Domisili

Saya lahir dan besar di Jakarta. Suami lahir di Padang dengan Ibu asli Sumbar dan Ayah nya asli Solo, Jateng. Suami ke Jakarta sejak tahun 2002. Tapi saya dan suami sama2 suka daerah yg tenang dan asri selayaknya kota kecil. Suami yang pernah tinggal di salah satu kota kecil di Belanda untuk mengambil master tentu memilih kota tsb untuk hidup (ideal) versi dia. Sementara saya, sering saya bilang, saya terlanjur jatuh cinta dengan kota kecil di Bali. Tempat tante saya dan keluarga berdomisili. Di situ kota (ideal) versi saya.

Jadi sudah jelas, kalau boleh memilih, kami tidak akan tinggal di kota besar atau kampung halaman kami masing2. Sayang, saat ini kami di posisi yg tidak bisa memilih. Tapi, selalu ada hal yg patut untuk disyukuri. Tinggal di Jakarta tentu saya tetap dekat dengan keluarga inti saya. Saya tidak perlu adaptasi karena ya ini kan kampung halaman saya. Tetap dekat dengan sahabat dan teman2 saya. Saya tidak kehilangan apapun. Alhamdulillah.

Karena kalo sampe keturutan keinginan saya atau suami. Udah pasti bakal kehilangan hal2 yg selama ini akrab sama kita. Yah, Mungkin butuh waktu dan kesiapan mental menuju kesitu. Karena Jakarta sekian tahun kedepan menurut saya tidak lagi menjadi tempat yg nyaman untuk ditinggali. Desentralisasi yg digembar-gemborkan menurut saya tidak berpengaruh signifikan. Tetep aja Jakarta penuh, sumpek, macet.

Intinya, ini posting khalayan VS kenyataan. Hehehe.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

4 thoughts on “Domisili

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s