Percintaan remaja


Sejujurnya saya amat sangat tidak berkapasitas untuk membahas soal ini. Selain bukan psikolog, saya termasuk yang tidak pernah pacaran sebelum dilamar bapaknya Teona. Cupu gitu deh pokonya. Post ini terinspirasi dari teman kantor yang anak bungsunya laki-laki sudah kuliah tapi tiap kali pacaran pasti ada yang berbeda sikap dan tingkah lakunya. Wajar kalau kemudian menebak “gara-gara ceweknya”. Hingga di suatu kesempatan, temen saya nonton acara televisi nasional yang lagi membahas percintaan remaja. “Anak gue banget nih,” pikir temen saya. Cukup sering temen saya menceritakan tentang anak bungsunya. Maklum sekarang tinggal si anak bungsu tanggungannya. Seperti yang saya bilang di awal post, jadi saya menjadi pendengar yang baik saja.

Pembahasan di acara TV nasional itu cukup hot kami bahas, pake bahasa saya aja ya. Intinya percintaan remaja itu ada 3 jenis:

  1. Just friend. Pacaran sekedarnya, sekedar punya teman dekat lawan jenis, sekedar punya status  ‘pacar’, sekedar punya tempat curhat, dan sekedar lainnya. ~saya dulu berarti kaku ya, bahkan just friend aja Saya gak mau! Seperti yang sering saya bilang, saya punya satu sahabat cowok sejak TK hingga sekarang dan tidak lebih dari 10 jari sahabat cowok lainnya~  
  2. Friendship. Pacaran yang lebih dekat tingkatnya dari no. 1. ~yang no. 1 aja dulu saya hindari, tentu aja poin no. 2 ini juga~
  3. Partner. Nah ini udah posesif. Wajib lapor lagi di mana, lagi ngapain, tiap hari mesti ketemu, dll dst. Pacaran sampe lupa sama keluarga, padahal kalau sakit atau ada masalah serius, larinya ke keluarga yang repot juga keluarga. ~ ini saya amit-amit banget, gak pernah dan jangan sampe ngalamin~

Memang gak semua yang dibekali ajaran agama (apapun) sejak kecil bisa berpegang teguh atau istiqomah. Ada yang menjalankan syariat agama, ada yang setengah2, ada yang biar punya agama saja, ada juga yang melenceng jauh. Dosa masing2lah ya. Saya pribadi pun pasti buanyak kurangnya, apalagi judes bin galak begini. Saya hanya tidak mau mempermainkan hati orang lain supaya orang lain tidak mempermainkan hati saya. Mungkin Allah mendengar doa saya itu, jadi saya ditemukan dengan bapaknya Teona dan langsung nikah. Jadi saya gak ngalamin putus-nyambung-break-balikan atau istilah orang pacaran lainnya. Wis, gak mutu tenan menurut saya yang kayak2 gitu. 
Trus gimana dengan anak temen saya? Yah, anak sekarang kan jauh lebih baper-an. Selama pelampiasannya bukan narkoba atau bunuh diri, konyol abis. Selama masih bisa ditolerir, masih patuh sama orang tua, dan dekat dengan agama. Harapannya sih, itu anak bisa menjaga dan mengendalikan dirinya dengan baik. Duhh, kok saya jadi serem ya sama pergaulan anak jaman sekarang *pelukeratTeona.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

21 thoughts on “Percintaan remaja

  1. Mungkin dulu waktu orangtua menyekolahkan aku di Sby dan mulai ngekos sejak umur 15 tahun, mereka sebenarnya ada rasa was was juga kali ya. Tapi aku dan adik2ku ngekos semua dan beda2 tempat pula. Orangtua selalu bilang gini dulu “sudah waktunya kalian bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Apa yg kalian lakukan, itu yg kalian dapatkan dan kalian harus bertanggungjawab sendiri atas semuanya” jadi kami bener2 berhati2 sekali, soalnya ga kebayang disuruh tanggung jawab sendiri 😁 dan orangtuaku memang tegas. Kalau kami ada masalah, mereka selalu mengulang kata2 itu “bukan waktunya lagi bergantung sama orangtua”

    1. Orang tua Mbak Deny contoh orang tua yang ucapan dan pembuktian sejalan. Yang aku perhatikan orang tua jaman sekarang, ucapan tegas tapi saat pembuktian anaknya kena adalah akibat perbuatan si anak, orang tua langsung back up. Lebih prihatin lagi, banyak (banget) orang tua sekarang ‘kalah’ sama anak, jadi anaklah yang mengendalikan orang tua. Duh 😧 aku lihatnya ngenes.

  2. Ya mmg smua balik ke kitanya sih mbak tp sedih bgt liat gaya pacaran remaja sekarang di jalan umum gak mlu malu nunjukin bahkan lebh dr pegangan tangan 😢

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Frany….

    Memang ngeri dan nyeri terasa di ulu hati melihat cara anak-anak sekarang berpacaran. Contoh foto dalam internet sangat menyeramkan melihat kebebasan mereka. Orang tua sudah tidak lagi dihiraukan dalam menegur perbuatan mereka. Betul itu mbak, ibu bapa harus tegas dan memahami anak-anak akan kepentingan menjagakesucian diri juga agama, agar tidak terjebak dalam masalah sosial yang semakin meningkat. Pernah melihat anak remaja yang menutup aurat tetapi berpegangan tangan dan berpelukan di khalayak ramai. Di mana agaknya Allah di hati mereka. Bila iman hilang, rasa malu juga terbuang. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita, mbak.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

      1. Pacaran itu hubungan yang hampir gak ada pelajarannya. Diagama mungkin lebih banyak pelajaran tentang pernikahan. Padahal mayoritas orang mengenal pacaran. Pelajarannya hanya dari pengalaman dan nasihat. Kalo diibaratkan pacaran itu ibarat menjelajah hutan rimba yang banyak bahayanya. Ketika kita takut dengan hutan yang bahaya pasti sebagai orang awam memilih untuk menjauhi hutan. Tapi kalo ada tujuan yang positif kita gak akan takut akan terjerat bahaya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s