MLM? NO!

Cukup keras saya menolak segala bentuk MLM. Mulai dari air, mesin air, kosmetik, tas, produk kecantikan, produk kesehatan sebangsa alat berupa stik atau cream, investasi, dan rupa lainnya. Baru2 ini di lingkungan saya sedang hits MLM dengan inisial M. Semua ibu2 sosialita memasang profil pic bonus yang tiap hari datang dari MLM tersebut. Saya tidak pernah penasaran, saya diem aja. Sampai suatu hari tawaran itu dateng ke saya.

Kurang lebih begini pembicaraan lewat chat itu terjadi:
Tetangga (T): Bu, lagi apa?
Frany (F): Saya lagi nunggu Mba ART datang karena saya mau ada perlu keluar sebentar. Ada yg bisa saya bantu bu Haji? *ibu ini kisaran usia 35 tahun dan tahun lalu Alhamdulillah telah berhaji jadi akan lebih bijaksana bila saya memanggilnya begitu.
T: Ga apa2 kok. Btw, udah tau bisnis Mba R? Ga pengen ikutan? Lagi booming lho. *Mba R: tetangga selantai dengan saya, ibu sosialita masa kini.
F: Maaf sebelumnya bu Haji, tapi saya gak berminat.
T: Kenapa, bu?
F: Ga apa2, Bu. Tapi saya sudah tau konsep dasar MLM karena diajarkan saat kuliah.
T: Oh gitu.
Dan selesai..

Please ajaklah saya bisnis apapun, asal tidak MLM. Kenapa? Duluu, orang tua saya pernah menjadi member MLM yang terkenal saat itu, inisial A. Orang tua saya cukup antusias dan rajin mengikuti tips dan trik sukses menjaring downline. Hingga pada satu titik, Ayah saya sadar bahwa yang dijual bukan produk tapi orang lain (downline). Setelah itu saat SMA, beredar katalog kosmetik O. Saya membeli produknya tapi tidak menjadi member atau downline. Begitupun dengan MLM tempat makan T. Saya beli tapi ya ga akan mau jadi member atau downline.

Yang hebat MLM saat ini sukses menggaet bank BUMN untuk menerbitkan kartu membernya dan memberikan keuntungan tertentu. Saat seorang kenalan salah satu member MLM yang tadi dibilang lagi booming mention temannya yang kerja di bank BUMN tersebut. Sang teman itu membalas dengan: “yaelah, jualan aja lo. Dibayar berapa lo sama M (nama MLM)?”. Yang kemudian disahut sama kenalan saya: “Apa salahnya jualan? Peduli amat lo gue dibayar berapa?!”. Luar biasa dampak MLM jaman sekarang. Coba Anda perhatikan status FB atau path atau IG saudara atau teman yang MLM. Pasti gak jauh dari memotivasi diri atau orang lain agar mau join dengan MLM itu atau jualan produk MLM. Basi.

Saya pun berdiskusi sama bapaknya Teona tentang fenomena ini. Intinya: MLM itu gak penting. Mending bisnis yang nyata2 aja deh. Memang pilihan masing2 orang tapi pakailah akal sehat Anda, jangan cuma ikut2an karena lagi booming. Kalo Ayah saya bilang: “ojo gumunan”.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

2 thoughts on “MLM? NO!

  1. Sebenarnya klo menurut saya MLM itu tidak lebih dari penipuan yang terlalu banyak mengumbar janji. Saya pernah ikut kegiatan yang diadakan teman saya, intinya hanyalah khayalan kosong doank. Saya malah kasian sama orang-orang yang berharap banyak terhadap bisnis MLM. Kayaknya impian mereka tidak akan peenah kesampaian deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s