Cerita bimbingan belajar

Ini cerita tahun 2000 saat kelas 3 SMP dan tahun 2003 saat kelas 3 SMA. 


Sedikit flashback ke belasan tahun yang lalu *uhuk. Awas sampe ada yang ngomong “tua banget sih” *asahgolok. Kalo sekarang jamannya untuk kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA *iyadeh. Tapi cerita saya tentu berbeda jauuhhh dengan kurikulum dan jaman sekarang. 

Pertengahan tahun ajaran 2000, saya masuk SMA. Maka akhir tahun 1999 sampai menjelang Juni 2000, saat itu saya yang bersekolah di SMP Negeri diberikan pelajaran tambahan yang kami sebut pendalaman materi tiap pulang sekolah oleh guru mata pelajaran yang akan diuji pada ujian akhir. Supir jemputan sekolah kami ramai2 rela menunggu saya dan teman2 pendalaman materi hingga menjelang ashar dan mengantar kami pulang sampai rumah dengan selamat. Tak cukup sampai di situ, saya dan teman2 membentuk kelompok untuk privat dengan guru mata pelajaran yang sulit. Pikiran saya, “kok belajar melulu ya?”

Tahun 2003 adalah masa perjuangan. Sejak pertengahan tahun 2002, saya sibuk memilih bimbingan belajar (bimbel) mana yang bagus. Saat saya sudah daftar di salah satu bimbel, tinggal bayar dan masuk. Beberapa teman mengajak ikut tes masuk BTA di SMA Negeri 8, yang merupakan SMA Unggulan. Ternyata saya lolos! Penilaiannya berdasarkan jawaban benar menjawab soal. Walaupun untuk ukuran otak di SMA Unggulan itu otak saya di ambang batas garis minimum. Yang penting lolos dan bisa gabung di bimbel hits se-Jakarta. Akhirnya saya batalkan bimbel yang sudah didaftar dan lanjut belajar di BTA 8 *untungbelumbayar. Persaingan ternyata ketat, karena seluruh SMA negeri ataupun swasta se-Jakarta. Sama-sama berlomba untuk dapat tembus ke PTN idaman masing2.

Saat itu di BTA 8, otak dan lifestyle berbanding lurus. Seluruh anak SMA negeri maupun swasta yang lolos masuk BTA 8 bersaing otak dan juga bersaing lifestyle. Pintar namun juga tetap gaya. Sumpah, susah loh itu saya ngimbanginnya  😧 Ditambah lagi Ayah saya mensyaratkan: kalau tidak dapat diterima PTN, maka tidak dibiayai kuliah. Karena universitas swasta yang bagus di Jakarta itu mahal biayanya. Beban menjadi teramat berat sampai2 saya melewatkan promnight. Apa saya menyesal? Enggaklah, promnight kan budaya barat yang diadaptasi ke budaya kita. Buat saya lebih membanggakan bisa masuk PTN dibanding bela2in promnight yang hanya semalam. 

Kalau belasan tahun lalu bebannya segitu entah gimana sekarang. Gimana jaman Teona nanti. Wallahualam. Dunia pendidikan tentu selalu butuh perbaikan dan peningkatan. Sehingga bisa sesuai dengan perkembangan jaman. 

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

7 thoughts on “Cerita bimbingan belajar

  1. Eh ternyata kita seangkatan lho. *lah buka kedok* wkwkwk.
    Iya beneerr….dulu tiap hari isinya les teroos. Ancamannya sama kayak ortuku mbak, kalo ga lolos negeri, ga usah kuliah. Krn swasta mahal. Dan waktu itu ada yg namanya ekstensi kan, alias negri tapi bayarnya mahal. Ortuku ga mampu.
    Betul sekali, gimana ntar bebannya anak2 nanti ya

  2. aku tahun segitu dah masuk kuliahan ..huhu berasa tua banget deh ni huehehe
    dulu jaman smu disuru ikutan bimbel ina itu ama nyokap dah kaya capekkk banget belum ikutan kegiatan disekolah..jaman sekarang anak kecil umur 5th aja dah disuru ikutan kursus ina itu…

  3. Tahun 99 itu aku sudah kuliah 😅 . Pas SMP di Situbondo aku ga ikutan bimbel apa2, ga ada kayaknya atau akunya yg ga tertarik. Bersyukur danemnya bagus trus bisa masuk SMA 2 Surabaya (no.2 Favorit di Sby). Nah di sby ini baru ikutan bimbel2 untuk persiapan UMPTN. Tapi ga lolos S1 akhirnya masuk jalur D3 di ITS. Kalau ingat perjuangan jaman2 dulu, rasa2nya ga percaya bisa survive hahaha ngos2an belajarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s