Pekerjaan

Post ini terinspirasi dari cerita seorang sahabat yang ingin resign dari kantornya, salah satu bank BUMN terkemuka di Indonesia. Sama seperti saya dulu, intinya merasa terzholimi atasan. Merasa terzholimi atau tidak tentu saja berbeda cara nerimanya di tiap orang. Ada yg tipe bebal, cuek, sensitif, dst. Kalo saya termasuk yg tidak bisa dizholimi, saya pasti akan berontak. Karena prinsip saya, kerja tuh cari uang bukan untuk disiksa. Sahabat saya tipenya lempeng tapi ternyata walopun lempeng ga berarti gak ada masalah. Karena masalah ini dia berniat untuk resign. Saya dan sahabat saya mungkin dua dari sekian orang yg pada dasarnya  bertipe loyal pada pekerjaan.

Disuruh lembur, suruh dateng ke acara kantor yg terkesan mengada-ada pun ya dateng aja. Cuma kalo dizholimi = disia-siakan. Artinya kan udah ga dihargai, untuk apa loyal?! Awalnya saat saya diterima di salah satu bank BUMN terkemuka lain juga saya berusaha loyal tapi saat saya dizholimi dan berakhir dengan keguguran di kehamilan pertama. Apa pantas atasan saya ataupun perusahaan itu mendapat loyalitas saya??? Tentu tidak!!! Saya tidak ikhlas dunia-akhirat.

Kejadian itu jadi titik balik hidup saya. Apa sih yang saya mau? Apa yang saya cari? Apa yang saya perjuangkan di situ? Jawabannya: NOTHING!!! Tanpa ragu saya langsung berhenti. Untuk apa bertahan untuk hal yang tidak penting. Harusnya atasan atau perusahaan bisa mengerti atau paling tidak memfasilitasi bila antara pegawai dan perusahaan mengalami kendala. Kalaupun perusahaan tidak lagi membutuhkan pegawai akan lebih bijak bila diberhentikan dengan cara yang semestinya.

Contoh kecil yang ingin saya bagi, suami mempunyai beberapa orang staf. Salah satunya ibu menyusui, tiap harus turun ke nursing room untuk pumping ASI yg penting kerjaan tidak terbengkalai begitupun jika ada yg hamil tentu beban kerja tidak seperti biasanya.  Itu kondisi hubungan kerja atasan-bawahan yang normal. Bukan soal institusi atau perusahaan tempat kerja yang jadi masalah. Masalahnya tidak semua atasan seperti suami saya, tidak semua atasan waras, tidak semua atasan punya nurani, dan seterusnya. Kalo diterusin kalimat saya bakal makin kasar.

Sehingga pesan saya ke saudara atau teman adalah: “kalo kamu berkesempatan menjadi pimpinan jadilah pemimpin yang bijaksana dan mumpuni.” Gak usah sok diktaktor deh seberapa sih kekuasaan lo *duh, jadi emosi nih* hahaha. Semoga tidak ada yang bernasib seperti saya kala itu ya. Amin!

Advertisements

Author:

Jakarta, Indonesia - I'm a yellow jacket almamater - Ibunya Teona - 30% workingmom 70% motherhood.

3 thoughts on “Pekerjaan

  1. amin,,saya belom pernah kerja jadi belom ngerasain, tapi pernah pas masih kuliah sempat magang2 kerja di RS,ya ampun galak2 semua orngnya,yang ada saya dimarahin trus,jd trauma takut kerja di RS 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s