Naik kereta api ke Bandung

Saya dan Teona untuk pertama kalinya naik kereta api antar provinsi. Haha. Norak ya. Kalo commuter line sih kami pernah, terakhir Minggu lalu. Apalagi saya yang transportasi kuliahnya menggunakan KRL dan KRL express. Saya pernah juga Pramex, dari Jogja – Solo dan Klaten – Meguwa alias bandara Adi Sucipto, Jogja. Tapi kereta ke luar kota, baru kali ini. Moment yang kami gunakan saat dapat undangan pernikahan Jazzie & Agatha (di post sebelumnya) plus ceritanya ngerayain ultah bapaknya Teona.

Sabtu kami naik kereta dari stasiun Gambir, karena Sabtu pagi jadi hanya memerlukan waktu 10 menit saja sampai Gambir. Di gerbong 1 argo parahyangan selain wisatawan local juga dipadati turis luar. Saat nunggu di peron ada bule solo traveler yang minta tolong saya fotoin dia lagi duduk nunggu kereta di peron stasiun Gambir. Ternyata kami duduk sederet berseberangan. Mendengar dia ngobrol dengan orang yang duduk sebelahnya, kita jadi tau kalo dia berasal dari Belanda. Pas mau turun, kita sempet basa-basi sampe ketemu, trus bapaknya Teona ngucapinnya pake bahasa Belanda. Dia kaget seneng gitu bisa ngomong pake bahasa asalnya. Trus mungkin dia pikir saya juga bisa ngomong bahasa Belanda, dia ngajak ngobrol saya, sukses bikin muka saya pucet. Ini gimana jawabnya?? Akhirnya dia ngobrol panjang lebar pake bahasa Belanda sama bapaknya Teona. Kita pisahan sampe dia dapet taksi duluan.

image

image

image

image

Saya sangat menikmati naik kereta api antar provinsi. Seru! Oh ya, saya sempet bilang ke bapaknya Teona begini: “katanya Eropa indah luar biasa, tu bule liat sawah terasering aja difotoin sama direkam.” Bapaknya Teona bilang, “indahnya beda tau.” Haha. Yahh, ngeles aja yah. Saat pulang pun Saya menikmati, walopun tetep mesti ngeladenin tingkah dan maunya Teona. Gak menyurutkan rasa seneng Saya naik kereta. Karena pertama kali naik kereta antar provinsi, ada hal2 yang bikin Saya norak, di antaranya:
1. Di tiap deret bangku di kereta yang satu deret ada 2 bangku, tersedia 2 colokan. Penting banget kan ya. Hehehe.
2. Bangkunya bisa dibolak-balik. Maksudnya, kalo kita berempat orang bisa duduk berhadap-hadapan. Jadi bangku yang semua menghadap kedepan bisa diputer ke belakang. Duh, kalo genk cinta naik kereta bisa rumpi dari awal sampe akhir perjalanan nih. Haha.
3. Ada gantungan untuk naro jaket atau jas/blazer. Ini baru saya sadari saat pulang, orang yang duduk depan Saya nyantelin jaketnya di gantungan.

Kereta Jakarta-Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam lebih dikit. Berhenti di stasiun Jatinegara, Bekasi, dan Cimahi. Yang saya suka: toiletnya gak bau dan petugas cleaning rajin keliling untuk sekedar nyapu atau ngumpulin sampah. Kesan Saya naik kereta antar provinsi? Menyenangkan. Semoga besok2 bisa cobain naik kereta ke daerah lainnya. Amin. Happy fasting, may Allah give a holly Ramadhan. Amin.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

12 thoughts on “Naik kereta api ke Bandung

  1. Suami kamu lancar berbahasa Belanda Frany? Wah kereenn.
    Suamiku suka naik Argo Parahyangan ini. Lega tempat duduknya karena kakinya kan panjang haha. Trus pas masuk terowongan dan pas ngelewatin jembatan panjang ada suara petugasnya yang menerangkan. Jadi kayak kereta wisata.

  2. dulu kereta ke bandung jadi langganan…tambah cantik ya sekarang…
    paling suka naik kereta api…asal makanannya juga cukup hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s