Ridho suami

Ketika memutuskan menikah, tentu bukan akhir tapi awal dari perjalanan hidup baru. Terlepas dari topik SARA dan Saya pun baru empat tahun menikah. Tapi pengen sedikit cerita aja. Kalo di TV, esp infotainment bertebaran berita artis kawin-cerai mungkin gak heran lagi. Perhatian Saya tertuju pada berita ditolaknya gugatan perceraian suami artis. Alasan suami menggugat, karena si istri yang adalah artis sering pulang malam karena party. Netizen ramai berkomentar, salah satunya saya kutip kurang lebih: “(nama artis) cantik, tinggi, langsing aja digugat cerai apalagi istri yang biasa (dalam artian harafiah) dong?!” Jujur saya hanya sebagai pemirsa yang tidak memihak siapapun, sering party pun juga hak masing2. Tapi kembali lagi, artinya si suami gak suka dengan kegemaran si istri yang suka party. Menikah pun bukan mengubah suami atau istri, tapi saling menyesuaikan *menurutsayalho. Nah, artinya pula, suami tidak suka, ikhlas, dan ridho si istri yang sudah punya dua anak masih suka party2. Terlepas juga adanya tudingan wanita idaman lain (WIL) si suami. Suami insya Allah gak akan punya WIL kalo istrinya baik dan patuh sama suami.

Salah seorang teman baik saya yang memiliki pengalaman bercerai mengatakan, bercerai (di Jakarta) menghabiskan dana yang tidak sedikit. Saya gak berani tanya2 detil, karena kok sensitif ya mau tanya lebih lanjut. Sebelum saya nikah pun, ibu saya wanti2 banget: “ridho suami adalah ridho Allah juga” *dalam artian tindakan yang benar bukan menyimpang lho ya. Saya pegang teguh itu, walopun saya kadang masih suka mendebat suami *salimsuami. Tapi udah beberapa kali kejadian juga, kalo suami gak ridho pasti saya kena batunya. Jadi bikin kapok. Saya yakin, semua perempuan yang berpendidikan tentu ingin bekerja dengan alasan aktualisasi diri. Tapi ketika suami tidak ridho karena alasan yang tentu berbeda di tiap rumah tangga dan tentunya sanggup memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga. Wajib dipatuhi tanpa ada kata tapi.

Oh ya, saya pun kurang setuju dengan statement: kita mesti fleksibel dan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Waduh! Berat tuh. Balik lagi ke prinsip, keimanan, dan budaya masing2 sih ya. Tapi kalo saya, zamanlah yang menyesuaikan dengan nilai2 yang saya anut. Untuk yang memang mengikuti perkembangan zaman, semoga dijaga dari hal2 yang mudharat ya πŸ™‚

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Ridho suami

  1. tdk berani komentar soal seseartes….ga tau siapa yg bener dan ga ngikutin2 banget haha…
    yang lain setuju….tapi bagusnya suami istri kalau ada yg ga suka dikomunikasikan bukan saling melakukan hal yg merugikan ke depannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s