Miscarriage moment

Bukan mau mengungkit masa lalu, sekedar berbagi pengalaman. Semoga orang lain tidak akan mengalami seperti yg saya alami. Seperti yg sering saya bilang, karier terakhir saya bekerja di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia, di salah satu cabang commercial business banking *cukup clue nya, ntar makin detil aja cabang mana nya ;p

Saya benci lembur kalo ga kepaksa banget. Saat itu akhir Januari 2012 saya masih newly wed, saya nikah 22 Januari 2012 dan hingga akhir Januari keluarga dari pihak suami masih di Jakarta.    Karena awal tahun ternyata sibuk berat, seminggu sebelum nikah saya masih raker keluar kota. Dalam hati cuma membatin: “kan saya udah info atasan kalo 22 Januari mau nikah kok dia bikin raker mepet banget sama acara saya?!” Tapi saya pikir, siapalah saya ini, kan cuma jongos.

Kembali ke cerita awal, setelah nikah saya gak ambil cuti karena toh ga ada acara bulan madu, tapi ya gak juga lembur kali. Kenyataannya saya kepaksa lembur. Yang bikin saya gak enak hati, keluarga suami selalu nunggu saya pulang baru makan malam, yg mana saya sampe jam 8 malem aja. Super ga enak hati dong.

Awal Februari 2012 saya hamil, tentu saja saya seneng banget. Sejak bekerja di sini jujur aja saya gak sreg, dua faktor utama adalah: atasan dan gaji *jujur banget ini* makanya sejak bekerja di sini saya downgrade banget, sedih banget. Plus saya sering di-coaching dengan alasan ga penting dan terlalu mengada-ada, orang yg coaching saya setipe dengan atasan saya. Saya iya2 aja, balik lg siapalah saya ini.

Awal april merupakan klimaks dari semua, saya lembur untuk rapat cukup penting esok hari. Keesokannya saya datang pagi buta untuk menyelesaikan semuanya. Karena satu kekurangan sepele, atasan saya memaki saya dengan kerasa hingga komisaris perusahaan jalan tol keluar saking lengkingan atasan saya menggema karena di satu lantai ada cabang saya dan kantor komisaris jalan tol itu. Saya udah gak kuat lagi, saya terintimidasi. Saya nangis karena takut dan malu. Orang yg saya telfon pertama adalah Ayah saya kemudian suami. Setelah makan siang saya ajukan surat resign yg justru membuat dua orang: atasan+staf yg suka coaching saya menertawakan saya habis-habisan. Mereka mengejek dan malah makin merendahkan saya. Saat itu udah gak ada lagi terbersit “siapalah saya ini”. Saya sudah muak!

Sejak itu saya tidak lagi menginjakkan kaki di kantor, segala urusan yg berkaitan dengan resign lewat office boy merangkap kurir. Beberapa hari kemudian saya keguguran. Innailaihi wa innailaihi rajiun.

Suami bilang saya dendam sama dua orang itu. Saya gak mengiyakan tapi dengan jelas saya katakan, semoga Tuhan memberikan saya umur untuk melihat atau paling tidak mengetahui akhir hayat hidup kedua orang itu.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

6 thoughts on “Miscarriage moment

  1. Waduh…parah amat yak mereka…semoga dikasih kesadaran sama Tuhan biar mereka gak gitu lagi yaaa…dan semoga dirimu juga diberi kelegaan gak inget2 lagi apa yang mereka bikin ke dirimu ya Fran.

    Untunglah udah lama keluar dari situ ya Fran, kerja tuh bukan cuma demi gaji tapi jg untuk kenyamanan kan kalo gak nyaman ya buat apa dipertahanin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s