Kasus pada anak


Saya bukan psikolog atau ibu yang sempurna. Tapi yang akan saya bahas, murni dari sudut pandang saya yang tentu saja belum tentu benar dan disetujui orang tua lain. Pola asuh anak beda-beda, no offense. 

1. Si anak perempuan yang pintar. Semangat, dan rajin sekolah. Tidak sengaja kena pukul teman laki-laki di sekolahnya. Lalu mendadak mogok sekolah dan butuh waktu untuk dibujuk agar mau sekolah lagi.


Susah2 gampang menghadapi tipe anak macam ini. Tapi tentu saja hal ini alamiah. Karena hal2 kayak gini bisa akan ditemui kedepan nantinya. Jadi kalo saya di posisi si ibu, saya akan berunding dengan suami untuk mencari solusi dan bersama mengatasinya saat anak di sekolah. Artinya, orang tua mesti mencurahkan perhatian lebih dengan berkorban cuti beberapa hari sambil dilihat perkembangan trauma si anak. Anak laki-laki agresif dan aktif itu biasa. Tapi akan luar biasa jika mengganggu dan menjadikan anak lain korban. Bahkan orang tua anak laki-laki itu sulit mengendalikan anaknya.

2. Seorang anak jago pencitraan alias di depan orang tua baik tapi kenyataannya si anak tak terkendali kelakuannya. Pengasuh atau pihak keluarga yang turut mengawasi tak punya kapasitas untuk ‘menertibkan’ si anak.



Mencegah kerusakan perkembangan si anak dan kesalahpahaman. Kelakuan si anak tersebut wajib segera ditindaklanjuti oleh orang tua, tugas orang tua lah yang menertibkan anaknya. Karena golden age adalah masa pembentukan karakter dan watak si anak. Sadar akan perilaku anak yang mencemaskan, si ibu akhirnya resigned demi ‘membenahi’ anak. Good choice. 

3. Seorang ibu religius, pintar dalam teori parenting. Tidak pernah sama sekali marahin anaknya, karena prinsipnya anak dibiarkan semaunya. Akibatnya si anak di sekolah nakal, bahkan menurut teman si anak tersebut. Anak tersebut kalo main, cenderung kasar. Pengalaman main di rumah saya, anak ini diam tapi gratakin barang. Barang Teona yang cukup mahal, rusak olehnya. Cukup deh, saya blacklist. 


Dengan kerendahan hati, saya tidak percaya ilmu parenting. Karena ilmu parenting berkiblat ke barat, sementara kita budaya timur. Parenting barat atau parenting timur pun sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kondisi tiap orang tua dan anak pun berbeda. Buat saya, yang penting tidak melanggar norma agama, norma sosial, dan kewarasan dalam suatu pola asuh. 

4. Seorang anak laki-laki entah kenapa beberapa kali kalau bermain sampai menyakiti anak laki-laki lainnya. Mungkin tidak sengaja, namun lumayan tindakannya, seperti cakar hingga berdarah atau tendang hingga membekas. 

Semua kasus2 yang saya jabarkan, poin utamanya memang didikan orang tua. Tidak bisa lho kita bilang, “masalah anak2 jangan ditua-in, anak2 berantem sebentar ntar juga main bareng lagi.” BUKAN ITU POINNYA, KALO BERAKHIR DENGAN MEMBUAT ANAK LAIN LUKA PERMANEN ATAU CACAT, GIMANA?  Di situ peran orang tua mendidik anaknya. Gak bisa ‘entengin’ begitu aja. Saya paling gemes denger orang ‘entengin’ kayak gini, ngajak debat banget. 

Tiap orang tua tentu memiliki pola asuh yang berbeda dan sah saja. Selama tidak semena-mena hingga bikin anak mati atau anak jadi sakit jiwa. Bagi orang tua yang bilang mendidik anak itu mudah, Anda hebat! Tapi bagi yang kewalahan didik anak sampai-sampai Anda di bawah kendali anak Anda. Wassalam aja deh. Baiknya di tengah lah, lembut tapi tegas. Anak tau aturan. Itu tujuan pola asuh yang ideal, gak bisa bebas parah tapi gak bisa juga dikungkung. Tenang, saya juga suka khilaf dan terus diingatkan suami untuk terus memperbaiki cara mendidik anak kok. Jadi gak perlu saling menghakimi, karena jadi orang tua gak ada sekolahnya ✌

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

11 thoughts on “Kasus pada anak

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Frany…

    Saya terkesan dengan beberapa kasus anak yang diteliti oleh mbak di atas. Memang berlaku di sekeliling kita. Saya setuju ilmu parenting itu lebih banyak berkiblat ke barat sedangkan dalam Islam sudah diajar Rasulullah bagaimana kita mendidik anak sejak kecil hingga mereka menikah.

    Kalau saya dan suami, jeni yang tegas dan garang sama anak. Tidak berkompromi dalam hal melanggar ajaran agama dan masih bertoleransi dalam memerhatikan masalah mereka. Alhamdulillah, anak-anak saya mudah mendengar kata dan sangat berhemah dalam pergaulan.

    Kita berdoa ya mbak agar anak-anak kita dipelihara Allah dari maksiat dan mungkar serta mentaati Allah dan ajaran Islam walau di mana sahaja mereka berada dengan menjaga nama baik kita sebagai orang tuanya di dunia dan di akhirat.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam wr.wb bu Hajjah Fatimah. Saya setuju sekali dengan pola asuh bu Hajjah. Saya pun tipe yang garang, masalahnya anak-anak lain yang pola asuhnya berbeda. Jujur saya masih terus belajar mendidik anak dengan baik. Tegas dalam agama, toleransi untuk hal lain. Aamiin, semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah swt.

  2. Anak usia balita katanya adalah RAJA. Tp RAJA kan ada yg bijaksana dan ada yg lalim. Tergantung didikan ortu-nya bagaimana? Mau punya raja kecil yg tau aturan atau yg dibiarkan seenaknya sehingga merugikan dirinya sendiri dan orang lain? Jadi nggak semata berkata: ANAK KECIL ADALAH RAJA. Perlu ditelusuri lbh dalam juga makna dibalik kalimat tsb. Aku sendiri sempat bertahun2 salah sangka dgn kalimat tsb. Dikira anak kecil silahkan berkelakuan semaunya; nggak usah dilarang, dikasih tau, dibiasakan dan diarahkan. Itumah memang RAJA tapi jadinya ya raja yg zolim.

  3. Tulisan yg menarik, Franny..
    Menurutku yg namanya ilmu parenting alias pengasuhan anak secara umum ada di setiap kebudayaan umat manusia dari waktu ke waktu di muka bumi ini dengan segala macam versinya.. Kebetulan aja yg trending di Indonesia belakangan ini yg disebut dari “Barat”. Dan kalo dilihat lebih detil secara geografis dan terminologis, yg disebut budaya “Barat” juga sangat beragam. Apa yg disampaikan oleh seorang pembicara, film-film, iklan, nara sumber, buku-buku dll tidak akan pernah 100% mewakili.
    Aku bilang begini karena cara pengasuhan kami terhadap Bear sering dikira lebih ke “Barat”, karena misalnya dia tidur sendiri di kamarnya sendiri, atau kalo dia jamnya tidur tinggal ditaruh di tempat tidurnya dan dia tidur dengan sendirinya tanpa perlu dibujuk-bujuk/digendong dulu.. Atau kalo makan ya harus duduk di kursi makan, gak boleh berkeliaran apalagi lari-lari ke jalan depan rumah.. Padahal seperti inilah ortu saya di tahun 70an di kota kecil (yg jauh dari paparan budaya “Barat”) membesarkan anak-anaknya.. Bagiku yg penting anak itu harus belajar disiplin sedini mungkin dari hal-hal kecil dulu.. Semakin ditunda (banyak yg suka bilang “ah biarin masih anak-anak, ortu kelamaan bersikap permisif ) maka makin sulit menanamkan kedisiplinan..

    1. Tulisan ini berdasarkan pengalaman anak2 yang saya temui sehari-hari. Pro dan kontra pasti ada ya. Saya setuju dengan pendapat Mbak Emmy. Orang tua saya pun termasuk tegas, maka anak2nya gak bisa seenak sendiri, mesti taat aturan, bebas terbatas. Disiplin, saya 100% setuju, karena saya pun dididik begitu. “Ah biarin masih anak-anak” itu sama dengan pembiaran yang ujungnya pasti berlarut-larut. Anak udah keburu keenakan dan terlambat untuk diubah.

  4. Aku setuju Mbak Frany disiplin itu harus diajarkan sejak dini. Menurutku walaupun lingkungan bisa mempengaruhi tapi tetap peran orang tua nomor 1. Ah semogalah kalo udah married dan punya anak nanti aku bisa jadi orang tua yg bijak.

  5. Nah, ini pandangan baru buat saya. ilmu parenting yang membebaskan anak ternyata ada kekurangannya ya mbak. Saya kira malah supaya anak bereksplorasi mencoba sendiri. tapi kalau jatuhnya jadi nggak bisa bersosialisasi (karena terlalu ‘liar’ tidak terkendali) ya salah juga orangtuanya.
    pola asuh anak emang beda- beda dan jadi orangtua nggak ada sekolahnya. 😀 *bahanbelajarbarubuatcalonibumacamsaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s