi tetangga saya untuk kirim2 makanan kesini. Haha. Duh, berasa kaum dhuafa. Si ibu bilang, “kakak Teona ini ada oleh-oleh, nenek barusan datang dari Medan. Pesan nenek: segera dimakan yaa”. Siap, Nek. Urusan makan gak nolak  😆

Penampakannya awal seperti bolu coklat biasa, di bagian tengah ada semacam lembaran cake keju dengan fla, irisan pisang, dan coklat. Teona sekali makan habis 2 iris, doyan ternyata! Padahal sebelumnya ada brownies juga Ibu Saya bawain. Lagi bosen kali ini anak sama brownies plus bakery kesayangan lagi tutup seminggu kedepan. Alhamdulillah hadir si bolu Medan Napoleon, bisa menggugah selera Teona. Namanya punya anak kecil, wajib selalu ada makanan apapun. Selain menggenjot BB juga obat cranky.  
Konon dari yang saya baca2, pemilik Medan Napoleon salah satu artis ibukota. Kayaknya lagi trend para artis bikin bisnis di daerah. Habis persaingan di Jakarta tau sendiri kan ya, cukup kejam. Lagipula bagus jadi membuka lapangan kerja di daerah. Menyikapinya positif aja ya kan.   


Jadi gimana rasanya? Menurut saya, lumayan. Bolehlah buat variasi oleh-oleh kalau orang habis dari Medan. Kalau saya beli sendiri, pilihan saya masih oleh-oleh yang sudah terkenal lama. Soal selera makan, sekedar icip-icip okelah, tapi makan beneran / makan besar. Malas coba2, yang pasti2 aja. Contoh sering coba resep2 yang beredar  di socmed, kalau sukses pasti saya masak ulang tapi kalau gak sukses ya wassalam deh.  

Posted in Uncategorized

Aqiqah anak buleĀ 

Sekedar sharing pengalaman saya. Namun karena tidak izin sohibul hajat, jadi tidak saya ceritakan detil dan tidak sertakan foto2 acara. 


Seperti lazimnya bila ingin menggelar hajatan apapun itu: walimatu ursy, syukuran khitanan, haul, syukuran milad, aqiqahan, dan acara lainnya. Undangan disebar 2 minggu atau paling telat seminggu sebelum hari H. Saya pun sudah menyanggupi akan hadir dengan 2 alasan: sohibul hajat adalah ketua pengajian bulanan dan anaknya yang menggelar acara aqiqah adalah teman dari teman-teman saya juga. Ketulan anak sohibul hajat menikah dengan WNA, namun selain muallaf, segala macam acara sejak menikah dilakukan di Indonesia dengan segala tata cara muslim. Jadi ketika hadir cucu, tentu saja wajib dilakukan dengan aqiqah. 

Rasulullah SAW bersabda: “disembelih aqiqah bagi anak laki-laki 2 ekor kambing dan bagi anak perempuan seekor kambing”. (HR. Ahmad dan Tarmidzi).

Sohibul hajat turut mengundang kelompok pengajian lain yang diikutinya. Saya sebagai tamu menyesuaikan. Mengikuti shalawatannya, surat Luqman ayat 1-30, asmaul husna, dan lainnya. Acara pengajian berlangsung satu setengah jam. Di tengah acara ada 5 hal yang menarik perhatian saya:

  1. Keluarga si bule ada yang hadir 1 orang perempuan. Turut ber-kaftan brukat dan menyelempangkan pashmina di kepala. Duduk di bawah, semua orang kalau pengajian ya duduk di bawah kecuali bila sudah sepuh. Rasanya tentu ada rasa kesemutan, wajar bolak-balik ganti posisi. Saya pun begitu. Hihi.
  2. Kelompok pengajiannya cetar membahana. Dilengkapi bulu mata anti badai, bross kristal, kalung mutiara, dan tas branded. Selesai acara eksis foto2, ternyata ada artisnya juga yang turut serta. Mungkin ini dia yang disebut pengajian sosialita. Namun saya salut, qariah nya salah satu di antara mereka bacaannya mantap harokat dan tajwidnya. Shalawatannya pakai suara 1 suara 2. Hikmat elegan.
  3. Ketika acara pemberian nama (simbolis saja sih di acara), si Ayah bule bilang: “bismillahirrahmanirrahim, I give you name …” Sesuai arahan tentunya. Hanya itu saja yang terucap.
  4. Buku tasyakuran aqiqah sayang sekali telat datang, acara sudah selesai baru dibagikan, mungkin terlupa. Untung Saya anak TPA sejak kecil hingga akil baligh jadi bisa nyesuaikan *kibasjilbab
  5. Dekorasi dan lightingnya sweet shabby chic gitu deh. Sayang banget gak bisa share foto dekorasinya. Bisa jadi inspirasi acara aqiqahan. 

Buku tasyakurannya bagus, ada beberapa poin yang ingin saya kutip:

  • Rasulullah bersabda: “setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, ia disembelih (binatang) pada hari ke-7 dari kelahirannya, diberi nama, dan dicukur kepalanya.” (HR. Tarmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Samirah) dan banyak juga manfaat lainnya seperti mempererat silaturahmi dengan tetangga, kerabat, fakir miskin, dll. 
  • Pelaksanaan aqiqah disunahkan pada hari ke-7 dari kelahirannya. Adapun kalau belum bisa, boleh hari ke-14, 21, atau kapan saja orang tua tersebut mampu. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan (QS. Al. Baqarah : 185)
  • Banyak hikmah yang terkandung dari mencukur bayi yang baru dilahirkan. Antara lain: menghilangkan penyakit karena rambut bayi mengandung kotoran yang akan membawa penyakit, menguatkan syaraf2 sang bayi, dan mempererat ikatan dengan fakir miskin dengan mensedekahkan kepadanya.

    Karena banyaknya relasi sohibul hajat, selain saudara banyak VIP yang datang. Tak heran ada saja sapaan dari sohibul hajat ke salah satu tamu, “Waalaikumsalam, selamat datang Pak Menteri”. Jangan tanya ya bapak itu menteri apa, saya jujur gak hafal mukanya. Hehe. Berhubung acara pengajian sendiri sudah satu jam lebih, selesai acara saya langsung salaman dan kasih kado ke orang tua baru sekalian pamit pulang. Sering kali kalau acara pengajian saya rasa sudah terlalu lama dan tak bawa Teona. Saya skip acara ramah tamah (baca: makan2). Karena saat berangkat saya tinggalkan Teona dan bapaknya masih tidur siang. Jadi saya mesti cepat pulang untuk mandikan dan siapkan makan Teona. Alhamdulillah saat saya sampai Teona sedang mandi, tinggal rapikan si anak dan bersiap makan. Sebenarnya rundown acara aqiqah standar, yang sedikit tak biasa buat saya ya beberapa poin di atas saja. 

    Posted in Uncategorized

    Pas foto balita

    Saya sama sekali bukan orang yang suka narsis selfie, soal mendokumentasikan anak juga gak yang terlalu gimana banget. Sesuai moment aja. Sampai Teona mesti bikin pas foto tentu karena ada kepentingan. Saya bukan tipe yang iseng ke studio foto buat foto2 lucu. Pas foto pertama Teona Desember 2014 saat mau mendaftar sekolah playgroup di Januari 2015. Berarti pas foto pertama di usia 1 tahun 8 bulan, untuk mulai sekolah di usia 2 tahun 4 bulan. 


    Alasan utama saya menyekolahkan Teona di usia dini: untuk melancarkan bicara, berinteraksi dengan teman sebaya, dan punya ritme hidup teratur. Sebelumnya sudah teratur, hanya saja saya ingin Teona tidak sekedar main sore seperti biasa. Yang mana anak-anak di lingkungan kami either anak orang Indonesia yang bersekolah di beberapa sekolah International dekat sini nor anak WNA yang bule, negro, India, Arab, Cina. Teona saat itu tontonannya bahasa Inggris plus teman-teman yang saat bermain pun ngomongnya Inggris. Tapi kami sebagai orang tua tetap berbahasa Indonesia. Kelarlah si Teona, hampiirrr delay speech. Setelah bersekolah di TK Islam dekat sini yang full berbahasa Indonesia. Alhamdulillah gak butuh waktu lama sekarang ceriwis binti centil. Hihi.

    Pas foto kedua Januari kemarin, sebulan kemarin kami mengurus printilan ini itu, termasuk syarat pas foto terbaru. Usia Teona bulan lalu 3 tahun 9 bulan, untuk (insha Allah) masuk TK usia 4 tahun 4 bulan. Paslah ya, dulu juga saya TK usia hampir 4 tahun *nasib lahir di akhir tahun. Bedanya pas foto sekarang minta seluruh badan juga. Untung gak minta tampak samping dan close up *mau jadi gadis sampul kali ah 😄

    Pas foto pertama dan kedua sama-sama belum yang sempurna. Walaupun gak pecicilan saat foto tapi juga gak yang gampang. Kita posisi di belakang mas fotografer sambil tepuk tangan dan manggil2 Teona biar bisa nengok kamera pas cekrek. Gak lupa ocehan saya, seperti: “menghadap sini, Teona” atau “senyum dikit, Nak” sampai “tahan posisinyaaa” 😅 Emaknye rempong, semua demi hasil pas foto yang layak cetak. Ya udahlah ya, pas foto nya gak go public juga. Iya sih, maksud saya yang penting hasilnya lumayan. Karena pas foto gak mungkin candid ya kan. Pas foto gak sempurna gak masalah yang penting berakhlak sempurna *asek.

    Posted in Uncategorized

    Percintaan remaja


    Sejujurnya saya amat sangat tidak berkapasitas untuk membahas soal ini. Selain bukan psikolog, saya termasuk yang tidak pernah pacaran sebelum dilamar bapaknya Teona. Cupu gitu deh pokonya. Post ini terinspirasi dari teman kantor yang anak bungsunya laki-laki sudah kuliah tapi tiap kali pacaran pasti ada yang berbeda sikap dan tingkah lakunya. Wajar kalau kemudian menebak “gara-gara ceweknya”. Hingga di suatu kesempatan, temen saya nonton acara televisi nasional yang lagi membahas percintaan remaja. “Anak gue banget nih,” pikir temen saya. Cukup sering temen saya menceritakan tentang anak bungsunya. Maklum sekarang tinggal si anak bungsu tanggungannya. Seperti yang saya bilang di awal post, jadi saya menjadi pendengar yang baik saja.

    Pembahasan di acara TV nasional itu cukup hot kami bahas, pake bahasa saya aja ya. Intinya percintaan remaja itu ada 3 jenis:

    1. Just friend. Pacaran sekedarnya, sekedar punya teman dekat lawan jenis, sekedar punya status  ‘pacar’, sekedar punya tempat curhat, dan sekedar lainnya. ~saya dulu berarti kaku ya, bahkan just friend aja Saya gak mau! Seperti yang sering saya bilang, saya punya satu sahabat cowok sejak TK hingga sekarang dan tidak lebih dari 10 jari sahabat cowok lainnya~  
    2. Friendship. Pacaran yang lebih dekat tingkatnya dari no. 1. ~yang no. 1 aja dulu saya hindari, tentu aja poin no. 2 ini juga~
    3. Partner. Nah ini udah posesif. Wajib lapor lagi di mana, lagi ngapain, tiap hari mesti ketemu, dll dst. Pacaran sampe lupa sama keluarga, padahal kalau sakit atau ada masalah serius, larinya ke keluarga yang repot juga keluarga. ~ ini saya amit-amit banget, gak pernah dan jangan sampe ngalamin~

    Memang gak semua yang dibekali ajaran agama (apapun) sejak kecil bisa berpegang teguh atau istiqomah. Ada yang menjalankan syariat agama, ada yang setengah2, ada yang biar punya agama saja, ada juga yang melenceng jauh. Dosa masing2lah ya. Saya pribadi pun pasti buanyak kurangnya, apalagi judes bin galak begini. Saya hanya tidak mau mempermainkan hati orang lain supaya orang lain tidak mempermainkan hati saya. Mungkin Allah mendengar doa saya itu, jadi saya ditemukan dengan bapaknya Teona dan langsung nikah. Jadi saya gak ngalamin putus-nyambung-break-balikan atau istilah orang pacaran lainnya. Wis, gak mutu tenan menurut saya yang kayak2 gitu. 
    Trus gimana dengan anak temen saya? Yah, anak sekarang kan jauh lebih baper-an. Selama pelampiasannya bukan narkoba atau bunuh diri, konyol abis. Selama masih bisa ditolerir, masih patuh sama orang tua, dan dekat dengan agama. Harapannya sih, itu anak bisa menjaga dan mengendalikan dirinya dengan baik. Duhh, kok saya jadi serem ya sama pergaulan anak jaman sekarang *pelukeratTeona.