Manusia ibarat tukang parkir

Kisah nyata: seorang istri bekerja di suatu bank BUMN dan suami bekerja di suatu institusi pemerintah. Mereka dianugerahi dua anak, perempuan dan laki-laki. Secara finansial cukup mapan, selain memiliki mobil dan motor mereka sekarang sedang membangun rumah impian. Alhamdulillah. Namun di tengah kebahagiaan mereka, Allah berkehendak lain, anak laki-laki nya diambil olehNya. Tepat 40 hari kemudian, Allah mengambil suaminya. Allahu akbar. Allah maha mengatur, maha kuasa. Suatu masa diberi rezeki yang berlimpah, di masa lain diambil kembali rezeki tersebut. Semua pasti ada maksud, diberi ujian berat dan bertubi-tubi. Insya Allah akan dinaikkan derajatnya. Amin.

Belajar dari kisah nyata di atas, saya berkesimpulan: manusia ibarat tukang parkir. Tugasnya mengatur dan mengamankan. Tapi kalo ‘si empunya’ datang dan mengambil ya mesti rela. Satu lagi, kalo Allah mau kasih ujian, sejentik jari bisa terjadi. Apapun itu bentuknya, mulai dari kehilangan barang, tidak tercapai suatu keinginan, hingga kehilangan orang yang berarti di hidup kita. Subhanallah. Bener2 menjadi ‘tamparan’ supaya lebih dekat dengan Allah, bukan hanya sekedar mengingatNya. Agar kita gak merasa paling hebat dan berakhir dengan kesombongan. 


Menjadi pelajaran penting bagi orang di sekitarnya dan agar yang mengalami ujian dapat mengambil hikmah di balik ini semua. Speechless? Iya pastilah. Tapi apalah manusia, hanya debu di padang pasir. Semua manusia pasti punya ujian hidupnya masing2, mudah2an dapat kita sikapi dengan bijaksana *postingandalem *semogadijagaimanislamkita

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

5 thoughts on “Manusia ibarat tukang parkir

  1. Sejak meninggalnya Bapak dan duka yg sangat mendalam kami sekeluarga rasakan, aku sampai saat ini selalu ingat kata2 Bude. Beliau bilang kalau kita semua ini sedang dalam antrian menujuNya. Dan kita ga ada yg ngerti antriannya nomer berapa. Jadi Dia bisa memanggil kapanpun juga. Setelah mengingat2 kata2 Bude tersebut, pelan2 mulai belajar mengikhlaskan Bapak. Karena memang semua pada antrian yang sama. Hanya masalah waktu saja.

  2. ikut prihatin… tukang parkir ya…ada versi yg bilang baby sitter…intinya sama saja ya…semua harus dijaga dan dipersiapkan supaya tdk ada penyesalan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s