Jujur dan tulus

Hari gini sulit kan nemuin orang jujur, kalo ada semisal ketinggalan HP di taxi trus supirnya balikin, pasti langsung ngetop di socmed. Terakhir ketika supir taxi burung biru dengan tulus dan jujur masang foto anak bungsunya yg akan ultah dan berniat bekerja giat demi bisa memestakan anaknya. Saya tau dari acara inspiratif tiap sore hari. Berakhir dengan pihak manajemen yg memestakan begitu juga dengan restoran cepat saji. Pertanyaan si presenter, apakah restoran cepat saji tersebut akan mengadakan pesta utk anak kurang mampu lainnya atau hanya moment ini saja? Tulus atau oportunis?

Pengalaman saya belakangan ini misal:
1. Sudah lama saya tidak naik commuter line (comline) ke Depok untuk sebuah keperluan, yg saya tau naik comline bisa menggunakan e-money. Tapi ternyata mesti diaktivasi dulu, itu yg saya tidak tau. Hari itu saya pergi dengan Teona dan adik lelaki saya. Posisinya saya gendong  Teona yg sedang tidur, adik saya udah sukses masuk duluan. Dengan sigap petugas yg ada di situ membantu saya, karena saya tidak mungkin turun untuk aktivasi jadi petugas tsb yg turun ke loket. Saat kembali saya siapkan uang tip sebagai terima kasih saya pikir daripada saya turun naik gendong anak. Tapi dengan sopan dan sungguh2 petugas itu menolaknya, “tidak, Bu. Terima kasih. Ini sudah tugas saya.” Akhirnya saya mention @commuterline dan men-twit mengenai petugas tsb dengan harapan jika petugas tsb tidak menerima ucapan terima kasih dari saya. Saya berharap mendapat reward dari PT KAI. Kalo di kantor suami, tiap bulannya ada pegawai teladan sesuai standar yg ditetapkan. Hadiahnya berupa 2  voucher minimarket. Yah, semacam itu pula harapan saya.

2. Suatu pagi saya dan kakak ipar yg sedang berkunjung belanja ke pasar. Kami beli daging sapi dan iga sapi. Saat memilih saya memperhatikan los daging tsb punya timbangan elektrik, bukan manual. Dalam hati berucap, “hebat juga, berarti timbangannya akurat.” Setelah bayar, saya beralih ke los sayuran tidak jauh dari situ. Saya dengar penjual daging memanggil-manggil, ” bu, bu!” Saya nengok cari orang yg panggil tp karena ga ngeh saya lanjut memilih sayuran. Panggilan tsb kembali terdengar, saya datangi penjual daging itu. “Bu, Ibu kan beli iga sekilo, tadi iganya kurang, Bu. Ini iga kekurangannya. Maaf ya, Bu. Untung saya cepat ingat, takut dosa” Sambil memberikan iga kekurangannya ke saya. Alhamdulillah batin saya, masih ada pedagang yg jujur. Hari gini kan banyak yg mengambil hak orang lain padahal jelas hukumnya, mengambil bahkan mencuri sebutir gandum saudaramu maka tidak akan berkah dan dicabut pahala sholatnya *cmiiw*

Perihal jujur itu sebenarnya remeh tapi amat berarti. Jujur dan tulus menurut saya saling berkaitan dan mahal harganya. Penjilat dan cari untung yg ga halal berceceran di mana-mana. Udah ga heran lihatnya. Tapi jujur dan tulus karena semakin langka jadi amazing lihatnya. Konon itu memang tanda2 akhir zaman.

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

5 thoughts on “Jujur dan tulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s